Sartika (Claresa Taufan) sedang mengandung pada trismester ketiga, ketika ia menumpang pada truk pengangkut barang untuk mencari kerja. Dalam perjalanannya, ia bertemu dengan pemilik warung kopi Ibu Maya (Christine Hakim).
Sartika bertanya kepadanya, “Apakah ia bisa mendapatkan pekerjaan?” Ibu Maya menawarkan pekerjaan sebagai pegawai kopi pangku di warungnya jika Sartika mau. Tidak hanya itu, ia juga ‘menampung’ Sartika dan membantu persalinannya.
Ketika anaknya lahir, Sartika berusaha bekerja apapun yang dia bisa lakukan, termasuk melakukan pekerjaan buruh kasar. Namun, ia menyadari penghasilannya yang ia dapatkan tidak dapat memenuhi kebutuhan sehari hari. Akhirnya ia memutuskan menerima tawaran Bu Maya untuk bekerja di warung kopinya sebagai pelayan kopi ‘pangku’. Pekerjaan yang dengan berat hati, ia jalani karena Sartika merasa tidak ada jalan lain baginya dan anaknya.
Setelah beberapa lama kerja di warung kopi ‘pangku’, Sartika bertemu dengan Hadi (Fedi Nuril) yang bekerja sebagai seorang sopir kendaraan pengangkut ikan. Hadi memperlakukan Kartika dan anaknya dengan baik. Setelah Waktu berlalu cinta mereka pun bersemi, Hadi melamar sartika dan mengajaknya ‘menikah’ dan hidup bersama.
Surat menikah dan akta kelahiran untuk bayu anak Sartika juga diurus Hadi supaya Bayu bisa bersekolah. Sartika bahagia karena ia tidak perlu lagi bekerja sebagai pelayan kopi ‘pangku’ dan bisa memberikan kehidupan yang lebih baik untuk anaknya. Seorang ayah, rumah untuk bernaung dan stabilitas ekonomi yang membuatnya bisa menjadi ibu rumah tangga biasa. Hadi juga membuatkan Sartika gerobak mie ayam agar bisa berjualan mie ayam, impian sederhana yang tidak bisa dicapainya saat jadi pelayan kopi pangku.
Kebahagiaan, keamanan dan kestabilan sederhana yang didambakan Sartika ternyata tidak bertahan lama. Realitas getir dunia membuatnya terhempas kembali menjadi pelayan warung kopi ‘pangku’. Dunia seakan tidak berpihak padanya, hal yang maklum terjadi pada mayoritas masyarakat marginal. Tapi kerasnya kehidupan tidak membuat Sartika menyerah menghadapi hidup, ia bangkit demi anaknya, seorang diri membesarkan anak-anaknya ditemani orang tua asuhnya.
Dengan jalan sunyi dan air mata, ia berjuang, berjuang setiap hari demi cinta ibu kepada anaknya. Hal yang menjadi inti dan pesan yang ingin dihadirkan Reza dari film ini, bagaimana predikat ibu tunggal yang ia pangku membuatnya tegar dan tidak pernah menyerah. Sosok ibu juga dihadirkan oleh Ibu Maya, ibu asuh yang bersedia menampung Sartika yang merupakan orang lain, menyayanginya dan anaknya layaknya anak dan cucu sendiri, bahwa kasih sayang seorang ibu tidak terikat pada ikatan darah semata.
Film ‘pangku’ besutan perdana reza rahardian ini banyak menuai pujian di dunia film nasional dan internasional. Walaupun minim dialog Reza bisa menggali emosi penonton melalui akting cemerlang oleh deretan aktris dan aktornya. Film ini memotret realitas kehidupan diangkat dari sudut pandang sopir truk dan perempuan-perempuan pelayan kopi pangku dan ‘karaoke’ yang bekerja di daerah Pantura.
Melalui film ini, Reza juga menyiratkan isu kemiskinan struktural, absennya negara di banyak kehidupan, penggusuran yang dilakukan sewenang-wenang, serta kuatnya sistem patriarki yang menyudutkan perempuan-perempuan di Indonesia.
Film ini juga tidak banyak menampilkan drama bombastis yang mengurai air mata, tapi dengan adegan sederhana yang sangat mirip dengan kehidupan sehari-hari. Menonton film ini membuat kita merasakan hidup kita terekam di layar lebar.
Perjuangan yang mungkin kita lakukan setiap hari sama seperti Sartika, perjuangan tidak untuk menjadi kaya dan sejahtera tapi perjuangan untuk cukup bertahan di negara yang ‘katanya’ makmur ini.
































