Koreksi, Sorong – Ratusan pemuda dari tujuh wilayah adat se-tanah Papua, mengikuti kegiatan Forest Defender Camp di Kampung Sira, Distrik Saifi, Kabupaten Sorong Selatan, Papua Barat Daya, Selasa (23/9/2025).
Kegiatan yang digagas oleh Greenpeace Indonesia kali ini, dipusatkan di Hutan Adat Masyarakat Suku Besar Sawiat-Knasaimos, seluas 97.441 hektare (Saremuk dan Saifi).
Kiki Taufik Kepala Kampanye Hutan Global Greenpeace Indonesia mengatakan, selain pemuda adat di tanah Papua, kegiatan ini juga melibatkan 10 delegasi negara sahabat.
“Kegiatan ini bertujuan agar antara pemuda bisa berbagi pengalaman, dan cerita setiap suku dan adat Papua tentang hutan mereka,” ujar Kiki saat ditemui di Lemba Knasaimos.
Melalui momentum ini, para pemuda akan diberikan kesempatan berdiskusi sama ke-17 masyarakat adat dari 10 negara sahabat, yang ikut hadir dalam Forest Defender Camp.
Rencananya, seluruh cerita Pemuda Adat di Papua ini akan dibawa dan disuarakan pada forum Konferensi Perubahan Iklim PBB ke-30 (COP30) Brasil, yang digelar November 2025.
“Saya percaya, lewat kegiatan ini suara dari pemuda adat se-tanah Papua akan dibawa dari Hutan Adat Knasaimos, Sorong Selatan, dan bergema di COP30 Brasil,” katanya.
“Hutan ini harus dijaga dan tak boleh dibuka untuk kepentingan industri ekstraktif.”
Pihaknya berharap, dengan ada momentum ini ke depan masyarakat adat bisa menjadi tuan rumah di atas tanah sendiri, agar ikut menjaga eksistensi mereka di negeri Papua.
Sementara itu, Petronela Krenak Bupati Sorong Selatan menyatakan, pihaknya akan tetap mendukung Forest Defender Camp, yang digelar oleh Greenpeace di Distrik Saifi.
“Dalam kitab Tuhan sudah menegaskan, agar bisa kelola tanah dengan baik, jangan kita terlalu serakah jual ke orang lain,” jelasnya.
Pihaknya, sejak awal telah berkomitmen agar bisa memberikan perhatian kepada pemuda adat di seluruh Kabupaten Sorong Selatan. Petronela mengajak pemuda adat agar ikut menjaga hutan, namun juga mendukung tiap kebijakan pemerintah daerah Sorong Selatan.
“Saya minta masyarakat adat di Sorong Selatan dan tanah Papua, agar tidak muda jual tanah serta hutan ke orang,” ucapnya.
Tokoh Adat Knasaimos
Ketua Dewan Perekutuan Masyarakat Adat (DPMA) Suku Knasaimos Fredik Sagisolo (56) menegaskan, hutan dan masyarakat adat satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan.
“Bicara tentang hutan dan tanah itu satu hal yang tak bisa kita lepas pisahkan, sehingga mau bilang kepentingan apapun itu sebagai anak adat di Papua jual keduanya,” jelasnya.
“Kita di mata Tuhan adalah pendatang dan orang asing, jangan kau rusak cipaannya.”
Ia menegaskan, hutan dan tanah adalah satu benteng terakhir bagi masyarakat adat di seluruh daerah termasuk tanah Papua.
Fredik berpesan agar, melalui momentum Forest Defender Camp, ke depan bisa melahirkan komitmen besar yang ikut berdampak ke hutan di Papua.

































