Koreksi, Maumere– Rektor Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero, Otto Gusti Madung, menegaskan bahwa kebudayaan memiliki peran penting dalam merawat keberagaman, membangun dialog, dan memperkuat demokrasi di Indonesia.
Hal itu disampaikan Otto dalam sambutannya pada Malam Kebudayaan Konferensi Republik di IFTK Ledalero, Maumere, Flores, Sabtu (31/10/2026).
Menurut Otto, kebudayaan tidak sekadar warisan masa lalu atau pertunjukan hiburan, tetapi ruang untuk memahami diri sendiri, mendengarkan sesama, dan merawat kehidupan bersama.
Ia mengutip pemikiran filsuf Martha Nussbaum dalam buku “Monarchy of Fear” yang menjelaskan bahwa seni dan sastra dapat membuka pemahaman manusia terhadap pengalaman orang lain. Melalui musik, tarian, puisi, cerita, dan ekspresi seni lainnya, masyarakat diajak melihat sesama bukan sebagai ancaman, melainkan manusia yang memiliki martabat, harapan, dan penderitaan yang sama.
Otto menilai, peran kebudayaan semakin penting di tengah masyarakat yang mudah terpecah akibat perbedaan politik, identitas, agama, dan kepentingan.
“Demokrasi membutuhkan lebih dari sekadar pemungutan suara. Demokrasi membutuhkan manusia yang mampu mendengarkan, berdialog, dan mengakui martabat sesamanya,” ujar Otto Gusti Madun.
Ia mengingatkan bahwa demokrasi yang sehat tidak boleh hanya menjadi arena untuk berteriak paling keras atau mengalahkan lawan dalam perdebatan. Demokrasi harus menjadi ruang untuk mencari kebenaran bersama melalui dialog dan kesediaan mengoreksi keyakinan sendiri.
Bagi Indonesia, ia menegaskan bahwa bangsa ini dibangun bukan atas dasar keseragaman, melainkan kesediaan untuk hidup bersama di tengah perbedaan bahasa, agama, adat istiadat, pandangan politik, dan pengalaman sejarah.
“Dari Ledalero, dari tanah Flores yang kaya akan tradisi, bahasa, musik, tarian, dan kebijaksanaan lokal, kita ingin menegaskan bahwa kebudayaan bukanlah hiasan di pinggir kehidupan berbangsa. Kebudayaan adalah salah satu fondasi yang memungkinkan kita tetap menjadi satu bangsa tanpa harus menjadi seragam,” katanya.
Otto juga menegaskan komitmen IFTK Ledalero untuk menghubungkan pendidikan, kebudayaan, dan demokrasi. Pendidikan, menurut dia, tidak cukup hanya menghasilkan manusia cerdas, tetapi juga harus membentuk pribadi yang kritis, berempati, bertanggung jawab, dan bekerja demi kebaikan bersama.
Ia berharap Malam Kebudayaan Konferensi Republik menjadi praktik harapan untuk membangun ruang publik yang lebih manusiawi, tempat perbedaan tidak berakhir menjadi permusuhan.
Menutup sambutannya, Otto mengingatkan bahwa republik bukan hanya negara dengan konstitusi dan lembaga-lembaganya, tetapi juga cita-cita hidup bersama yang dibangun melalui kesediaan warga untuk saling mendengarkan dan menghormati.
“Sebab, demokrasi akan kehilangan jiwanya ketika kita berhenti mendengarkan sesama. Dan kebudayaan menemukan maknanya yang terdalam ketika ia membantu kita melihat kemanusiaan dalam diri setiap orang,” ujar Otto.
































