• About
  • Editorial
  • Pedoman Media Siber
Friday, July 3, 2026
No Result
View All Result
Koreksi.org
  • Home
  • Berita
    Masalah Rehabilitasi Narkotika: Diperas, Namun Belum Mendapat Layanan yang Baik

    Masalah Rehabilitasi Narkotika: Diperas, Namun Belum Mendapat Layanan yang Baik

    Delapan Tahun Menunggu Negara, Kisah Pelayanan Kesehatan yang Terbengkalai di Pulau Masela 

    Delapan Tahun Menunggu Negara, Kisah Pelayanan Kesehatan yang Terbengkalai di Pulau Masela 

    Didesak Warga, DPRD Sulsel Sepakat Menghentikan Sementara Proyek PLTSa Tamalanrea di Makassar

    Didesak Warga, DPRD Sulsel Sepakat Menghentikan Sementara Proyek PLTSa Tamalanrea di Makassar

    The Strzr: Merawat Ingatan Kolektif dan Narasi Perlawanan di Padarincang Melalui Musik

    The Strzr: Merawat Ingatan Kolektif dan Narasi Perlawanan di Padarincang Melalui Musik

    Kawal Proses Sidang, Aliansi Lakkang Bersatu Gelar Aksi di Pengadilan Negeri Makassar.

    Kawal Proses Sidang, Aliansi Lakkang Bersatu Gelar Aksi di Pengadilan Negeri Makassar.

    Cerita Foto: Pelajar dan Pembungkaman Demokrasi

    Cerita Foto: Pelajar dan Pembungkaman Demokrasi

    Sengketa Tanah Lakkang Caddi Bergulir di Pengadilan, Warga dan Solidaritas Serukan Tolak Mafia Tanah

    Sengketa Tanah Lakkang Caddi Bergulir di Pengadilan, Warga dan Solidaritas Serukan Tolak Mafia Tanah

    Delegasi Buruh Indonesia Soroti Konsistensi Keputusan ILC Ke-113 Terkait Palestina dan Arah Pembahasan Pekerja Platform Digital

    Hari Kedua Sidang ILC ke-114: Perlindungan Jutaan Pekerja Platform di Era Algoritma dan Kecerdasan Buatan

    Delegasi Buruh Indonesia Soroti Konsistensi Keputusan ILC Ke-113 Terkait Palestina dan Arah Pembahasan Pekerja Platform Digital

    Delegasi Buruh Indonesia Soroti Konsistensi Keputusan ILC Ke-113 Terkait Palestina dan Arah Pembahasan Pekerja Platform Digital

    Pemuda Adat Papua Tolak Program Cetak Sawah di Sorong

    Pemuda Adat Papua Tolak Program Cetak Sawah di Sorong

    Trending Tags

  • Liputan Khusus
  • OPINI
    Potensi Dominasi Negara dari BUMN Khusus Ekspor

    Prabowonomics, Model Pembangunan yang Harus Ditinggalkan

    Kepada Said Iqbal: Redistribusi Kekayaan Tidak Cukup dengan “Kau Boleh Kaya Tapi Jangan Miskinkan Kami”

    Kepada Said Iqbal: Redistribusi Kekayaan Tidak Cukup dengan “Kau Boleh Kaya Tapi Jangan Miskinkan Kami”

    Membaca Senyum Purbaya

    Membaca Senyum Purbaya

    Pesta Babi, Negara, dan Kebebasan Pers

    Pesta Babi, Negara, dan Kebebasan Pers

    Kacau Betul! Komunikasi Pemerintah atau Halusinasi?

    Kacau Betul! Komunikasi Pemerintah atau Halusinasi?

    May Day dan Imajinasi Gerakan Buruh

    May Day dan Imajinasi Gerakan Buruh

    May Day, May Day, May Day ! Horor di Negeri yang Terabaikan. Alerta !

    May Day, May Day, May Day ! Horor di Negeri yang Terabaikan. Alerta !

    Pemindahan Gerbong Perempuan: Proteksi Atau Diskriminasi?

    Pemindahan Gerbong Perempuan: Proteksi Atau Diskriminasi?

    ​Wajah Buram Demokrasi dalam Percikan Air Keras

    ​Wajah Buram Demokrasi dalam Percikan Air Keras

    Amerika dan Mitos Penjaga Perdamaian Dunia

    Amerika dan Mitos Penjaga Perdamaian Dunia

    Trending Tags

  • RUANG SASTRA
    Selamatkan Hutan Melalui Film “Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua”

    Selamatkan Hutan Melalui Film “Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua”

    Film Pangku: Perjuangan Ibu Tunggal di Jalan Sunyi

    Film Pangku: Perjuangan Ibu Tunggal di Jalan Sunyi

    Film “Wall to Wall”: Potret Nyata Kelas Pekerja di Seoul ’11-12′ dengan Jakarta

    Film “Wall to Wall”: Potret Nyata Kelas Pekerja di Seoul ’11-12′ dengan Jakarta

    TUMPUK: Manifesto Konsumerisme dan Tumpukan Sampah

    TUMPUK: Manifesto Konsumerisme dan Tumpukan Sampah

    Sanggar Lidi Surabaya Gelar Pementasan Teater “Grafito”,  Kisah Cinta Beda Agama di Balai Pemuda Surabaya

    Sanggar Lidi Surabaya Gelar Pementasan Teater “Grafito”,  Kisah Cinta Beda Agama di Balai Pemuda Surabaya

    Cerita pendek: Kemenangan

    Cerita pendek: Kemenangan

    Trending Tags

  • SUARA WARGA
  • Home
  • Berita
    Masalah Rehabilitasi Narkotika: Diperas, Namun Belum Mendapat Layanan yang Baik

    Masalah Rehabilitasi Narkotika: Diperas, Namun Belum Mendapat Layanan yang Baik

    Delapan Tahun Menunggu Negara, Kisah Pelayanan Kesehatan yang Terbengkalai di Pulau Masela 

    Delapan Tahun Menunggu Negara, Kisah Pelayanan Kesehatan yang Terbengkalai di Pulau Masela 

    Didesak Warga, DPRD Sulsel Sepakat Menghentikan Sementara Proyek PLTSa Tamalanrea di Makassar

    Didesak Warga, DPRD Sulsel Sepakat Menghentikan Sementara Proyek PLTSa Tamalanrea di Makassar

    The Strzr: Merawat Ingatan Kolektif dan Narasi Perlawanan di Padarincang Melalui Musik

    The Strzr: Merawat Ingatan Kolektif dan Narasi Perlawanan di Padarincang Melalui Musik

    Kawal Proses Sidang, Aliansi Lakkang Bersatu Gelar Aksi di Pengadilan Negeri Makassar.

    Kawal Proses Sidang, Aliansi Lakkang Bersatu Gelar Aksi di Pengadilan Negeri Makassar.

    Cerita Foto: Pelajar dan Pembungkaman Demokrasi

    Cerita Foto: Pelajar dan Pembungkaman Demokrasi

    Sengketa Tanah Lakkang Caddi Bergulir di Pengadilan, Warga dan Solidaritas Serukan Tolak Mafia Tanah

    Sengketa Tanah Lakkang Caddi Bergulir di Pengadilan, Warga dan Solidaritas Serukan Tolak Mafia Tanah

    Delegasi Buruh Indonesia Soroti Konsistensi Keputusan ILC Ke-113 Terkait Palestina dan Arah Pembahasan Pekerja Platform Digital

    Hari Kedua Sidang ILC ke-114: Perlindungan Jutaan Pekerja Platform di Era Algoritma dan Kecerdasan Buatan

    Delegasi Buruh Indonesia Soroti Konsistensi Keputusan ILC Ke-113 Terkait Palestina dan Arah Pembahasan Pekerja Platform Digital

    Delegasi Buruh Indonesia Soroti Konsistensi Keputusan ILC Ke-113 Terkait Palestina dan Arah Pembahasan Pekerja Platform Digital

    Pemuda Adat Papua Tolak Program Cetak Sawah di Sorong

    Pemuda Adat Papua Tolak Program Cetak Sawah di Sorong

    Trending Tags

  • Liputan Khusus
  • OPINI
    Potensi Dominasi Negara dari BUMN Khusus Ekspor

    Prabowonomics, Model Pembangunan yang Harus Ditinggalkan

    Kepada Said Iqbal: Redistribusi Kekayaan Tidak Cukup dengan “Kau Boleh Kaya Tapi Jangan Miskinkan Kami”

    Kepada Said Iqbal: Redistribusi Kekayaan Tidak Cukup dengan “Kau Boleh Kaya Tapi Jangan Miskinkan Kami”

    Membaca Senyum Purbaya

    Membaca Senyum Purbaya

    Pesta Babi, Negara, dan Kebebasan Pers

    Pesta Babi, Negara, dan Kebebasan Pers

    Kacau Betul! Komunikasi Pemerintah atau Halusinasi?

    Kacau Betul! Komunikasi Pemerintah atau Halusinasi?

    May Day dan Imajinasi Gerakan Buruh

    May Day dan Imajinasi Gerakan Buruh

    May Day, May Day, May Day ! Horor di Negeri yang Terabaikan. Alerta !

    May Day, May Day, May Day ! Horor di Negeri yang Terabaikan. Alerta !

    Pemindahan Gerbong Perempuan: Proteksi Atau Diskriminasi?

    Pemindahan Gerbong Perempuan: Proteksi Atau Diskriminasi?

    ​Wajah Buram Demokrasi dalam Percikan Air Keras

    ​Wajah Buram Demokrasi dalam Percikan Air Keras

    Amerika dan Mitos Penjaga Perdamaian Dunia

    Amerika dan Mitos Penjaga Perdamaian Dunia

    Trending Tags

  • RUANG SASTRA
    Selamatkan Hutan Melalui Film “Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua”

    Selamatkan Hutan Melalui Film “Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua”

    Film Pangku: Perjuangan Ibu Tunggal di Jalan Sunyi

    Film Pangku: Perjuangan Ibu Tunggal di Jalan Sunyi

    Film “Wall to Wall”: Potret Nyata Kelas Pekerja di Seoul ’11-12′ dengan Jakarta

    Film “Wall to Wall”: Potret Nyata Kelas Pekerja di Seoul ’11-12′ dengan Jakarta

    TUMPUK: Manifesto Konsumerisme dan Tumpukan Sampah

    TUMPUK: Manifesto Konsumerisme dan Tumpukan Sampah

    Sanggar Lidi Surabaya Gelar Pementasan Teater “Grafito”,  Kisah Cinta Beda Agama di Balai Pemuda Surabaya

    Sanggar Lidi Surabaya Gelar Pementasan Teater “Grafito”,  Kisah Cinta Beda Agama di Balai Pemuda Surabaya

    Cerita pendek: Kemenangan

    Cerita pendek: Kemenangan

    Trending Tags

  • SUARA WARGA
No Result
View All Result
Koreksi.org
No Result
View All Result
Home OPINI

Tahanan Politik Era Paling Baru

by admin
October 9, 2025
in OPINI
0
Tahanan Politik Era Paling Baru

Ilustrasi tahanan politik. Foto: Pixabay

84
SHARES
240
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Di negara yang menyebut dirinya demokratis, kemunculan kembali istilah tahanan politik bukan sekadar ironi tetapi kegagalan mendasar dalam evolusi hukum dan politik modern. Dua puluh tujuh orang yang kini mendekam di rumah tahanan Polda Metro Jaya dan kemudian membentuk Serikat Tahanan Politik Indonesia sesungguhnya sedang memperlihatkan sesuatu yang lebih gelap dari sekadar kekerasan prosedural. Mereka memperlihatkan bahwa setelah seperempat abad reformasi, republik ini masih belum selesai berdamai dengan warisan otoritarianisme. Di negeri yang katanya telah matang secara demokratis, kita kembali berhadapan dengan fenomena yang seharusnya hanya hidup di arsip sejarah: tahanan politik.

Dalam sejarah modern, istilah tahanan politik selalu lahir dari dua jenis rezim yang sama-sama gagal mengenali perbedaan pandangan. Rezim otoritarian yang represif menggunakannya untuk menaklukkan oposisi, sementara demokrasi yang sedang mengalami panik moral menggunakannya untuk menertibkan warganya sendiri. Pada abad ke-20, istilah itu identik dengan Uni Soviet di bawah Stalin, Tiongkok pada masa Revolusi Kebudayaan, Korea Utara hingga hari ini, Iran pasca-1979, Myanmar di bawah junta, dan Indonesia di masa Orde Baru Soeharto. Dalam semua contoh itu, negara menempatkan perbedaan pandangan sebagai kejahatan, bukan sebagai hak. Ia tidak menghukum tindakan kriminal, melainkan menghukum ketidaksepakatan. Maka ketika istilah yang sama muncul kembali di Jakarta pada 2025, di bawah pemerintahan yang dipilih secara elektoral, pertanyaannya bukan lagi apa yang salah pada para tahanan itu, melainkan apa yang sedang mundur dalam sistem politik kita.

Latar pembentukannya jelas. Menurut laporan LBH Jakarta dan Tim Advokasi untuk Demokrasi, beberapa tahanan mengalami kekerasan saat pemeriksaan tanpa pendamping hukum. Mereka lalu menulis surat, menandatangani nama, dan membentuk wadah bersama. Mereka bukan revolusioner yang ingin menggulingkan negara, tetapi warga negara yang berusaha bertahan dari negara yang tak lagi mengenali batas kuasanya. Dalam masyarakat hukum yang sehat, tindakan ini tidak perlu dilakukan. Fakta bahwa ia muncul justru mengungkap lubang besar dalam institusi hukum bahwa hukum kini bekerja bukan untuk melindungi, melainkan untuk mengatur kesunyian.

Reformasi 1998 semestinya menjadi penanda berakhirnya politik ketakutan. Pemisahan militer dan Polri dimaksudkan agar negara tidak lagi beroperasi dengan logika keamanan internal yang represif. Namun dua puluh lima tahun kemudian, logika itu justru hidup kembali dalam bentuk yang lebih canggih, represi berbasis legalitas. Ratusan orang ditangkap pada demonstrasi Mei dan Agustus 2025 atas tuduhan penghasutan dan penyebaran informasi menyesatkan. Pasal yang dipakai adalah pasal lentur, diwariskan dari masa kolonial dan diperbarui dalam Undang-Undang ITE. Di atas kertas, ini penegakan hukum. Dalam praktiknya, ini represi yang dilegalkan. Perbedaan utamanya dengan masa Soeharto hanya pada kosmetika. Dulu represi disertai sensor, sekarang disertai pernyataan “kami menjunjung hak asasi manusia”.

Fenomena semacam ini tidak unik bagi Indonesia. Rusia di bawah Vladimir Putin menggunakan pasal ekstremisme dan disinformasi untuk menahan oposisi. India di bawah Narendra Modi menjerat aktivis dengan Undang-Undang Keamanan Nasional. Di Tiongkok, hukum tentang gangguan ketertiban umum digunakan untuk menahan pembela hak buruh dan lingkungan. Semua negara itu masih menggelar pemilu, tetapi substansi demokrasinya tereduksi. Hukum dipakai bukan untuk menegakkan keadilan, melainkan untuk menertibkan perbedaan. Indonesia kini berjalan di jalur yang sama, hanya dengan bahasa yang lebih lembut dan tata cara yang lebih prosedural.

Mereka yang membentuk Serikat Tahanan Politik Indonesia paham bahwa menghadapi sistem semacam ini tidak bisa dilakukan secara individual. Mereka menyadari sebagaimana disadari oleh para tahanan di masa Orde Baru bahwa solidaritas adalah satu-satunya perlindungan terhadap kekerasan yang dilembagakan. Dari dalam rutan, mereka mengorganisir pemeriksaan medis, memastikan pendamping hukum, dan menjadi saksi bagi satu sama lain. Di tengah negara yang kehilangan empatinya, para tahanan ini justru menampilkan rasionalitas politik yang paling tinggi, kesadaran bahwa hukum tanpa solidaritas adalah ruang hampa. Ironinya, demokrasi yang dulu mereka perjuangkan kini hanya hidup di antara mereka yang dipenjara karenanya.

Pemerintah tentu akan menyangkal bahwa mereka adalah tahanan politik. Negara demokratis, katanya, tak mengenal istilah itu. Tetapi istilah bukanlah soal nomenklatur, melainkan fungsi. Bila seseorang ditangkap bukan karena ia melakukan kekerasan, melainkan karena ia mengungkapkan pandangan yang tak sejalan dengan penguasa, bila penyiksaan dilakukan untuk menekan perbedaan narasi, bila hukum dijalankan dengan asumsi bahwa kesetiaan lebih penting daripada kebenaran, maka apa pun istilah yang dipakai, substansinya tetap sama. Itu penahanan politik, dan serikat yang lahir di dalam penjara ini hanya mempertegasnya.

Masalahnya bukan pada hukum, melainkan pada keberanian politik untuk menjadikan hukum sebagai pelindung warga, bukan tameng kekuasaan. Polri berdiri di titik genting antara profesionalisme dan politik. Setiap kali ada tuduhan penyiksaan, respons yang muncul bukan penyelidikan terbuka, melainkan pembelaan institusional. Dalam setiap demokrasi yang matang, pengakuan atas kesalahan justru menjadi sumber legitimasi moral. Di Indonesia, pengakuan masih dianggap kelemahan. Akibatnya, hukum berjalan dengan ketegasan prosedural tapi kehilangan keteguhan moral. Ia tegak di atas kertas, tapi goyah di dalam nurani.

Kita bisa saja terus berkata bahwa demokrasi Indonesia masih berfungsi. Pemilu akan tetap digelar, partai akan tetap bertarung, pejabat akan tetap berganti. Namun demokrasi yang hanya bertumpu pada prosedur adalah demokrasi yang mudah dibungkam. Ia hidup, tapi tidak berjiwa. Ia punya bentuk, tapi kehilangan keberanian. Ketika negara merasa perlu menahan orang karena berpendapat, maka demokrasi sudah berubah menjadi ritual administratif. Republik masih berdiri, tetapi semangat republik, bahwa kekuasaan lahir dari rakyat dan untuk rakyat, telah retak.

Sejarah memberi pelajaran yang keras. Tidak ada satu pun rezim yang bertahan lama dengan memenjarakan warganya yang berpikir. Soeharto jatuh ketika penjara sudah terlalu penuh dengan suara yang disangkal. Di Chile, Augusto Pinochet tumbang bukan karena senjata, tetapi karena memenjarakan terlalu banyak intelektual. Di Myanmar, setiap kudeta dimulai dengan penangkapan, dan setiap kejatuhan rezim juga ditandai dengan pembebasan tahanan politik. Mungkin Indonesia belum sampai di titik itu. Namun pertanyaannya, apakah kita benar-benar yakin sedang menjauh darinya?

Virdika Rizky Utama, Direktur Eksekutif PARA Syndicate

Tags: otoritarianprabowo subiantotahanan politik
admin

admin

Related Posts

Potensi Dominasi Negara dari BUMN Khusus Ekspor

Prabowonomics, Model Pembangunan yang Harus Ditinggalkan

by admin
June 18, 2026
0

Oleh Firdaus Cahyadi Pembelaan Presiden Prabowo Subianto baru-baru ini terhadap kebijakannya di The Economist (10 Juni 2026) hanya memperkuat keyakinan...

Kepada Said Iqbal: Redistribusi Kekayaan Tidak Cukup dengan “Kau Boleh Kaya Tapi Jangan Miskinkan Kami”

Kepada Said Iqbal: Redistribusi Kekayaan Tidak Cukup dengan “Kau Boleh Kaya Tapi Jangan Miskinkan Kami”

by Sasmito Madrim
June 11, 2026
0

Presiden Prabowo Subianto melantik Said Iqbal sebagai Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh pada Senin (8/6/2026) di Istana...

Membaca Senyum Purbaya

Membaca Senyum Purbaya

by Nanang FS
May 18, 2026
0

Oleh: Dr. Zulfatun Mahmudah, S.Pd, M.I.Kom, CSRS Dalam sebuah pidatonya, Presiden Prabowo mengatakan,  jika Purbaya masih tersenyum, maka kondisi keuangan...

Pesta Babi, Negara, dan Kebebasan Pers

Pesta Babi, Negara, dan Kebebasan Pers

by Sasmito Madrim
May 13, 2026
0

Pemutaran film dokumenter "Pesta Babi" karya jurnalis Dandhy Dwi Laksono mengalami intimidasi hingga pembubaran paksa oleh TNI di sejumlah daerah....

Kacau Betul! Komunikasi Pemerintah atau Halusinasi?

Kacau Betul! Komunikasi Pemerintah atau Halusinasi?

by Nanang FS
May 7, 2026
0

Oleh: Nanang Farid Syam Pada pagi hari, 6 Mei 2026, ruang konferensi pers Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom RI) menjadi saksi...

May Day dan Imajinasi Gerakan Buruh

May Day dan Imajinasi Gerakan Buruh

by admin
May 1, 2026
0

Setiap tanggal 1 Mei, dunia kembali dipenuhi ucapan selamat Hari Buruh Internasional atau May Day. Tidak terkecuali May Day 2026....

Next Post
Jokowi Jadi Sekjen PBB 2026 [Hoaks]

Jokowi Jadi Sekjen PBB 2026 [Hoaks]

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • About
  • Editorial
  • Pedoman Media Siber

© 2025 Koreksi.org

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • OPINI
  • RUANG SASTRA
    • SUARA WARGA

© 2025 Koreksi.org