Koreksi, Ledalero– Rektor Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero, Otto Gusti Ndegong Madung, mengatakan bahwa Konferensi Republik bukan sekadar diskusi akademik semata. Ia menegaskan bahwa Konferensi Republik 2026 digelar untuk merespons kegelisahan terhadap kondisi demokrasi Indonesia sekaligus mempertemukan pemikiran, keberanian moral, dan tanggung jawab masyarakat sipil terhadap masa depan bangsa.
Konferensi bertema “Masyarakat Sipil Nusa Tenggara Timur dan Masa Depan Republik” tersebut diselenggarakan di Kampus I IFTK Ledalero, Flores, Nusa Tenggara Timur, pada Sabtu (31/10/2026).
“Tujuan utama adalah meningkatkan semangat mempertemukan pemikiran, keberanian moral, dan tanggung jawab terhadap masa depan bangsa,” ujar Otto.
Menurutnya, kampus tidak boleh menjadi menara gading yang terpisah dari pergulatan masyarakat, tetapi harus berani berhadapan dengan kenyataan dan menghasilkan refleksi yang bertanggung jawab.
Ia menambahkan, kebebasan akademik harus menjadi ruang pencarian kebenaran demi kebaikan bersama.
Otto juga menjelaskan alasan IFTK Ledalero menghadirkan para ahli dari Jakarta ke Flores. Langkah ini menjadi upaya untuk membuka ruang agar suara masyarakat dari kawasan timur Indonesia didengar langsung dalam pembahasan masa depan republik.
“Selama ini kami Flores yang harus ke Jakarta untuk didengar. Kali ini Jakarta datang dan mendengarkan secara langsung suara dari timur,” katanya.
Melalui Konferensi Republik, IFTK Ledalero mendorong perguruan tinggi dan masyarakat sipil untuk terlibat aktif dalam merespons persoalan demokrasi serta merumuskan masa depan Indonesia.
Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero bersama jejaring perguruan tinggi dan masyarakat sipil menggelar Konferensi Republik pada 30–31 Oktober 2026 di Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Konferensi bertajuk “Masyarakat Sipil dan Masa Depan Republik” ini mempertemukan akademisi, tokoh agama, aktivis, jurnalis, dan berbagai elemen masyarakat sipil untuk mendiskusikan situasi kebangsaan terkini serta merumuskan gagasan perbaikan.
Sejumlah pembicara hadir memantik diskusi pada saat Konferensi dan Side Events di Universitas Nusa Nipa, Maumere, sehari sebelumnya. Kegiatan utama Konferensi Republik pada Sabtu, 31 Oktober 2026, di Kampus 1 IFTK Ledalero, dibuka dengan keynote speech oleh Paulus Budi Kleden, SVD, yang mengangkat tema “Gereja, Politik dan Persoalan Pembangunan: Ajaran Sosial Gereja, Tinjauan Filsafat & Teologi Politik.”
Selain sesi utama di mana para pembicara—antara lain Sudirman Said, Leo Kleden, Feri Amsari, Yanuar Nugroho—memaparkan kondisi terkini negara, Konferensi juga menghadirkan 10 sesi diskusi paralel yang membahas secara lebih dalam berbagai persoalan strategis. Di antaranya, Bivitri Susanti akan menyoroti kondisi politik serta ancaman terhadap demokrasi; Bhima Yudhistira Adhinegara bicara mengenai kondisi ekonomi nasional; serta Gabriel Lele tentang tata kelola dan kebijakan publik.
Situasi kebangsaan di level lokal NTT juga akan dibahas oleh sejumlah pembicara. Di antaranya, Fransiska Imakulata mengupas problem tenaga kerja migran dan human trafficking yang masih marak; Ery Seda membahas masalah-masalah pembangunan; lalu Dominggus Elcid Li dan Willy Gaut menyoroti peran Gereja.
Penulis: Maria Yuniartika Yuliana
































