• About
  • Editorial
  • Pedoman Media Siber
Thursday, September 17, 2026
No Result
View All Result
Koreksi.org
  • Home
  • Berita
    Suasana tahanan politik diberi arahan oleh polisi di sebuah ruang unit reserse polda metro jaya pada Rabu, (8/9).

    Serial “Kembali ke Barak”: Pemprov DKI Wajibkan Pelajar Pendemo Ikut Pembekalan Bela Negara

    Kecewa Pemkot Surabaya Abaikan Aspirasi, Petani Tambak Keputih Tutup Akses Jalan

    Kecewa Pemkot Surabaya Abaikan Aspirasi, Petani Tambak Keputih Tutup Akses Jalan

    Serial “Kembali ke Barak”: Tolak Militerisasi Kampus, Mahasiswa Baru UINAM Diancam DO

    Serial “Kembali ke Barak”: Tolak Militerisasi Kampus, Mahasiswa Baru UINAM Diancam DO

    Warga Simogunung Surabaya Desak Penghentian Kriminalisasi Sengketa Tanah Dengan TNI AU

    Warga Simogunung Surabaya Desak Penghentian Kriminalisasi Sengketa Tanah Dengan TNI AU

    Gubernur Papua Barat Daya Blakblakan soal Hutan hingga Tambang di Papua Milik Jenderal

    Gubernur Papua Barat Daya Blakblakan soal Hutan hingga Tambang di Papua Milik Jenderal

    Koalisi Masyarakat Adat Sepakat Tolak PSN hingga Proyek Eksploitatif di Papeda Summit

    Koalisi Masyarakat Adat Sepakat Tolak PSN hingga Proyek Eksploitatif di Papeda Summit

    Menko Zulkifli Hasan Kabur saat Ditanya Papeda Summit dan Janji 1,7 Juta Hutan Adat di Papua

    Menko Zulkifli Hasan Kabur saat Ditanya Papeda Summit dan Janji 1,7 Juta Hutan Adat di Papua

    Aksi Pemuda Adat Papua Tolak Papeda Summit 2026 di Sorong: NGO Fasilitasi Aktor Perusak Hutan

    Aksi Pemuda Adat Papua Tolak Papeda Summit 2026 di Sorong: NGO Fasilitasi Aktor Perusak Hutan

    Serial “Kembali ke Barak”: Warga Kwini 8 Melawan Klaim Sepihak Militer

    Serial “Kembali ke Barak”: Warga Kwini 8 Melawan Klaim Sepihak Militer

    100 Hari Kerja Prabowo-Gibran: Ironi Ekspansi Militer di Tengah Sunat Anggaran Publik

    Serial “Kembali ke Barak”: Bahaya Laten TNI Ambil Alih Tugas Sipil

    Trending Tags

  • Liputan Khusus
  • OPINI
    Menjaga Hak Hidup: Kisah Perempuan ODHIV dalam Pusaran Hukum Narkotika

    Menjaga Hak Hidup: Kisah Perempuan ODHIV dalam Pusaran Hukum Narkotika

    Dari Jakarta ke Phnom Penh: Perang Melawan Scam yang Tak Bisa Ditangani Satu Negara Saja

    Dari Jakarta ke Phnom Penh: Perang Melawan Scam yang Tak Bisa Ditangani Satu Negara Saja

    Apakah Kemerdekaan Seperti Ini yang Engkau Maksud, Datuk?

    Apakah Kemerdekaan Seperti Ini yang Engkau Maksud, Datuk?

    Satu Dekade Arbitrase Laut China Selatan: Refleksi atas Dampaknya terhadap Stabilitas Kawasan

    Belajar dari Sepak Bola Dunia

    Belajar dari Sepak Bola Dunia

    Potensi Dominasi Negara dari BUMN Khusus Ekspor

    Prabowonomics, Model Pembangunan yang Harus Ditinggalkan

    Kepada Said Iqbal: Redistribusi Kekayaan Tidak Cukup dengan “Kau Boleh Kaya Tapi Jangan Miskinkan Kami”

    Kepada Said Iqbal: Redistribusi Kekayaan Tidak Cukup dengan “Kau Boleh Kaya Tapi Jangan Miskinkan Kami”

    Membaca Senyum Purbaya

    Membaca Senyum Purbaya

    Pesta Babi, Negara, dan Kebebasan Pers

    Pesta Babi, Negara, dan Kebebasan Pers

    Kacau Betul! Komunikasi Pemerintah atau Halusinasi?

    Kacau Betul! Komunikasi Pemerintah atau Halusinasi?

    Trending Tags

  • RUANG SASTRA
    Selamatkan Hutan Melalui Film “Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua”

    Selamatkan Hutan Melalui Film “Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua”

    Film Pangku: Perjuangan Ibu Tunggal di Jalan Sunyi

    Film Pangku: Perjuangan Ibu Tunggal di Jalan Sunyi

    Film “Wall to Wall”: Potret Nyata Kelas Pekerja di Seoul ’11-12′ dengan Jakarta

    Film “Wall to Wall”: Potret Nyata Kelas Pekerja di Seoul ’11-12′ dengan Jakarta

    TUMPUK: Manifesto Konsumerisme dan Tumpukan Sampah

    TUMPUK: Manifesto Konsumerisme dan Tumpukan Sampah

    Sanggar Lidi Surabaya Gelar Pementasan Teater “Grafito”,  Kisah Cinta Beda Agama di Balai Pemuda Surabaya

    Sanggar Lidi Surabaya Gelar Pementasan Teater “Grafito”,  Kisah Cinta Beda Agama di Balai Pemuda Surabaya

    Cerita pendek: Kemenangan

    Cerita pendek: Kemenangan

    Trending Tags

  • SUARA WARGA
  • Home
  • Berita
    Suasana tahanan politik diberi arahan oleh polisi di sebuah ruang unit reserse polda metro jaya pada Rabu, (8/9).

    Serial “Kembali ke Barak”: Pemprov DKI Wajibkan Pelajar Pendemo Ikut Pembekalan Bela Negara

    Kecewa Pemkot Surabaya Abaikan Aspirasi, Petani Tambak Keputih Tutup Akses Jalan

    Kecewa Pemkot Surabaya Abaikan Aspirasi, Petani Tambak Keputih Tutup Akses Jalan

    Serial “Kembali ke Barak”: Tolak Militerisasi Kampus, Mahasiswa Baru UINAM Diancam DO

    Serial “Kembali ke Barak”: Tolak Militerisasi Kampus, Mahasiswa Baru UINAM Diancam DO

    Warga Simogunung Surabaya Desak Penghentian Kriminalisasi Sengketa Tanah Dengan TNI AU

    Warga Simogunung Surabaya Desak Penghentian Kriminalisasi Sengketa Tanah Dengan TNI AU

    Gubernur Papua Barat Daya Blakblakan soal Hutan hingga Tambang di Papua Milik Jenderal

    Gubernur Papua Barat Daya Blakblakan soal Hutan hingga Tambang di Papua Milik Jenderal

    Koalisi Masyarakat Adat Sepakat Tolak PSN hingga Proyek Eksploitatif di Papeda Summit

    Koalisi Masyarakat Adat Sepakat Tolak PSN hingga Proyek Eksploitatif di Papeda Summit

    Menko Zulkifli Hasan Kabur saat Ditanya Papeda Summit dan Janji 1,7 Juta Hutan Adat di Papua

    Menko Zulkifli Hasan Kabur saat Ditanya Papeda Summit dan Janji 1,7 Juta Hutan Adat di Papua

    Aksi Pemuda Adat Papua Tolak Papeda Summit 2026 di Sorong: NGO Fasilitasi Aktor Perusak Hutan

    Aksi Pemuda Adat Papua Tolak Papeda Summit 2026 di Sorong: NGO Fasilitasi Aktor Perusak Hutan

    Serial “Kembali ke Barak”: Warga Kwini 8 Melawan Klaim Sepihak Militer

    Serial “Kembali ke Barak”: Warga Kwini 8 Melawan Klaim Sepihak Militer

    100 Hari Kerja Prabowo-Gibran: Ironi Ekspansi Militer di Tengah Sunat Anggaran Publik

    Serial “Kembali ke Barak”: Bahaya Laten TNI Ambil Alih Tugas Sipil

    Trending Tags

  • Liputan Khusus
  • OPINI
    Menjaga Hak Hidup: Kisah Perempuan ODHIV dalam Pusaran Hukum Narkotika

    Menjaga Hak Hidup: Kisah Perempuan ODHIV dalam Pusaran Hukum Narkotika

    Dari Jakarta ke Phnom Penh: Perang Melawan Scam yang Tak Bisa Ditangani Satu Negara Saja

    Dari Jakarta ke Phnom Penh: Perang Melawan Scam yang Tak Bisa Ditangani Satu Negara Saja

    Apakah Kemerdekaan Seperti Ini yang Engkau Maksud, Datuk?

    Apakah Kemerdekaan Seperti Ini yang Engkau Maksud, Datuk?

    Satu Dekade Arbitrase Laut China Selatan: Refleksi atas Dampaknya terhadap Stabilitas Kawasan

    Belajar dari Sepak Bola Dunia

    Belajar dari Sepak Bola Dunia

    Potensi Dominasi Negara dari BUMN Khusus Ekspor

    Prabowonomics, Model Pembangunan yang Harus Ditinggalkan

    Kepada Said Iqbal: Redistribusi Kekayaan Tidak Cukup dengan “Kau Boleh Kaya Tapi Jangan Miskinkan Kami”

    Kepada Said Iqbal: Redistribusi Kekayaan Tidak Cukup dengan “Kau Boleh Kaya Tapi Jangan Miskinkan Kami”

    Membaca Senyum Purbaya

    Membaca Senyum Purbaya

    Pesta Babi, Negara, dan Kebebasan Pers

    Pesta Babi, Negara, dan Kebebasan Pers

    Kacau Betul! Komunikasi Pemerintah atau Halusinasi?

    Kacau Betul! Komunikasi Pemerintah atau Halusinasi?

    Trending Tags

  • RUANG SASTRA
    Selamatkan Hutan Melalui Film “Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua”

    Selamatkan Hutan Melalui Film “Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua”

    Film Pangku: Perjuangan Ibu Tunggal di Jalan Sunyi

    Film Pangku: Perjuangan Ibu Tunggal di Jalan Sunyi

    Film “Wall to Wall”: Potret Nyata Kelas Pekerja di Seoul ’11-12′ dengan Jakarta

    Film “Wall to Wall”: Potret Nyata Kelas Pekerja di Seoul ’11-12′ dengan Jakarta

    TUMPUK: Manifesto Konsumerisme dan Tumpukan Sampah

    TUMPUK: Manifesto Konsumerisme dan Tumpukan Sampah

    Sanggar Lidi Surabaya Gelar Pementasan Teater “Grafito”,  Kisah Cinta Beda Agama di Balai Pemuda Surabaya

    Sanggar Lidi Surabaya Gelar Pementasan Teater “Grafito”,  Kisah Cinta Beda Agama di Balai Pemuda Surabaya

    Cerita pendek: Kemenangan

    Cerita pendek: Kemenangan

    Trending Tags

  • SUARA WARGA
No Result
View All Result
Koreksi.org
No Result
View All Result
Home OPINI

Ketika Politik Menggilas Hukum, Koruptor pun Tertawa

by Nanang FS
August 2, 2025
in OPINI
0
Ketika Politik Menggilas Hukum, Koruptor pun Tertawa

Ilustrasi

17
SHARES
49
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Artikel ini sengaja ditulis karena keadilan tidak boleh dikompromikan. Jika kita diam hari ini, besok mungkin giliran kita yang menjadi korban ketidakadilan.

Pasca-bebasnya Thomas (Tom) Lembong dan Hasto Kristiyanto, grup-grup WhatsApp ramai membahasnya, pro dan kontra sudah pasti. Masing-masing berargumen dengan segala macam teori dan kompetensi yang mereka miliki. Pun masyarakat awam tak sedikit yang turut nyinyir di media sosial mereka. Langkah yang diambil Presiden Prabowo Subianto sekali lagi memukul mundur penegakan hukum dengan dalih “stabilitas negara” dan “persatuan”. Keputusan abolisi dan amnesti bagi Tom Lembong dan Hasto Kristiyanto bukan sekadar tamparan bagi KPK, Kejaksaan, dan Pengadilan, melainkan pengkhianatan terhadap prinsip dasar hukum, bahwa keadilan harus ditegakkan tanpa pandang bulu. Di negeri yang konstitusinya menjamin persamaan di depan hukum, mengapa segelintir orang bisa lolos dari jerat hukum hanya karena pertimbangan politik? Mengapa upaya penegakan hukum bertahun-tahun bisa dihancurkan dalam sekejap oleh keputusan sepihak? Politik!

Ini bukan persoalan dua nama besar semata. Ini adalah ujian bagi integritas bangsa. Apakah kita masih percaya pada hukum, atau telah menyerah pada logika kekuasaan? Lihatlah realitas hari ini, proses hukum yang melewati penyidikan, penuntutan, bahkan persidangan, tiba-tiba dibatalkan hanya karena pertimbangan politik. Sejarah Indonesia terlalu sering menyaksikan hukum dikesampingkan demi kekuasaan. Kasus korupsi elite berakhir dengan pengampunan, sementara rakyat kecil yang melakukan pelanggaran kecil dihukum berat.

Pertanyaannya menggelitik, apakah hukum masih berdaulat, atau telah menjadi budak politik? Jika koruptor bisa bebas karena pengaruh atau massa pendukung, lalu apa bedanya kita dengan rezim otoriter yang menjadikan hukum sebagai alat kekuasaan? Hukum seharusnya panglima, bukan pesuruh. Ketika abolisi dan amnesti dikeluarkan tanpa dasar kuat, hanya dengan alasan “kepentingan nasional”, yang terjadi adalah pembunuhan terhadap hukum itu sendiri.

Alasan “stabilitas” dan “persatuan” hanyalah kedok klasik untuk melegitimasi ketidakadilan. Sejarah dunia membuktikan: tidak ada negara stabil jika hukum diperjualbelikan. Judge Bao, hakim legendaris Tiongkok, pernah berkata: “Lebih baik mati daripada membiarkan ketidakadilan merajalela.” Tapi di sini, kita membiarkannya—dengan senyum. Jika mereka memang tak bersalah, mengapa tidak melalui proses pengadilan biasa? Jawabannya telanjang: ini tentang kekuasaan, bukan kebenaran.

Bayangkan frustrasi penyidik, jaksa, dan hakim yang telah bekerja keras. Tiba-tiba, dengan satu cap stempel presiden, jerih payah mereka sia-sia. Apa artinya memberantas korupsi jika ujungnya keputusan ada di tangan politik? Adagium “lebih baik membebaskan seribu penjahat daripada menghukum satu orang tak bersalah” pun disalahartikan. Ini bukan pembebasan orang tak bersalah, melainkan koruptor yang punya koneksi—bukan keadilan, tapi pembodohan publik.

Hukum seharusnya buta—tak memandang siapa pelakunya. Tapi di Indonesia, hukum tunduk pada yang berkuasa. Jika ini terus dibiarkan, korupsi bukan hanya merajalela, tapi dilegalkan. Kita boleh berbeda pendapat tentang mereka, tapi satu hal harus jelas: koruptor tak boleh dibebaskan dengan alasan apa pun.

Sejarah Indonesia penuh dengan contoh kasus serupa. Pada era Orde Baru, banyak koruptor yang dibebaskan dengan alasan “kepentingan nasional”. Pada era reformasi, praktik ini berlanjut dengan berbagai modifikasi. Pola ini menunjukkan bagaimana hukum sering dikalahkan oleh kepentingan politik jangka pendek.

Contoh nyata adalah kasus-kasus besar yang melibatkan elite politik, tersangka akhirnya dibebaskan setelah melalui proses hukum yang panjang. Ironinya, masyarakat biasa yang melakukan pelanggaran kecil justru dihukum berat. Ini membuktikan bahwa hukum di Indonesia masih bersifat diskriminatif.

Perbandingan dengan Negara Lain

Di banyak negara demokratis, amnesti biasanya diberikan untuk kasus-kasus politik tertentu, bukan untuk korupsi. Beberapa negara justru sangat keras terhadap koruptor, dengan hukuman yang berat bagi pelakunya. Lalu, mengapa Indonesia justru melunak? Jawabannya terletak pada budaya impunitas yang telah mengakar. Koruptor tidak lagi takut pada hukum karena mereka yakin bisa “diatur” di tingkat politik.

Bayangkan Anda adalah penyidik yang telah bekerja keras mengumpulkan bukti selama berbulan-bulan, hanya untuk melihat tersangka dibebaskan begitu saja. Apa yang Anda rasakan? Frustasi, marah, atau mungkin putus asa?

Banyak penegak hukum yang akhirnya kehilangan motivasi. Mereka bertanya-tanya, “Untuk apa bekerja keras jika ujung-ujungnya politik yang menang?” Ini adalah tamparan keras bagi semangat pemberantasan korupsi.

Reaksi masyarakat terhadap keputusan ini cukup keras. Banyak yang mengecamnya sebagai bentuk pengkhianatan terhadap prinsip keadilan. Sikap publik ini menunjukkan bahwa masyarakat semakin sadar akan pentingnya penegakan hukum yang adil dan tidak diskriminatif.

Jika ini terus berlanjut, apa yang akan terjadi pada masa depan? Korupsi akan semakin sistemik, penegak hukum semakin tidak dihormati, dan masyarakat semakin tidak percaya pada negara. Pada akhirnya, kita akan menjadi negara yang dikuasai oleh mafia hukum.

Usulan Perbaikan:

  1. Revisi Undang-Undang: Perlu perubahan regulasi yang melarang pemberian abolisi/amnesti untuk kasus korupsi.
  2. Penguatan Lembaga Penegak Hukum: Berikan kewenangan lebih besar dan perlindungan maksimal bagi penyidik.
  3. Edukasi Publik: Tingkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya korupsi.
  4. Transparansi Kebijakan: Setiap keputusan abolisi/amnesti harus melalui proses pengawasan publik yang ketat.

Bersiaplah menyaksikan Indonesia menjadi surga koruptor—hukum hanya berlaku untuk rakyat kecil, sementara pemilik kuasa bebas melenggang. Dan ketika itu terjadi, jangan tanya mengapa korupsi tak kunjung hilang. Jawabannya sederhana: karena kita membiarkannya.

Tags: abolisiamnestidemokrasihasto kristiyantohukumkekuasaanpolitikpresidenrakyattom lembong
Nanang FS

Nanang FS

Related Posts

Menjaga Hak Hidup: Kisah Perempuan ODHIV dalam Pusaran Hukum Narkotika

Menjaga Hak Hidup: Kisah Perempuan ODHIV dalam Pusaran Hukum Narkotika

by admin
August 27, 2026
0

“Kalau obatnya putus, kondisinya bisa memburuk.” Kalimat itu tidak diucapkan di ruang sidang, bukan pula dalam rapat sebuah lembaga bantuan...

Dari Jakarta ke Phnom Penh: Perang Melawan Scam yang Tak Bisa Ditangani Satu Negara Saja

Dari Jakarta ke Phnom Penh: Perang Melawan Scam yang Tak Bisa Ditangani Satu Negara Saja

by admin
August 21, 2026
0

Online scam kini berkembang menjadi industri kriminal lintas negara dengan rantai pelaku, teknologi, dana, dan operasi yang semakin multinasional. Bagi...

Apakah Kemerdekaan Seperti Ini yang Engkau Maksud, Datuk?

Apakah Kemerdekaan Seperti Ini yang Engkau Maksud, Datuk?

by Nanang FS
August 19, 2026
0

Sebuah Dialog Imajiner Nanang Farid Syam dengan Tan Malaka di Usia 81 Tahun Republik Delapan puluh satu tahun sudah Republik...

Satu Dekade Arbitrase Laut China Selatan: Refleksi atas Dampaknya terhadap Stabilitas Kawasan

by admin
July 14, 2026
0

TANGGAL 12 Juli 2026 menandai sepuluh tahun sejak putusan arbitrase Laut China Selatan diumumkan. Selama satu dekade, putusan tersebut terus...

Belajar dari Sepak Bola Dunia

Belajar dari Sepak Bola Dunia

by Nanang FS
July 9, 2026
0

Oleh : Nanang FS* Setiap empat tahun sekali, dunia seperti berhenti berdenyut. Bukan karena perang atau wabah, melainkan karena si...

Potensi Dominasi Negara dari BUMN Khusus Ekspor

Prabowonomics, Model Pembangunan yang Harus Ditinggalkan

by admin
June 18, 2026
0

Oleh Firdaus Cahyadi Pembelaan Presiden Prabowo Subianto baru-baru ini terhadap kebijakannya di The Economist (10 Juni 2026) hanya memperkuat keyakinan...

Next Post
Abolisi dan Amnesti: Barter Dukungan Politik dan Pelemahan Pemberantasan Korupsi

Abolisi dan Amnesti: Barter Dukungan Politik dan Pelemahan Pemberantasan Korupsi

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • About
  • Editorial
  • Pedoman Media Siber

© 2025 Koreksi.org

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • OPINI
  • RUANG SASTRA
    • SUARA WARGA

© 2025 Koreksi.org