• About
  • Editorial
  • Pedoman Media Siber
Sunday, October 4, 2026
No Result
View All Result
Koreksi.org
  • Home
  • Berita
    Guru Korban PHK di Sekolah Islam Tangerang Selatan Temui Penasihat Presiden

    Guru Korban PHK di Sekolah Islam Tangerang Selatan Temui Penasihat Presiden

    Suasana tahanan politik diberi arahan oleh polisi di sebuah ruang unit reserse polda metro jaya pada Rabu, (8/9).

    Serial “Kembali ke Barak”: Pemprov DKI Wajibkan Pelajar Pendemo Ikut Pembekalan Bela Negara

    Kecewa Pemkot Surabaya Abaikan Aspirasi, Petani Tambak Keputih Tutup Akses Jalan

    Kecewa Pemkot Surabaya Abaikan Aspirasi, Petani Tambak Keputih Tutup Akses Jalan

    Serial “Kembali ke Barak”: Tolak Militerisasi Kampus, Mahasiswa Baru UINAM Diancam DO

    Serial “Kembali ke Barak”: Tolak Militerisasi Kampus, Mahasiswa Baru UINAM Diancam DO

    Warga Simogunung Surabaya Desak Penghentian Kriminalisasi Sengketa Tanah Dengan TNI AU

    Warga Simogunung Surabaya Desak Penghentian Kriminalisasi Sengketa Tanah Dengan TNI AU

    Gubernur Papua Barat Daya Blakblakan soal Hutan hingga Tambang di Papua Milik Jenderal

    Gubernur Papua Barat Daya Blakblakan soal Hutan hingga Tambang di Papua Milik Jenderal

    Koalisi Masyarakat Adat Sepakat Tolak PSN hingga Proyek Eksploitatif di Papeda Summit

    Koalisi Masyarakat Adat Sepakat Tolak PSN hingga Proyek Eksploitatif di Papeda Summit

    Menko Zulkifli Hasan Kabur saat Ditanya Papeda Summit dan Janji 1,7 Juta Hutan Adat di Papua

    Menko Zulkifli Hasan Kabur saat Ditanya Papeda Summit dan Janji 1,7 Juta Hutan Adat di Papua

    Aksi Pemuda Adat Papua Tolak Papeda Summit 2026 di Sorong: NGO Fasilitasi Aktor Perusak Hutan

    Aksi Pemuda Adat Papua Tolak Papeda Summit 2026 di Sorong: NGO Fasilitasi Aktor Perusak Hutan

    Serial “Kembali ke Barak”: Warga Kwini 8 Melawan Klaim Sepihak Militer

    Serial “Kembali ke Barak”: Warga Kwini 8 Melawan Klaim Sepihak Militer

    Trending Tags

  • Liputan Khusus
  • OPINI
    Tidak Percaya Hingga Tuntutan Pembubaran DPR, Lantas Apa?

    Tidak Percaya Hingga Tuntutan Pembubaran DPR, Lantas Apa?

    Menjaga Hak Hidup: Kisah Perempuan ODHIV dalam Pusaran Hukum Narkotika

    Menjaga Hak Hidup: Kisah Perempuan ODHIV dalam Pusaran Hukum Narkotika

    Dari Jakarta ke Phnom Penh: Perang Melawan Scam yang Tak Bisa Ditangani Satu Negara Saja

    Dari Jakarta ke Phnom Penh: Perang Melawan Scam yang Tak Bisa Ditangani Satu Negara Saja

    Apakah Kemerdekaan Seperti Ini yang Engkau Maksud, Datuk?

    Apakah Kemerdekaan Seperti Ini yang Engkau Maksud, Datuk?

    Satu Dekade Arbitrase Laut China Selatan: Refleksi atas Dampaknya terhadap Stabilitas Kawasan

    Belajar dari Sepak Bola Dunia

    Belajar dari Sepak Bola Dunia

    Potensi Dominasi Negara dari BUMN Khusus Ekspor

    Prabowonomics, Model Pembangunan yang Harus Ditinggalkan

    Kepada Said Iqbal: Redistribusi Kekayaan Tidak Cukup dengan “Kau Boleh Kaya Tapi Jangan Miskinkan Kami”

    Kepada Said Iqbal: Redistribusi Kekayaan Tidak Cukup dengan “Kau Boleh Kaya Tapi Jangan Miskinkan Kami”

    Membaca Senyum Purbaya

    Membaca Senyum Purbaya

    Pesta Babi, Negara, dan Kebebasan Pers

    Pesta Babi, Negara, dan Kebebasan Pers

    Trending Tags

  • RUANG SASTRA
    Selamatkan Hutan Melalui Film “Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua”

    Selamatkan Hutan Melalui Film “Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua”

    Film Pangku: Perjuangan Ibu Tunggal di Jalan Sunyi

    Film Pangku: Perjuangan Ibu Tunggal di Jalan Sunyi

    Film “Wall to Wall”: Potret Nyata Kelas Pekerja di Seoul ’11-12′ dengan Jakarta

    Film “Wall to Wall”: Potret Nyata Kelas Pekerja di Seoul ’11-12′ dengan Jakarta

    TUMPUK: Manifesto Konsumerisme dan Tumpukan Sampah

    TUMPUK: Manifesto Konsumerisme dan Tumpukan Sampah

    Sanggar Lidi Surabaya Gelar Pementasan Teater “Grafito”,  Kisah Cinta Beda Agama di Balai Pemuda Surabaya

    Sanggar Lidi Surabaya Gelar Pementasan Teater “Grafito”,  Kisah Cinta Beda Agama di Balai Pemuda Surabaya

    Cerita pendek: Kemenangan

    Cerita pendek: Kemenangan

    Trending Tags

  • SUARA WARGA
  • Home
  • Berita
    Guru Korban PHK di Sekolah Islam Tangerang Selatan Temui Penasihat Presiden

    Guru Korban PHK di Sekolah Islam Tangerang Selatan Temui Penasihat Presiden

    Suasana tahanan politik diberi arahan oleh polisi di sebuah ruang unit reserse polda metro jaya pada Rabu, (8/9).

    Serial “Kembali ke Barak”: Pemprov DKI Wajibkan Pelajar Pendemo Ikut Pembekalan Bela Negara

    Kecewa Pemkot Surabaya Abaikan Aspirasi, Petani Tambak Keputih Tutup Akses Jalan

    Kecewa Pemkot Surabaya Abaikan Aspirasi, Petani Tambak Keputih Tutup Akses Jalan

    Serial “Kembali ke Barak”: Tolak Militerisasi Kampus, Mahasiswa Baru UINAM Diancam DO

    Serial “Kembali ke Barak”: Tolak Militerisasi Kampus, Mahasiswa Baru UINAM Diancam DO

    Warga Simogunung Surabaya Desak Penghentian Kriminalisasi Sengketa Tanah Dengan TNI AU

    Warga Simogunung Surabaya Desak Penghentian Kriminalisasi Sengketa Tanah Dengan TNI AU

    Gubernur Papua Barat Daya Blakblakan soal Hutan hingga Tambang di Papua Milik Jenderal

    Gubernur Papua Barat Daya Blakblakan soal Hutan hingga Tambang di Papua Milik Jenderal

    Koalisi Masyarakat Adat Sepakat Tolak PSN hingga Proyek Eksploitatif di Papeda Summit

    Koalisi Masyarakat Adat Sepakat Tolak PSN hingga Proyek Eksploitatif di Papeda Summit

    Menko Zulkifli Hasan Kabur saat Ditanya Papeda Summit dan Janji 1,7 Juta Hutan Adat di Papua

    Menko Zulkifli Hasan Kabur saat Ditanya Papeda Summit dan Janji 1,7 Juta Hutan Adat di Papua

    Aksi Pemuda Adat Papua Tolak Papeda Summit 2026 di Sorong: NGO Fasilitasi Aktor Perusak Hutan

    Aksi Pemuda Adat Papua Tolak Papeda Summit 2026 di Sorong: NGO Fasilitasi Aktor Perusak Hutan

    Serial “Kembali ke Barak”: Warga Kwini 8 Melawan Klaim Sepihak Militer

    Serial “Kembali ke Barak”: Warga Kwini 8 Melawan Klaim Sepihak Militer

    Trending Tags

  • Liputan Khusus
  • OPINI
    Tidak Percaya Hingga Tuntutan Pembubaran DPR, Lantas Apa?

    Tidak Percaya Hingga Tuntutan Pembubaran DPR, Lantas Apa?

    Menjaga Hak Hidup: Kisah Perempuan ODHIV dalam Pusaran Hukum Narkotika

    Menjaga Hak Hidup: Kisah Perempuan ODHIV dalam Pusaran Hukum Narkotika

    Dari Jakarta ke Phnom Penh: Perang Melawan Scam yang Tak Bisa Ditangani Satu Negara Saja

    Dari Jakarta ke Phnom Penh: Perang Melawan Scam yang Tak Bisa Ditangani Satu Negara Saja

    Apakah Kemerdekaan Seperti Ini yang Engkau Maksud, Datuk?

    Apakah Kemerdekaan Seperti Ini yang Engkau Maksud, Datuk?

    Satu Dekade Arbitrase Laut China Selatan: Refleksi atas Dampaknya terhadap Stabilitas Kawasan

    Belajar dari Sepak Bola Dunia

    Belajar dari Sepak Bola Dunia

    Potensi Dominasi Negara dari BUMN Khusus Ekspor

    Prabowonomics, Model Pembangunan yang Harus Ditinggalkan

    Kepada Said Iqbal: Redistribusi Kekayaan Tidak Cukup dengan “Kau Boleh Kaya Tapi Jangan Miskinkan Kami”

    Kepada Said Iqbal: Redistribusi Kekayaan Tidak Cukup dengan “Kau Boleh Kaya Tapi Jangan Miskinkan Kami”

    Membaca Senyum Purbaya

    Membaca Senyum Purbaya

    Pesta Babi, Negara, dan Kebebasan Pers

    Pesta Babi, Negara, dan Kebebasan Pers

    Trending Tags

  • RUANG SASTRA
    Selamatkan Hutan Melalui Film “Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua”

    Selamatkan Hutan Melalui Film “Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua”

    Film Pangku: Perjuangan Ibu Tunggal di Jalan Sunyi

    Film Pangku: Perjuangan Ibu Tunggal di Jalan Sunyi

    Film “Wall to Wall”: Potret Nyata Kelas Pekerja di Seoul ’11-12′ dengan Jakarta

    Film “Wall to Wall”: Potret Nyata Kelas Pekerja di Seoul ’11-12′ dengan Jakarta

    TUMPUK: Manifesto Konsumerisme dan Tumpukan Sampah

    TUMPUK: Manifesto Konsumerisme dan Tumpukan Sampah

    Sanggar Lidi Surabaya Gelar Pementasan Teater “Grafito”,  Kisah Cinta Beda Agama di Balai Pemuda Surabaya

    Sanggar Lidi Surabaya Gelar Pementasan Teater “Grafito”,  Kisah Cinta Beda Agama di Balai Pemuda Surabaya

    Cerita pendek: Kemenangan

    Cerita pendek: Kemenangan

    Trending Tags

  • SUARA WARGA
No Result
View All Result
Koreksi.org
No Result
View All Result
Home OPINI

Tahanan Politik Era Paling Baru

by admin
October 9, 2025
in OPINI
0
Tahanan Politik Era Paling Baru

Ilustrasi tahanan politik. Foto: Pixabay

88
SHARES
252
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Di negara yang menyebut dirinya demokratis, kemunculan kembali istilah tahanan politik bukan sekadar ironi tetapi kegagalan mendasar dalam evolusi hukum dan politik modern. Dua puluh tujuh orang yang kini mendekam di rumah tahanan Polda Metro Jaya dan kemudian membentuk Serikat Tahanan Politik Indonesia sesungguhnya sedang memperlihatkan sesuatu yang lebih gelap dari sekadar kekerasan prosedural. Mereka memperlihatkan bahwa setelah seperempat abad reformasi, republik ini masih belum selesai berdamai dengan warisan otoritarianisme. Di negeri yang katanya telah matang secara demokratis, kita kembali berhadapan dengan fenomena yang seharusnya hanya hidup di arsip sejarah: tahanan politik.

Dalam sejarah modern, istilah tahanan politik selalu lahir dari dua jenis rezim yang sama-sama gagal mengenali perbedaan pandangan. Rezim otoritarian yang represif menggunakannya untuk menaklukkan oposisi, sementara demokrasi yang sedang mengalami panik moral menggunakannya untuk menertibkan warganya sendiri. Pada abad ke-20, istilah itu identik dengan Uni Soviet di bawah Stalin, Tiongkok pada masa Revolusi Kebudayaan, Korea Utara hingga hari ini, Iran pasca-1979, Myanmar di bawah junta, dan Indonesia di masa Orde Baru Soeharto. Dalam semua contoh itu, negara menempatkan perbedaan pandangan sebagai kejahatan, bukan sebagai hak. Ia tidak menghukum tindakan kriminal, melainkan menghukum ketidaksepakatan. Maka ketika istilah yang sama muncul kembali di Jakarta pada 2025, di bawah pemerintahan yang dipilih secara elektoral, pertanyaannya bukan lagi apa yang salah pada para tahanan itu, melainkan apa yang sedang mundur dalam sistem politik kita.

Latar pembentukannya jelas. Menurut laporan LBH Jakarta dan Tim Advokasi untuk Demokrasi, beberapa tahanan mengalami kekerasan saat pemeriksaan tanpa pendamping hukum. Mereka lalu menulis surat, menandatangani nama, dan membentuk wadah bersama. Mereka bukan revolusioner yang ingin menggulingkan negara, tetapi warga negara yang berusaha bertahan dari negara yang tak lagi mengenali batas kuasanya. Dalam masyarakat hukum yang sehat, tindakan ini tidak perlu dilakukan. Fakta bahwa ia muncul justru mengungkap lubang besar dalam institusi hukum bahwa hukum kini bekerja bukan untuk melindungi, melainkan untuk mengatur kesunyian.

Reformasi 1998 semestinya menjadi penanda berakhirnya politik ketakutan. Pemisahan militer dan Polri dimaksudkan agar negara tidak lagi beroperasi dengan logika keamanan internal yang represif. Namun dua puluh lima tahun kemudian, logika itu justru hidup kembali dalam bentuk yang lebih canggih, represi berbasis legalitas. Ratusan orang ditangkap pada demonstrasi Mei dan Agustus 2025 atas tuduhan penghasutan dan penyebaran informasi menyesatkan. Pasal yang dipakai adalah pasal lentur, diwariskan dari masa kolonial dan diperbarui dalam Undang-Undang ITE. Di atas kertas, ini penegakan hukum. Dalam praktiknya, ini represi yang dilegalkan. Perbedaan utamanya dengan masa Soeharto hanya pada kosmetika. Dulu represi disertai sensor, sekarang disertai pernyataan “kami menjunjung hak asasi manusia”.

Fenomena semacam ini tidak unik bagi Indonesia. Rusia di bawah Vladimir Putin menggunakan pasal ekstremisme dan disinformasi untuk menahan oposisi. India di bawah Narendra Modi menjerat aktivis dengan Undang-Undang Keamanan Nasional. Di Tiongkok, hukum tentang gangguan ketertiban umum digunakan untuk menahan pembela hak buruh dan lingkungan. Semua negara itu masih menggelar pemilu, tetapi substansi demokrasinya tereduksi. Hukum dipakai bukan untuk menegakkan keadilan, melainkan untuk menertibkan perbedaan. Indonesia kini berjalan di jalur yang sama, hanya dengan bahasa yang lebih lembut dan tata cara yang lebih prosedural.

Mereka yang membentuk Serikat Tahanan Politik Indonesia paham bahwa menghadapi sistem semacam ini tidak bisa dilakukan secara individual. Mereka menyadari sebagaimana disadari oleh para tahanan di masa Orde Baru bahwa solidaritas adalah satu-satunya perlindungan terhadap kekerasan yang dilembagakan. Dari dalam rutan, mereka mengorganisir pemeriksaan medis, memastikan pendamping hukum, dan menjadi saksi bagi satu sama lain. Di tengah negara yang kehilangan empatinya, para tahanan ini justru menampilkan rasionalitas politik yang paling tinggi, kesadaran bahwa hukum tanpa solidaritas adalah ruang hampa. Ironinya, demokrasi yang dulu mereka perjuangkan kini hanya hidup di antara mereka yang dipenjara karenanya.

Pemerintah tentu akan menyangkal bahwa mereka adalah tahanan politik. Negara demokratis, katanya, tak mengenal istilah itu. Tetapi istilah bukanlah soal nomenklatur, melainkan fungsi. Bila seseorang ditangkap bukan karena ia melakukan kekerasan, melainkan karena ia mengungkapkan pandangan yang tak sejalan dengan penguasa, bila penyiksaan dilakukan untuk menekan perbedaan narasi, bila hukum dijalankan dengan asumsi bahwa kesetiaan lebih penting daripada kebenaran, maka apa pun istilah yang dipakai, substansinya tetap sama. Itu penahanan politik, dan serikat yang lahir di dalam penjara ini hanya mempertegasnya.

Masalahnya bukan pada hukum, melainkan pada keberanian politik untuk menjadikan hukum sebagai pelindung warga, bukan tameng kekuasaan. Polri berdiri di titik genting antara profesionalisme dan politik. Setiap kali ada tuduhan penyiksaan, respons yang muncul bukan penyelidikan terbuka, melainkan pembelaan institusional. Dalam setiap demokrasi yang matang, pengakuan atas kesalahan justru menjadi sumber legitimasi moral. Di Indonesia, pengakuan masih dianggap kelemahan. Akibatnya, hukum berjalan dengan ketegasan prosedural tapi kehilangan keteguhan moral. Ia tegak di atas kertas, tapi goyah di dalam nurani.

Kita bisa saja terus berkata bahwa demokrasi Indonesia masih berfungsi. Pemilu akan tetap digelar, partai akan tetap bertarung, pejabat akan tetap berganti. Namun demokrasi yang hanya bertumpu pada prosedur adalah demokrasi yang mudah dibungkam. Ia hidup, tapi tidak berjiwa. Ia punya bentuk, tapi kehilangan keberanian. Ketika negara merasa perlu menahan orang karena berpendapat, maka demokrasi sudah berubah menjadi ritual administratif. Republik masih berdiri, tetapi semangat republik, bahwa kekuasaan lahir dari rakyat dan untuk rakyat, telah retak.

Sejarah memberi pelajaran yang keras. Tidak ada satu pun rezim yang bertahan lama dengan memenjarakan warganya yang berpikir. Soeharto jatuh ketika penjara sudah terlalu penuh dengan suara yang disangkal. Di Chile, Augusto Pinochet tumbang bukan karena senjata, tetapi karena memenjarakan terlalu banyak intelektual. Di Myanmar, setiap kudeta dimulai dengan penangkapan, dan setiap kejatuhan rezim juga ditandai dengan pembebasan tahanan politik. Mungkin Indonesia belum sampai di titik itu. Namun pertanyaannya, apakah kita benar-benar yakin sedang menjauh darinya?

Virdika Rizky Utama, Direktur Eksekutif PARA Syndicate

Tags: otoritarianprabowo subiantotahanan politik
admin

admin

Related Posts

Tidak Percaya Hingga Tuntutan Pembubaran DPR, Lantas Apa?

Tidak Percaya Hingga Tuntutan Pembubaran DPR, Lantas Apa?

by Sasmito Madrim
September 29, 2026
0

Publik tidak cukup percaya kepada DPR. Penyebabnya beragam, mulai dari kinerja legislasi yang rendah hingga, kalaupun berhasil membuat produk hukum,...

Menjaga Hak Hidup: Kisah Perempuan ODHIV dalam Pusaran Hukum Narkotika

Menjaga Hak Hidup: Kisah Perempuan ODHIV dalam Pusaran Hukum Narkotika

by admin
August 27, 2026
0

“Kalau obatnya putus, kondisinya bisa memburuk.” Kalimat itu tidak diucapkan di ruang sidang, bukan pula dalam rapat sebuah lembaga bantuan...

Dari Jakarta ke Phnom Penh: Perang Melawan Scam yang Tak Bisa Ditangani Satu Negara Saja

Dari Jakarta ke Phnom Penh: Perang Melawan Scam yang Tak Bisa Ditangani Satu Negara Saja

by admin
August 21, 2026
0

Online scam kini berkembang menjadi industri kriminal lintas negara dengan rantai pelaku, teknologi, dana, dan operasi yang semakin multinasional. Bagi...

Apakah Kemerdekaan Seperti Ini yang Engkau Maksud, Datuk?

Apakah Kemerdekaan Seperti Ini yang Engkau Maksud, Datuk?

by Nanang FS
August 19, 2026
0

Sebuah Dialog Imajiner Nanang Farid Syam dengan Tan Malaka di Usia 81 Tahun Republik Delapan puluh satu tahun sudah Republik...

Satu Dekade Arbitrase Laut China Selatan: Refleksi atas Dampaknya terhadap Stabilitas Kawasan

by admin
July 14, 2026
0

TANGGAL 12 Juli 2026 menandai sepuluh tahun sejak putusan arbitrase Laut China Selatan diumumkan. Selama satu dekade, putusan tersebut terus...

Belajar dari Sepak Bola Dunia

Belajar dari Sepak Bola Dunia

by Nanang FS
July 9, 2026
0

Oleh : Nanang FS* Setiap empat tahun sekali, dunia seperti berhenti berdenyut. Bukan karena perang atau wabah, melainkan karena si...

Next Post
Jokowi Jadi Sekjen PBB 2026 [Hoaks]

Jokowi Jadi Sekjen PBB 2026 [Hoaks]

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • About
  • Editorial
  • Pedoman Media Siber

© 2025 Koreksi.org

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • OPINI
  • RUANG SASTRA
    • SUARA WARGA

© 2025 Koreksi.org