• About
  • Editorial
  • Pedoman Media Siber
Sunday, August 9, 2026
No Result
View All Result
Koreksi.org
  • Home
  • Berita
    Serial “Kembali ke Barak”:Mogok Kerja Jadi Pangkal Perkara Keributan Buruh dan TNI di KBN Marunda 

    Serial “Kembali ke Barak”:Mogok Kerja Jadi Pangkal Perkara Keributan Buruh dan TNI di KBN Marunda 

    Banner yang ditancapkan warga Karangsari, Pati di lahan yang diklaim PT Rumpun Sari Antan pada Kamis, (14/5). (Bahtiar Yusuf/Arena)

    Serial “Kembali ke Barak”: Perlawanan Warga Karangsari Merebut Kembali Tanah Leluhur Dari Bayang-Bayang Militer

    Warga Tamalanrea Audiensi ke DPR RI, Tolak PLTSa di Tengah Permukiman

    Warga Tamalanrea Audiensi ke DPR RI, Tolak PLTSa di Tengah Permukiman

    Masalah Rehabilitasi Narkotika: Diperas, Namun Belum Mendapat Layanan yang Baik

    Masalah Rehabilitasi Narkotika: Diperas, Namun Belum Mendapat Layanan yang Baik

    Delapan Tahun Menunggu Negara, Kisah Pelayanan Kesehatan yang Terbengkalai di Pulau Masela 

    Delapan Tahun Menunggu Negara, Kisah Pelayanan Kesehatan yang Terbengkalai di Pulau Masela 

    Didesak Warga, DPRD Sulsel Sepakat Menghentikan Sementara Proyek PLTSa Tamalanrea di Makassar

    Didesak Warga, DPRD Sulsel Sepakat Menghentikan Sementara Proyek PLTSa Tamalanrea di Makassar

    The Strzr: Merawat Ingatan Kolektif dan Narasi Perlawanan di Padarincang Melalui Musik

    The Strzr: Merawat Ingatan Kolektif dan Narasi Perlawanan di Padarincang Melalui Musik

    Kawal Proses Sidang, Aliansi Lakkang Bersatu Gelar Aksi di Pengadilan Negeri Makassar.

    Kawal Proses Sidang, Aliansi Lakkang Bersatu Gelar Aksi di Pengadilan Negeri Makassar.

    Cerita Foto: Pelajar dan Pembungkaman Demokrasi

    Cerita Foto: Pelajar dan Pembungkaman Demokrasi

    Sengketa Tanah Lakkang Caddi Bergulir di Pengadilan, Warga dan Solidaritas Serukan Tolak Mafia Tanah

    Sengketa Tanah Lakkang Caddi Bergulir di Pengadilan, Warga dan Solidaritas Serukan Tolak Mafia Tanah

    Trending Tags

  • Liputan Khusus
  • OPINI

    Satu Dekade Arbitrase Laut China Selatan: Refleksi atas Dampaknya terhadap Stabilitas Kawasan

    Belajar dari Sepak Bola Dunia

    Belajar dari Sepak Bola Dunia

    Potensi Dominasi Negara dari BUMN Khusus Ekspor

    Prabowonomics, Model Pembangunan yang Harus Ditinggalkan

    Kepada Said Iqbal: Redistribusi Kekayaan Tidak Cukup dengan “Kau Boleh Kaya Tapi Jangan Miskinkan Kami”

    Kepada Said Iqbal: Redistribusi Kekayaan Tidak Cukup dengan “Kau Boleh Kaya Tapi Jangan Miskinkan Kami”

    Membaca Senyum Purbaya

    Membaca Senyum Purbaya

    Pesta Babi, Negara, dan Kebebasan Pers

    Pesta Babi, Negara, dan Kebebasan Pers

    Kacau Betul! Komunikasi Pemerintah atau Halusinasi?

    Kacau Betul! Komunikasi Pemerintah atau Halusinasi?

    May Day dan Imajinasi Gerakan Buruh

    May Day dan Imajinasi Gerakan Buruh

    May Day, May Day, May Day ! Horor di Negeri yang Terabaikan. Alerta !

    May Day, May Day, May Day ! Horor di Negeri yang Terabaikan. Alerta !

    Pemindahan Gerbong Perempuan: Proteksi Atau Diskriminasi?

    Pemindahan Gerbong Perempuan: Proteksi Atau Diskriminasi?

    Trending Tags

  • RUANG SASTRA
    Selamatkan Hutan Melalui Film “Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua”

    Selamatkan Hutan Melalui Film “Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua”

    Film Pangku: Perjuangan Ibu Tunggal di Jalan Sunyi

    Film Pangku: Perjuangan Ibu Tunggal di Jalan Sunyi

    Film “Wall to Wall”: Potret Nyata Kelas Pekerja di Seoul ’11-12′ dengan Jakarta

    Film “Wall to Wall”: Potret Nyata Kelas Pekerja di Seoul ’11-12′ dengan Jakarta

    TUMPUK: Manifesto Konsumerisme dan Tumpukan Sampah

    TUMPUK: Manifesto Konsumerisme dan Tumpukan Sampah

    Sanggar Lidi Surabaya Gelar Pementasan Teater “Grafito”,  Kisah Cinta Beda Agama di Balai Pemuda Surabaya

    Sanggar Lidi Surabaya Gelar Pementasan Teater “Grafito”,  Kisah Cinta Beda Agama di Balai Pemuda Surabaya

    Cerita pendek: Kemenangan

    Cerita pendek: Kemenangan

    Trending Tags

  • SUARA WARGA
  • Home
  • Berita
    Serial “Kembali ke Barak”:Mogok Kerja Jadi Pangkal Perkara Keributan Buruh dan TNI di KBN Marunda 

    Serial “Kembali ke Barak”:Mogok Kerja Jadi Pangkal Perkara Keributan Buruh dan TNI di KBN Marunda 

    Banner yang ditancapkan warga Karangsari, Pati di lahan yang diklaim PT Rumpun Sari Antan pada Kamis, (14/5). (Bahtiar Yusuf/Arena)

    Serial “Kembali ke Barak”: Perlawanan Warga Karangsari Merebut Kembali Tanah Leluhur Dari Bayang-Bayang Militer

    Warga Tamalanrea Audiensi ke DPR RI, Tolak PLTSa di Tengah Permukiman

    Warga Tamalanrea Audiensi ke DPR RI, Tolak PLTSa di Tengah Permukiman

    Masalah Rehabilitasi Narkotika: Diperas, Namun Belum Mendapat Layanan yang Baik

    Masalah Rehabilitasi Narkotika: Diperas, Namun Belum Mendapat Layanan yang Baik

    Delapan Tahun Menunggu Negara, Kisah Pelayanan Kesehatan yang Terbengkalai di Pulau Masela 

    Delapan Tahun Menunggu Negara, Kisah Pelayanan Kesehatan yang Terbengkalai di Pulau Masela 

    Didesak Warga, DPRD Sulsel Sepakat Menghentikan Sementara Proyek PLTSa Tamalanrea di Makassar

    Didesak Warga, DPRD Sulsel Sepakat Menghentikan Sementara Proyek PLTSa Tamalanrea di Makassar

    The Strzr: Merawat Ingatan Kolektif dan Narasi Perlawanan di Padarincang Melalui Musik

    The Strzr: Merawat Ingatan Kolektif dan Narasi Perlawanan di Padarincang Melalui Musik

    Kawal Proses Sidang, Aliansi Lakkang Bersatu Gelar Aksi di Pengadilan Negeri Makassar.

    Kawal Proses Sidang, Aliansi Lakkang Bersatu Gelar Aksi di Pengadilan Negeri Makassar.

    Cerita Foto: Pelajar dan Pembungkaman Demokrasi

    Cerita Foto: Pelajar dan Pembungkaman Demokrasi

    Sengketa Tanah Lakkang Caddi Bergulir di Pengadilan, Warga dan Solidaritas Serukan Tolak Mafia Tanah

    Sengketa Tanah Lakkang Caddi Bergulir di Pengadilan, Warga dan Solidaritas Serukan Tolak Mafia Tanah

    Trending Tags

  • Liputan Khusus
  • OPINI

    Satu Dekade Arbitrase Laut China Selatan: Refleksi atas Dampaknya terhadap Stabilitas Kawasan

    Belajar dari Sepak Bola Dunia

    Belajar dari Sepak Bola Dunia

    Potensi Dominasi Negara dari BUMN Khusus Ekspor

    Prabowonomics, Model Pembangunan yang Harus Ditinggalkan

    Kepada Said Iqbal: Redistribusi Kekayaan Tidak Cukup dengan “Kau Boleh Kaya Tapi Jangan Miskinkan Kami”

    Kepada Said Iqbal: Redistribusi Kekayaan Tidak Cukup dengan “Kau Boleh Kaya Tapi Jangan Miskinkan Kami”

    Membaca Senyum Purbaya

    Membaca Senyum Purbaya

    Pesta Babi, Negara, dan Kebebasan Pers

    Pesta Babi, Negara, dan Kebebasan Pers

    Kacau Betul! Komunikasi Pemerintah atau Halusinasi?

    Kacau Betul! Komunikasi Pemerintah atau Halusinasi?

    May Day dan Imajinasi Gerakan Buruh

    May Day dan Imajinasi Gerakan Buruh

    May Day, May Day, May Day ! Horor di Negeri yang Terabaikan. Alerta !

    May Day, May Day, May Day ! Horor di Negeri yang Terabaikan. Alerta !

    Pemindahan Gerbong Perempuan: Proteksi Atau Diskriminasi?

    Pemindahan Gerbong Perempuan: Proteksi Atau Diskriminasi?

    Trending Tags

  • RUANG SASTRA
    Selamatkan Hutan Melalui Film “Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua”

    Selamatkan Hutan Melalui Film “Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua”

    Film Pangku: Perjuangan Ibu Tunggal di Jalan Sunyi

    Film Pangku: Perjuangan Ibu Tunggal di Jalan Sunyi

    Film “Wall to Wall”: Potret Nyata Kelas Pekerja di Seoul ’11-12′ dengan Jakarta

    Film “Wall to Wall”: Potret Nyata Kelas Pekerja di Seoul ’11-12′ dengan Jakarta

    TUMPUK: Manifesto Konsumerisme dan Tumpukan Sampah

    TUMPUK: Manifesto Konsumerisme dan Tumpukan Sampah

    Sanggar Lidi Surabaya Gelar Pementasan Teater “Grafito”,  Kisah Cinta Beda Agama di Balai Pemuda Surabaya

    Sanggar Lidi Surabaya Gelar Pementasan Teater “Grafito”,  Kisah Cinta Beda Agama di Balai Pemuda Surabaya

    Cerita pendek: Kemenangan

    Cerita pendek: Kemenangan

    Trending Tags

  • SUARA WARGA
No Result
View All Result
Koreksi.org
No Result
View All Result
Home OPINI

Demokrasi yang Tersandera

by Nanang FS
September 6, 2025
in OPINI
0
Demokrasi yang Tersandera

Ilustrasi Aksi Reset Indonesia. Foto: istimewa

17
SHARES
49
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Gelombang demonstrasi yang merebak di berbagai daerah di Indonesia, dipicu oleh tuntutan terhadap tunjangan anggota dewan yang dinilai tidak wajar dan kebijakan kenaikan pajak di tengah lesunya daya beli rakyat, bukanlah sebuah insiden yang terisolasi. Ia adalah puncak gunung es dari kekecewaan yang terakumulasi. Tragedi meninggalnya beberapa pengunjuk rasa, insiden seperti digilasnya Affan Kurniawan, dan fenomena penjarahan yang terjadi di depan mata petugas, adalah gejala dari sebuah penyakit yang lebih dalam yakni, kegagalan negara dalam memenuhi janji-janji demokrasinya dan mengikisnya kontrak sosial hingga ke akar.

Pada intinya, demokrasi dibangun atas sebuah kontrak sosial: rakyat memberikan mandat kepada wakilnya untuk mengelola negara, dan sebagai gantinya, negara menjamin kesejahteraan dan keadilan. Namun, apa yang terjadi ketika para wakil rakyat justru terlihat mengutamakan kesejahteraan mereka sendiri? Kebijakan tunjangan yang “tidak wajar” bagi DPR RI—di saat yang sama pemerintah menerapkan kebijakan fiskal yang mencekik seperti kenaikan pajak—adalah sebuah paradoks yang menyakitkan. Rakyat yang sedang kesulitan ekonomi melihat sebuah ketimpangan yang nyata. Mereka yang seharusnya diperjuangkan justru merasa dikorbankan, sementara para elite politik tampaknya terus menjaga kenyamanan mereka.

Ironi ini semakin menjadi-jadi dan memperdalam luka ketika melihat realitas lain yang sama-sama menyakitkan. Di saat rakyat menjerit oleh kenaikan harga sembako, gaji dan pendapatan direksi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mencapai angka yang tidak masuk akal besarnya, seringkali menyentuh miliaran rupiah per bulan. BUMN, yang seharusnya menjadi alat negara untuk memakmurkan rakyat, justru berubah menjadi mesin bagi-bagi rente untuk segelintir elite. Praktik bagi-bagi posisi kepada kader partai yang tidak kompeten dan budaya rangkap jabatan yang masif antara birokrasi dan politik semakin membuktikan bahwa negara telah disandera oleh kepentingan oligarkis. Ini adalah bentuk “penjarahan terstruktur” yang paling halus, sistematis, dan karena itu paling berbahaya.

Kekecewaan tidak berhenti di ruang sidang paripurna atau menara gading direksi BUMN. Ia merambah hingga ke pelosok negeri, di mana kebijakan bernegara justru menghancurkan kehidupan warganya sendiri. Proyek-proyek strategis nasional kerap digulirkan tanpa kajian yang komprehensif dan partisipatif, mengakibatkan kerusakan ekosistem yang parah, pengusiran paksa terhadap masyarakat adat, dan perampasan tanah ulayat. Hutan yang menjadi paru-paru dunia dan sumber kehidupan masyarakat lokal dikonversi untuk kepentingan tambang dan perkebunan skala besar. Perizinan tambang yang mudah dan bermasalah perlu segera direviu ulang, karena telah terbukti menjadi sumber bencana ekologis dan konflik sosial yang tak berujung. Negara hadir bukan sebagai pelindung, melainkan sebagai operator dari mesin keserakahan yang menghancurkan masa depan bangsa sendiri.

Dalam situasi seperti ini, hukum seringkali tidak hadir sebagai penjaga keadilan, melainkan sebagai alat untuk mempertahankan status quo. Hukum terasa tumpul ketika menyangkut kepentingan elite, tetapi bisa menjadi sangat tajam dan represif bagi rakyat yang menyuarakan aspirasinya atau masyarakat adat yang mempertahankan tanahnya. Ketidakadilan inilah yang mengikis kepercayaan publik hingga habis.

Fenomena “amuk massa” (mass rage) menjadi relevan untuk memahami situasi ini. Konsep sosiologis Emile Durkheim tentang anomie (kondisi tanpa norma) menggambarkan keadaan di mana masyarakat merasa terpisah dari struktur sosial akibat ketidakpuasan yang mendalam. Ruang demokrasi formal dianggap tidak lagi mampu menampung aspirasi atau menghasilkan perubahan. Akibatnya, protes yang awalnya damai dengan mudah terdistorsi menjadi anarkisme. Setiap ruang demo rentan dimanfaatkan oleh para perusuh dengan agenda sendiri, atau oleh pihak yang ingin mendiskreditkan gerakan protes. Penjarahan fisik di jalanan adalah cerminan brutal dari “penjarahan terstruktur” yang telah lebih dulu dilakukan oleh elite.

Aksi 17+8 dan gelombang demonstrasi lainnya harus dibaca sebagai bentuk kekecewaan yang terorganisir dari masyarakat sipil. Ini adalah suara dari mereka yang merasa dikhianati oleh proses bernegara dari hulu ke hilir.

Lalu, apa jalan keluar yang diperlukan langkah-langkah korektif yang fundamental dan berani ?

Pemerintah dan DPR harus moratorium dan mengevaluasi semua kebijakan yang memberatkan rakyat. Tinjau ulang proyek strategis nasional dengan melibatkan partisipasi publik dan kajian lingkungan hidup yang independen. Lakukan audit dan pencabutan perizinan tambang yang merusak.

Lakukan pemotongan gaji dan tunjangan pejabat negara serta direksi BUMN secara signifikan. Hentikan praktik rangkap jabatan dan tunjukkan komitmen nyata untuk berhemat bersama rakyat.

Setiap insiden kekerasan terhadap demonstran dan konflik agraria harus diselidiki secara transparan dan independen. Korban jiwa harus mendapat keadilan. Hukum harus berdiri di atas semua kepentingan.

Selenggarakan dialog nasional yang inklusif dengan melibatkan semua elemen masyarakat sipil, akademisi, dan kelompok marginal untuk membangun kembali konsensus dan kontrak sosial yang telah retak.

Tanpa langkah-langkah ini, demokrasi Indonesia hanya akan menjadi ritus tanpa makna. Negara harus memilih: memperbaiki diri dan menyelamatkan kontrak sosial, atau membiarkannya hancur dan menyaksikan amuk massa menjadi bahasa permanen rakyat yang putus asa.


Tags: demokrasiResetIndonesia
Nanang FS

Nanang FS

Related Posts

Satu Dekade Arbitrase Laut China Selatan: Refleksi atas Dampaknya terhadap Stabilitas Kawasan

by admin
July 14, 2026
0

TANGGAL 12 Juli 2026 menandai sepuluh tahun sejak putusan arbitrase Laut China Selatan diumumkan. Selama satu dekade, putusan tersebut terus...

Belajar dari Sepak Bola Dunia

Belajar dari Sepak Bola Dunia

by Nanang FS
July 9, 2026
0

Oleh : Nanang FS* Setiap empat tahun sekali, dunia seperti berhenti berdenyut. Bukan karena perang atau wabah, melainkan karena si...

Potensi Dominasi Negara dari BUMN Khusus Ekspor

Prabowonomics, Model Pembangunan yang Harus Ditinggalkan

by admin
June 18, 2026
0

Oleh Firdaus Cahyadi Pembelaan Presiden Prabowo Subianto baru-baru ini terhadap kebijakannya di The Economist (10 Juni 2026) hanya memperkuat keyakinan...

Kepada Said Iqbal: Redistribusi Kekayaan Tidak Cukup dengan “Kau Boleh Kaya Tapi Jangan Miskinkan Kami”

Kepada Said Iqbal: Redistribusi Kekayaan Tidak Cukup dengan “Kau Boleh Kaya Tapi Jangan Miskinkan Kami”

by Sasmito Madrim
June 11, 2026
0

Presiden Prabowo Subianto melantik Said Iqbal sebagai Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh pada Senin (8/6/2026) di Istana...

Membaca Senyum Purbaya

Membaca Senyum Purbaya

by Nanang FS
May 18, 2026
0

Oleh: Dr. Zulfatun Mahmudah, S.Pd, M.I.Kom, CSRS Dalam sebuah pidatonya, Presiden Prabowo mengatakan,  jika Purbaya masih tersenyum, maka kondisi keuangan...

Pesta Babi, Negara, dan Kebebasan Pers

Pesta Babi, Negara, dan Kebebasan Pers

by Sasmito Madrim
May 13, 2026
0

Pemutaran film dokumenter "Pesta Babi" karya jurnalis Dandhy Dwi Laksono mengalami intimidasi hingga pembubaran paksa oleh TNI di sejumlah daerah....

Next Post
Konsesi PT Gag Nikel Raja Ampat Kembali Beroperasi, AMAN Sorong Wanti-wanti Izin 4 Pulau

Konsesi PT Gag Nikel Raja Ampat Kembali Beroperasi, AMAN Sorong Wanti-wanti Izin 4 Pulau

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • About
  • Editorial
  • Pedoman Media Siber

© 2025 Koreksi.org

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • OPINI
  • RUANG SASTRA
    • SUARA WARGA

© 2025 Koreksi.org