• About
  • Editorial
  • Pedoman Media Siber
Saturday, May 9, 2026
No Result
View All Result
Koreksi.org
  • Home
  • Berita
    AJI Jakarta Gelar Pesta Media Angkat Isu Kebebasan Pers, Lingkungan Hidup, dan Kecerdasan Buatan

    AJI Jakarta Gelar Pesta Media Angkat Isu Kebebasan Pers, Lingkungan Hidup, dan Kecerdasan Buatan

    Mengawal Pencabutan Izin Perusahaan Penyebab Banjir Sumatera

    Mengawal Pencabutan Izin Perusahaan Penyebab Banjir Sumatera

    100 Hari Kerja Prabowo-Gibran: Ironi Ekspansi Militer di Tengah Sunat Anggaran Publik

    Mengapa Perlu Terus Berisik di Tengah Menguatnya Pendekatan Militeristik Era Prabowo

    Salib Merah Simbol Protes Masyarakat Adat di Merauke Dicabut Orang Tak Dikenal

    Salib Merah Simbol Protes Masyarakat Adat di Merauke Dicabut Orang Tak Dikenal

    Dari Demonstrasi ke Meja Hijau, Botok dan Teguh di Hadapan Legalisme Otokrasi

    Dari Demonstrasi ke Meja Hijau, Botok dan Teguh di Hadapan Legalisme Otokrasi

    Massa aksi tidak diperkenankan masuk ke area DPRD Pati yang dijaga ketat polisi dan dipagari kawat pada Jumat, 31 Oktober 2025 (Sumber gambar: Rizky Riawan Nursatria/dokumentasi pribadi)

    Jejak Terkubur Peristiwa 31 Oktober di Jalan Pantura Pati-Juana, Kekerasan Polisi dan Perburuan Aktivis

    ART Indonesia-AS Banjir Kritik: Merugikan dari Sisi Ekonomi Hingga Sinyal Kematian Pers

    ART Indonesia-AS Banjir Kritik: Merugikan dari Sisi Ekonomi Hingga Sinyal Kematian Pers

    Masyarakat Adat Papua Usir Utusan PT ASI di Konda Sorong Selatan, Nyatakan Sikap Tolak Sawit 

    Masyarakat Adat Papua Usir Utusan PT ASI di Konda Sorong Selatan, Nyatakan Sikap Tolak Sawit 

    PERMAHI Sorong Sebut Panitia Tanggung Jawab soal Kayu Mangrove Tiang Bendera Partai Gerindra

    PERMAHI Sorong Sebut Panitia Tanggung Jawab soal Kayu Mangrove Tiang Bendera Partai Gerindra

    Ribuan Kayu Mangrove Dipakai Tiang Bendera Parpol di Papua Barat Daya

    Ribuan Kayu Mangrove Dipakai Tiang Bendera Parpol di Papua Barat Daya

    Trending Tags

  • Liputan Khusus
  • OPINI
    Kacau Betul! Komunikasi Pemerintah atau Halusinasi?

    Kacau Betul! Komunikasi Pemerintah atau Halusinasi?

    May Day dan Imajinasi Gerakan Buruh

    May Day dan Imajinasi Gerakan Buruh

    May Day, May Day, May Day ! Horor di Negeri yang Terabaikan. Alerta !

    May Day, May Day, May Day ! Horor di Negeri yang Terabaikan. Alerta !

    Pemindahan Gerbong Perempuan: Proteksi Atau Diskriminasi?

    Pemindahan Gerbong Perempuan: Proteksi Atau Diskriminasi?

    ​Wajah Buram Demokrasi dalam Percikan Air Keras

    ​Wajah Buram Demokrasi dalam Percikan Air Keras

    Amerika dan Mitos Penjaga Perdamaian Dunia

    Amerika dan Mitos Penjaga Perdamaian Dunia

    Kaleidoskop Kebebasan Pers Mahasiswa 2023–2025: Kampus yang Enggan Diawasi

    Kaleidoskop Kebebasan Pers Mahasiswa 2023–2025: Kampus yang Enggan Diawasi

    Akal-akalan Asesmen Narkotika: Antara Pasal Karet dan Pundi-Pundi Kekayaan bagi Aparat

    Perang Argumentasi di Senayan Untuk Kebijakan  Narkotika serta Pertarungan  Komunitas dan Masyarakat  Melawan Kebijakan Turunannya

    Kursi Komisaris dan Ancaman Senyap terhadap Kedaulatan Gerakan Buruh

    Kursi Komisaris dan Ancaman Senyap terhadap Kedaulatan Gerakan Buruh

    Dari Rio Hingga Palu: Kolonialisme Baru dalam Perang Terhadap Narkotika

    Dari Rio Hingga Palu: Kolonialisme Baru dalam Perang Terhadap Narkotika

    Trending Tags

  • RUANG SASTRA
    Selamatkan Hutan Melalui Film “Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua”

    Selamatkan Hutan Melalui Film “Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua”

    Film Pangku: Perjuangan Ibu Tunggal di Jalan Sunyi

    Film Pangku: Perjuangan Ibu Tunggal di Jalan Sunyi

    Film “Wall to Wall”: Potret Nyata Kelas Pekerja di Seoul ’11-12′ dengan Jakarta

    Film “Wall to Wall”: Potret Nyata Kelas Pekerja di Seoul ’11-12′ dengan Jakarta

    TUMPUK: Manifesto Konsumerisme dan Tumpukan Sampah

    TUMPUK: Manifesto Konsumerisme dan Tumpukan Sampah

    Sanggar Lidi Surabaya Gelar Pementasan Teater “Grafito”,  Kisah Cinta Beda Agama di Balai Pemuda Surabaya

    Sanggar Lidi Surabaya Gelar Pementasan Teater “Grafito”,  Kisah Cinta Beda Agama di Balai Pemuda Surabaya

    Cerita pendek: Kemenangan

    Cerita pendek: Kemenangan

    Trending Tags

  • SUARA WARGA
  • Home
  • Berita
    AJI Jakarta Gelar Pesta Media Angkat Isu Kebebasan Pers, Lingkungan Hidup, dan Kecerdasan Buatan

    AJI Jakarta Gelar Pesta Media Angkat Isu Kebebasan Pers, Lingkungan Hidup, dan Kecerdasan Buatan

    Mengawal Pencabutan Izin Perusahaan Penyebab Banjir Sumatera

    Mengawal Pencabutan Izin Perusahaan Penyebab Banjir Sumatera

    100 Hari Kerja Prabowo-Gibran: Ironi Ekspansi Militer di Tengah Sunat Anggaran Publik

    Mengapa Perlu Terus Berisik di Tengah Menguatnya Pendekatan Militeristik Era Prabowo

    Salib Merah Simbol Protes Masyarakat Adat di Merauke Dicabut Orang Tak Dikenal

    Salib Merah Simbol Protes Masyarakat Adat di Merauke Dicabut Orang Tak Dikenal

    Dari Demonstrasi ke Meja Hijau, Botok dan Teguh di Hadapan Legalisme Otokrasi

    Dari Demonstrasi ke Meja Hijau, Botok dan Teguh di Hadapan Legalisme Otokrasi

    Massa aksi tidak diperkenankan masuk ke area DPRD Pati yang dijaga ketat polisi dan dipagari kawat pada Jumat, 31 Oktober 2025 (Sumber gambar: Rizky Riawan Nursatria/dokumentasi pribadi)

    Jejak Terkubur Peristiwa 31 Oktober di Jalan Pantura Pati-Juana, Kekerasan Polisi dan Perburuan Aktivis

    ART Indonesia-AS Banjir Kritik: Merugikan dari Sisi Ekonomi Hingga Sinyal Kematian Pers

    ART Indonesia-AS Banjir Kritik: Merugikan dari Sisi Ekonomi Hingga Sinyal Kematian Pers

    Masyarakat Adat Papua Usir Utusan PT ASI di Konda Sorong Selatan, Nyatakan Sikap Tolak Sawit 

    Masyarakat Adat Papua Usir Utusan PT ASI di Konda Sorong Selatan, Nyatakan Sikap Tolak Sawit 

    PERMAHI Sorong Sebut Panitia Tanggung Jawab soal Kayu Mangrove Tiang Bendera Partai Gerindra

    PERMAHI Sorong Sebut Panitia Tanggung Jawab soal Kayu Mangrove Tiang Bendera Partai Gerindra

    Ribuan Kayu Mangrove Dipakai Tiang Bendera Parpol di Papua Barat Daya

    Ribuan Kayu Mangrove Dipakai Tiang Bendera Parpol di Papua Barat Daya

    Trending Tags

  • Liputan Khusus
  • OPINI
    Kacau Betul! Komunikasi Pemerintah atau Halusinasi?

    Kacau Betul! Komunikasi Pemerintah atau Halusinasi?

    May Day dan Imajinasi Gerakan Buruh

    May Day dan Imajinasi Gerakan Buruh

    May Day, May Day, May Day ! Horor di Negeri yang Terabaikan. Alerta !

    May Day, May Day, May Day ! Horor di Negeri yang Terabaikan. Alerta !

    Pemindahan Gerbong Perempuan: Proteksi Atau Diskriminasi?

    Pemindahan Gerbong Perempuan: Proteksi Atau Diskriminasi?

    ​Wajah Buram Demokrasi dalam Percikan Air Keras

    ​Wajah Buram Demokrasi dalam Percikan Air Keras

    Amerika dan Mitos Penjaga Perdamaian Dunia

    Amerika dan Mitos Penjaga Perdamaian Dunia

    Kaleidoskop Kebebasan Pers Mahasiswa 2023–2025: Kampus yang Enggan Diawasi

    Kaleidoskop Kebebasan Pers Mahasiswa 2023–2025: Kampus yang Enggan Diawasi

    Akal-akalan Asesmen Narkotika: Antara Pasal Karet dan Pundi-Pundi Kekayaan bagi Aparat

    Perang Argumentasi di Senayan Untuk Kebijakan  Narkotika serta Pertarungan  Komunitas dan Masyarakat  Melawan Kebijakan Turunannya

    Kursi Komisaris dan Ancaman Senyap terhadap Kedaulatan Gerakan Buruh

    Kursi Komisaris dan Ancaman Senyap terhadap Kedaulatan Gerakan Buruh

    Dari Rio Hingga Palu: Kolonialisme Baru dalam Perang Terhadap Narkotika

    Dari Rio Hingga Palu: Kolonialisme Baru dalam Perang Terhadap Narkotika

    Trending Tags

  • RUANG SASTRA
    Selamatkan Hutan Melalui Film “Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua”

    Selamatkan Hutan Melalui Film “Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua”

    Film Pangku: Perjuangan Ibu Tunggal di Jalan Sunyi

    Film Pangku: Perjuangan Ibu Tunggal di Jalan Sunyi

    Film “Wall to Wall”: Potret Nyata Kelas Pekerja di Seoul ’11-12′ dengan Jakarta

    Film “Wall to Wall”: Potret Nyata Kelas Pekerja di Seoul ’11-12′ dengan Jakarta

    TUMPUK: Manifesto Konsumerisme dan Tumpukan Sampah

    TUMPUK: Manifesto Konsumerisme dan Tumpukan Sampah

    Sanggar Lidi Surabaya Gelar Pementasan Teater “Grafito”,  Kisah Cinta Beda Agama di Balai Pemuda Surabaya

    Sanggar Lidi Surabaya Gelar Pementasan Teater “Grafito”,  Kisah Cinta Beda Agama di Balai Pemuda Surabaya

    Cerita pendek: Kemenangan

    Cerita pendek: Kemenangan

    Trending Tags

  • SUARA WARGA
No Result
View All Result
Koreksi.org
No Result
View All Result
Home OPINI

Kekerasan Terhadap Perempuan Oleh Perempuan

by admin
April 25, 2025
in OPINI
0
Kekerasan Terhadap Perempuan Oleh Perempuan

RA Kartini. Foto: Wikimedia Commons

12
SHARES
33
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

(Refleksi Peringatan Hari Kartini)

Zulfatun Mahmudah*

Judul di atas bisa jadi mengundang pertanyaan, “mungkinkah kekerasan terhadap perempuan dilakukan oleh perempuan sendiri”? Bukankah selama ini kekerasan terhadap perempuan disebabkan oleh praktik-praktik yang berbasis ideologi patriarki? Berbagai pertanyaan tersebut tentu saja tidak salah, karena realitasnya, perempuan kerap menjadi korban kuasa patriarki. Namun demikian, kita tidak bisa melihat hal itu secara esensialis. Perempuan harus memiliki kemampuan reflektif dalam memahami dan melihat fenomena tersebut.

Dalam keseharian, kita seringkali mendengar suara hati perempuan yang mengatakan “Lebih enak punya boss laki-laki dibanding perempuan. Boss perempuan mudah baper dan mengedepankan sentimen bukan argumen dalam melihat dan menyelesaikan persoalan”. Kegelisahan tersebut tidak hanya terdengar dari suara pekerja perempuan. Di kantin kampus misalnya, suara senada seringkali terdengar dari obrolan santai para mahasiswa yang terjebak dalam relasi kuasa dengan dosen pembimbingnya.

Bagi mereka yang dengan lantang menyuarakan kesetaraan gender, bisa jadi ungkapan tersebut dianggap sebagai bentuk stereotipisasi perempuan. Narasi tersebut dinilai sebagai  representasi praktik patriarki yang sengaja diproduksi untuk mendiskriditkan kaum perempuan. Anggapan tersebut diperkuat oleh banyaknya narasi yang mendudukkan kekerasan terhadap perempuan seolah identik dengan pelecehan seksual. Akibatnya tindakan yang bersifat menekan, menggunjing, dan memaksakan pendapat dianggap bukan bagian dari tindak kekerasan.

Suara hati perempuan tersebut di atas, mengingatkan kita pada film Tilik. Publik dibuat geram dengan sikap Bu Tejo yang dari awal hingga akhir film terus menerus menghujat dan merendahkan Dian, perempuan mandiri yang tidak menjadi bagian komunitasnya. Film tersebut bisa jadi fiktif dan belum tentu merepresentasikan peristiwa sebenarnya. Namun demikian, satu hal yang perlu diingat, film adalah produk ideologis (Commoli dan Norboni dalam Kauvaros, 2008: 377). Film bisa menjadi representasi pemikiran pihak-pihak yang terkait dengan produksi film tersebut.

Graeme Turner (1999: 47 49) dalam bukunya yang berjudul “Film as Social Practice” menyebutkan bahwa film adalah produk budaya dan praktik sosial, yang berfungsi sebagai medium untuk memproduksi dan mereproduksi makna budaya. Pendapat tersebut sepertinya tepat untuk melihat fenomena apa yang melatarbelakangi film Tilik.

Wahyu Agung  Prasetyo, sang sutradara dan Elena Rosmeisara selaku produser menuturkan bahwa ibu mereka berstatus janda dan single. Mereka  kerap menjadi korban gunjingan karena status yang disandangnya. Keduanya tidak menyebutkan dengan jelas, subjek gender yang kerap menggunjing ibunya. Namun demikian, narasi yang dibangun dalam film Tilik seolah memberi jawaban bahwa para penggunjingnya adalah kaum perempuan. (https://kumparan.com/kumparannews/film-tilik-lahir-dari-obrolan-sang-sutradara-di-angkringan-1u2nfWS2NLj/2).

Gambaran adanya kekerasan terhadap perempuan oleh perempuan terkesan lepas dari keriuhan narasi yang diperbincangkan dalam puncak acara Hari Kartini, gelaran Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) bersama Kongres Wanita Indonesia (Kowani). Kegiatan yang dilaksanakan di Gelora Bung Karno itu, dihadiri sejumlah tokoh perempuan. Mereka lantang menyuarakan keinginannya melanjutkan cita-cita Kartini untuk memberdayakan perempuan dan melindunginya dari berbagai tindak kekerasan. Suara tersebut tentu saja sangat layak diapresiasi. Kita patut bangga karena bangsa ini memiliki perempuan-perempuan hebat dengan keinginan sama, kekerasan terhadap perempuan harus dihentikan.

Persoalannya adalah apakah semangat yang muncul di panggung depan itu sama dengan yang terjadi di panggung belakang? Goffman (1959) menggambarkan kehidupan sehari-hari seperti sebuah panggung. Orang-orang dalam panggung tersebut merupakan aktor yang memanfatkan pertunjukan untuk membuat kesan tertentu pada audiens. Diibaratkan sebuah panggung, kehidupan sosial terbagi dalam dua wilayah,  depan (front stage) dan belakang (back stage). Wilayah depan terkait pada peristiwa sosial yang menunjukkan penampilan formal individu. Sebaliknya wilayah belakang terkait tempat dan peristiwa yang memungkinkan seseorang mempersiapkan perannya di wilayah depan tersebut. Goffman (1959) juga menyebutkan “when an individual appears before others he will have many motives for trying to control the impression they receive of the situation”.

Menurut Goffman, panggung depan cenderung terlembagakan yang mewakili kepentingan kelompok atau organisasi. Ketika aktor melaksanakan perannya, peran tersebut telah ditetapkan oleh lembaga tempat dirinya bernaung. Goffman mengasumsikan bahwa ketika orang-orang berinteraksi, mereka ingin menyajikan gambaran diri yang akan diterima oang lain. Ia menyebut upaya tersebut sebagai pengelolaan kesan, yaitu teknik-teknik yang digunakan aktor untuk membentuk kesan-kesan guna mencapai suatu tujuan.

Berkaca Pada Gagasan dan Sikap Kartini

Berbicara tentang perjuangan membebaskan perempuan dari penindasan, tidak bisa dilepaskan dari pembicaraan tentang Kartini. Baginya, kehidupan perempuan tanpa penindasan bukan sekedar wacana ataupun narasi dalam sebuah seremoni.  Meski hidup dalam kungkungan adat Jawa feodal, Kartini mampu melawan penindasan yang ada dengan memberikan teladan yang luar biasa. Sebagai contoh, kala itu, adat Jawa mewajibkan penghormatan yang begitu tinggi kepada orang yang lebih tua.

Dalam suratnya kepada Stella (18/8/1899), Kartini menceritakan bahwa adek-adeknya harus merangkak jika akan lewat di depannya. Mereka harus turun dari kursi dan duduk di tanah sambil menundukkan kepala, jika Kartini sebagai orang yang lebih tua lewat. Dalam bertutur kata, seorang adek juga diwajibkan menggunakan bahasa Jawa “kromo”. Aturan adat yang sesungguhnya menguntungkan Kartini itu, justru ditentangnya. Ia melarang adek-adeknya memberikan penghormatan sebagaimana adat yang berlaku.

Kartini rela melepas hak istimewanya, bahkan ia menjadikan Kardinah dan Roekmini yang notabene lebih muda sebagai teman diskusinya. Dalam sebuah surat yang dikirim ke sahabatnya, Stella, ia menuturkan:

“Mula-mula orang mencela sekali pergaulan bebas diantara kami kakak-beradik. Kami disebut sebagai anak-anak tanpa sedikitpun pendidikan dan saya disebut kuda kore, kuda liar. Tetapi setelah orang melihat; bagaimana mesra serta menyenangkan perhubungan diantara kami, ……inginlah orang akan persatuan kami yang selaras, yang terutama terjalin diantara kami bertiga“ (Sutrisno, 2014: 15)

 Isi surat Kartini tersebut menunjukkan bahwa membangun kesetaraan tidak hanya persoalan laki-laki dan perempuan. Bagaimana perempuan bisa memberikan ruang untuk sama-sama berkembang menjadi ruh yang akan menjiwai wacana kesetaraan itu sendiri. Oleh karena itu, nafsu menguasai dan merendahkan perempuan lain – yang mungkin masih ditemukan saat ini  akibat adanya power dan keistimewaan yang dimiliki – menjadi hal yang sangat bertentangan dengan nilai-nilai yang diperjuangkan Kartini.

Selain itu, Kartini juga memberikan teladan bagaimana dirinya bisa berbagi dan memberikan ruang bagi laki-laki, meskipun pada era tersebut ia dan perempuan lainnya terpinggirkan oleh adat yang lebih berpihak pada laki-laki. Hal tersebut terlihat dari suratnya yang dikirim ke  Nyonya Abendanon (24/7/1903) berikut:

”Sudikah Ibu menyampaikan kepada Yang Mulia? Hati kami sangat tertarik kepada seorang anak muda, dan kami ingin sekali melihat dia bahagia. Anak muda itu namanya Salim; orang Sumatera berasal dari Riouw. Tahun ini dia menempuh ujian di HBS dan mencapai nomer satu dari ketiga HBS. Anak itu ingin benar pergi ke Belanda untuk belajar jadi dokter; sayang keadaan keuangannya tidak mengizinkan. Gaji Ayahnya hanya f. 150,- Tak dapatkah orang lain memanfaatkan bea siswa kami? Buatlah kami bahagia dengan cara membuat bahagia orang lain“(Khozin dalam Marihandono dkk, 2016: 46).

Kesediaan Kartini mengalihkan beasiswanya untuk sekolah di Belanda kepada Salim yang notabene laki-laki menunjukkan bahwa bagi Kartini perjuangan kesetaraan gender bukanlah perjuangan perempuan melawan laki-laki. Perjuangan meraih kesetaraan lebih merupakan  cara pandang bahwa setiap orang memiliki hak untuk mendapatkan kesempatan. Kartini berupaya melawan ketidakadilan, diskriminasi, dan marginalisasi yang dialami oleh siapapun baik yang bergender laki-laki maupun perempuan.

Ratusan surat Kartini yang ditulis untuk sahabat-sahabatnya memberikan gambaran sikap Kartini yang tidak hanya kritis, tapi juga egaliter. Saatnya kaum perempuan melihat perjuangan Kartini secara komprehensif. Hal tersebut hanya bisa diraih jika kita memahami gagasan Kartini secara mendalam. Pemikirannya yang tertuang dalam buku “Habis Gelap Terbitlah Terang”, menjadi jembatan memahami siapa dan bagaimana sepak terjangnya dalam membebaskan perempuan Indonesia dari penindasan, baik atas nama adat maupun agama. Semoga Kartini tersenyum bangga melihat keberhasilan perempuan meneruskan cita-citanya, bukan menangis sedih karena perjuangan emansipasinya disalahartikan.

*Penulis adalah Doktor Kajian Budaya dan Media, aktif di kajian dan riset gender

Referensi:

Kauvaros, G, 2008, We Do Not Die Twice: Realism and Cinema, dalam The Sage Handbook of Film Studies, Diedit oleh James McDonald dan Michael Renov, London: Sage, hal. 376-390.

Khozin, N. 2016. Biografi Kartini, dalam Sisi Lain Kartini. Jakarta: Museum Kebangkitan Nasional. hal. 1-49.

Turner, G., 1999, Film as Social Practice (3rd edition), London and New York: Routledge.

Sutrisno, Sulastin. 2014. Emansipasi : Surat-surat kepada Bangsanya 1899-1904. Yogyakarta: Jalasutra.

admin

admin

Related Posts

Kacau Betul! Komunikasi Pemerintah atau Halusinasi?

Kacau Betul! Komunikasi Pemerintah atau Halusinasi?

by Nanang FS
May 7, 2026
0

Oleh: Nanang Farid Syam Pada pagi hari, 6 Mei 2026, ruang konferensi pers Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom RI) menjadi saksi...

May Day dan Imajinasi Gerakan Buruh

May Day dan Imajinasi Gerakan Buruh

by admin
May 1, 2026
0

Setiap tanggal 1 Mei, dunia kembali dipenuhi ucapan selamat Hari Buruh Internasional atau May Day. Tidak terkecuali May Day 2026....

May Day, May Day, May Day ! Horor di Negeri yang Terabaikan. Alerta !

May Day, May Day, May Day ! Horor di Negeri yang Terabaikan. Alerta !

by Nanang FS
May 1, 2026
0

Oleh: Nanang Farid Syam* Di ruang gelap bioskop, ratusan penonton tertegun menyaksikan fragmen Ghost in the Cell karya Joko Anwar....

Pemindahan Gerbong Perempuan: Proteksi Atau Diskriminasi?

Pemindahan Gerbong Perempuan: Proteksi Atau Diskriminasi?

by Nanang FS
April 30, 2026
0

Oleh : Zulfatun Mahmudah Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi mengusulkan agar posisi gerbong perempuan pada armada KRL dipindah...

​Wajah Buram Demokrasi dalam Percikan Air Keras

​Wajah Buram Demokrasi dalam Percikan Air Keras

by Nanang FS
March 18, 2026
0

​Oleh: Nanang FS ​Malam 12 Maret 2026 di Jakarta Pusat bukan sekadar catatan kriminal biasa. Ketika cairan kimia mendarat di...

Amerika dan Mitos Penjaga Perdamaian Dunia

Amerika dan Mitos Penjaga Perdamaian Dunia

by admin
January 5, 2026
0

Kemenangan Blok Sekutu dalam Perang Dunia II (1939–1945) menempatkan Amerika Serikat (AS) pada posisi dominan dalam tatanan politik global pascaperang....

Next Post
Perjuangan warga Menteng Pulo II menolak penggusuran 

Perjuangan warga Menteng Pulo II menolak penggusuran 

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • About
  • Editorial
  • Pedoman Media Siber

© 2025 Koreksi.org

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • OPINI
  • RUANG SASTRA
    • SUARA WARGA

© 2025 Koreksi.org