• About
  • Editorial
  • Pedoman Media Siber
Monday, July 27, 2026
No Result
View All Result
Koreksi.org
  • Home
  • Berita
    Warga Tamalanrea Audiensi ke DPR RI, Tolak PLTSa di Tengah Permukiman

    Warga Tamalanrea Audiensi ke DPR RI, Tolak PLTSa di Tengah Permukiman

    Masalah Rehabilitasi Narkotika: Diperas, Namun Belum Mendapat Layanan yang Baik

    Masalah Rehabilitasi Narkotika: Diperas, Namun Belum Mendapat Layanan yang Baik

    Delapan Tahun Menunggu Negara, Kisah Pelayanan Kesehatan yang Terbengkalai di Pulau Masela 

    Delapan Tahun Menunggu Negara, Kisah Pelayanan Kesehatan yang Terbengkalai di Pulau Masela 

    Didesak Warga, DPRD Sulsel Sepakat Menghentikan Sementara Proyek PLTSa Tamalanrea di Makassar

    Didesak Warga, DPRD Sulsel Sepakat Menghentikan Sementara Proyek PLTSa Tamalanrea di Makassar

    The Strzr: Merawat Ingatan Kolektif dan Narasi Perlawanan di Padarincang Melalui Musik

    The Strzr: Merawat Ingatan Kolektif dan Narasi Perlawanan di Padarincang Melalui Musik

    Kawal Proses Sidang, Aliansi Lakkang Bersatu Gelar Aksi di Pengadilan Negeri Makassar.

    Kawal Proses Sidang, Aliansi Lakkang Bersatu Gelar Aksi di Pengadilan Negeri Makassar.

    Cerita Foto: Pelajar dan Pembungkaman Demokrasi

    Cerita Foto: Pelajar dan Pembungkaman Demokrasi

    Sengketa Tanah Lakkang Caddi Bergulir di Pengadilan, Warga dan Solidaritas Serukan Tolak Mafia Tanah

    Sengketa Tanah Lakkang Caddi Bergulir di Pengadilan, Warga dan Solidaritas Serukan Tolak Mafia Tanah

    Delegasi Buruh Indonesia Soroti Konsistensi Keputusan ILC Ke-113 Terkait Palestina dan Arah Pembahasan Pekerja Platform Digital

    Hari Kedua Sidang ILC ke-114: Perlindungan Jutaan Pekerja Platform di Era Algoritma dan Kecerdasan Buatan

    Delegasi Buruh Indonesia Soroti Konsistensi Keputusan ILC Ke-113 Terkait Palestina dan Arah Pembahasan Pekerja Platform Digital

    Delegasi Buruh Indonesia Soroti Konsistensi Keputusan ILC Ke-113 Terkait Palestina dan Arah Pembahasan Pekerja Platform Digital

    Trending Tags

  • Liputan Khusus
  • OPINI
    Satu Dekade Arbitrase Laut China Selatan: Satu Dekade Arbitrase Laut China Selatan: Refleksi atas Dampaknya terhadap Stabilitas Kawasan

    Satu Dekade Arbitrase Laut China Selatan: Refleksi atas Dampaknya terhadap Stabilitas Kawasan

    Belajar dari Sepak Bola Dunia

    Belajar dari Sepak Bola Dunia

    Potensi Dominasi Negara dari BUMN Khusus Ekspor

    Prabowonomics, Model Pembangunan yang Harus Ditinggalkan

    Kepada Said Iqbal: Redistribusi Kekayaan Tidak Cukup dengan “Kau Boleh Kaya Tapi Jangan Miskinkan Kami”

    Kepada Said Iqbal: Redistribusi Kekayaan Tidak Cukup dengan “Kau Boleh Kaya Tapi Jangan Miskinkan Kami”

    Membaca Senyum Purbaya

    Membaca Senyum Purbaya

    Pesta Babi, Negara, dan Kebebasan Pers

    Pesta Babi, Negara, dan Kebebasan Pers

    Kacau Betul! Komunikasi Pemerintah atau Halusinasi?

    Kacau Betul! Komunikasi Pemerintah atau Halusinasi?

    May Day dan Imajinasi Gerakan Buruh

    May Day dan Imajinasi Gerakan Buruh

    May Day, May Day, May Day ! Horor di Negeri yang Terabaikan. Alerta !

    May Day, May Day, May Day ! Horor di Negeri yang Terabaikan. Alerta !

    Pemindahan Gerbong Perempuan: Proteksi Atau Diskriminasi?

    Pemindahan Gerbong Perempuan: Proteksi Atau Diskriminasi?

    Trending Tags

  • RUANG SASTRA
    Selamatkan Hutan Melalui Film “Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua”

    Selamatkan Hutan Melalui Film “Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua”

    Film Pangku: Perjuangan Ibu Tunggal di Jalan Sunyi

    Film Pangku: Perjuangan Ibu Tunggal di Jalan Sunyi

    Film “Wall to Wall”: Potret Nyata Kelas Pekerja di Seoul ’11-12′ dengan Jakarta

    Film “Wall to Wall”: Potret Nyata Kelas Pekerja di Seoul ’11-12′ dengan Jakarta

    TUMPUK: Manifesto Konsumerisme dan Tumpukan Sampah

    TUMPUK: Manifesto Konsumerisme dan Tumpukan Sampah

    Sanggar Lidi Surabaya Gelar Pementasan Teater “Grafito”,  Kisah Cinta Beda Agama di Balai Pemuda Surabaya

    Sanggar Lidi Surabaya Gelar Pementasan Teater “Grafito”,  Kisah Cinta Beda Agama di Balai Pemuda Surabaya

    Cerita pendek: Kemenangan

    Cerita pendek: Kemenangan

    Trending Tags

  • SUARA WARGA
  • Home
  • Berita
    Warga Tamalanrea Audiensi ke DPR RI, Tolak PLTSa di Tengah Permukiman

    Warga Tamalanrea Audiensi ke DPR RI, Tolak PLTSa di Tengah Permukiman

    Masalah Rehabilitasi Narkotika: Diperas, Namun Belum Mendapat Layanan yang Baik

    Masalah Rehabilitasi Narkotika: Diperas, Namun Belum Mendapat Layanan yang Baik

    Delapan Tahun Menunggu Negara, Kisah Pelayanan Kesehatan yang Terbengkalai di Pulau Masela 

    Delapan Tahun Menunggu Negara, Kisah Pelayanan Kesehatan yang Terbengkalai di Pulau Masela 

    Didesak Warga, DPRD Sulsel Sepakat Menghentikan Sementara Proyek PLTSa Tamalanrea di Makassar

    Didesak Warga, DPRD Sulsel Sepakat Menghentikan Sementara Proyek PLTSa Tamalanrea di Makassar

    The Strzr: Merawat Ingatan Kolektif dan Narasi Perlawanan di Padarincang Melalui Musik

    The Strzr: Merawat Ingatan Kolektif dan Narasi Perlawanan di Padarincang Melalui Musik

    Kawal Proses Sidang, Aliansi Lakkang Bersatu Gelar Aksi di Pengadilan Negeri Makassar.

    Kawal Proses Sidang, Aliansi Lakkang Bersatu Gelar Aksi di Pengadilan Negeri Makassar.

    Cerita Foto: Pelajar dan Pembungkaman Demokrasi

    Cerita Foto: Pelajar dan Pembungkaman Demokrasi

    Sengketa Tanah Lakkang Caddi Bergulir di Pengadilan, Warga dan Solidaritas Serukan Tolak Mafia Tanah

    Sengketa Tanah Lakkang Caddi Bergulir di Pengadilan, Warga dan Solidaritas Serukan Tolak Mafia Tanah

    Delegasi Buruh Indonesia Soroti Konsistensi Keputusan ILC Ke-113 Terkait Palestina dan Arah Pembahasan Pekerja Platform Digital

    Hari Kedua Sidang ILC ke-114: Perlindungan Jutaan Pekerja Platform di Era Algoritma dan Kecerdasan Buatan

    Delegasi Buruh Indonesia Soroti Konsistensi Keputusan ILC Ke-113 Terkait Palestina dan Arah Pembahasan Pekerja Platform Digital

    Delegasi Buruh Indonesia Soroti Konsistensi Keputusan ILC Ke-113 Terkait Palestina dan Arah Pembahasan Pekerja Platform Digital

    Trending Tags

  • Liputan Khusus
  • OPINI
    Satu Dekade Arbitrase Laut China Selatan: Satu Dekade Arbitrase Laut China Selatan: Refleksi atas Dampaknya terhadap Stabilitas Kawasan

    Satu Dekade Arbitrase Laut China Selatan: Refleksi atas Dampaknya terhadap Stabilitas Kawasan

    Belajar dari Sepak Bola Dunia

    Belajar dari Sepak Bola Dunia

    Potensi Dominasi Negara dari BUMN Khusus Ekspor

    Prabowonomics, Model Pembangunan yang Harus Ditinggalkan

    Kepada Said Iqbal: Redistribusi Kekayaan Tidak Cukup dengan “Kau Boleh Kaya Tapi Jangan Miskinkan Kami”

    Kepada Said Iqbal: Redistribusi Kekayaan Tidak Cukup dengan “Kau Boleh Kaya Tapi Jangan Miskinkan Kami”

    Membaca Senyum Purbaya

    Membaca Senyum Purbaya

    Pesta Babi, Negara, dan Kebebasan Pers

    Pesta Babi, Negara, dan Kebebasan Pers

    Kacau Betul! Komunikasi Pemerintah atau Halusinasi?

    Kacau Betul! Komunikasi Pemerintah atau Halusinasi?

    May Day dan Imajinasi Gerakan Buruh

    May Day dan Imajinasi Gerakan Buruh

    May Day, May Day, May Day ! Horor di Negeri yang Terabaikan. Alerta !

    May Day, May Day, May Day ! Horor di Negeri yang Terabaikan. Alerta !

    Pemindahan Gerbong Perempuan: Proteksi Atau Diskriminasi?

    Pemindahan Gerbong Perempuan: Proteksi Atau Diskriminasi?

    Trending Tags

  • RUANG SASTRA
    Selamatkan Hutan Melalui Film “Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua”

    Selamatkan Hutan Melalui Film “Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua”

    Film Pangku: Perjuangan Ibu Tunggal di Jalan Sunyi

    Film Pangku: Perjuangan Ibu Tunggal di Jalan Sunyi

    Film “Wall to Wall”: Potret Nyata Kelas Pekerja di Seoul ’11-12′ dengan Jakarta

    Film “Wall to Wall”: Potret Nyata Kelas Pekerja di Seoul ’11-12′ dengan Jakarta

    TUMPUK: Manifesto Konsumerisme dan Tumpukan Sampah

    TUMPUK: Manifesto Konsumerisme dan Tumpukan Sampah

    Sanggar Lidi Surabaya Gelar Pementasan Teater “Grafito”,  Kisah Cinta Beda Agama di Balai Pemuda Surabaya

    Sanggar Lidi Surabaya Gelar Pementasan Teater “Grafito”,  Kisah Cinta Beda Agama di Balai Pemuda Surabaya

    Cerita pendek: Kemenangan

    Cerita pendek: Kemenangan

    Trending Tags

  • SUARA WARGA
No Result
View All Result
Koreksi.org
No Result
View All Result
Home OPINI

Ketika Politik Menggilas Hukum, Koruptor pun Tertawa

by Nanang FS
August 2, 2025
in OPINI
0
Ketika Politik Menggilas Hukum, Koruptor pun Tertawa

Ilustrasi

17
SHARES
49
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Artikel ini sengaja ditulis karena keadilan tidak boleh dikompromikan. Jika kita diam hari ini, besok mungkin giliran kita yang menjadi korban ketidakadilan.

Pasca-bebasnya Thomas (Tom) Lembong dan Hasto Kristiyanto, grup-grup WhatsApp ramai membahasnya, pro dan kontra sudah pasti. Masing-masing berargumen dengan segala macam teori dan kompetensi yang mereka miliki. Pun masyarakat awam tak sedikit yang turut nyinyir di media sosial mereka. Langkah yang diambil Presiden Prabowo Subianto sekali lagi memukul mundur penegakan hukum dengan dalih “stabilitas negara” dan “persatuan”. Keputusan abolisi dan amnesti bagi Tom Lembong dan Hasto Kristiyanto bukan sekadar tamparan bagi KPK, Kejaksaan, dan Pengadilan, melainkan pengkhianatan terhadap prinsip dasar hukum, bahwa keadilan harus ditegakkan tanpa pandang bulu. Di negeri yang konstitusinya menjamin persamaan di depan hukum, mengapa segelintir orang bisa lolos dari jerat hukum hanya karena pertimbangan politik? Mengapa upaya penegakan hukum bertahun-tahun bisa dihancurkan dalam sekejap oleh keputusan sepihak? Politik!

Ini bukan persoalan dua nama besar semata. Ini adalah ujian bagi integritas bangsa. Apakah kita masih percaya pada hukum, atau telah menyerah pada logika kekuasaan? Lihatlah realitas hari ini, proses hukum yang melewati penyidikan, penuntutan, bahkan persidangan, tiba-tiba dibatalkan hanya karena pertimbangan politik. Sejarah Indonesia terlalu sering menyaksikan hukum dikesampingkan demi kekuasaan. Kasus korupsi elite berakhir dengan pengampunan, sementara rakyat kecil yang melakukan pelanggaran kecil dihukum berat.

Pertanyaannya menggelitik, apakah hukum masih berdaulat, atau telah menjadi budak politik? Jika koruptor bisa bebas karena pengaruh atau massa pendukung, lalu apa bedanya kita dengan rezim otoriter yang menjadikan hukum sebagai alat kekuasaan? Hukum seharusnya panglima, bukan pesuruh. Ketika abolisi dan amnesti dikeluarkan tanpa dasar kuat, hanya dengan alasan “kepentingan nasional”, yang terjadi adalah pembunuhan terhadap hukum itu sendiri.

Alasan “stabilitas” dan “persatuan” hanyalah kedok klasik untuk melegitimasi ketidakadilan. Sejarah dunia membuktikan: tidak ada negara stabil jika hukum diperjualbelikan. Judge Bao, hakim legendaris Tiongkok, pernah berkata: “Lebih baik mati daripada membiarkan ketidakadilan merajalela.” Tapi di sini, kita membiarkannya—dengan senyum. Jika mereka memang tak bersalah, mengapa tidak melalui proses pengadilan biasa? Jawabannya telanjang: ini tentang kekuasaan, bukan kebenaran.

Bayangkan frustrasi penyidik, jaksa, dan hakim yang telah bekerja keras. Tiba-tiba, dengan satu cap stempel presiden, jerih payah mereka sia-sia. Apa artinya memberantas korupsi jika ujungnya keputusan ada di tangan politik? Adagium “lebih baik membebaskan seribu penjahat daripada menghukum satu orang tak bersalah” pun disalahartikan. Ini bukan pembebasan orang tak bersalah, melainkan koruptor yang punya koneksi—bukan keadilan, tapi pembodohan publik.

Hukum seharusnya buta—tak memandang siapa pelakunya. Tapi di Indonesia, hukum tunduk pada yang berkuasa. Jika ini terus dibiarkan, korupsi bukan hanya merajalela, tapi dilegalkan. Kita boleh berbeda pendapat tentang mereka, tapi satu hal harus jelas: koruptor tak boleh dibebaskan dengan alasan apa pun.

Sejarah Indonesia penuh dengan contoh kasus serupa. Pada era Orde Baru, banyak koruptor yang dibebaskan dengan alasan “kepentingan nasional”. Pada era reformasi, praktik ini berlanjut dengan berbagai modifikasi. Pola ini menunjukkan bagaimana hukum sering dikalahkan oleh kepentingan politik jangka pendek.

Contoh nyata adalah kasus-kasus besar yang melibatkan elite politik, tersangka akhirnya dibebaskan setelah melalui proses hukum yang panjang. Ironinya, masyarakat biasa yang melakukan pelanggaran kecil justru dihukum berat. Ini membuktikan bahwa hukum di Indonesia masih bersifat diskriminatif.

Perbandingan dengan Negara Lain

Di banyak negara demokratis, amnesti biasanya diberikan untuk kasus-kasus politik tertentu, bukan untuk korupsi. Beberapa negara justru sangat keras terhadap koruptor, dengan hukuman yang berat bagi pelakunya. Lalu, mengapa Indonesia justru melunak? Jawabannya terletak pada budaya impunitas yang telah mengakar. Koruptor tidak lagi takut pada hukum karena mereka yakin bisa “diatur” di tingkat politik.

Bayangkan Anda adalah penyidik yang telah bekerja keras mengumpulkan bukti selama berbulan-bulan, hanya untuk melihat tersangka dibebaskan begitu saja. Apa yang Anda rasakan? Frustasi, marah, atau mungkin putus asa?

Banyak penegak hukum yang akhirnya kehilangan motivasi. Mereka bertanya-tanya, “Untuk apa bekerja keras jika ujung-ujungnya politik yang menang?” Ini adalah tamparan keras bagi semangat pemberantasan korupsi.

Reaksi masyarakat terhadap keputusan ini cukup keras. Banyak yang mengecamnya sebagai bentuk pengkhianatan terhadap prinsip keadilan. Sikap publik ini menunjukkan bahwa masyarakat semakin sadar akan pentingnya penegakan hukum yang adil dan tidak diskriminatif.

Jika ini terus berlanjut, apa yang akan terjadi pada masa depan? Korupsi akan semakin sistemik, penegak hukum semakin tidak dihormati, dan masyarakat semakin tidak percaya pada negara. Pada akhirnya, kita akan menjadi negara yang dikuasai oleh mafia hukum.

Usulan Perbaikan:

  1. Revisi Undang-Undang: Perlu perubahan regulasi yang melarang pemberian abolisi/amnesti untuk kasus korupsi.
  2. Penguatan Lembaga Penegak Hukum: Berikan kewenangan lebih besar dan perlindungan maksimal bagi penyidik.
  3. Edukasi Publik: Tingkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya korupsi.
  4. Transparansi Kebijakan: Setiap keputusan abolisi/amnesti harus melalui proses pengawasan publik yang ketat.

Bersiaplah menyaksikan Indonesia menjadi surga koruptor—hukum hanya berlaku untuk rakyat kecil, sementara pemilik kuasa bebas melenggang. Dan ketika itu terjadi, jangan tanya mengapa korupsi tak kunjung hilang. Jawabannya sederhana: karena kita membiarkannya.

Tags: abolisiamnestidemokrasihasto kristiyantohukumkekuasaanpolitikpresidenrakyattom lembong
Nanang FS

Nanang FS

Related Posts

Satu Dekade Arbitrase Laut China Selatan: Satu Dekade Arbitrase Laut China Selatan: Refleksi atas Dampaknya terhadap Stabilitas Kawasan

Satu Dekade Arbitrase Laut China Selatan: Refleksi atas Dampaknya terhadap Stabilitas Kawasan

by admin
July 14, 2026
0

TANGGAL 12 Juli 2026 menandai sepuluh tahun sejak putusan arbitrase Laut China Selatan diumumkan. Selama satu dekade, putusan tersebut terus...

Belajar dari Sepak Bola Dunia

Belajar dari Sepak Bola Dunia

by Nanang FS
July 9, 2026
0

Oleh : Nanang FS* Setiap empat tahun sekali, dunia seperti berhenti berdenyut. Bukan karena perang atau wabah, melainkan karena si...

Potensi Dominasi Negara dari BUMN Khusus Ekspor

Prabowonomics, Model Pembangunan yang Harus Ditinggalkan

by admin
June 18, 2026
0

Oleh Firdaus Cahyadi Pembelaan Presiden Prabowo Subianto baru-baru ini terhadap kebijakannya di The Economist (10 Juni 2026) hanya memperkuat keyakinan...

Kepada Said Iqbal: Redistribusi Kekayaan Tidak Cukup dengan “Kau Boleh Kaya Tapi Jangan Miskinkan Kami”

Kepada Said Iqbal: Redistribusi Kekayaan Tidak Cukup dengan “Kau Boleh Kaya Tapi Jangan Miskinkan Kami”

by Sasmito Madrim
June 11, 2026
0

Presiden Prabowo Subianto melantik Said Iqbal sebagai Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh pada Senin (8/6/2026) di Istana...

Membaca Senyum Purbaya

Membaca Senyum Purbaya

by Nanang FS
May 18, 2026
0

Oleh: Dr. Zulfatun Mahmudah, S.Pd, M.I.Kom, CSRS Dalam sebuah pidatonya, Presiden Prabowo mengatakan,  jika Purbaya masih tersenyum, maka kondisi keuangan...

Pesta Babi, Negara, dan Kebebasan Pers

Pesta Babi, Negara, dan Kebebasan Pers

by Sasmito Madrim
May 13, 2026
0

Pemutaran film dokumenter "Pesta Babi" karya jurnalis Dandhy Dwi Laksono mengalami intimidasi hingga pembubaran paksa oleh TNI di sejumlah daerah....

Next Post
Abolisi dan Amnesti: Barter Dukungan Politik dan Pelemahan Pemberantasan Korupsi

Abolisi dan Amnesti: Barter Dukungan Politik dan Pelemahan Pemberantasan Korupsi

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • About
  • Editorial
  • Pedoman Media Siber

© 2025 Koreksi.org

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • OPINI
  • RUANG SASTRA
    • SUARA WARGA

© 2025 Koreksi.org