Join App Koreksi Now!
  • About
  • Editorial
  • Pedoman Media Siber
Thursday, April 2, 2026
No Result
View All Result
Koreksi.org
  • Home
  • Berita
    Mengawal Pencabutan Izin Perusahaan Penyebab Banjir Sumatera

    Mengawal Pencabutan Izin Perusahaan Penyebab Banjir Sumatera

    100 Hari Kerja Prabowo-Gibran: Ironi Ekspansi Militer di Tengah Sunat Anggaran Publik

    Mengapa Perlu Terus Berisik di Tengah Menguatnya Pendekatan Militeristik Era Prabowo

    Salib Merah Simbol Protes Masyarakat Adat di Merauke Dicabut Orang Tak Dikenal

    Salib Merah Simbol Protes Masyarakat Adat di Merauke Dicabut Orang Tak Dikenal

    Dari Demonstrasi ke Meja Hijau, Botok dan Teguh di Hadapan Legalisme Otokrasi

    Dari Demonstrasi ke Meja Hijau, Botok dan Teguh di Hadapan Legalisme Otokrasi

    Massa aksi tidak diperkenankan masuk ke area DPRD Pati yang dijaga ketat polisi dan dipagari kawat pada Jumat, 31 Oktober 2025 (Sumber gambar: Rizky Riawan Nursatria/dokumentasi pribadi)

    Jejak Terkubur Peristiwa 31 Oktober di Jalan Pantura Pati-Juana, Kekerasan Polisi dan Perburuan Aktivis

    ART Indonesia-AS Banjir Kritik: Merugikan dari Sisi Ekonomi Hingga Sinyal Kematian Pers

    ART Indonesia-AS Banjir Kritik: Merugikan dari Sisi Ekonomi Hingga Sinyal Kematian Pers

    Masyarakat Adat Papua Usir Utusan PT ASI di Konda Sorong Selatan, Nyatakan Sikap Tolak Sawit 

    Masyarakat Adat Papua Usir Utusan PT ASI di Konda Sorong Selatan, Nyatakan Sikap Tolak Sawit 

    PERMAHI Sorong Sebut Panitia Tanggung Jawab soal Kayu Mangrove Tiang Bendera Partai Gerindra

    PERMAHI Sorong Sebut Panitia Tanggung Jawab soal Kayu Mangrove Tiang Bendera Partai Gerindra

    Ribuan Kayu Mangrove Dipakai Tiang Bendera Parpol di Papua Barat Daya

    Ribuan Kayu Mangrove Dipakai Tiang Bendera Parpol di Papua Barat Daya

    Beda Pemahaman Panglima TNI dan DPRA Soal Pengibaran Bendera Bulan Bintang di Aceh

    Beda Pemahaman Panglima TNI dan DPRA Soal Pengibaran Bendera Bulan Bintang di Aceh

    Trending Tags

  • Liputan Khusus
  • OPINI
    ​Wajah Buram Demokrasi dalam Percikan Air Keras

    ​Wajah Buram Demokrasi dalam Percikan Air Keras

    Amerika dan Mitos Penjaga Perdamaian Dunia

    Amerika dan Mitos Penjaga Perdamaian Dunia

    Kaleidoskop Kebebasan Pers Mahasiswa 2023–2025: Kampus yang Enggan Diawasi

    Kaleidoskop Kebebasan Pers Mahasiswa 2023–2025: Kampus yang Enggan Diawasi

    Akal-akalan Asesmen Narkotika: Antara Pasal Karet dan Pundi-Pundi Kekayaan bagi Aparat

    Perang Argumentasi di Senayan Untuk Kebijakan  Narkotika serta Pertarungan  Komunitas dan Masyarakat  Melawan Kebijakan Turunannya

    Kursi Komisaris dan Ancaman Senyap terhadap Kedaulatan Gerakan Buruh

    Kursi Komisaris dan Ancaman Senyap terhadap Kedaulatan Gerakan Buruh

    Dari Rio Hingga Palu: Kolonialisme Baru dalam Perang Terhadap Narkotika

    Dari Rio Hingga Palu: Kolonialisme Baru dalam Perang Terhadap Narkotika

    Tahanan Politik Era Paling Baru

    Tahanan Politik Era Paling Baru

    Demokrasi yang Tersandera

    Demokrasi yang Tersandera

    Anarkisme yang Diciptakan, Represi yang Disiapkan

    Anarkisme yang Diciptakan, Represi yang Disiapkan

    Amuk Massa

    Amuk Massa

    Trending Tags

  • RUANG SASTRA
    Selamatkan Hutan Melalui Film “Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua”

    Selamatkan Hutan Melalui Film “Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua”

    Film Pangku: Perjuangan Ibu Tunggal di Jalan Sunyi

    Film Pangku: Perjuangan Ibu Tunggal di Jalan Sunyi

    Film “Wall to Wall”: Potret Nyata Kelas Pekerja di Seoul ’11-12′ dengan Jakarta

    Film “Wall to Wall”: Potret Nyata Kelas Pekerja di Seoul ’11-12′ dengan Jakarta

    TUMPUK: Manifesto Konsumerisme dan Tumpukan Sampah

    TUMPUK: Manifesto Konsumerisme dan Tumpukan Sampah

    Sanggar Lidi Surabaya Gelar Pementasan Teater “Grafito”,  Kisah Cinta Beda Agama di Balai Pemuda Surabaya

    Sanggar Lidi Surabaya Gelar Pementasan Teater “Grafito”,  Kisah Cinta Beda Agama di Balai Pemuda Surabaya

    Cerita pendek: Kemenangan

    Cerita pendek: Kemenangan

    Trending Tags

  • SUARA WARGA
  • Home
  • Berita
    Mengawal Pencabutan Izin Perusahaan Penyebab Banjir Sumatera

    Mengawal Pencabutan Izin Perusahaan Penyebab Banjir Sumatera

    100 Hari Kerja Prabowo-Gibran: Ironi Ekspansi Militer di Tengah Sunat Anggaran Publik

    Mengapa Perlu Terus Berisik di Tengah Menguatnya Pendekatan Militeristik Era Prabowo

    Salib Merah Simbol Protes Masyarakat Adat di Merauke Dicabut Orang Tak Dikenal

    Salib Merah Simbol Protes Masyarakat Adat di Merauke Dicabut Orang Tak Dikenal

    Dari Demonstrasi ke Meja Hijau, Botok dan Teguh di Hadapan Legalisme Otokrasi

    Dari Demonstrasi ke Meja Hijau, Botok dan Teguh di Hadapan Legalisme Otokrasi

    Massa aksi tidak diperkenankan masuk ke area DPRD Pati yang dijaga ketat polisi dan dipagari kawat pada Jumat, 31 Oktober 2025 (Sumber gambar: Rizky Riawan Nursatria/dokumentasi pribadi)

    Jejak Terkubur Peristiwa 31 Oktober di Jalan Pantura Pati-Juana, Kekerasan Polisi dan Perburuan Aktivis

    ART Indonesia-AS Banjir Kritik: Merugikan dari Sisi Ekonomi Hingga Sinyal Kematian Pers

    ART Indonesia-AS Banjir Kritik: Merugikan dari Sisi Ekonomi Hingga Sinyal Kematian Pers

    Masyarakat Adat Papua Usir Utusan PT ASI di Konda Sorong Selatan, Nyatakan Sikap Tolak Sawit 

    Masyarakat Adat Papua Usir Utusan PT ASI di Konda Sorong Selatan, Nyatakan Sikap Tolak Sawit 

    PERMAHI Sorong Sebut Panitia Tanggung Jawab soal Kayu Mangrove Tiang Bendera Partai Gerindra

    PERMAHI Sorong Sebut Panitia Tanggung Jawab soal Kayu Mangrove Tiang Bendera Partai Gerindra

    Ribuan Kayu Mangrove Dipakai Tiang Bendera Parpol di Papua Barat Daya

    Ribuan Kayu Mangrove Dipakai Tiang Bendera Parpol di Papua Barat Daya

    Beda Pemahaman Panglima TNI dan DPRA Soal Pengibaran Bendera Bulan Bintang di Aceh

    Beda Pemahaman Panglima TNI dan DPRA Soal Pengibaran Bendera Bulan Bintang di Aceh

    Trending Tags

  • Liputan Khusus
  • OPINI
    ​Wajah Buram Demokrasi dalam Percikan Air Keras

    ​Wajah Buram Demokrasi dalam Percikan Air Keras

    Amerika dan Mitos Penjaga Perdamaian Dunia

    Amerika dan Mitos Penjaga Perdamaian Dunia

    Kaleidoskop Kebebasan Pers Mahasiswa 2023–2025: Kampus yang Enggan Diawasi

    Kaleidoskop Kebebasan Pers Mahasiswa 2023–2025: Kampus yang Enggan Diawasi

    Akal-akalan Asesmen Narkotika: Antara Pasal Karet dan Pundi-Pundi Kekayaan bagi Aparat

    Perang Argumentasi di Senayan Untuk Kebijakan  Narkotika serta Pertarungan  Komunitas dan Masyarakat  Melawan Kebijakan Turunannya

    Kursi Komisaris dan Ancaman Senyap terhadap Kedaulatan Gerakan Buruh

    Kursi Komisaris dan Ancaman Senyap terhadap Kedaulatan Gerakan Buruh

    Dari Rio Hingga Palu: Kolonialisme Baru dalam Perang Terhadap Narkotika

    Dari Rio Hingga Palu: Kolonialisme Baru dalam Perang Terhadap Narkotika

    Tahanan Politik Era Paling Baru

    Tahanan Politik Era Paling Baru

    Demokrasi yang Tersandera

    Demokrasi yang Tersandera

    Anarkisme yang Diciptakan, Represi yang Disiapkan

    Anarkisme yang Diciptakan, Represi yang Disiapkan

    Amuk Massa

    Amuk Massa

    Trending Tags

  • RUANG SASTRA
    Selamatkan Hutan Melalui Film “Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua”

    Selamatkan Hutan Melalui Film “Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua”

    Film Pangku: Perjuangan Ibu Tunggal di Jalan Sunyi

    Film Pangku: Perjuangan Ibu Tunggal di Jalan Sunyi

    Film “Wall to Wall”: Potret Nyata Kelas Pekerja di Seoul ’11-12′ dengan Jakarta

    Film “Wall to Wall”: Potret Nyata Kelas Pekerja di Seoul ’11-12′ dengan Jakarta

    TUMPUK: Manifesto Konsumerisme dan Tumpukan Sampah

    TUMPUK: Manifesto Konsumerisme dan Tumpukan Sampah

    Sanggar Lidi Surabaya Gelar Pementasan Teater “Grafito”,  Kisah Cinta Beda Agama di Balai Pemuda Surabaya

    Sanggar Lidi Surabaya Gelar Pementasan Teater “Grafito”,  Kisah Cinta Beda Agama di Balai Pemuda Surabaya

    Cerita pendek: Kemenangan

    Cerita pendek: Kemenangan

    Trending Tags

  • SUARA WARGA
No Result
View All Result
Koreksi.org
No Result
View All Result
Home Berita

Catatan Jurnalis: Menolak Rusak Alam Adalah Kewajiban, Rembang Tetap Melawan! 

by Ahmad Ramzy
August 15, 2025
in Berita, SUARA WARGA
0
Catatan Jurnalis: Menolak Rusak Alam Adalah Kewajiban, Rembang Tetap Melawan! 

Spanduk “Rembang Tetap Melawan!” (Sumber Foto: Ramzy)

49
SHARES
141
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Pembangunan dianggap menjadi prasyarat penting untuk memajukan pertumbuhan  ekonomi bangsa, satu sisi menjadi mimpi buruk bagi lingkungan dan masyarakat.  

Bukan kali pertama wacana pembangunan menjadi prioritas nasional. Mengaliri jalan  panjang menuju Reformasi, bukannya berbenah, rezim justru tetap berkecenderungan terhadap upaya pembangunan.

Alasannya sama, demi melejit naiknya perekonomian nasional. Kendati  demikian, pembangunan, meminjam istilah yang digunakan Arief Budiman dalam bukunya,  Teori Pembangunan Dunia Ketiga, justru berkausalitas pada kerusakan sosial dan kerusakan  lingkungan. 

Truk-truk pengangkut batugamping (Sumber Foto: Ramzy) 

Nyatanya, hasil pembangunan yang berorientasi pada cara berpikir kapitalistik  berimbas pada konflik tumpah darah yang berkepanjangan. Grand plan yang selalu diadigang adigungkan hanya menghasilkan untung main belakang tanpa menyelesaikan masalah yang  mengakar pada masyarakat: kemiskinan struktural akut. 

Letupan konflik agraria di tanah Jawa Tengah sendiri selalu sama, menghamba dan  menopang ekonomi kaum oligarki. Misalnya, seperti yang terjadi di Sukoharjo dengan adanya 

PT. Rayon Utama Makmur (RUM), akibatnya pencemaran udara dan air terjadi. Masalah lainnya terjadi di sekitar Pegunungan Kendeng, eksplorasi tambang terus-menerus sejak tahun 1998, demi bahan baku PT. Semen Indonesia, yang baru berdiri pada tahun 2014, membuat warga naik pitam ketika lingkungan alamnya dirusak. Dengan begitu, warga disisihkan dan negara yang jadi sumber lukanya. 

Petani dan Haknya Atas Tanah 

Jumat (8/8/2025), siang terik merangsek masuk di ubun-ubun, bertandang langsung ke Desa  Tegaldowo, di kediaman seorang warga yang mengaku sebagai Sedulur Sikep. Ia bernama Joko  Prianto (43), kerap disapa Lek Prin. Posturnya tegap dan tampak kering, barangkali sudah biasa memakan asam garam selama bertahun-tahun untuk memperjuangkan hak warga atas tanah.  Selasar rumahnya berpondasi 14 tiang kayu jati, di depannya dikibarkan dua bendera sekaligus:  Kendeng Melawan dan Jolly Roger–One Piece. 

Lek Prin sedang menggemburkan tanah (Sumber Foto: Ramzy) 

Lek Prin sendiri merupakan salah satu warga di sekitar Pegunungan Kendeng di  Rembang yang turut tergabung di dalam Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng  (JMPPK), Perjumpaan dengan Lek Prin ketika ia sedang merehatkan diri setelah bepergian  meladang, kemudian ia berkata, “Oh saking Kalabahu (red: Karya Latihan Bantuan Hukum)  LBH Semarang.” 

Setelah mengobrol kurang lebih 40 menit, Lek Prin pergi  kembali ke ladang menggemburkan lahannya untuk masa menanam bibit bawang merah yang  tersusun rapi di selasar rumahnya. 

Lahannya hanya berjarak sekitar 6 menit bila berjalan kaki dari rumah. Jumadi (40 tahun),  salah satu warga di Tegaldowo mengatakan bahwa hanya Lek Prin-lah yang menanam bawang  merah di Kecamatan Gunem. Masa persiapan menanam diusahakan oleh Lek Prin untuk  nantinya penanaman bibit bawang merah di bulan September. 

Secara tampak mata mungkin tidak terasa apa yang tengah dirasa susah oleh warga. Di  balik itu tersingkap masalah besar: tanah mereka dirusak oleh kekuasaan. Perusakan  dilatarbelakangi oleh kekayaan ekologi yang dimiliki pada pegunungan Kendeng. Pada  gilirannya, batu karst menjadi penopang operasional pabrik semen dengan kandungan gamping  dan dolomitnya. Setiap siang, warga selalu mendengar dentuman eksplorasi atau blasting dari  kawasan tambang. 

Sumber mata air Pasucen (Sumber Foto: Dokpri) 

Eksplorasi terus menerus tersebut berpengaruh langsung terhadap kebutuhan akan air  yang digunakan warga dalam aktivitas domestik dan bercocok tanam. Selain mengandung  gamping dan dolomit, batu karst yang disebut juga dengan batugamping mengandung mineral.  Efek merugi yang dialami warga dapat dilihat di sumber mata air Pasucen. Salah seorang warga 

mengakui, volume air di sumber mata air Pasucen mengalami penurunan, “Ya, itu, mas, mulai  ada pabrik semen jadi sedikit airnya,” keluhnya. Airnya pun hanya setinggi paha orang dewasa. 

Penelitian yang dilakukan di Sukolilo, Pati membuktikan fungsi air pada batuan karst  sangat berguna untuk kebutuhan warga. Bila dihitung dapat memenuhi kebutuhan 200 rumah  tangga di setiap dusun dan desa. Dan 100 liternya dihabiskan perharinya untuk urusan  domestik, pertanian dan peternakan.1 

Risiko lainnya yang dialami ketika banjir melanda pada akhir tahun 2022 hingga awal  tahun 2023. Lahan pertanian warga ikut terendam karena banjir. Tidak luput dari itu, sinyal utama  masalah yang melanda warga disebabkan oleh kondisi dibiarkannya gundul Pegunungan  Kendeng Utara, ditambah aktivitas tambang batugamping yang tidak kunjung berhenti,  semakin memperkeruh keadaan— ecological change tak terhindarkan.2 

Kebijakan yang berpacu pada kepentingan kapital, berakibat besar pada kesengsaraan  lingkungan dan sosial warga. Hal itu diyakini oleh Lek Prin sebagai sikap ketidakpedulian  pemerintah terhadap warga yang hidup dari hasil tanahnya sendiri, “Kebijakan cuma  melahirkan kesengsaraan kepada kami sebagai petani,” tegas Lek Prin dengan air muka  kesalnya. 

Sebagai bagian dari Sedulur Sikep, Lek Prin menyatakan betapa pentingnya hubungan  petani dengan lingkungan alamnya. Manifestasinya berbentuk doa yang selalu dilantunkan  dalam alam bawah sadar dan perilaku sosialnya, “Hyang bumi aji—bumi patut dimuliakan,”  ucapnya sambil tertawa ketika berbagi cerita mengenai ajaran spiritual Sikep. 

Operasional Pabrik: Patgulipat Menipu Rakyat 

Aktivitas operasional pabrik semen sempat dihentikan pada 1 Juni 2025.  Sayangnya, hanya berjarak 40 hari setelahnya, truk-truk gagah kembali malang melintang di  sepanjang jalur pengambilan hasil tambang batugamping menuju pabrik semen. Setelah  kembali beroperasi, banyak pertanyaan warga lainnya yang akhirnya tertuju pada Lek Prin,  “Warga, kan banyak yang tidak mengerti hukum, mas. Sewaktu pabrik kembali beroperasi,  bingung juga untuk menjelaskan kepada warga lain keadaannya seperti apa,” jelasnya. 

Berkas KLHS pada tahun 2017 (Sumber Foto: Ramzy) 

Bukan kali pertama peristiwa yang serupa terjadi. Pada 2017, Kementerian  Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengeluarkan Kajian Lingkungan Hidup Strategis  (KLHS), terbit dengan muatan isi yang berpihak pada rakyat, bahwa kondisi Cekungan Air  Tanah (CAT) Watuputih semakin mengkhawatirkan. Hadirnya KLHS berasal dari pertemuan  JMPPK dengan Presiden Joko Widodo di Istana Negara pada tahun 2016. Persamuhan terjadi  didorong oleh aksi simbolik warga mengecor kaki sekitar dua pekan pada tahun yang sama.  Namun, muka tebal PT. Semen Indonesia dan aktivitas tambang, menandakan status  operasionalnya yang tetap berjalan.  

Mampir ke rumah Yu Sukinah, sebanyak tiga gepok kajian tebal bertumpuk di  rumahnya, lalu ia berikan untuk dibaca di tempat (10/8/2025). Dua gepok berjudul “Agendum Andal  dan RKL-RPL”, segepok sisanya berkas “Kajian Lingkungan Hidup Strategis”.  

“Aslinya saya ndak paham gitu-gituan, mas. Tapi yang saya tahu di situ kalau cekungan air  tanah harus dilestarikan, tambang harus dihentikan,” ungkapnya.  

Dari KLHS tertera pada Bagian IV. Alternatif Penyempurnaan KRP dan Rekomendasi,  Poin 11 Pertimbangan ke-1, bahwa telah tertulis “Tujuan pemanfaatan dan pengelolaan CAT  Watuputih yang berorientasi ganda yakni sebagai kawasan budidaya (pertambangan nonmineral), perlu diubah menjadi tujuan tunggal yakni mewujudkan kawasan lindung yang 

bermanfaat untuk mendukung perlindungan akuifer, konservasi keanekaragaman hayati, dan  pembangunan pertanian. Perubahan ini dipandang penting mengingat hasil kajian ini  menunjukkan adanya potensi penurunan daya dukung ekosistem CAT Watuputih akibat  pengaruh pemanfaatan ruang.” 

Amat disayangkan, kedudukan KLHS tidak digubris oleh pabrik semen dan tambang  batugamping. Pemberhentian sementara dilakukan hanya untuk menenangkan perasaan warga  yang menolak secara sesaat. Sejumlah pekerja dari beberapa warga yang bekerja di pabrik  semen pun sempat dihentikan. Namun, setelah operasional kembali berjalan, para pekerja  pabrik semen kembali ditarik ke pabrik. 

Mencintai Tanah Air Adalah Prinsip 

Kendi seperti kepemilikan resmi yang dimiliki oleh warga. Hampir di setiap rumah  yang penulis kunjungi, kendi wadah air yang dipakai. Seperti yang dijelaskan Lek Prin, seorang  yang dari tahun 2017 hingga kini berstatus sebagai terlapor oleh Polda Jateng, kendi wadah  yang dimaksudkan terbuat dari tanah liat, isinya air, secara makna mengejawantahkan praktik  cinta tanah air.  

Barang tersebut sudah melekat secara filosofis dalam benak warga di Rembang. Makna  filosofis menjadi spirit warga untuk menjaga tanah air lingkungan alam mereka. Sehingga, bagi  warga kerusakan lingkungan bertolak belakang dengan refleksi filosofis mereka dalam praktik  keseharian. Secara lebih jauh, Lek Prin berucap, “Dari kolonial Belanda hingga hari ini kami  dijajah, alam kami dirusak,” gerutunya.  

Bendera Kendeng Melawan pun tertera jelas simbol Kendi sebagai bagian yang tak  terpisahkan dari warga. Oleh karena itu, Lek Prin menganggap masyarakat Kendeng jauh lebih  memiliki sikap nasionalisme daripada pejabat-pejabat negara yang selalu membuat kebijakan  timpang untuk masyarakatnya.  

Para warga yang terpisah oleh perbedaan sikap, antara pro dan kontra tambang,  ditambah keabu-abuan sikap beberapa warga mengenai sikap mereka terhadap tambang dan  pabrik semen. Bagi Lek Prin, keabu-abuan sikap cukup memberikan bahaya kepada warga  yang kontra terhadap tambang. Pasalnya ia menjelaskan dengan masuk akal, “Kalau mereka  pro tambang, itu jelas sikapnya. Kalau mereka yang netral ini, meragukan dan membahayakan.  Sewaktu-waktu bisa jadi kawan, sewaktu-waktu yang lain jadi lawan,” jelas Lek Prin. 

Spanduk “Rembang Tetap Melawan!” (Sumber Foto: Ramzy) 

Meski begitu, Lek Prin selalu menjunjung tinggi prinsip menjaga tanah kelahirannya.  Bahkan, dirinya tidak tanggung-tanggung untuk menceraikan istrinya yang berpihak  pada tambang. Prinsip menjaga kelestarian alam, menjaga haknya atas tanah, baginya sudah  mendarah daging dalam dirinya, tidak dapat dipertukarkan maupun diganggu gugat.  

Lek Prin dan segenap warga Desa Tegaldowo, tidak pupus harapan, mereka meyakini  generasi pemuda, anak-anak mereka akan tetap merawat dan menjaga tanah kelahiran mereka  dari cengkeraman kapitalisme. Lek Prin dan Paciati misalnya, masing-masing mereka  memberikan nama anaknya Samudro Panji Kendeng (anak Lek Prin dari istrinya sekarang) dan  Ahmad Yusuf Lestari. Bila disatukan nama belakangnya, menjadi Kendeng Lestari. Itulah  keyakinan dan spirit bernas yang dibentuk oleh warga untuk menjaga kelestarian Kendeng. 

1Petrasa Wacana dkk, “Study of the Potential of Karst Region in North Kendeng, the Districts of Grobogan and  Pati”, Asian Trans-Disciplinary Karst Conference, 2011, hlm 177. 

2Bencana Banjir Meluas, JM-PPK Datangi Istana Tagih Pelaksanaan Rekomendasi KLHS Pegunungan Kendeng  dan Pengesahan RPP Karst | WALHI. Diakses pada 13 Agustus 2025

Tags: JMPPKkendengREMBANGsedulur sikep
Ahmad Ramzy

Ahmad Ramzy

Related Posts

Mengawal Pencabutan Izin Perusahaan Penyebab Banjir Sumatera

Mengawal Pencabutan Izin Perusahaan Penyebab Banjir Sumatera

by admin
March 24, 2026
0

Koreksi, Jakarta- Presiden Prabowo Subianto telah mencabut izin 28 perusahaan karena dinilai berkontribusi pada kerusakan lingkungan dan banjir di Sumatera...

100 Hari Kerja Prabowo-Gibran: Ironi Ekspansi Militer di Tengah Sunat Anggaran Publik

Mengapa Perlu Terus Berisik di Tengah Menguatnya Pendekatan Militeristik Era Prabowo

by Nurika Manan
March 19, 2026
0

KOREKSI, Jakarta - Pelbagai elemen rakyat atau koalisi sipil penting untuk terus bersuara dan memberikan masukan–sebagai bentuk kontrol sosial–di tengah...

Salib Merah Simbol Protes Masyarakat Adat di Merauke Dicabut Orang Tak Dikenal

Salib Merah Simbol Protes Masyarakat Adat di Merauke Dicabut Orang Tak Dikenal

by Nurika Manan
March 14, 2026
0

KOREKSI, Jakarta - Salib Merah sebagai simbol protes dan perlawanan Masyarakat Adat Merauke dari Marga Kamuyen terhadap Proyek Strategis Nasional...

Dari Demonstrasi ke Meja Hijau, Botok dan Teguh di Hadapan Legalisme Otokrasi

Dari Demonstrasi ke Meja Hijau, Botok dan Teguh di Hadapan Legalisme Otokrasi

by Wildan Humaidyi
March 10, 2026
0

Pasca demonstrasi pengawalan sidang paripurna DPRD Pati yang berakhir di jalan Pantura Pati-Juwana, Botok dan Teguh berakhir menjadi tahanan politik....

Massa aksi tidak diperkenankan masuk ke area DPRD Pati yang dijaga ketat polisi dan dipagari kawat pada Jumat, 31 Oktober 2025 (Sumber gambar: Rizky Riawan Nursatria/dokumentasi pribadi)

Jejak Terkubur Peristiwa 31 Oktober di Jalan Pantura Pati-Juana, Kekerasan Polisi dan Perburuan Aktivis

by Wildan Humaidyi
March 9, 2026
0

Malam di Pantura Pati-Juana punya cara mengubur jejak. Di depan gapura desa Widorokandang, ingatan Hanif tentang beberapa menit blokade itu...

ART Indonesia-AS Banjir Kritik: Merugikan dari Sisi Ekonomi Hingga Sinyal Kematian Pers

ART Indonesia-AS Banjir Kritik: Merugikan dari Sisi Ekonomi Hingga Sinyal Kematian Pers

by Nurika Manan
March 9, 2026
0

Koreksi, Jakarta - Kesepakatan perjanjian dagang resiprokal antara Indonesia dan Amerika Serikat atau dikenal sebagai Agreement on Reciprocal Trade (ART)...

Next Post
Sertifikasi Halal: Ketika Birokrasi Berpihak pada UMKM

Sertifikasi Halal: Ketika Birokrasi Berpihak pada UMKM

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • About
  • Editorial
  • Pedoman Media Siber

© 2025 Koreksi.org

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • OPINI
  • RUANG SASTRA
    • SUARA WARGA

© 2025 Koreksi.org