• About
  • Editorial
  • Pedoman Media Siber
Thursday, June 18, 2026
No Result
View All Result
Koreksi.org
  • Home
  • Berita
    Kawal Proses Sidang, Aliansi Lakkang Bersatu Gelar Aksi di Pengadilan Negeri Makassar.

    Kawal Proses Sidang, Aliansi Lakkang Bersatu Gelar Aksi di Pengadilan Negeri Makassar.

    Cerita Foto: Pelajar dan Pembungkaman Demokrasi

    Cerita Foto: Pelajar dan Pembungkaman Demokrasi

    Sengketa Tanah Lakkang Caddi Bergulir di Pengadilan, Warga dan Solidaritas Serukan Tolak Mafia Tanah

    Sengketa Tanah Lakkang Caddi Bergulir di Pengadilan, Warga dan Solidaritas Serukan Tolak Mafia Tanah

    Delegasi Buruh Indonesia Soroti Konsistensi Keputusan ILC Ke-113 Terkait Palestina dan Arah Pembahasan Pekerja Platform Digital

    Hari Kedua Sidang ILC ke-114: Perlindungan Jutaan Pekerja Platform di Era Algoritma dan Kecerdasan Buatan

    Delegasi Buruh Indonesia Soroti Konsistensi Keputusan ILC Ke-113 Terkait Palestina dan Arah Pembahasan Pekerja Platform Digital

    Delegasi Buruh Indonesia Soroti Konsistensi Keputusan ILC Ke-113 Terkait Palestina dan Arah Pembahasan Pekerja Platform Digital

    Pemuda Adat Papua Tolak Program Cetak Sawah di Sorong

    Pemuda Adat Papua Tolak Program Cetak Sawah di Sorong

    Dari Sekolah ke Pengadilan, Cerita Pelajar dari Balik Jeruji

    Dari Sekolah ke Pengadilan, Cerita Pelajar dari Balik Jeruji

    Sengketa Tanah di Lakkang Caddi, Puluhan Warga Digugat di Pengadilan Negeri Makassar

    Sengketa Tanah di Lakkang Caddi, Puluhan Warga Digugat di Pengadilan Negeri Makassar

    Cerita Foto: Mahasiswa dan Pelajar Soroti Kematian Demokrasi di Aksi Kamisan ke-908

    Cerita Foto: Mahasiswa dan Pelajar Soroti Kematian Demokrasi di Aksi Kamisan ke-908

    Nisan Reformasi di Aksi Kamisan ke-908 di Jakarta.

    Aksi Kamisan ke-908: Mahasiswa dan Pelajar Menyoroti Kematian Demokrasi

    Trending Tags

  • Liputan Khusus
  • OPINI
    Potensi Dominasi Negara dari BUMN Khusus Ekspor

    Prabowonomics, Model Pembangunan yang Harus Ditinggalkan

    Kepada Said Iqbal: Redistribusi Kekayaan Tidak Cukup dengan “Kau Boleh Kaya Tapi Jangan Miskinkan Kami”

    Kepada Said Iqbal: Redistribusi Kekayaan Tidak Cukup dengan “Kau Boleh Kaya Tapi Jangan Miskinkan Kami”

    Membaca Senyum Purbaya

    Membaca Senyum Purbaya

    Pesta Babi, Negara, dan Kebebasan Pers

    Pesta Babi, Negara, dan Kebebasan Pers

    Kacau Betul! Komunikasi Pemerintah atau Halusinasi?

    Kacau Betul! Komunikasi Pemerintah atau Halusinasi?

    May Day dan Imajinasi Gerakan Buruh

    May Day dan Imajinasi Gerakan Buruh

    May Day, May Day, May Day ! Horor di Negeri yang Terabaikan. Alerta !

    May Day, May Day, May Day ! Horor di Negeri yang Terabaikan. Alerta !

    Pemindahan Gerbong Perempuan: Proteksi Atau Diskriminasi?

    Pemindahan Gerbong Perempuan: Proteksi Atau Diskriminasi?

    ​Wajah Buram Demokrasi dalam Percikan Air Keras

    ​Wajah Buram Demokrasi dalam Percikan Air Keras

    Amerika dan Mitos Penjaga Perdamaian Dunia

    Amerika dan Mitos Penjaga Perdamaian Dunia

    Trending Tags

  • RUANG SASTRA
    Selamatkan Hutan Melalui Film “Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua”

    Selamatkan Hutan Melalui Film “Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua”

    Film Pangku: Perjuangan Ibu Tunggal di Jalan Sunyi

    Film Pangku: Perjuangan Ibu Tunggal di Jalan Sunyi

    Film “Wall to Wall”: Potret Nyata Kelas Pekerja di Seoul ’11-12′ dengan Jakarta

    Film “Wall to Wall”: Potret Nyata Kelas Pekerja di Seoul ’11-12′ dengan Jakarta

    TUMPUK: Manifesto Konsumerisme dan Tumpukan Sampah

    TUMPUK: Manifesto Konsumerisme dan Tumpukan Sampah

    Sanggar Lidi Surabaya Gelar Pementasan Teater “Grafito”,  Kisah Cinta Beda Agama di Balai Pemuda Surabaya

    Sanggar Lidi Surabaya Gelar Pementasan Teater “Grafito”,  Kisah Cinta Beda Agama di Balai Pemuda Surabaya

    Cerita pendek: Kemenangan

    Cerita pendek: Kemenangan

    Trending Tags

  • SUARA WARGA
  • Home
  • Berita
    Kawal Proses Sidang, Aliansi Lakkang Bersatu Gelar Aksi di Pengadilan Negeri Makassar.

    Kawal Proses Sidang, Aliansi Lakkang Bersatu Gelar Aksi di Pengadilan Negeri Makassar.

    Cerita Foto: Pelajar dan Pembungkaman Demokrasi

    Cerita Foto: Pelajar dan Pembungkaman Demokrasi

    Sengketa Tanah Lakkang Caddi Bergulir di Pengadilan, Warga dan Solidaritas Serukan Tolak Mafia Tanah

    Sengketa Tanah Lakkang Caddi Bergulir di Pengadilan, Warga dan Solidaritas Serukan Tolak Mafia Tanah

    Delegasi Buruh Indonesia Soroti Konsistensi Keputusan ILC Ke-113 Terkait Palestina dan Arah Pembahasan Pekerja Platform Digital

    Hari Kedua Sidang ILC ke-114: Perlindungan Jutaan Pekerja Platform di Era Algoritma dan Kecerdasan Buatan

    Delegasi Buruh Indonesia Soroti Konsistensi Keputusan ILC Ke-113 Terkait Palestina dan Arah Pembahasan Pekerja Platform Digital

    Delegasi Buruh Indonesia Soroti Konsistensi Keputusan ILC Ke-113 Terkait Palestina dan Arah Pembahasan Pekerja Platform Digital

    Pemuda Adat Papua Tolak Program Cetak Sawah di Sorong

    Pemuda Adat Papua Tolak Program Cetak Sawah di Sorong

    Dari Sekolah ke Pengadilan, Cerita Pelajar dari Balik Jeruji

    Dari Sekolah ke Pengadilan, Cerita Pelajar dari Balik Jeruji

    Sengketa Tanah di Lakkang Caddi, Puluhan Warga Digugat di Pengadilan Negeri Makassar

    Sengketa Tanah di Lakkang Caddi, Puluhan Warga Digugat di Pengadilan Negeri Makassar

    Cerita Foto: Mahasiswa dan Pelajar Soroti Kematian Demokrasi di Aksi Kamisan ke-908

    Cerita Foto: Mahasiswa dan Pelajar Soroti Kematian Demokrasi di Aksi Kamisan ke-908

    Nisan Reformasi di Aksi Kamisan ke-908 di Jakarta.

    Aksi Kamisan ke-908: Mahasiswa dan Pelajar Menyoroti Kematian Demokrasi

    Trending Tags

  • Liputan Khusus
  • OPINI
    Potensi Dominasi Negara dari BUMN Khusus Ekspor

    Prabowonomics, Model Pembangunan yang Harus Ditinggalkan

    Kepada Said Iqbal: Redistribusi Kekayaan Tidak Cukup dengan “Kau Boleh Kaya Tapi Jangan Miskinkan Kami”

    Kepada Said Iqbal: Redistribusi Kekayaan Tidak Cukup dengan “Kau Boleh Kaya Tapi Jangan Miskinkan Kami”

    Membaca Senyum Purbaya

    Membaca Senyum Purbaya

    Pesta Babi, Negara, dan Kebebasan Pers

    Pesta Babi, Negara, dan Kebebasan Pers

    Kacau Betul! Komunikasi Pemerintah atau Halusinasi?

    Kacau Betul! Komunikasi Pemerintah atau Halusinasi?

    May Day dan Imajinasi Gerakan Buruh

    May Day dan Imajinasi Gerakan Buruh

    May Day, May Day, May Day ! Horor di Negeri yang Terabaikan. Alerta !

    May Day, May Day, May Day ! Horor di Negeri yang Terabaikan. Alerta !

    Pemindahan Gerbong Perempuan: Proteksi Atau Diskriminasi?

    Pemindahan Gerbong Perempuan: Proteksi Atau Diskriminasi?

    ​Wajah Buram Demokrasi dalam Percikan Air Keras

    ​Wajah Buram Demokrasi dalam Percikan Air Keras

    Amerika dan Mitos Penjaga Perdamaian Dunia

    Amerika dan Mitos Penjaga Perdamaian Dunia

    Trending Tags

  • RUANG SASTRA
    Selamatkan Hutan Melalui Film “Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua”

    Selamatkan Hutan Melalui Film “Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua”

    Film Pangku: Perjuangan Ibu Tunggal di Jalan Sunyi

    Film Pangku: Perjuangan Ibu Tunggal di Jalan Sunyi

    Film “Wall to Wall”: Potret Nyata Kelas Pekerja di Seoul ’11-12′ dengan Jakarta

    Film “Wall to Wall”: Potret Nyata Kelas Pekerja di Seoul ’11-12′ dengan Jakarta

    TUMPUK: Manifesto Konsumerisme dan Tumpukan Sampah

    TUMPUK: Manifesto Konsumerisme dan Tumpukan Sampah

    Sanggar Lidi Surabaya Gelar Pementasan Teater “Grafito”,  Kisah Cinta Beda Agama di Balai Pemuda Surabaya

    Sanggar Lidi Surabaya Gelar Pementasan Teater “Grafito”,  Kisah Cinta Beda Agama di Balai Pemuda Surabaya

    Cerita pendek: Kemenangan

    Cerita pendek: Kemenangan

    Trending Tags

  • SUARA WARGA
No Result
View All Result
Koreksi.org
No Result
View All Result
Home OPINI

Prabowonomics, Model Pembangunan yang Harus Ditinggalkan

by admin
June 18, 2026
in OPINI
0
Potensi Dominasi Negara dari BUMN Khusus Ekspor

Presiden Prabowo Subianto saat menyampaikan pidato Penyampaian KEM PPKF RAPBN Tahun Anggaran 2027 di Ruang Rapat Paripurna Gedung Nusantara MPR/DPR/DPD RI, Jakarta, pada Selasa, 20 Mei 2026. (Foto: BPMI Setpres)

7
SHARES
21
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh Firdaus Cahyadi

Pembelaan Presiden Prabowo Subianto baru-baru ini terhadap kebijakannya di The Economist (10 Juni 2026) hanya memperkuat keyakinan publik bahwa Indonesia harus segera meninggalkan Prabowonomics, model pembangunan andalan pemerintahannya. Jauh dari kerangka kerja yang berkelanjutan, Prabowonomics telah menunjukkan dirinya sebagai model ekonomi ekstraktif yang menggunakan logika militerisme untuk menggerakkannya.

Model pembangunan ekstraktif adalah jenis pembangunan ekonomi yang berfokus pada ekstraksi sumber daya alam. Model pembangunan ekstraktif Prabowonomics berpotensi dengan cepat menyebabkan kerusakan lingkungan demi akumulasi, sama sekali mengabaikan pelestarian ekologi. Ketika model pembangunan ini dikombinasikan dengan militerisme, hal itu menjadi berbahaya bagi rakyat dan alam Indonesia.

Pakar hukum Dr. Al Araf mendefinisikan militerisme sebagai pola pikir yang mengagungkan militer sebagai pemecah masalah yang mahakuasa, menciptakan paradigma yang mudah diubah. Presiden Prabowo Subianto menggunakan logika ini untuk menerapkan ide-ide Prabowonomics-nya.

Model pembangunan ekstraktif dan militeristik ini bukan sekadar kekurangan dalam implementasi. Keduanya telah tertanam dalam Prabowonomics sejak awal. Ekstraktivisme dan militerisme berakar pada obsesi untuk mencapai target pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) sebesar 8 persen. Dalam Prabowonomics, target ini akan dikejar tanpa memperhatikan dampak lingkungan.

Mengejar Target Pertumbuhan dengan Mengabaikan Deforestasi

Retorika yang mempromosikan model pembangunan ekstraktif dan militeristik Prabowonomics sangat jelas. Dalam pidato akhir tahun 2024 di Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Presiden Prabowo secara eksplisit menyatakan bahwa Indonesia harus secara agresif memperluas perkebunan kelapa sawit tanpa takut akan deforestasi. “Ke depannya, saya pikir kita juga harus memperluas budidaya kelapa sawit,”  katanya saat itu. “Tidak perlu takut akan apa yang disebut bahaya deforestasi.”

Celakanya, Presiden Prabowo Subianto mengulangi pidato yang hampir identik selama pertemuan tahun 2025 tentang percepatan pembangunan di Papua di Istana Negara, mempromosikan perluasan kelapa sawit untuk meningkatkan produksi biofuel. Ini semakin menegaskan bahwa Prabowonomics sejak awal acuh tak acuh terhadap keadilan ekologis. Prabowonomics akan mengorbankan lingkungan untuk mencapai target pertumbuhan ekonominya.

Mesin pertumbuhan Prabowonomics, yang bergantung pada swasembada energi dan pangan, mengingatkan pada film dokumenter “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita”. Film tersebut mencoba mendokumentasikan implementasi mesin pertumbuhan Prabowonomics di Papua dan perlawanan masyarakat setempat terhadapnya.

Biaya yang Meningkat: Konflik Lahan dan Hilangnya Hutan

Konsekuensi dari model pembangunan Prabowonomics dirasakan tidak hanya di Papua, tetapi juga di seluruh negeri, memicu krisis agraria dan lingkungan yang semakin memburuk. Data dari organisasi masyarakat sipil menyoroti dampak buruk yang dapat terjadi hanya pada tahun 2025. Menurut Konsorsium Reformasi Agraria (KPA), Indonesia menyaksikan setidaknya 341 konflik agraria di 33 provinsi. Konflik-konflik ini memengaruhi 123.612 keluarga di 428 desa dan mencakup lebih dari 914.547 hektar. Ini berarti frekuensi konflik agraria meningkat sebesar 15 persen selama era Prabowo Subianto.

Konsekuensi lain dari Prabowonomics adalah peningkatan pesat deforestasi. Kelompok riset independen Auriga Nusantara melaporkan bahwa kehilangan hutan di Indonesia telah meroket sebesar 66 persen, menghabiskan 433.751 hektar kanopi hutan. Organisasi tersebut secara langsung mengaitkan peningkatan ini dengan kebijakan pembangunan Presiden Prabowo.

Militerisasi Pengelolaan Sumber Daya

Alih-alih memandang protes lokal sebagai kritik konstruktif untuk membangun sistem yang lebih adil, negara menafsirkan perlawanan sebagai penghalang pembangunan, sehingga menunda kemajuan. Kesalahpahaman ini terlihat jelas dalam pernyataan Prabowo Subianto dalam pembelaannya di The Economist. Dalam pembelaannya, ia secara keliru mengklaim bahwa rakyat Indonesia menuntut hasil cepat dari agenda ekonominya.

Dilihat dari perspektif teori pengetahuan/kekuasaan Michel Foucault, klaim sepihak Prabowo Subianto bahwa rakyat Indonesia membutuhkan hasil cepat dari Prabowonomics bukan hanya sekadar pernyataan. Klaim ini berfungsi sebagai wacana baru untuk membenarkan keterlibatan angkatan bersenjata (militer dan polisi) dalam pengelolaan sumber daya alam, yang pada dasarnya merupakan domain sipil.

Keterlibatan angkatan bersenjata dalam pengelolaan sumber daya alam secara fundamental mengubah cara kerja pemerintahan. Di ranah sipil, pengelolaan sumber daya membutuhkan dialog multipemangku kepentingan, pembangunan konsensus, dan akuntabilitas karena memengaruhi mata pencaharian masyarakat. Di ranah militer, tata kelola sumber daya alam hanya dibingkai sebagai isu keamanan yang berkaitan dengan kelangsungan hidup negara. Perspektif ini mengabaikan kebutuhan akan dialog atau persetujuan publik. Tampaknya pendekatan yang keras dan tanpa dialog ini, yang diklaim Prabowo Subianto dalam pembelaannya di The Economist, adalah upaya untuk mempercepat hasil ekonomi. Dalam konteks ini, Prabowo Subianto jelas mengabaikan biaya ekologis dan sosial.

Seruan untuk Meninggalkan Prabowonomics

Publik mungkin awalnya meragukan bahwa Prabowonomics akan menggabungkan kapitalisme ekstraktif dengan militerisme. Namun, setelah membaca pembelaan Presiden Prabowo Subianto di The Economist, publik yakin bahwa kapitalisme ekstraktif dan militerisme adalah bagian yang tak terpisahkan dari Prabowonomics. Setelah membaca pembelaan Prabowo Subianto di The Economist, hampir tidak relevan lagi untuk menyamarkan kapitalisme ekstraktif dan militerisme Prabowonomics dengan jargon ekonomi nasionalisme, sosialisme, dan anti-neoliberalisme.

Dalam pembelaannya di The Economist, sangat jelas bahwa Prabowonomics memiliki akar yang sama dengan neoliberalisme: kapitalisme. Perbedaannya adalah bahwa dalam neoliberalisme, korporasi mendominasi pasar. Dalam Prabowonomics, negara, bersama dengan militer, mendominasi pasar.

Ketika ekstraksi sumber daya dan militerisme bergabung dalam satu paket, itu menjadi kutukan bagi kehidupan manusia dan lingkungan. Oleh karena itu, Indonesia perlu meninggalkan Prabowonomics. Negara ini sangat membutuhkan paradigma pembangunan yang dapat mengatasi ancaman krisis ekonomi dan iklim. Prabowonomics tidak dapat mengatasi kedua krisis tersebut.

Penulis,

Firdaus Cahyadi

Mahasiswa Doktoral, Sosiologi Pedesaan, IPB University

Tags: ekstraktifprabowo subiantoprabowonomicspresiden
admin

admin

Related Posts

Kepada Said Iqbal: Redistribusi Kekayaan Tidak Cukup dengan “Kau Boleh Kaya Tapi Jangan Miskinkan Kami”

Kepada Said Iqbal: Redistribusi Kekayaan Tidak Cukup dengan “Kau Boleh Kaya Tapi Jangan Miskinkan Kami”

by Sasmito Madrim
June 11, 2026
0

Presiden Prabowo Subianto melantik Said Iqbal sebagai Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh pada Senin (8/6/2026) di Istana...

Membaca Senyum Purbaya

Membaca Senyum Purbaya

by Nanang FS
May 18, 2026
0

Oleh: Dr. Zulfatun Mahmudah, S.Pd, M.I.Kom, CSRS Dalam sebuah pidatonya, Presiden Prabowo mengatakan,  jika Purbaya masih tersenyum, maka kondisi keuangan...

Pesta Babi, Negara, dan Kebebasan Pers

Pesta Babi, Negara, dan Kebebasan Pers

by Sasmito Madrim
May 13, 2026
0

Pemutaran film dokumenter "Pesta Babi" karya jurnalis Dandhy Dwi Laksono mengalami intimidasi hingga pembubaran paksa oleh TNI di sejumlah daerah....

Kacau Betul! Komunikasi Pemerintah atau Halusinasi?

Kacau Betul! Komunikasi Pemerintah atau Halusinasi?

by Nanang FS
May 7, 2026
0

Oleh: Nanang Farid Syam Pada pagi hari, 6 Mei 2026, ruang konferensi pers Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom RI) menjadi saksi...

May Day dan Imajinasi Gerakan Buruh

May Day dan Imajinasi Gerakan Buruh

by admin
May 1, 2026
0

Setiap tanggal 1 Mei, dunia kembali dipenuhi ucapan selamat Hari Buruh Internasional atau May Day. Tidak terkecuali May Day 2026....

May Day, May Day, May Day ! Horor di Negeri yang Terabaikan. Alerta !

May Day, May Day, May Day ! Horor di Negeri yang Terabaikan. Alerta !

by Nanang FS
May 1, 2026
0

Oleh: Nanang Farid Syam* Di ruang gelap bioskop, ratusan penonton tertegun menyaksikan fragmen Ghost in the Cell karya Joko Anwar....

Next Post
Kawal Proses Sidang, Aliansi Lakkang Bersatu Gelar Aksi di Pengadilan Negeri Makassar.

Kawal Proses Sidang, Aliansi Lakkang Bersatu Gelar Aksi di Pengadilan Negeri Makassar.

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • About
  • Editorial
  • Pedoman Media Siber

© 2025 Koreksi.org

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • OPINI
  • RUANG SASTRA
    • SUARA WARGA

© 2025 Koreksi.org