• About
  • Editorial
  • Pedoman Media Siber
Friday, June 26, 2026
No Result
View All Result
Koreksi.org
  • Home
  • Berita
    The Strzr: Merawat Ingatan Kolektif dan Narasi Perlawanan di Padarincang Melalui Musik

    The Strzr: Merawat Ingatan Kolektif dan Narasi Perlawanan di Padarincang Melalui Musik

    Kawal Proses Sidang, Aliansi Lakkang Bersatu Gelar Aksi di Pengadilan Negeri Makassar.

    Kawal Proses Sidang, Aliansi Lakkang Bersatu Gelar Aksi di Pengadilan Negeri Makassar.

    Cerita Foto: Pelajar dan Pembungkaman Demokrasi

    Cerita Foto: Pelajar dan Pembungkaman Demokrasi

    Sengketa Tanah Lakkang Caddi Bergulir di Pengadilan, Warga dan Solidaritas Serukan Tolak Mafia Tanah

    Sengketa Tanah Lakkang Caddi Bergulir di Pengadilan, Warga dan Solidaritas Serukan Tolak Mafia Tanah

    Delegasi Buruh Indonesia Soroti Konsistensi Keputusan ILC Ke-113 Terkait Palestina dan Arah Pembahasan Pekerja Platform Digital

    Hari Kedua Sidang ILC ke-114: Perlindungan Jutaan Pekerja Platform di Era Algoritma dan Kecerdasan Buatan

    Delegasi Buruh Indonesia Soroti Konsistensi Keputusan ILC Ke-113 Terkait Palestina dan Arah Pembahasan Pekerja Platform Digital

    Delegasi Buruh Indonesia Soroti Konsistensi Keputusan ILC Ke-113 Terkait Palestina dan Arah Pembahasan Pekerja Platform Digital

    Pemuda Adat Papua Tolak Program Cetak Sawah di Sorong

    Pemuda Adat Papua Tolak Program Cetak Sawah di Sorong

    Dari Sekolah ke Pengadilan, Cerita Pelajar dari Balik Jeruji

    Dari Sekolah ke Pengadilan, Cerita Pelajar dari Balik Jeruji

    Sengketa Tanah di Lakkang Caddi, Puluhan Warga Digugat di Pengadilan Negeri Makassar

    Sengketa Tanah di Lakkang Caddi, Puluhan Warga Digugat di Pengadilan Negeri Makassar

    Cerita Foto: Mahasiswa dan Pelajar Soroti Kematian Demokrasi di Aksi Kamisan ke-908

    Cerita Foto: Mahasiswa dan Pelajar Soroti Kematian Demokrasi di Aksi Kamisan ke-908

    Trending Tags

  • Liputan Khusus
  • OPINI
    Potensi Dominasi Negara dari BUMN Khusus Ekspor

    Prabowonomics, Model Pembangunan yang Harus Ditinggalkan

    Kepada Said Iqbal: Redistribusi Kekayaan Tidak Cukup dengan “Kau Boleh Kaya Tapi Jangan Miskinkan Kami”

    Kepada Said Iqbal: Redistribusi Kekayaan Tidak Cukup dengan “Kau Boleh Kaya Tapi Jangan Miskinkan Kami”

    Membaca Senyum Purbaya

    Membaca Senyum Purbaya

    Pesta Babi, Negara, dan Kebebasan Pers

    Pesta Babi, Negara, dan Kebebasan Pers

    Kacau Betul! Komunikasi Pemerintah atau Halusinasi?

    Kacau Betul! Komunikasi Pemerintah atau Halusinasi?

    May Day dan Imajinasi Gerakan Buruh

    May Day dan Imajinasi Gerakan Buruh

    May Day, May Day, May Day ! Horor di Negeri yang Terabaikan. Alerta !

    May Day, May Day, May Day ! Horor di Negeri yang Terabaikan. Alerta !

    Pemindahan Gerbong Perempuan: Proteksi Atau Diskriminasi?

    Pemindahan Gerbong Perempuan: Proteksi Atau Diskriminasi?

    ​Wajah Buram Demokrasi dalam Percikan Air Keras

    ​Wajah Buram Demokrasi dalam Percikan Air Keras

    Amerika dan Mitos Penjaga Perdamaian Dunia

    Amerika dan Mitos Penjaga Perdamaian Dunia

    Trending Tags

  • RUANG SASTRA
    Selamatkan Hutan Melalui Film “Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua”

    Selamatkan Hutan Melalui Film “Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua”

    Film Pangku: Perjuangan Ibu Tunggal di Jalan Sunyi

    Film Pangku: Perjuangan Ibu Tunggal di Jalan Sunyi

    Film “Wall to Wall”: Potret Nyata Kelas Pekerja di Seoul ’11-12′ dengan Jakarta

    Film “Wall to Wall”: Potret Nyata Kelas Pekerja di Seoul ’11-12′ dengan Jakarta

    TUMPUK: Manifesto Konsumerisme dan Tumpukan Sampah

    TUMPUK: Manifesto Konsumerisme dan Tumpukan Sampah

    Sanggar Lidi Surabaya Gelar Pementasan Teater “Grafito”,  Kisah Cinta Beda Agama di Balai Pemuda Surabaya

    Sanggar Lidi Surabaya Gelar Pementasan Teater “Grafito”,  Kisah Cinta Beda Agama di Balai Pemuda Surabaya

    Cerita pendek: Kemenangan

    Cerita pendek: Kemenangan

    Trending Tags

  • SUARA WARGA
  • Home
  • Berita
    The Strzr: Merawat Ingatan Kolektif dan Narasi Perlawanan di Padarincang Melalui Musik

    The Strzr: Merawat Ingatan Kolektif dan Narasi Perlawanan di Padarincang Melalui Musik

    Kawal Proses Sidang, Aliansi Lakkang Bersatu Gelar Aksi di Pengadilan Negeri Makassar.

    Kawal Proses Sidang, Aliansi Lakkang Bersatu Gelar Aksi di Pengadilan Negeri Makassar.

    Cerita Foto: Pelajar dan Pembungkaman Demokrasi

    Cerita Foto: Pelajar dan Pembungkaman Demokrasi

    Sengketa Tanah Lakkang Caddi Bergulir di Pengadilan, Warga dan Solidaritas Serukan Tolak Mafia Tanah

    Sengketa Tanah Lakkang Caddi Bergulir di Pengadilan, Warga dan Solidaritas Serukan Tolak Mafia Tanah

    Delegasi Buruh Indonesia Soroti Konsistensi Keputusan ILC Ke-113 Terkait Palestina dan Arah Pembahasan Pekerja Platform Digital

    Hari Kedua Sidang ILC ke-114: Perlindungan Jutaan Pekerja Platform di Era Algoritma dan Kecerdasan Buatan

    Delegasi Buruh Indonesia Soroti Konsistensi Keputusan ILC Ke-113 Terkait Palestina dan Arah Pembahasan Pekerja Platform Digital

    Delegasi Buruh Indonesia Soroti Konsistensi Keputusan ILC Ke-113 Terkait Palestina dan Arah Pembahasan Pekerja Platform Digital

    Pemuda Adat Papua Tolak Program Cetak Sawah di Sorong

    Pemuda Adat Papua Tolak Program Cetak Sawah di Sorong

    Dari Sekolah ke Pengadilan, Cerita Pelajar dari Balik Jeruji

    Dari Sekolah ke Pengadilan, Cerita Pelajar dari Balik Jeruji

    Sengketa Tanah di Lakkang Caddi, Puluhan Warga Digugat di Pengadilan Negeri Makassar

    Sengketa Tanah di Lakkang Caddi, Puluhan Warga Digugat di Pengadilan Negeri Makassar

    Cerita Foto: Mahasiswa dan Pelajar Soroti Kematian Demokrasi di Aksi Kamisan ke-908

    Cerita Foto: Mahasiswa dan Pelajar Soroti Kematian Demokrasi di Aksi Kamisan ke-908

    Trending Tags

  • Liputan Khusus
  • OPINI
    Potensi Dominasi Negara dari BUMN Khusus Ekspor

    Prabowonomics, Model Pembangunan yang Harus Ditinggalkan

    Kepada Said Iqbal: Redistribusi Kekayaan Tidak Cukup dengan “Kau Boleh Kaya Tapi Jangan Miskinkan Kami”

    Kepada Said Iqbal: Redistribusi Kekayaan Tidak Cukup dengan “Kau Boleh Kaya Tapi Jangan Miskinkan Kami”

    Membaca Senyum Purbaya

    Membaca Senyum Purbaya

    Pesta Babi, Negara, dan Kebebasan Pers

    Pesta Babi, Negara, dan Kebebasan Pers

    Kacau Betul! Komunikasi Pemerintah atau Halusinasi?

    Kacau Betul! Komunikasi Pemerintah atau Halusinasi?

    May Day dan Imajinasi Gerakan Buruh

    May Day dan Imajinasi Gerakan Buruh

    May Day, May Day, May Day ! Horor di Negeri yang Terabaikan. Alerta !

    May Day, May Day, May Day ! Horor di Negeri yang Terabaikan. Alerta !

    Pemindahan Gerbong Perempuan: Proteksi Atau Diskriminasi?

    Pemindahan Gerbong Perempuan: Proteksi Atau Diskriminasi?

    ​Wajah Buram Demokrasi dalam Percikan Air Keras

    ​Wajah Buram Demokrasi dalam Percikan Air Keras

    Amerika dan Mitos Penjaga Perdamaian Dunia

    Amerika dan Mitos Penjaga Perdamaian Dunia

    Trending Tags

  • RUANG SASTRA
    Selamatkan Hutan Melalui Film “Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua”

    Selamatkan Hutan Melalui Film “Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua”

    Film Pangku: Perjuangan Ibu Tunggal di Jalan Sunyi

    Film Pangku: Perjuangan Ibu Tunggal di Jalan Sunyi

    Film “Wall to Wall”: Potret Nyata Kelas Pekerja di Seoul ’11-12′ dengan Jakarta

    Film “Wall to Wall”: Potret Nyata Kelas Pekerja di Seoul ’11-12′ dengan Jakarta

    TUMPUK: Manifesto Konsumerisme dan Tumpukan Sampah

    TUMPUK: Manifesto Konsumerisme dan Tumpukan Sampah

    Sanggar Lidi Surabaya Gelar Pementasan Teater “Grafito”,  Kisah Cinta Beda Agama di Balai Pemuda Surabaya

    Sanggar Lidi Surabaya Gelar Pementasan Teater “Grafito”,  Kisah Cinta Beda Agama di Balai Pemuda Surabaya

    Cerita pendek: Kemenangan

    Cerita pendek: Kemenangan

    Trending Tags

  • SUARA WARGA
No Result
View All Result
Koreksi.org
No Result
View All Result
Home OPINI

Amuk Massa

by Nanang FS
August 30, 2025
in OPINI
0
Amuk Massa

Aksi di depan Polda Metro Jaya Jakarta, Jumat (29/8/2025)

46
SHARES
132
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Amuk massa, sebuah fenomena sosial yang menggejala di berbagai belahan dunia, kembali mencuat ke permukaan di tengah gejolak sosial dan politik Indonesia. Peristiwa tragis yang menimpa seorang pengemudi ojek daring, yang dipicu oleh tindakan represif aparat kepolisian, telah menyulut serangkaian bentrokan dan kekerasan yang meluas.

Namun, amuk massa ini bukanlah sekadar ledakan emosi sesaat, ia adalah cerminan dari akumulasi kekecewaan dan kemarahan yang telah lama terpendam, sebuah drama sosial yang berakar pada ketidakadilan dan ketimpangan struktural.

Menurut kacamata antropologi, amuk massa dapat dipahami sebagai bentuk ritual perlawanan yang muncul ketika mekanisme penyelesaian konflik formal telah gagal. Ini adalah respons kolektif yang tak terhindarkan ketika norma-norma keadilan dan kesetaraan yang diakui secara sosial dilanggar secara sistematis.

Masyarakat, yang telah lama menggantungkan harapan pada institusi negara untuk menegakkan keadilan, kini merasakan adanya jurang pemisah yang lebar antara janji dan kenyataan. Menurut antropolog René Girard dalam teorinya tentang kekerasan mimetic, kekerasan sering kali menyebar melalui peniruan. Dalam konteks amuk massa, kekerasan yang dilakukan oleh aparat atau elit politik dapat memicu respons kekerasan serupa dari publik.

Ketika ketidakadilan merajalela, masyarakat melihatnya sebagai tanda bahwa norma-norma sosial telah runtuh, dan satu-satunya cara untuk menegakkan kembali tatanan adalah melalui kekerasan yang membalas.

Aksi massa yang menyasar markas polisi dan gedung dewan, tempat yang seharusnya menjadi simbol perlindungan dan representasi rakyat, adalah bukti nyata dari runtuhnya kepercayaan ini. Masyarakat tidak lagi melihat institusi-institusi tersebut sebagai pelindung, melainkan sebagai sumber penindasan.

Fenomena ini juga dapat dilihat melalui lensa antropologi politik. Kekerasan yang tidak proporsional oleh aparat keamanan, ditambah dengan pernyataan-pernyataan kosong dari para elit, telah menciptakan krisis legitimasi yang mendalam. Para ahli melihat ini sebagai sebuah “pembangkangan simbolik”—sebuah cara bagi rakyat untuk menolak otoritas yang dianggap tidak lagi berfungsi.

Dalam situasi ini, massa tidak lagi takut. Rasa takut, yang sering digunakan sebagai alat kontrol sosial, telah digantikan oleh kemarahan yang membuncah. Hilangnya rasa takut ini menandakan pergeseran kekuatan yang signifikan, dari penguasa kepada yang dikuasai.

Amuk massa yang meluas, dengan sasaran yang jelas dan ketidaktakutan yang nyata, menimbulkan pertanyaan fundamental tentang kesehatan demokrasi di Indonesia. Apakah ini merupakan pertanda runtuhnya sendi-sendi demokrasi? Jawabannya mungkin iya.

Demokrasi pada dasarnya didasarkan pada kontrak sosial antara rakyat dan negara. Rakyat menyerahkan sebagian kebebasan mereka sebagai imbalan atas perlindungan dan keadilan dari negara. Namun, ketika kontrak ini dilanggar, ketika negara tidak lagi hadir dalam hidup rakyat, yang tersisa hanyalah kekecewaan dan kemarahan.

Kesenjangan sosial yang kian melebar, di mana segelintir elit sibuk mengumpulkan kekayaan sementara rakyat berjuang untuk bertahan hidup, telah mempercepat erosi kepercayaan ini.

Rakyat yang merasa terabaikan dan tertindas, merasa seolah-olah mereka adalah tamu di negeri sendiri. Dalam kondisi seperti ini, mereka tidak lagi melihat pemerintah sebagai perwakilan mereka, tetapi sebagai entitas yang asing dan menindas.

Amuk massa, dengan segala kengeriannya, adalah jeritan pilu dari mereka yang telah putus asa—sebuah pengingat sarkastik bahwa bahkan dalam badai kekacauan, masih ada secercah harapan untuk keadilan, walau harus ditebus dengan harga yang begitu mahal.

Pada akhirnya, fenomena ini adalah sebuah cermin yang jujur bagi bangsa. Sebuah cermin yang menunjukkan wajah-wajah yang lelah, mata-mata yang penuh amarah, dan hati-hati yang telah terkoyak oleh janji-janji kosong.

Amuk massa adalah pertanda bahwa jika negara tidak segera berbenah, bara api kekecewaan ini akan terus membakar, mengancam untuk menjebol sendi-sendi persatuan dan kebangsaan.

Peristiwa unjuk rasa yang dipicu oleh sikap bebal politisi dan pemerintah merupakan Peringatan keras bagi para elit bangsa ini. Situasi ini adalah ultimatum yang tidak bisa diabaikan.

Para elit politik dan aparatur negara, terutama aparat penegak hukum, harus segera menyadari bahwa bibit yang mereka tanam hari ini adalah badai yang akan mereka tuai di masa depan.

Kekerasan yang mereka sebarkan, ketidakadilan yang mereka biarkan, dan retorika kosong yang mereka lontarkan, telah menciptakan ladang subur bagi kemarahan rakyat.

Jika mereka terus membiarkan perpecahan dan kesenjangan sosial merajalela, jika mereka terus menggunakan kekuasaan untuk menindas alih-alih melayani, maka takdir mereka akan serupa dengan takdir rezim-rezim yang runtuh di masa lalu.

Sudah saatnya bagi mereka untuk melepaskan jubah arogansi dan kembali ke fitrahnya sebagai pelayan rakyat.

Memperbaiki sistem yang telah keropos, menegakkan hukum tanpa pandang bulu, dan menunjukkan empati nyata terhadap penderitaan rakyat adalah satu-satunya jalan untuk memadamkan amarah yang membara.

Jika tidak, maka amuk massa ini hanyalah awal dari gelombang pasang yang akan menenggelamkan mereka, dan rakyat akan menjadi saksi sejarah dari kehancuran yang mereka ciptakan sendiri.

Nanang Farid Syam, Alumni Antropologi Universitas Andalas

Tags: demo dpr
Nanang FS

Nanang FS

Related Posts

Potensi Dominasi Negara dari BUMN Khusus Ekspor

Prabowonomics, Model Pembangunan yang Harus Ditinggalkan

by admin
June 18, 2026
0

Oleh Firdaus Cahyadi Pembelaan Presiden Prabowo Subianto baru-baru ini terhadap kebijakannya di The Economist (10 Juni 2026) hanya memperkuat keyakinan...

Kepada Said Iqbal: Redistribusi Kekayaan Tidak Cukup dengan “Kau Boleh Kaya Tapi Jangan Miskinkan Kami”

Kepada Said Iqbal: Redistribusi Kekayaan Tidak Cukup dengan “Kau Boleh Kaya Tapi Jangan Miskinkan Kami”

by Sasmito Madrim
June 11, 2026
0

Presiden Prabowo Subianto melantik Said Iqbal sebagai Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh pada Senin (8/6/2026) di Istana...

Membaca Senyum Purbaya

Membaca Senyum Purbaya

by Nanang FS
May 18, 2026
0

Oleh: Dr. Zulfatun Mahmudah, S.Pd, M.I.Kom, CSRS Dalam sebuah pidatonya, Presiden Prabowo mengatakan,  jika Purbaya masih tersenyum, maka kondisi keuangan...

Pesta Babi, Negara, dan Kebebasan Pers

Pesta Babi, Negara, dan Kebebasan Pers

by Sasmito Madrim
May 13, 2026
0

Pemutaran film dokumenter "Pesta Babi" karya jurnalis Dandhy Dwi Laksono mengalami intimidasi hingga pembubaran paksa oleh TNI di sejumlah daerah....

Kacau Betul! Komunikasi Pemerintah atau Halusinasi?

Kacau Betul! Komunikasi Pemerintah atau Halusinasi?

by Nanang FS
May 7, 2026
0

Oleh: Nanang Farid Syam Pada pagi hari, 6 Mei 2026, ruang konferensi pers Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom RI) menjadi saksi...

May Day dan Imajinasi Gerakan Buruh

May Day dan Imajinasi Gerakan Buruh

by admin
May 1, 2026
0

Setiap tanggal 1 Mei, dunia kembali dipenuhi ucapan selamat Hari Buruh Internasional atau May Day. Tidak terkecuali May Day 2026....

Next Post
Anarkisme yang Diciptakan, Represi yang Disiapkan

Anarkisme yang Diciptakan, Represi yang Disiapkan

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • About
  • Editorial
  • Pedoman Media Siber

© 2025 Koreksi.org

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • OPINI
  • RUANG SASTRA
    • SUARA WARGA

© 2025 Koreksi.org