Koreksi, Ledalero– Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero bersama jejaring perguruan tinggi dan masyarakat sipil menggelar Konferensi Republik pada 30–31 Oktober 2026 di Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Konferensi bertajuk “Masyarakat Sipil dan Masa Depan Republik” ini mempertemukan akademisi, tokoh agama, aktivis, jurnalis, dan berbagai elemen masyarakat sipil untuk mendiskusikan situasi kebangsaan terkini serta merumuskan gagasan perbaikan.
Sejumlah pembicara hadir memantik diskusi pada saat Konferensi dan Side Events di Universitas Nusa Nipa, Maumere, sehari sebelumnya. Kegiatan utama Konferensi Republik pada Sabtu, 31 Oktober 2026, di Kampus 1 IFTK Ledalero, dibuka dengan keynote speech oleh Paulus Budi Kleden, SVD, yang mengangkat tema “Gereja, Politik dan Persoalan Pembangunan: Ajaran Sosial Gereja, Tinjauan Filsafat & Teologi Politik.”
Selain sesi utama di mana para pembicara—antara lain Sudirman Said, Leo Kleden, Yanuar Nugroho—memaparkan kondisi terkini negara, Konferensi juga menghadirkan 10 sesi diskusi paralel yang membahas secara lebih dalam berbagai persoalan strategis. Di antaranya, Bivitri Susanti akan menyoroti kondisi politik serta ancaman terhadap demokrasi; Bhima Yudhistira Adhinegara bicara mengenai kondisi ekonomi nasional; serta Gabriel Lele tentang tata kelola dan kebijakan publik.
Situasi kebangsaan di level lokal NTT juga akan dibahas oleh sejumlah pembicara. Di antaranya, Fransiska Imakulata mengupas problem tenaga kerja migran dan human trafficking yang masih marak; Ery Seda membahas masalah-masalah pembangunan; lalu Dominggus Elcid Li dan Willy Gaut menyoroti peran Gereja.
“Konferensi Republik merupakan ruang refleksi kritis dan dialog publik yang mempertemukan semua elemen masyarakat sipil guna membaca kondisi Republik, menguji arah perjalanan demokrasi, dan merumuskan langkah-langkah strategis yang dapat dilakukan warga negara demi masa depan Indonesia,” ujar Rektor IFTK Ledalero sekaligus ketua panitia, Otto Gusti Ndegong Madung.
Konferensi diperkirakan dihadiri sekitar 3.000 akademisi dan kelompok masyarakat sipil. Menurut Otto, konferensi ini tidak dimaksudkan hanya untuk menginventarisasi persoalan atau menyampaikan kritik terhadap pemerintah. Lebih dari itu, diharapkan di dalam forum berkembang percakapan publik yang bermutu, berlandaskan fakta dan argumentasi rasional, serta terbuka terhadap perbedaan pandangan.
Sudirman Said, penggagas Konferensi Republik menegaskan pentingnya keterlibatan masyarakat daerah dan desa dalam memperjuangkan perbaikan. “Republik adalah gabungan dari daerah-daerah dan desa-desa. Suara daerah dan desa adalah suara Republik,” ujarnya.
Sudirman memandang Konferensi Republik di Ledalero sebagai ajang pertukaran pikiran antara pemuka agama, kaum cerdik pandai, dan penggerak akar rumput. “Dari Ledalero kita harus suarakan aspirasi nurani, menuju keadilan sosial bagi seluruh Republik,” katanya.
Panitia akan menghimpun hasil diskusi dari kesepuluh sesi dalam sidang pleno sebagai bahan untuk merumuskan agenda bersama, Komunike Bersama Masyarakat Sipil Indonesia, dokumen prosiding, serta rekomendasi kebijakan bagi pemerintah dan pemangku kepentingan.
Selain diskusi akademik, rangkaian Konferensi Republik menghadirkan Malam Budaya yang menampilkan kesenian lokal dan Orasi Kebudayaan oleh Gita Wirjawan. Agenda ini diharapkan mempertemukan percakapan mengenai masa depan Republik dengan kekayaan budaya serta pengalaman masyarakat Flores.
Adapun Side Events pada Jumat, 30 Oktober 2026, di Universitas Nusa Nipa (Unipa) akan mempertemukan akademisi, jurnalis, aktivis sosial, untuk berbagi pengalaman dan berjejaring mendukung upaya penguatan masyarakat sipil.
Rektor Unipa, Gerry Gobang, menekankan pentingnya kolaborasi lintas perguruan tinggi serta berbagai kelompok masyarakat dalam menjawab persoalan bersama. “Mari kita bergandengan tangan, mari kita kerja bersama secara kolaboratif,” ungkap Gerry dalam program Flores Bicara yang disiarkan Tribun Flores.
Menurutnya, perguruan tinggi perlu melampaui ruang akademik dan berkontribusi nyata terhadap kehidupan masyarakat. Unipa juga akan menggelar malam refleksi budaya untuk memaknai kembali identitas Flores sebagai Nusa Nipa.

































