• About
  • Editorial
  • Pedoman Media Siber
Thursday, July 9, 2026
No Result
View All Result
Koreksi.org
  • Home
  • Berita
    Masalah Rehabilitasi Narkotika: Diperas, Namun Belum Mendapat Layanan yang Baik

    Masalah Rehabilitasi Narkotika: Diperas, Namun Belum Mendapat Layanan yang Baik

    Delapan Tahun Menunggu Negara, Kisah Pelayanan Kesehatan yang Terbengkalai di Pulau Masela 

    Delapan Tahun Menunggu Negara, Kisah Pelayanan Kesehatan yang Terbengkalai di Pulau Masela 

    Didesak Warga, DPRD Sulsel Sepakat Menghentikan Sementara Proyek PLTSa Tamalanrea di Makassar

    Didesak Warga, DPRD Sulsel Sepakat Menghentikan Sementara Proyek PLTSa Tamalanrea di Makassar

    The Strzr: Merawat Ingatan Kolektif dan Narasi Perlawanan di Padarincang Melalui Musik

    The Strzr: Merawat Ingatan Kolektif dan Narasi Perlawanan di Padarincang Melalui Musik

    Kawal Proses Sidang, Aliansi Lakkang Bersatu Gelar Aksi di Pengadilan Negeri Makassar.

    Kawal Proses Sidang, Aliansi Lakkang Bersatu Gelar Aksi di Pengadilan Negeri Makassar.

    Cerita Foto: Pelajar dan Pembungkaman Demokrasi

    Cerita Foto: Pelajar dan Pembungkaman Demokrasi

    Sengketa Tanah Lakkang Caddi Bergulir di Pengadilan, Warga dan Solidaritas Serukan Tolak Mafia Tanah

    Sengketa Tanah Lakkang Caddi Bergulir di Pengadilan, Warga dan Solidaritas Serukan Tolak Mafia Tanah

    Delegasi Buruh Indonesia Soroti Konsistensi Keputusan ILC Ke-113 Terkait Palestina dan Arah Pembahasan Pekerja Platform Digital

    Hari Kedua Sidang ILC ke-114: Perlindungan Jutaan Pekerja Platform di Era Algoritma dan Kecerdasan Buatan

    Delegasi Buruh Indonesia Soroti Konsistensi Keputusan ILC Ke-113 Terkait Palestina dan Arah Pembahasan Pekerja Platform Digital

    Delegasi Buruh Indonesia Soroti Konsistensi Keputusan ILC Ke-113 Terkait Palestina dan Arah Pembahasan Pekerja Platform Digital

    Pemuda Adat Papua Tolak Program Cetak Sawah di Sorong

    Pemuda Adat Papua Tolak Program Cetak Sawah di Sorong

    Trending Tags

  • Liputan Khusus
  • OPINI
    Belajar dari Sepak Bola Dunia

    Belajar dari Sepak Bola Dunia

    Potensi Dominasi Negara dari BUMN Khusus Ekspor

    Prabowonomics, Model Pembangunan yang Harus Ditinggalkan

    Kepada Said Iqbal: Redistribusi Kekayaan Tidak Cukup dengan “Kau Boleh Kaya Tapi Jangan Miskinkan Kami”

    Kepada Said Iqbal: Redistribusi Kekayaan Tidak Cukup dengan “Kau Boleh Kaya Tapi Jangan Miskinkan Kami”

    Membaca Senyum Purbaya

    Membaca Senyum Purbaya

    Pesta Babi, Negara, dan Kebebasan Pers

    Pesta Babi, Negara, dan Kebebasan Pers

    Kacau Betul! Komunikasi Pemerintah atau Halusinasi?

    Kacau Betul! Komunikasi Pemerintah atau Halusinasi?

    May Day dan Imajinasi Gerakan Buruh

    May Day dan Imajinasi Gerakan Buruh

    May Day, May Day, May Day ! Horor di Negeri yang Terabaikan. Alerta !

    May Day, May Day, May Day ! Horor di Negeri yang Terabaikan. Alerta !

    Pemindahan Gerbong Perempuan: Proteksi Atau Diskriminasi?

    Pemindahan Gerbong Perempuan: Proteksi Atau Diskriminasi?

    ​Wajah Buram Demokrasi dalam Percikan Air Keras

    ​Wajah Buram Demokrasi dalam Percikan Air Keras

    Trending Tags

  • RUANG SASTRA
    Selamatkan Hutan Melalui Film “Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua”

    Selamatkan Hutan Melalui Film “Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua”

    Film Pangku: Perjuangan Ibu Tunggal di Jalan Sunyi

    Film Pangku: Perjuangan Ibu Tunggal di Jalan Sunyi

    Film “Wall to Wall”: Potret Nyata Kelas Pekerja di Seoul ’11-12′ dengan Jakarta

    Film “Wall to Wall”: Potret Nyata Kelas Pekerja di Seoul ’11-12′ dengan Jakarta

    TUMPUK: Manifesto Konsumerisme dan Tumpukan Sampah

    TUMPUK: Manifesto Konsumerisme dan Tumpukan Sampah

    Sanggar Lidi Surabaya Gelar Pementasan Teater “Grafito”,  Kisah Cinta Beda Agama di Balai Pemuda Surabaya

    Sanggar Lidi Surabaya Gelar Pementasan Teater “Grafito”,  Kisah Cinta Beda Agama di Balai Pemuda Surabaya

    Cerita pendek: Kemenangan

    Cerita pendek: Kemenangan

    Trending Tags

  • SUARA WARGA
  • Home
  • Berita
    Masalah Rehabilitasi Narkotika: Diperas, Namun Belum Mendapat Layanan yang Baik

    Masalah Rehabilitasi Narkotika: Diperas, Namun Belum Mendapat Layanan yang Baik

    Delapan Tahun Menunggu Negara, Kisah Pelayanan Kesehatan yang Terbengkalai di Pulau Masela 

    Delapan Tahun Menunggu Negara, Kisah Pelayanan Kesehatan yang Terbengkalai di Pulau Masela 

    Didesak Warga, DPRD Sulsel Sepakat Menghentikan Sementara Proyek PLTSa Tamalanrea di Makassar

    Didesak Warga, DPRD Sulsel Sepakat Menghentikan Sementara Proyek PLTSa Tamalanrea di Makassar

    The Strzr: Merawat Ingatan Kolektif dan Narasi Perlawanan di Padarincang Melalui Musik

    The Strzr: Merawat Ingatan Kolektif dan Narasi Perlawanan di Padarincang Melalui Musik

    Kawal Proses Sidang, Aliansi Lakkang Bersatu Gelar Aksi di Pengadilan Negeri Makassar.

    Kawal Proses Sidang, Aliansi Lakkang Bersatu Gelar Aksi di Pengadilan Negeri Makassar.

    Cerita Foto: Pelajar dan Pembungkaman Demokrasi

    Cerita Foto: Pelajar dan Pembungkaman Demokrasi

    Sengketa Tanah Lakkang Caddi Bergulir di Pengadilan, Warga dan Solidaritas Serukan Tolak Mafia Tanah

    Sengketa Tanah Lakkang Caddi Bergulir di Pengadilan, Warga dan Solidaritas Serukan Tolak Mafia Tanah

    Delegasi Buruh Indonesia Soroti Konsistensi Keputusan ILC Ke-113 Terkait Palestina dan Arah Pembahasan Pekerja Platform Digital

    Hari Kedua Sidang ILC ke-114: Perlindungan Jutaan Pekerja Platform di Era Algoritma dan Kecerdasan Buatan

    Delegasi Buruh Indonesia Soroti Konsistensi Keputusan ILC Ke-113 Terkait Palestina dan Arah Pembahasan Pekerja Platform Digital

    Delegasi Buruh Indonesia Soroti Konsistensi Keputusan ILC Ke-113 Terkait Palestina dan Arah Pembahasan Pekerja Platform Digital

    Pemuda Adat Papua Tolak Program Cetak Sawah di Sorong

    Pemuda Adat Papua Tolak Program Cetak Sawah di Sorong

    Trending Tags

  • Liputan Khusus
  • OPINI
    Belajar dari Sepak Bola Dunia

    Belajar dari Sepak Bola Dunia

    Potensi Dominasi Negara dari BUMN Khusus Ekspor

    Prabowonomics, Model Pembangunan yang Harus Ditinggalkan

    Kepada Said Iqbal: Redistribusi Kekayaan Tidak Cukup dengan “Kau Boleh Kaya Tapi Jangan Miskinkan Kami”

    Kepada Said Iqbal: Redistribusi Kekayaan Tidak Cukup dengan “Kau Boleh Kaya Tapi Jangan Miskinkan Kami”

    Membaca Senyum Purbaya

    Membaca Senyum Purbaya

    Pesta Babi, Negara, dan Kebebasan Pers

    Pesta Babi, Negara, dan Kebebasan Pers

    Kacau Betul! Komunikasi Pemerintah atau Halusinasi?

    Kacau Betul! Komunikasi Pemerintah atau Halusinasi?

    May Day dan Imajinasi Gerakan Buruh

    May Day dan Imajinasi Gerakan Buruh

    May Day, May Day, May Day ! Horor di Negeri yang Terabaikan. Alerta !

    May Day, May Day, May Day ! Horor di Negeri yang Terabaikan. Alerta !

    Pemindahan Gerbong Perempuan: Proteksi Atau Diskriminasi?

    Pemindahan Gerbong Perempuan: Proteksi Atau Diskriminasi?

    ​Wajah Buram Demokrasi dalam Percikan Air Keras

    ​Wajah Buram Demokrasi dalam Percikan Air Keras

    Trending Tags

  • RUANG SASTRA
    Selamatkan Hutan Melalui Film “Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua”

    Selamatkan Hutan Melalui Film “Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua”

    Film Pangku: Perjuangan Ibu Tunggal di Jalan Sunyi

    Film Pangku: Perjuangan Ibu Tunggal di Jalan Sunyi

    Film “Wall to Wall”: Potret Nyata Kelas Pekerja di Seoul ’11-12′ dengan Jakarta

    Film “Wall to Wall”: Potret Nyata Kelas Pekerja di Seoul ’11-12′ dengan Jakarta

    TUMPUK: Manifesto Konsumerisme dan Tumpukan Sampah

    TUMPUK: Manifesto Konsumerisme dan Tumpukan Sampah

    Sanggar Lidi Surabaya Gelar Pementasan Teater “Grafito”,  Kisah Cinta Beda Agama di Balai Pemuda Surabaya

    Sanggar Lidi Surabaya Gelar Pementasan Teater “Grafito”,  Kisah Cinta Beda Agama di Balai Pemuda Surabaya

    Cerita pendek: Kemenangan

    Cerita pendek: Kemenangan

    Trending Tags

  • SUARA WARGA
No Result
View All Result
Koreksi.org
No Result
View All Result
Home OPINI

Belajar dari Sepak Bola Dunia

by Nanang FS
July 9, 2026
in OPINI
0
Belajar dari Sepak Bola Dunia

Ilustrasi Piala Dunia 2026: Pixabay

1
SHARES
3
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh : Nanang FS*

Setiap empat tahun sekali, dunia seperti berhenti berdenyut. Bukan karena perang atau wabah, melainkan karena si kulit bundar bergulir di atas rumput hijau. Dan di sanalah, di atas lapangan yang dibatasi garis kapur itu, kita sebetulnya sedang menyaksikan lakon besar tentang manusia. Tentang bagaimana kita mengatur diri, membagi peran, menegakkan aturan, dan yang paling menarik—mempertanggungjawabkan kekuasaan di hadapan ribuan pasang mata di tribun, plus jutaan pasang mata lainnya di muka layar kaca. Lapangan hijau adalah ruang yang jujur, bahkan cenderung telanjang. Tak ada kepalsuan yang bisa bertahan lama di sana. Tak ada pencitraan mahal yang bisa menutupi kebodohan taktik. Apa yang terjadi di rumput itu adalah potret mentah dari watak dasar kita saat berhadapan dengan tekanan, otoritas, dan tanggung jawab kolektif.

Tapi coba kita tarik pandangan dari layar, lalu kita arahkan ke panggung kekuasaan di negeri sendiri. Waduh, kontrasnya bukan main. Di saat sepak bola global tumbuh menjadi ruang uji mental yang mendewasakan, demokrasi kita di sini malah makin keropos. Yang tampil di hadapan kita adalah semacam sirkus kaum elite yang bebal, tuli terhadap kritik, dan alergi terhadap suara sumbang. Ada jurang yang dalam, sangat dalam, antara kedewasaan para kesatria rumput hijau di pentas dunia dengan keluguan atau lebih tepatnya kebodohan para aktor politik kita yang mengelola hidup ratusan juta orang dengan cara yang kekanak-kanakan.

Menjadi pemimpin itu pada dasarnya adalah menjadi poros pandangan. Sebuah kompas moral tempat orang-orang di sekitarnya bercermin. Dalam setiap tatanan sosial, di mana pun, sejak masa gua hingga era kecerdasan buatan, satu rumus klasik selalu terbukti: setiap gerak-gerik, setiap keputusan, bahkan setiap kelakuan sehari-hari seorang pemimpin akan ditiru oleh bawahannya. Kita ini makhluk peniru. Ketika pucuk pimpinan sudah terbiasa memotong rambu-rambu aturan, maka di bawahnya akan subur budaya trabas-menrabas, saling serobot, saling mengalahkan akal sehat.

Kalau tindakanmu baik, adil, dan membawa hasil nyata bagi banyak orang, itu namanya prestasi. Prestasi menjadi lem bagi masyarakat, menumbuhkan rasa percaya, dan membangkitkan kebanggaan bersama. Rasa percaya itulah modal utama untuk melangkah. Tetapi kalau kelakuanmu busuk, manipulatif, licik seperti biawak, mengangkangi aturan main demi perut keluarga dan kronimu, maaf, itu namanya blangsatan. Dan kepemimpinan yang blangsatan akan melahirkan tatanan yang rusak. Moralitas publik runtuh. Generasi berikutnya akan menganggap kebusukan itu sebagai hal yang lumrah.

Sekarang mari kita sandingkan kebobrokan politik kita dengan romantisme lapangan hijau yang baru saja kita saksikan. Lihat bagaimana panggung dunia itu melahirkan pemain-pemain yang digdaya, penghancur gawang dengan catatan gol di luar nalar, tetapi tetap menampilkan sikap yang membuat kita terharu, kehebatan yang dibungkus kerendahan hati. Seorang megabintang yang namanya diteriaki miliaran orang tak pernah merasa dirinya lebih besar dari tim. Dia meledak di lapangan, tapi begitu peluit panjang berbunyi, dia tunduk pada evaluasi, patuh pada strategi kolektif, dan menerima teguran pelatih tanpa banyak gaya. Dia raksasa di mata publik, tetapi tetap membumi di antara kawan dan lawan. Dia paham betul, tanpa sistem kerja sama yang adil, kehebatannya tak lebih dari sekadar tontonan kosong.

Sekarang coba kita lihat “para pemain” di panggung demokrasi kita. Di sana, nyaris tak kita temukan setitik pun kerendahan hati, meskipun kuasa yang mereka genggam luar biasa besarnya. Yang kita saksikan malah sebuah fenomena aneh dalam sejarah bangsa, sekelompok orang yang baru saja mendapatkan mandat musiman dari bilik suara, tiba-tiba berkelakuan seolah-olah mereka memiliki hak mutlak atas tanah air ini untuk selamanya. Mereka bertingkah seperti raja-raja kecil yang kulitnya saja tak boleh tersentuh angin.

Begitu pantat mereka menempel di kursi kekuasaan, alih-alih sibuk merumuskan kebijakan yang meringankan beban rakyat, mereka malah sibuk membangun benteng aturan untuk melindungi kenyamanan pribadi. Mereka merancang pasal-pasal untuk menjerat siapa saja yang berani bersuara beda. Mereka memelihara pasukan siber yang bekerja siang malam untuk membungkam dan mematikan karakter setiap orang yang melayangkan protes. Kekuasaan tidak lagi dipahami sebagai amanat berat, melainkan sebagai tameng kebal untuk memuaskan ego dan melancarkan proyek dinasti.

Padahal, dalam tradisi sepak bola, kita bisa menyaksikan contoh kepemimpinan yang sesungguhnya dari mereka yang duduk di bangku cadangan. Seorang pelatih yang dihujani kritik pedas oleh media, pengamat, bahkan oleh suporter sendiri karena strateginya dianggap kuno dan membosankan, tak pernah bersikap cengeng. Dia tak pernah berpikir untuk melaporkan para pengkritiknya ke polisi dengan dalih pencemaran nama baik. Dia tak pernah mengerahkan buzzer bayaran untuk membangun opini bahwa keputusan taktiknya adalah wahyu langit yang tak boleh digugat.

Tidak. Pelatih yang berkelas akan mengunyah kritik itu dengan jantan. Dia maju ke depan mikrofon, memeluk semua kesalahan taktis di pundaknya sendiri demi melindungi anak-anak asuhnya dari amarah publik. Lalu dia pulang ke ruang ganti dan bekerja lebih keras. Dia menjawab semua hujatan bukan dengan gugatan, melainkan dengan kemenangan di pertandingan berikutnya. Mereka paham satu hal mendasar. Kritik adalah konsekuensi paling logis dan paling adil ketika seseorang berani tampil sebagai pejabat publik. Kalau takut kepanasan, ya jangan pernah mendekati tungku api. Kalau kupingmu setipis kertas minyak dan egomu setebal tembok, jangan bermimpi untuk memimpin.

Nah, sekarang bayangkan jika seorang pelatih top dunia menurunkan skuadnya di final Piala Dunia. Apakah dia akan memilih pemain dengan cara asal comot? Menunjuk penonton di tribun yang kebetulan badannya tegap, atau memasukkan adik iparnya yang dulu jago futsal waktu SMA, lalu memaksanya bertarung melawan bek-bek buas lawan? Tentu tidak. Pelatih sejati akan mengais data statistik, mengamati jam terbang, menguji kecocokan taktik, dan mengukur mental baja setiap anak asuhnya.

Namun di panggung kekuasaan kita, logika rekrutmen profesional itu justru diperkosa. Kita terlalu sering menyaksikan para petinggi mengangkat pejabat publik dengan logika yang bikin geleng-geleng kepala, asal kenal, asal satu komplotan, asal mau diajak main, atau bahkan asal comot dari liga yang sama sekali tidak nyambung. Ibaratnya, kiper handal dipasang di lini depan, atau bek tangguh dipaksa jadi juru bicara yang ternyata gagap di depan kamera. Ini bukan sekadar salah posisi. Ini adalah sabotase taktik level tinggi. Akibatnya, tim nasional kita—baca: birokrasi—jungkir balik, kebijakan amburadul, dan rakyat yang menjadi suporter setia hanya bisa menghela napas panjang melihat “pemain” titipan yang salah posisi, salah liga, dan—yang paling parah—salah nalar.

Celakanya, di bawah atap demokrasi kita yang kian lapuk, logika sehat itu sudah terbalik seratus delapan puluh derajat. Kritik tak lagi dipandang sebagai vitamin, melainkan dianggap racun yang mengancam stabilitas nasional. Para pemimpin kita seakan-akan menderita gangguan pendengaran massal. Mereka tuli terhadap jeritan rakyat di bawah, tetapi sangat tajam pendengarannya saat ada yang memanggil “bapak” atau “ibu” dengan nada manis di ruang rapat tertutup. Mereka lebih suka disuapi pujian-pujian palsu dari para penjilat ketimbang meluangkan waktu mendengar keluhan warung kopi tentang harga yang melambung atau lapangan kerja yang makin sempit.

Mereka lupa pada kontrak sosial yang mendasar. Dalam demokrasi, rakyat adalah pemilik sah klub ini. Rakyatlah pemegang saham terbesar. Sedangkan para pejabat, dari yang paling rendah hingga yang paling tinggi, hanyalah manajer profesional yang dikontrak sementara untuk mengurus tim agar meraih kesejahteraan bersama. Yang menyedihkan, para manajer yang kita bayar dengan uang pajak ini malah berlagak sebagai tuan tanah. Mereka merasa berhak mengusir, membungkam, atau memenjarakan penonton yang berteriak protes di tribun karena melihat timnya dimainkan asal-asalan.

Jika panggung politik kita terus memelihara watak anti-kritik yang blangsatan begini, maka perlahan tapi pasti kita sedang mundur ke zaman gua yang gelap. Zaman di mana titah penguasa adalah kebenaran mutlak, dan rakyat dipaksa menjadi penonton pasif yang hanya boleh bertepuk tangan sambil melihat tim kesayangannya dihancurkan oleh kelakuan pemainnya sendiri. Kita rindu penyegaran. Kita rindu sosok pemimpin dengan mentalitas kesatria lapangan hijau, pemimpin yang siap dicemooh saat salah langkah, yang legawa dievaluasi saat strateginya gagal, dan yang sadar di lubuk hatinya yang paling dalam bahwa kekuasaan ini hanyalah titipan sementara, bukan pusaka turun-temurun yang bisa dikelola sesuka jidat dan diwariskan seenak udel kepada anak-cucunya.

Turnamen paling bergengsi di dunia ini selalu berpegang pada satu adat lapangan yang tak pernah ingkar: sehebat apa pun nama besar seorang pemain, setenar apa pun pelatihnya, mereka akan langsung dicadangkan, diganti, bahkan dikeluarkan dari tim jika mereka bermain egois dan merugikan tujuan bersama. Aturan itu berlaku adil tanpa pandang bulu. Tanpa melihat kedekatan dengan pemilik klub atau seberapa tebal dompetnya. Pertanyaan besar yang menggelayut sekarang adalah: kapan demokrasi di negeri ini akan punya keberanian, ketegasan, dan keadilan moral se-elegant dan sekesatria itu?

*(Antropolog UNAND)

Tags: demokrasipemimpinsepak bola
Nanang FS

Nanang FS

Related Posts

Potensi Dominasi Negara dari BUMN Khusus Ekspor

Prabowonomics, Model Pembangunan yang Harus Ditinggalkan

by admin
June 18, 2026
0

Oleh Firdaus Cahyadi Pembelaan Presiden Prabowo Subianto baru-baru ini terhadap kebijakannya di The Economist (10 Juni 2026) hanya memperkuat keyakinan...

Kepada Said Iqbal: Redistribusi Kekayaan Tidak Cukup dengan “Kau Boleh Kaya Tapi Jangan Miskinkan Kami”

Kepada Said Iqbal: Redistribusi Kekayaan Tidak Cukup dengan “Kau Boleh Kaya Tapi Jangan Miskinkan Kami”

by Sasmito Madrim
June 11, 2026
0

Presiden Prabowo Subianto melantik Said Iqbal sebagai Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh pada Senin (8/6/2026) di Istana...

Membaca Senyum Purbaya

Membaca Senyum Purbaya

by Nanang FS
May 18, 2026
0

Oleh: Dr. Zulfatun Mahmudah, S.Pd, M.I.Kom, CSRS Dalam sebuah pidatonya, Presiden Prabowo mengatakan,  jika Purbaya masih tersenyum, maka kondisi keuangan...

Pesta Babi, Negara, dan Kebebasan Pers

Pesta Babi, Negara, dan Kebebasan Pers

by Sasmito Madrim
May 13, 2026
0

Pemutaran film dokumenter "Pesta Babi" karya jurnalis Dandhy Dwi Laksono mengalami intimidasi hingga pembubaran paksa oleh TNI di sejumlah daerah....

Kacau Betul! Komunikasi Pemerintah atau Halusinasi?

Kacau Betul! Komunikasi Pemerintah atau Halusinasi?

by Nanang FS
May 7, 2026
0

Oleh: Nanang Farid Syam Pada pagi hari, 6 Mei 2026, ruang konferensi pers Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom RI) menjadi saksi...

May Day dan Imajinasi Gerakan Buruh

May Day dan Imajinasi Gerakan Buruh

by admin
May 1, 2026
0

Setiap tanggal 1 Mei, dunia kembali dipenuhi ucapan selamat Hari Buruh Internasional atau May Day. Tidak terkecuali May Day 2026....

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • About
  • Editorial
  • Pedoman Media Siber

© 2025 Koreksi.org

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • OPINI
  • RUANG SASTRA
    • SUARA WARGA

© 2025 Koreksi.org