Sebuah Dialog Imajiner Nanang Farid Syam dengan Tan Malaka di Usia 81 Tahun Republik
Delapan puluh satu tahun sudah Republik ini merdeka, sebuah angka yang dipamerkan dengan gegap gempita di atas panggung-panggung kekuasaan hari ini, sementara di bawahnya, Tanah Air ini sedang batuk darah. Aku, Tan Malaka, berdiri di batas keabadian, menatap dari kejauhan bagaimana kalian merayakan sebuah hampa. Kalian mengibarkan bendera Merah Putih dengan bangga, meneriakkan kemerdekaan di tengah hutan-hutan yang kini gundul tak bersisa, diratakan oleh kerakusan alat-alat berat yang mencaplok setiap jengkal hijau demi keuntungan segelintir oligarki. Pulau-pulau kecil direjam, dikeruk perutnya demi nikel yang katanya menyokong masa depan modern, namun yang tertinggal hanyalah air laut yang mendidih, karang yang mati, dan nelayan yang kehilangan ruang hidup.
Kalian saksikan sendiri bagaimana bencana banjir datang silih berganti menghantam perkampungan, menyapu rumah-rumah kaum miskin kota dan desa, seolah alam sedang menagih utang atas keserakahan yang kalian pelihara. Di tengah runtuhnya ekosistem dan jerit kesusahan rakyat yang kelaparan, para penguasa justru menyodorkan program bagi-bagi makan siang yang karut-marut pengelolaannya, menjadi panggung pamer belas kasihan palsu di atas penderitaan yang sistemik.
Mundur ke belakang dari hari ini, kita melihat teater kekuasaan yang tak pernah berubah naskahnya. Dari kabinet-kabinet gemuk hari ini, melintasi dinasti dan infrastruktur megah yang dibangun di atas utang rakyat kemarin, hingga ke belakang menuju sirkus reformasi dan tirani Orde Baru yang mengajarkan kepatuhan membabi buta. Terus bergeser ke era Demokrasi Terpimpin yang penuh retorika megah, sementara perut rakyat keroncongan, hingga jauh ke masa silam ketika serdadu Hindia Belanda dan pendudukan Jepang bercokol. Penjajah asing itu silih berganti, mengeruk kekayaan nusantara, menanamkan mental inlander, dan memecah-belah bangsa.
Namun, yang paling menyedihkan, hari ini kalian tidak lagi membutuhkan serdadu asing untuk menindas bangsa sendiri. Penindasan itu kini berseragam rapi, duduk di kursi-kursi empuk pemerintahan, sambil membungkam setiap mulut yang bersuara kritis. Suara-suara kebenaran diredam, ruang-ruang demokrasi disempitkan oleh tangan-tangan kekuasaan yang kian hari kian militeristik, menghidupkan kembali ketakutan masa lalu. Korupsi merajalela tanpa henti, berputar dalam lingkaran setan yang tak kunjung putus, di mana hukum tajam ke bawah namun tumpul dan ramah pada para penguasa modal.
Kami tak perlu lagi menyajikan data, cukup fakta yang bicara di depan mata. Rakyat yang terpinggirkan, hutan yang merintih, dan nurani yang dibeli—itu sudah cukup menjadi bukti nyata betapa kemerdekaan ini telah kehilangan maknanya.
Dulu, saat napas masih berhembus di tengah pelarian dan penjara, aku pernah menuliskan sebuah keyakinan: “Perjuangan kita bukan sekadar merdeka dari cengkeraman bangsa asing, melainkan merdeka dari kebodohan, kemiskinan, dan mentalitas terjajah yang bersemayam di dalam dada bangsa kita sendiri.”
Hari ini, di usianya yang ke-81, kalimat itu menjelma menjadi kutukan yang nyata. Bung Karno benar ketika berpesan bahwa perjuangan kalian akan jauh lebih sulit karena melawan bangsa sendiri. Kalian telah mengusir penjajah berkulit putih, tetapi membiarkan penjajah berwajah sendiri merampok masa depan anak cucu kalian dengan senyuman dan undang-undang yang dibuat demi kepentingan mereka. Selama rantai kebodohan, pembungkaman, dan kerakusan ini terus kalian biarkan, maka kemerdekaan ini hanyalah ilusi—sebuah perayaan kosong di atas reruntuhan republik yang merdeka raga, namun jiwanya tetap terjajah.
































