• About
  • Editorial
  • Pedoman Media Siber
Tuesday, June 23, 2026
No Result
View All Result
Koreksi.org
  • Home
  • Berita
    The Strzr: Merawat Ingatan Kolektif dan Narasi Perlawanan di Padarincang Melalui Musik

    The Strzr: Merawat Ingatan Kolektif dan Narasi Perlawanan di Padarincang Melalui Musik

    Kawal Proses Sidang, Aliansi Lakkang Bersatu Gelar Aksi di Pengadilan Negeri Makassar.

    Kawal Proses Sidang, Aliansi Lakkang Bersatu Gelar Aksi di Pengadilan Negeri Makassar.

    Cerita Foto: Pelajar dan Pembungkaman Demokrasi

    Cerita Foto: Pelajar dan Pembungkaman Demokrasi

    Sengketa Tanah Lakkang Caddi Bergulir di Pengadilan, Warga dan Solidaritas Serukan Tolak Mafia Tanah

    Sengketa Tanah Lakkang Caddi Bergulir di Pengadilan, Warga dan Solidaritas Serukan Tolak Mafia Tanah

    Delegasi Buruh Indonesia Soroti Konsistensi Keputusan ILC Ke-113 Terkait Palestina dan Arah Pembahasan Pekerja Platform Digital

    Hari Kedua Sidang ILC ke-114: Perlindungan Jutaan Pekerja Platform di Era Algoritma dan Kecerdasan Buatan

    Delegasi Buruh Indonesia Soroti Konsistensi Keputusan ILC Ke-113 Terkait Palestina dan Arah Pembahasan Pekerja Platform Digital

    Delegasi Buruh Indonesia Soroti Konsistensi Keputusan ILC Ke-113 Terkait Palestina dan Arah Pembahasan Pekerja Platform Digital

    Pemuda Adat Papua Tolak Program Cetak Sawah di Sorong

    Pemuda Adat Papua Tolak Program Cetak Sawah di Sorong

    Dari Sekolah ke Pengadilan, Cerita Pelajar dari Balik Jeruji

    Dari Sekolah ke Pengadilan, Cerita Pelajar dari Balik Jeruji

    Sengketa Tanah di Lakkang Caddi, Puluhan Warga Digugat di Pengadilan Negeri Makassar

    Sengketa Tanah di Lakkang Caddi, Puluhan Warga Digugat di Pengadilan Negeri Makassar

    Cerita Foto: Mahasiswa dan Pelajar Soroti Kematian Demokrasi di Aksi Kamisan ke-908

    Cerita Foto: Mahasiswa dan Pelajar Soroti Kematian Demokrasi di Aksi Kamisan ke-908

    Trending Tags

  • Liputan Khusus
  • OPINI
    Potensi Dominasi Negara dari BUMN Khusus Ekspor

    Prabowonomics, Model Pembangunan yang Harus Ditinggalkan

    Kepada Said Iqbal: Redistribusi Kekayaan Tidak Cukup dengan “Kau Boleh Kaya Tapi Jangan Miskinkan Kami”

    Kepada Said Iqbal: Redistribusi Kekayaan Tidak Cukup dengan “Kau Boleh Kaya Tapi Jangan Miskinkan Kami”

    Membaca Senyum Purbaya

    Membaca Senyum Purbaya

    Pesta Babi, Negara, dan Kebebasan Pers

    Pesta Babi, Negara, dan Kebebasan Pers

    Kacau Betul! Komunikasi Pemerintah atau Halusinasi?

    Kacau Betul! Komunikasi Pemerintah atau Halusinasi?

    May Day dan Imajinasi Gerakan Buruh

    May Day dan Imajinasi Gerakan Buruh

    May Day, May Day, May Day ! Horor di Negeri yang Terabaikan. Alerta !

    May Day, May Day, May Day ! Horor di Negeri yang Terabaikan. Alerta !

    Pemindahan Gerbong Perempuan: Proteksi Atau Diskriminasi?

    Pemindahan Gerbong Perempuan: Proteksi Atau Diskriminasi?

    ​Wajah Buram Demokrasi dalam Percikan Air Keras

    ​Wajah Buram Demokrasi dalam Percikan Air Keras

    Amerika dan Mitos Penjaga Perdamaian Dunia

    Amerika dan Mitos Penjaga Perdamaian Dunia

    Trending Tags

  • RUANG SASTRA
    Selamatkan Hutan Melalui Film “Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua”

    Selamatkan Hutan Melalui Film “Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua”

    Film Pangku: Perjuangan Ibu Tunggal di Jalan Sunyi

    Film Pangku: Perjuangan Ibu Tunggal di Jalan Sunyi

    Film “Wall to Wall”: Potret Nyata Kelas Pekerja di Seoul ’11-12′ dengan Jakarta

    Film “Wall to Wall”: Potret Nyata Kelas Pekerja di Seoul ’11-12′ dengan Jakarta

    TUMPUK: Manifesto Konsumerisme dan Tumpukan Sampah

    TUMPUK: Manifesto Konsumerisme dan Tumpukan Sampah

    Sanggar Lidi Surabaya Gelar Pementasan Teater “Grafito”,  Kisah Cinta Beda Agama di Balai Pemuda Surabaya

    Sanggar Lidi Surabaya Gelar Pementasan Teater “Grafito”,  Kisah Cinta Beda Agama di Balai Pemuda Surabaya

    Cerita pendek: Kemenangan

    Cerita pendek: Kemenangan

    Trending Tags

  • SUARA WARGA
  • Home
  • Berita
    The Strzr: Merawat Ingatan Kolektif dan Narasi Perlawanan di Padarincang Melalui Musik

    The Strzr: Merawat Ingatan Kolektif dan Narasi Perlawanan di Padarincang Melalui Musik

    Kawal Proses Sidang, Aliansi Lakkang Bersatu Gelar Aksi di Pengadilan Negeri Makassar.

    Kawal Proses Sidang, Aliansi Lakkang Bersatu Gelar Aksi di Pengadilan Negeri Makassar.

    Cerita Foto: Pelajar dan Pembungkaman Demokrasi

    Cerita Foto: Pelajar dan Pembungkaman Demokrasi

    Sengketa Tanah Lakkang Caddi Bergulir di Pengadilan, Warga dan Solidaritas Serukan Tolak Mafia Tanah

    Sengketa Tanah Lakkang Caddi Bergulir di Pengadilan, Warga dan Solidaritas Serukan Tolak Mafia Tanah

    Delegasi Buruh Indonesia Soroti Konsistensi Keputusan ILC Ke-113 Terkait Palestina dan Arah Pembahasan Pekerja Platform Digital

    Hari Kedua Sidang ILC ke-114: Perlindungan Jutaan Pekerja Platform di Era Algoritma dan Kecerdasan Buatan

    Delegasi Buruh Indonesia Soroti Konsistensi Keputusan ILC Ke-113 Terkait Palestina dan Arah Pembahasan Pekerja Platform Digital

    Delegasi Buruh Indonesia Soroti Konsistensi Keputusan ILC Ke-113 Terkait Palestina dan Arah Pembahasan Pekerja Platform Digital

    Pemuda Adat Papua Tolak Program Cetak Sawah di Sorong

    Pemuda Adat Papua Tolak Program Cetak Sawah di Sorong

    Dari Sekolah ke Pengadilan, Cerita Pelajar dari Balik Jeruji

    Dari Sekolah ke Pengadilan, Cerita Pelajar dari Balik Jeruji

    Sengketa Tanah di Lakkang Caddi, Puluhan Warga Digugat di Pengadilan Negeri Makassar

    Sengketa Tanah di Lakkang Caddi, Puluhan Warga Digugat di Pengadilan Negeri Makassar

    Cerita Foto: Mahasiswa dan Pelajar Soroti Kematian Demokrasi di Aksi Kamisan ke-908

    Cerita Foto: Mahasiswa dan Pelajar Soroti Kematian Demokrasi di Aksi Kamisan ke-908

    Trending Tags

  • Liputan Khusus
  • OPINI
    Potensi Dominasi Negara dari BUMN Khusus Ekspor

    Prabowonomics, Model Pembangunan yang Harus Ditinggalkan

    Kepada Said Iqbal: Redistribusi Kekayaan Tidak Cukup dengan “Kau Boleh Kaya Tapi Jangan Miskinkan Kami”

    Kepada Said Iqbal: Redistribusi Kekayaan Tidak Cukup dengan “Kau Boleh Kaya Tapi Jangan Miskinkan Kami”

    Membaca Senyum Purbaya

    Membaca Senyum Purbaya

    Pesta Babi, Negara, dan Kebebasan Pers

    Pesta Babi, Negara, dan Kebebasan Pers

    Kacau Betul! Komunikasi Pemerintah atau Halusinasi?

    Kacau Betul! Komunikasi Pemerintah atau Halusinasi?

    May Day dan Imajinasi Gerakan Buruh

    May Day dan Imajinasi Gerakan Buruh

    May Day, May Day, May Day ! Horor di Negeri yang Terabaikan. Alerta !

    May Day, May Day, May Day ! Horor di Negeri yang Terabaikan. Alerta !

    Pemindahan Gerbong Perempuan: Proteksi Atau Diskriminasi?

    Pemindahan Gerbong Perempuan: Proteksi Atau Diskriminasi?

    ​Wajah Buram Demokrasi dalam Percikan Air Keras

    ​Wajah Buram Demokrasi dalam Percikan Air Keras

    Amerika dan Mitos Penjaga Perdamaian Dunia

    Amerika dan Mitos Penjaga Perdamaian Dunia

    Trending Tags

  • RUANG SASTRA
    Selamatkan Hutan Melalui Film “Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua”

    Selamatkan Hutan Melalui Film “Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua”

    Film Pangku: Perjuangan Ibu Tunggal di Jalan Sunyi

    Film Pangku: Perjuangan Ibu Tunggal di Jalan Sunyi

    Film “Wall to Wall”: Potret Nyata Kelas Pekerja di Seoul ’11-12′ dengan Jakarta

    Film “Wall to Wall”: Potret Nyata Kelas Pekerja di Seoul ’11-12′ dengan Jakarta

    TUMPUK: Manifesto Konsumerisme dan Tumpukan Sampah

    TUMPUK: Manifesto Konsumerisme dan Tumpukan Sampah

    Sanggar Lidi Surabaya Gelar Pementasan Teater “Grafito”,  Kisah Cinta Beda Agama di Balai Pemuda Surabaya

    Sanggar Lidi Surabaya Gelar Pementasan Teater “Grafito”,  Kisah Cinta Beda Agama di Balai Pemuda Surabaya

    Cerita pendek: Kemenangan

    Cerita pendek: Kemenangan

    Trending Tags

  • SUARA WARGA
No Result
View All Result
Koreksi.org
No Result
View All Result
Home Berita

The Strzr: Merawat Ingatan Kolektif dan Narasi Perlawanan di Padarincang Melalui Musik

by admin
June 23, 2026
in Berita, SUARA WARGA
0
The Strzr: Merawat Ingatan Kolektif dan Narasi Perlawanan di Padarincang Melalui Musik

The Strzr di Pesta Pinggiran, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat pada 25 Januari 2026.

11
SHARES
31
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

“Pukul satu malam mereka datang

Mendobrak pintu dan menodong senapan

Kami pikir penagih hutang

Ternyata polisi suruhan kandang”

Potongan lirik lagu itu bukanlah hasil rekaman yang diputar dari pengeras suara, Ia hidup dari mulut ke mulut. Pada berbagai pertemuan warga di Kampung Cibetus, Padarincang Serang Banten. ibu-ibu, anak muda hingga anak-anak kecil menyanyikannya bersama-sama disamping posko. Hampir semua kalangan hafal setiap baitnya, seolah lagu itu telah menjadi bagian dari ingatan kolektif kampung.

Lagu berjudul “Malam Februari” itu bercerita tentang salah satu peristiwa yang paling membekas bagi warga Kampung Cibetus, Padarincang, Serang. Februari 2025, setelah konflik panjang dengan peternakan ayam industri PT Sinar Ternak Sejahtera (STS), warga mendapatkan penangkapan, dan kriminalisasi. 

Menariknya, lagu tersebut ditulis bersama-sama di posko warga ketika proses persidangan masih berlangsung. Sebagian besar liriknya disusun dari cerita dan kesaksian warga tentang malam penggerebekan. Karena berangkat dari pengalaman yang mereka alami sendiri, Malam Februari berkembang bukan sekadar sebagai karya musik, melainkan juga sebagai cara warga menyimpan dan menceritakan kembali pengalaman kolektif mereka.

Konflik di Kampung Cibetus sendiri bermula dari penolakan sebagian warga terhadap operasional peternakan ayam yang dinilai mencemari lingkungan, bau yang menyiksa dan mengganggu kesehatan masyarakat. berbagai upaya telah dilakukan selama bertahun-tahun, mulai dari pengaduan kepada pemerintah daerah hingga aksi protes.

Namun perjalanan itu tidak selalu berjalan sesuai harapan warga. Konflik mencapai puncaknya pada akhir 2024 ketika terjadi pembakaran kandang ayam yang kemudian diikuti penangkapan dan kriminalisasi sejumlah warga pada Februari 2025.

Peristiwa tersebut membuat nama Cibetus muncul dalam berbagai pemberitaan nasional. Namun bagi sebagian warga, perhatian publik lebih banyak tertuju pada peristiwa pembakaran kandang daripada akar persoalan yang selama bertahun-tahun mereka hadapi

Hari ini, warga yang sempat menjadi korban dikriminalisasi telah dibebaskan. Namun persoalan belum sepenuhnya usai. Gugatan terkait izin perusahaan tidak menghasilkan putusan yang sesuai dengan harapan mereka. Di saat yang sama, dampak psikis dan sosial dari konflik masih terus membekas.

Ketika ruang advokasi formal menemui berbagai keterbatasan, warga memiliki cara lain untuk menjaga agar cerita mereka tidak hilang begitu saja. Salah satunya lewat musik.

Ketika Warga Menulis Narasinya Sendiri

Cibetus bukan satu-satunya cerita tentang Padarincang. Di balik konflik peternakan ayam yang menyita perhatian publik, ada sejarah panjang persoalan lingkungan dan ruang hidup yang telah dihadapi masyarakat selama bertahun-tahun. 

Mulai dari penolakan masif terhadap rencana pembangunan pabrik air minum dalam kemasan milik PT Tirta Investama (Danone Aqua) yang mengancam sumber air pertanian mereka, hingga perlawanan sengit warga terhadap proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) yang dioperasikan oleh PT Sintesa Banten Geothermal (SBG) di kaki Gunung Prakasak.

Dari pengalaman-pengalaman itulah musik tumbuh sebagai alternatif untuk merawat ingatan dan menyuarakan perlawanan. Di Padarincang, musik tidak lahir dari industri hiburan yang jauh dari kehidupan masyarakat desa. Ia tumbuh dari pengalaman sehari-hari yang dekat dengan persoalan yang mereka alami sendiri.

Salah satu kelompok musik yang aktif membawa narasi tersebut adalah The Strzr. (dibaca: the stres’sor) yang mulai berkegiatan sejak Agustus 2024, meskipun nama “The Strzr” baru digunakan sekitar tahun 2025. Band ini beranggotakan empat pemuda Padarincang yang telah lama terlibat dalam ruang solidaritas warga.

Nama itu sendiri mereka ambil dari istilah yang merujuk pada keadaan stres akibat tekanan pihak eksternal sebuah metafora yang pas untuk menggambarkan kondisi psikis warga desa yang terhimpit korporasi. 

Nama mereka mungkin belum dikenal luas di luar Banten. Lagu-lagu mereka juga belum banyak tersedia secara resmi di berbagai platform digital. Ketika ditanya soal genre musik yang dimainkan, mereka menjawab sambil tertawa, “Genre fisabilillah”.

Bagi mereka, urusan genre bukan hal yang terlalu penting. Pendengar bebas menyebut musik mereka sebagai punk, psychedelic, maupun rock blues. “Kejujuran itu menggunakan apa yang ada, kami maksimalin alat seadanya dan bercerita tentang hal-hal yang emang kami alami,” ujar Anggoy, salah satu personel The Strzr pada Sabtu (13/6).

Karena itu, tema lagu-lagu mereka banyak lahir dari realitas sosial yang dekat dengan kehidupan masyarakat desa yang mereka alami sendiri.

Dalam lagu Masa Muda Mati Rasa, misalnya, mereka menyanyikan kegelisahan tentang perubahan ruang hidup desa:

“Ruang halaman taman desa / Termakan oleh berbagai proyek neraka. Berkorban kehilangan tanah / hanya demi atas nama patuh negara”

Sementara dalam lagu Omongan Desa Jalanan, mereka menulis persoalan yang dihadapi bersama:

“Hey kawan yang hidup di desa, turun ke jalan kita teriakan. Sebab penindasan di desa kami/Sebab perampasan yang kita alami karena ulah korporasi”

Bagi personel The Strzr menulis tentang perampasan ruang hidup bukan untuk membangun kesan sebagai kelompok yang paling vokal. Apa yang mereka tulis justru lahir dari pengalaman sehari-hari, dari persoalan yang mereka lihat dan rasakan sendiri di Padarincang. “Ngomongin cinta enggak ada pengalaman ya, jadi kita bicara isu yang memang dekat sama kita,” ungkap Iif pada Senin (8/6).

Dari Posko Warga ke Panggung Solidaritas

Peran musik semakin terlihat ketika narasi Padarincang mulai keluar dari batas geografis kampung. Lagu-lagu yang awalnya hanya didengar dalam lingkaran kecil komunitas perlahan dibawa ke berbagai ruang solidaritas yang lebih luas. The Strzr tampil dalam sejumlah kegiatan seperti Perilisan Catatan Akhir Tahun (CATAHU) LBH Jakarta, Pesta Pinggiran 2026, Ecostage Serang 2026, hingga Saba Kampung 2026. 

The Strzr di Festival Saba Kampung, Kampung Susun Bayam, Jakarta Utara pada 28 Februari 2026.

Dalam ruang-ruang tersebut, yang berpindah bukan hanya musik. Narasi tentang konflik lingkungan, kriminalisasi warga, dan perjuangan mempertahankan ruang hidup ikut bergerak bersama lagu-lagu yang mereka bawakan.

Salah satu momen yang paling diingat personel The Strzr terjadi setelah mereka tampil dalam sebuah kegiatan di Hutan Kota Serang. Seorang penonton menghampiri mereka dan mengaku tidak menyangka ada band dari Padarincang yang membawakan lagu-lagu tentang keresahan sosial dan perubahan yang terjadi di desa. Perjumpaan seperti itu menunjukkan bahwa musik bisa menjadi jalan sederhana untuk menyampaikan keresahan yang sulit disuarakan lewat jalur lain.

“Problem kita kan minimnya literasi hukum. Ya, salah satu cara kita menyuarakan isu atau keresahan sosial gitu ya lewat lagu, lewat lirik-lirik tadi gitu,” ungkap Sebi, personel The Strzr pada Senin, (8/6).

Melalui bait-bait yang diserukan itulah, Panggung menjadi ruang pengingat sederhana. “Kita pengen coba untuk mengingatkan ke semua orang ataupun diri sendiri, bahwa hari ini entah itu di Padarincang ataupun di kota, kita bisa punya keresahan yang sama.” ujar Otel, personel The Strzr pada Senin (8/6).

Menurut pengakuan mereka, sebagian besar warga mengenal dan hafal lagu-lagu The Strzr.walaupun  sebagian besar karya mereka belum pernah dirilis secara resmi. Lagu-lagu itu lebih sering dinyanyikan dalam pertemuan warga dan kegiatan solidaritas dibanding diputar melalui platform musik digital. 

Musik dan Menghidupkan Ruang Kebudayaan

Menariknya, apa yang dilakukan The Strzr tidak berhenti pada upaya menyuarakan isu-isu sosial. Di tengah minimnya ruang musik independen di Padarincang, mereka juga berupaya menghidupkan kembali ekosistem kebudayaan lokal. Salah satunya melalui ruang diskusi musik bernama Suara Surau yang pernah mereka gagas bersama sejumlah kawan solidaritas.

Menurut pengakuan personel The Strzr, Iif. ruang-ruang semacam itu semakin jarang ditemukan. Padahal bagi mereka, keberadaan ruang pertemuan dan pertukaran gagasan sama pentingnya dengan panggung musik itu sendiri.

Harapannya sederhana. Mereka ingin lebih banyak anak muda Padarincang yang memiliki potensi agar berani memproduksi karya dari pengalaman dan keresahan mereka sendiri.

“Mestinya kita memproduksi kata-kata dan perasaan, artikulasi baru untuk menghidupkan produk kebudayaan, masa generasi baru gak punya hal baru untuk disampaikan?” ujar Iif.

Bagi mereka, musik bukan sekadar soal tampil di atas panggung atau dikenal sebagai band. Musik adalah cara untuk menjaga agar pengalaman masyarakat tidak hilang begitu saja, sekaligus membuka ruang bagi lahirnya cerita-cerita baru dari desa.

Pandangan itu juga terlihat dari cara mereka memaknai karya-karyanya,The Strzr tidak menempatkan diri sebagai kelompok yang paling memahami persoalan masyarakat. Mereka lebih melihat diri sebagai pemantik yang membuka ruang bagi orang lain untuk ikut berbicara.

“Kita tuh  bukan cuma pengen eksis sebagai band aja sih, kita juga pengen skena lokal di Padarincang ini tetap hidup, salah satunya ya tadi gitu, lewat musik-musikan dan kesenian,”  tutup Iif.

Sementara, terkait dengan perjuangan warga, Sebi mengakui bahwa musik bagi mereka bukan alat utama perlawanan, melainkan jembatan yang menghubungkan isu yang kompleks dengan publik yang lebih luas. “Misalkan medium-medium suara lain sulit diterima karena mungkin dianggap monoton, semoga lewat musik bisa mudah diterima sama anak-anak muda,” ujarnya pada Senin, (8/3).

Menurutnya musik memang tidak akan berdampak langsung mengubah putusan pengadilan. Musik, lanjut Sebi, tidak dapat menggantikan dokumen gugatan, pledoi, atau proses litigasi yang panjang, tapi di Padarincang bisa berkembang menjadi medium untuk merawat ingatan kolektif lintas generasi dan memastikan apa-apa yang pernah terjadi tidak dilupakan.

Ketika hukum belum cukup menjangkau keadilan, maka warga dapat menuntut dengan cara lain, sebagaimana penggalan penutup lirik lagu “Malam Februari” yang masih bergema dalam berbagai pertemuan warga bahkan nyanyian itu pernah bergema sampai ke sudut-sudut Jakarta: 

“Kami berhak untuk hidup sehat / lekas bangkit dan rapatkan barisan,

Kami berhak untuk hidup sehat / lawan semua penindasan”

Otel mengungkapkan melalui The Strzr ingatan kolektif tentang Padarincang tidak hanya disimpan, tetapi juga dibawa keluar kampung dari posko warga hingga panggung solidaritas, dan dari situlah bentuk-bentuk alternatif perlawanan hadir.

“Sekecil-kecilnya perlawanan, tetap perlawanan.”

Reporter: Siwa Fathma Jaelani, seorang mahasisa pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Liputan ini merupakan hasil dari beasiswa liputan Pelatihan Jurnalistik Tingkat Lanjut (PJTL) yang diselenggarakan LPM Didaktika bersama Koreksi pada 26 April 2026.

Tags: ingatan kolektifmusikpadarincangthe strzr
admin

admin

Related Posts

Kawal Proses Sidang, Aliansi Lakkang Bersatu Gelar Aksi di Pengadilan Negeri Makassar.

Kawal Proses Sidang, Aliansi Lakkang Bersatu Gelar Aksi di Pengadilan Negeri Makassar.

by Muhammad Firman
June 18, 2026
0

Makassar, Koreksi.org–Sejumlah massa dari berbagai lembaga dan individu yang tergabung dalam Aliansi Lakkang Bersatu melakukan aksi demonstrasi di Pengadilan Negeri...

Cerita Foto: Pelajar dan Pembungkaman Demokrasi

Cerita Foto: Pelajar dan Pembungkaman Demokrasi

by admin
June 15, 2026
0

Pelajar ditempatkan menjadi kelompok rentan yang giat direpresi hari ini. Negara melalui tangan besinya merepresi pelajar dari berbagai sektor: di...

Harga BBM Naik: Alarm yang Sudah Lama Berbunyi, Tapi Siapa yang Mendengar?

Harga BBM Naik: Alarm yang Sudah Lama Berbunyi, Tapi Siapa yang Mendengar?

by admin
June 15, 2026
0

Oleh: Lukman Nurhakim Per 10 Juni 2026, Pertamax naik, senyap, tanpa proklamasi, seolah kenaikan harga adalah urusan administratif yang tak...

Satu Minggu di Gedung CICG: Catatan dari Sidang ILO Jenewa

Satu Minggu di Gedung CICG: Catatan dari Sidang ILO Jenewa

by admin
June 8, 2026
0

Delegasi SEPETA Bangun Nugroho Sudah enam hari sidang Konferensi Perburuhan Internasional (ILC) ke-114 berlangsung di Gedung CICG, Jenewa, Swiss. Dua...

Sengketa Tanah Lakkang Caddi Bergulir di Pengadilan, Warga dan Solidaritas Serukan Tolak Mafia Tanah

Sengketa Tanah Lakkang Caddi Bergulir di Pengadilan, Warga dan Solidaritas Serukan Tolak Mafia Tanah

by Muhammad Firman
June 5, 2026
1

Koreksi, Makassar– Sejumlah warga bersama massa Solidaritas Lakkang Caddi mendatangi kantor Pengadilan Negeri (PN) Makassar terkait gugatan perdata dengan nomor...

Delegasi Buruh Indonesia Soroti Konsistensi Keputusan ILC Ke-113 Terkait Palestina dan Arah Pembahasan Pekerja Platform Digital

Hari Kedua Sidang ILC ke-114: Perlindungan Jutaan Pekerja Platform di Era Algoritma dan Kecerdasan Buatan

by admin
June 4, 2026
0

Koreksi, Jakarta- Hari kedua pembahasan Komite Standard Setting on Decent Work in the Platform Economy dalam Sidang International Labour Conference...

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • About
  • Editorial
  • Pedoman Media Siber

© 2025 Koreksi.org

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • OPINI
  • RUANG SASTRA
    • SUARA WARGA

© 2025 Koreksi.org