“Palestina Merdeka,” pekik Macklemore, rapper asal Amerika Serikat, saat menjadi pembuka konser Ed Sheeran pada 4-5 September 2026 di hadapan 40.000 orang. Memang sejak awal Macklemore menerima tawaran menjadi penyanyi pembuka untuk menyuarakan solidaritas ke Palestina. Hal tersebut ia sampaikan di akun media sosialnya. Rasa cinta kemanusiaan ditegakkan dan dimuliakan seadil-adilnya, ujarnya.
Kesadaran solidaritas terhadap Palestina kian membesar setiap harinya dan dunia musik ikut dituntut untuk terlibat melawan genosida di Palestina. Dua kata Macklemore membuat reaksi yang menempatkan Ed Sheeran pada dilema antara tetap diam atau turut mendukung Palestina.
Semakin tinggi pohonnya, semakin kencang anginnya. 40.000 orang adalah panggung yang besar untuk Macklemore. Tidak lama, Israeli-American Council membuat petisi agar Macklemore dicoret dari tur ini. Tuduhan permusuhan terhadap Yahudi atau antisemit pun disematkan oleh organisasi kampanye StopAntisemitism. Konglomerat Robert Kraft, yang juga bos Stadion Gillette di Massachusetts, tempat konser Ed Sheeran selanjutnya, turut memboikot pada 14 September 2026.
BBC memberitakan bahwa penyanyi Irlandia Aaron Rowe, Lukas Graham asal Denmark, Finneas yang merupakan penyanyi sekaligus kakak dari Billie Eilish, dan band folk Irlandia Beoga yang menjadi backing band Ed Sheeran mengundurkan diri. Semuanya kompak menyatakan solidaritas kepada Macklemore.
Ed Sheeran bisa saja lebih tegas dalam menyikapi pemecatan Macklemore. Tapi nasi sudah jadi bubur. Bahkan bubur tersebut sudah dicerna dan menuju anus. Forbes memberitakan bahwa harga tiket Ed Sheeran turun sampai hampir 50 persen karena kontroversi ini.
Pada konser 19 September 2026 di Filadelfia, Ed Sheeran akhirnya angkat bicara. Ia mengatakan bahwa serangan 7 Oktober ke Israel sangatlah melukai komunitas Yahudi. Senafas ia menyebut bahwa apa yang terjadi di Gaza tidak bisa dibenarkan, begitu pun yang terjadi di Tepi Barat Palestina.
Ia menyampaikan rasa terima kasih kepada penonton yang masih mau berada di konsernya. Konser ini menerima semua orang dan semuanya bisa berdiri di samping orang yang punya pandangan berlawanan, ucapnya. Ed Sheeran terlihat emosional dan mengatakan bahwa minggu ini adalah hari yang aneh baginya. “Semua orang menyuruhku untuk membatalkan dan aku merasa semua teman, keluarga, dan orang yang kutahu meninggalkan aku,” ucapnya.
Penyanyi kelahiran Inggris itu bisa saja belajar dari cara main band Green Day. Band dengan lagu American Idiot itu memiliki prinsip untuk membela musisi lain dan kelompok minoritas. Pada tahun 1994, Green Day berbagi panggung bersama band bernama Pansy Division. Pansy Division adalah grup musik LGBT di masyarakat Amerika yang sangat anti-LGBT, bahkan memiliki undang-undang anti-sodomi di Virginia tahun 1994.
Jon Ginoli, anggota Pansy Division, menceritakan pengalaman ini di laman Green Day. Waktu itu promotor konser mengancam Green Day akan batal manggung jika tetap bermusik bersama Pansy Division. Pasalnya, musik pro-LGBT dinilai tidak cocok untuk penonton Green Day yang masih kecil. Padahal lirik Green Day juga tidak sepenuhnya cocok untuk penonton muda. Green Day kukuh pada pendiriannya dan bisa menang menghadapi promotornya.
Ed Sheeran dan Irlandia
Dalam beberapa kesempatan, Ed Sheeran dengan bangga mengasosiasikan diri dengan Irlandia. Memang ia lahir dan besar di tanah Inggris. Namun, ia memiliki garis keturunan Irlandia.
Memang, Irlandia juga memandang figur Ed Sheeran sebagai putra kebanggaan. Sehingga sikap terhadap Palestina seperti jadi kerikil di sepatu. Politisi, musisi, aktor, sampai stasiun radio menyoroti sikap Ed Sheeran.
Allan Kelly, anggota parlemen dari Partai Buruh, menyebut Ed Sheeran telah membuang temannya di bawah bus. Begitu pun Ruth Coppinger dari partai People Before Profit-Solidarity yang menyebut pencopotan Macklemore malah jadi bumerang.
Senada, trio rapper Kneecap dari Irlandia Utara yang dikenal dengan sikap pro-Palestina menyampaikan solidaritas untuk Macklemore. “Kita tahu siapa Ed Sheeran sekarang,” tulis Liam Cunningham, pemeran Ser Davos dari Game of Thrones. Classic Hits Radio Irlandia juga mencabut lagu Ed Sheeran dari pemutaran.
Dari Irlandia untuk Palestina
Jane Ohlmeyer, Profesor Erasmus Smith di Trinity College Dublin, menggambarkan Irlandia sebagai laboratorium percobaan imperialisme Inggris. Artinya, penjajahan Inggris di Irlandia adalah cetak biru dari imperium yang mataharinya tidak pernah terbenam.
Salah satunya adalah garis batas negara yang memisahkan Republik Irlandia dan Irlandia Utara yang merupakan bagian dari United KIngdom. Paralel ini tentunya bisa ditemukan di daerah jajahan Inggris lainnya. Pasalnya seabad lalu baik Irlandia maupun Palestina merupakan daerah jajahan Inggris.
Terdapat pola yang sama saat diperlakukan di tanah Palestina. Pada Perang Dunia I, Inggris muncul sebagai pemenang sehingga bisa merebut Palestina dari kekuasaan Kekaisaran Usmaniyah (Ottoman). Kemudian Liga Bangsa-Bangsa membuat mandat Palestina dengan menyelipkan tujuan pembentukan negara rumah bagi masyarakat Yahudi.
Memang tidak seperti pinang dibelah dua jika membandingkan dua negara yang dipisahkan oleh laut. Tapi ada kenangan kolektif yang sama terkait kekerasan kolonial di kedua tempat itu, yakni keberadaan satuan pengamanan Black and Tan. Satuan ini dikenal dengan taktik kejam yang ditujukan kepada masyarakat sipil selama perjuangan kemerdekaan Irlandia.
Sementara itu, di Palestina, Black and Tan juga menjadi satuan pengaman. Ronald Storrs, gubernur Inggris yang bertugas di Yerusalem, menuliskan paraloel ini. Menurutnya, keberadaan pasukan ini bertujuan untuk menopang kelompok Yahudi agar mendukung kepentingan Inggris di tanah Arab.
Brendan Ciarán Browne, dalam essaynya di Journal of Palestine Studies, menarik paralel antara pengalaman sejarah Irlandia dan Palestina. Kedua negara ini pernah menghadapi bencana kelaparan masif.
Di Irlandia, pernah terjadi An Gorta Mor (kelaparan masif) yang menyebabkan berkurangnya populasi secara drastis dan mendorong migrasi orang Irlandia ke seluruh dunia. Penyebabnya adalah penyakit tanaman kentang yang merupakan makanan pokok masyarakat Irlandia. Kentang menjadi makanan pokok karena mudah ditanam dan dibudidayakan. Tidak berhenti di situ, salah kelola pemerintahan Westminster juga menjadi pemantik bencana ini.
Bagi masyarakat Palestina, kelaparan adalah realitas sehari-sehari sejak lebih dari dua dekade lalu. Sejak Hamas mengambil alih kekuasaan pada 2007, Israel telah menciptakan aturan yang melarang pergerakan barang, layanan, dan orang. GIsha, NGO asal Israel, terlibat dalam pertarungan sengit agar dokumen pemerintah terkait “Gaza Diet” bisa diakses publik. Sederhananya, Israel telah membuat perhitungan kalori harian orang di Gaza untuk sekadar menghindari malnutrisi. Namun, tujuan nyatanya adalah mematikan ekonomi Gaza dan menekan pemerintah Hamas.
Pada 2017, PBB melalui Kantor Koordinasi Urusan Humaniter (OCHA) menemukan bahwa 40 persen rumah tangga di Gaza menghadapi kendala akses pangan dan 80 persen orang bergantung pada bantuan luar negeri untuk bertahan hidup. Pada 2023, Global Nutrition Cluster melaporkan potensi masalah kelaparan.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres juga menyebut bahwa kelaparan di Gaza tidak lain adalah buatan manusia. Pasalnya, jumlah orang yang menghadapi kelaparan katastropik terekam paling besar di sistem klasifikasi keamanan pangan terintegrasi. Diperkirakan krisis pangan yang menyebabkan kematian sudah akan terjadi sejak Mei 2024.
Brendan menuliskan bahwa rakyat Palestina di Gaza bukan sekadar kelaparan, tetapi secara sistematis dibuat kelaparan. Israel secara aktif menyerang infrastruktur pendukung pangan sekaligus membunuh pekerja kemanusiaan yang mengantarkan makanan. Tidak hanya itu, akses makanan untuk Gaza menjadi salah satu kartu as Israel dalam perundingan gencatan senjata.
Siapapun harus terlibat, termasuk musisi
Kita bisa melihat musik sebagai wadah untuk suara-suara perlawanan terhadap penindasan. Dr. Denijal Jegic, Phd Professor asisten Komunikasi dalam bukunya Trans/Intifada, menuliskan bahwa potensi seni untuk mempertahankan sejarah dan identitas sebuah bangsa. Menurutnya, penjajah tidak memiliki sejarah dan hubungan erat dengan tanah jajahan. Sementara memiliki kepentingan untuk menguasai wilayah jajahan tersebut.
Kekuasaan akan cenderung membungkam, menyensor, dan menyingkirkan elemen asli (penduduk asli) di daerah tersebut melalui ranah formal. Sehingga musik dan seni menjadi sarana untuk menjadi narasi, didengar, dan bersuara. Musik tidak harus melulu tampil politis untuk bisa mentransmisikan politik. Dengan kata lain, musik secara kultural dapat melewati komunikasi formal untuk bisa diakses oleh masyarakat. Bahkan Denijal menyebut bahwa menyampaikan perlawanan bagi pendengarnya melampaui media formal seperti akademik atau jurnalistik.
Namun, tentu saja ada keterbatasan bagi musik untuk ke arah sana. Terutama relasi antara industri musik internasional dengan solidaritas terhadap Palestina. Pasalnya, musik pun tetap sebuah produk industri yang komersial.
Kembali ke posisi Ed Sheeran. Dia menyebut dirinya hanya menampilkan persona yang tidak politis. Ia berharap musiknya bisa menyatukan orang yang berbeda pikiran politik dalam balutan lagu. Tapi itu pun adalah caranya untuk berpolitik yang konsekuensinya meminggirkan suara solidaritas.
Ed Sheeran sendiri pernah menggelar konser untuk Ukraina pada tahun 2022. Pada awal 2026, Ed Sheeran bersama band Irlandia U2 berkolaborasi untuk melahirkan lagu berjudul “Yours Eternally”. Lagu ini ditujukan untuk para tentara Ukraina yang melawan Rusia. Video musik lagu ini saja menampilkan keseharian pasukan garis depan Ukraina dalam perang dengan Rusia. Hal ini merupakan politik representasi yang memframing bahwa serdadu Ukraina adalah pejuang kebebasan yang melawan musuh yang menjajah.
Referensi :
https://www.tandfonline.com/doi/full/10.1080/0377919X.2024.2379709
































