Siapa yang tidak ingin memiliki hunian di pusat kota? Memiliki tempat tinggal di tengah hiruk-pikuk kota bukan hanya soal kebutuhan akan papan, tapi juga mencerminkan prestise dan privilese.
Berkisah tentang seorang pegawai kantoran bernama Oh Woo Sung (diperankan oleh Kang Ha Neul) yang berasal dari keluarga sederhana di desa. Ia memendam impian besar, memiliki hunian di kota Seoul, Korea Selatan. Namun tentu saja, ini bukan jalan yang mudah bagi orang biasa seperti Woo Sung.
Dengan kegigihannya, Woo Sung akhirnya berhasil membeli satu unit apartemen seluas 84m² di pusat kota Seoul seharga 1,1 miliar won. Untuk mewujudkannya, ia menguras seluruh tabungan, menjual aset crypto, mengambil pinjaman bank dan pinjaman dari perusahaan, mencairkan pesangon dini, hingga menjual tanah ibunya di desa. Ia percaya, suatu saat harga apartemennya akan naik seiring waktu, dan semua perjuangannya akan terbayar.
Namun setelah beberapa tahun tinggal di apartemen barunya, harga hunian di Korea Selatan justru mengalami penurunan. Woo Sung mulai merasakan bahwa memiliki hunian bukanlah akhir dari perjuangan, justru menjadi awal dari tekanan hidup yang baru. Cicilan yang menumpuk, beban pinjaman, dan gangguan suara berisik dari tetangganya di lantai atas membuat Woo Sung nyaris gila.
Pengeluaran Woo Sung jauh lebih besar daripada pemasukan. Meskipun ia sudah bekerja di dua tempat, sebagai pegawai kantoran dan sebagai kurir layanan antar makanan. Bahkan, ia mematikan semua lampu dan pendingin di apartemen demi menghemat listrik, serta mengambil makanan dari kantornya untuk bertahan hidup sehari-hari. Tetap saja, Woo Sung masih kesulitan membayar semua tagihan.
Sahabat Woo Sung menyarankan agar ia menyerah, menjual rumahnya, dan kembali tinggal di desa. Namun Woo Sung bersikeras untuk bertahan, meyakini bahwa suatu saat harga rumahnya akan naik dan hidupnya akan kembali layak dijalani sebagaimana mestinya seorang manusia.
Hingga suatu hari, kebisingan yang terus-menerus terjadi di apartemen Woo Sung membawanya pada sebuah konspirasi jahat yang gelap dan dalam serta akan mengubah arah hidupnya.
Sutradara Kim Tae Joon berhasil memotret kehidupan sosial kelas pekerja di Korea yang, menariknya, tidak jauh berbeda dengan kondisi kelas pekerja di Indonesia. Siapa yang mampu membeli hunian di Jakarta, meskipun mereka bekerja dan mencari nafkah di Jakarta? Tentu saja mayoritas tidak mampu. Hunian di Jakarta tidak lagi sekadar kebutuhan, melainkan simbol kapitalisme yang sangat nyata.
Film ini menjadi sangat menarik dan relevan dengan situasi ekonomi dan sosial di Indonesia, bagaimana kesenjangan antara si kaya dan si miskin semakin lebar, serta menghilangnya kelas menengah.
Ada salah satu dialog yang mungkin akan sangat relevan dan sarat dengan makna bagi kita saat ini. Yaitu ketika atasan Woo Sung mengejek keadaan Woo Sung dan berkata, Woo Sung berubah dari orang miskin menjadi pemilik rumah yang miskin.
Dengan akting kuat dari Kang Ha Neul, visualisasi yang tajam, storytelling yang menyentuh, dan sinematografi yang indah, film ini mempertanyakan kondisi sosial dan disparitas yang semakin memburuk seiring perkembangan zaman serta kapitalisme yang perlahan ‘membunuh’ kita sebagai seorang manusia.
Penjelasan: tulisan ’11-12′ di judul merupakan penggambaran sesuatu yang tidak berbeda antara kota Seoul dengan kota Jakarta.
Wall to Wall ( 2025, Netflix)
Genre : Drama , Thriller
Durasi : 1jam 58 menit
Cast : Kang Ha Neul, Yeom Hye Ran, Sek Hyun Woo
Sutradara: Kim Tae Joon
Baca juga: Memerdekakan Jakarta dari Penjajahan Berkelanjutan
































