• About
  • Editorial
  • Pedoman Media Siber
Thursday, October 15, 2026
No Result
View All Result
Koreksi.org
  • Home
  • Berita
    Guru Korban PHK di Sekolah Islam Tangerang Selatan Temui Penasihat Presiden

    Guru Korban PHK di Sekolah Islam Tangerang Selatan Temui Penasihat Presiden

    Suasana tahanan politik diberi arahan oleh polisi di sebuah ruang unit reserse polda metro jaya pada Rabu, (8/9).

    Serial “Kembali ke Barak”: Pemprov DKI Wajibkan Pelajar Pendemo Ikut Pembekalan Bela Negara

    Kecewa Pemkot Surabaya Abaikan Aspirasi, Petani Tambak Keputih Tutup Akses Jalan

    Kecewa Pemkot Surabaya Abaikan Aspirasi, Petani Tambak Keputih Tutup Akses Jalan

    Serial “Kembali ke Barak”: Tolak Militerisasi Kampus, Mahasiswa Baru UINAM Diancam DO

    Serial “Kembali ke Barak”: Tolak Militerisasi Kampus, Mahasiswa Baru UINAM Diancam DO

    Warga Simogunung Surabaya Desak Penghentian Kriminalisasi Sengketa Tanah Dengan TNI AU

    Warga Simogunung Surabaya Desak Penghentian Kriminalisasi Sengketa Tanah Dengan TNI AU

    Gubernur Papua Barat Daya Blakblakan soal Hutan hingga Tambang di Papua Milik Jenderal

    Gubernur Papua Barat Daya Blakblakan soal Hutan hingga Tambang di Papua Milik Jenderal

    Koalisi Masyarakat Adat Sepakat Tolak PSN hingga Proyek Eksploitatif di Papeda Summit

    Koalisi Masyarakat Adat Sepakat Tolak PSN hingga Proyek Eksploitatif di Papeda Summit

    Menko Zulkifli Hasan Kabur saat Ditanya Papeda Summit dan Janji 1,7 Juta Hutan Adat di Papua

    Menko Zulkifli Hasan Kabur saat Ditanya Papeda Summit dan Janji 1,7 Juta Hutan Adat di Papua

    Aksi Pemuda Adat Papua Tolak Papeda Summit 2026 di Sorong: NGO Fasilitasi Aktor Perusak Hutan

    Aksi Pemuda Adat Papua Tolak Papeda Summit 2026 di Sorong: NGO Fasilitasi Aktor Perusak Hutan

    Serial “Kembali ke Barak”: Warga Kwini 8 Melawan Klaim Sepihak Militer

    Serial “Kembali ke Barak”: Warga Kwini 8 Melawan Klaim Sepihak Militer

    Trending Tags

  • Liputan Khusus
  • OPINI
    Ed Sheeran dan Solidaritas Irlandia-Palestina 

    Ed Sheeran dan Solidaritas Irlandia-Palestina 

    Tidak Percaya Hingga Tuntutan Pembubaran DPR, Lantas Apa?

    Tidak Percaya Hingga Tuntutan Pembubaran DPR, Lantas Apa?

    Menjaga Hak Hidup: Kisah Perempuan ODHIV dalam Pusaran Hukum Narkotika

    Menjaga Hak Hidup: Kisah Perempuan ODHIV dalam Pusaran Hukum Narkotika

    Dari Jakarta ke Phnom Penh: Perang Melawan Scam yang Tak Bisa Ditangani Satu Negara Saja

    Dari Jakarta ke Phnom Penh: Perang Melawan Scam yang Tak Bisa Ditangani Satu Negara Saja

    Apakah Kemerdekaan Seperti Ini yang Engkau Maksud, Datuk?

    Apakah Kemerdekaan Seperti Ini yang Engkau Maksud, Datuk?

    Satu Dekade Arbitrase Laut China Selatan: Refleksi atas Dampaknya terhadap Stabilitas Kawasan

    Belajar dari Sepak Bola Dunia

    Belajar dari Sepak Bola Dunia

    Potensi Dominasi Negara dari BUMN Khusus Ekspor

    Prabowonomics, Model Pembangunan yang Harus Ditinggalkan

    Kepada Said Iqbal: Redistribusi Kekayaan Tidak Cukup dengan “Kau Boleh Kaya Tapi Jangan Miskinkan Kami”

    Kepada Said Iqbal: Redistribusi Kekayaan Tidak Cukup dengan “Kau Boleh Kaya Tapi Jangan Miskinkan Kami”

    Membaca Senyum Purbaya

    Membaca Senyum Purbaya

    Trending Tags

  • RUANG SASTRA
    Selamatkan Hutan Melalui Film “Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua”

    Selamatkan Hutan Melalui Film “Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua”

    Film Pangku: Perjuangan Ibu Tunggal di Jalan Sunyi

    Film Pangku: Perjuangan Ibu Tunggal di Jalan Sunyi

    Film “Wall to Wall”: Potret Nyata Kelas Pekerja di Seoul ’11-12′ dengan Jakarta

    Film “Wall to Wall”: Potret Nyata Kelas Pekerja di Seoul ’11-12′ dengan Jakarta

    TUMPUK: Manifesto Konsumerisme dan Tumpukan Sampah

    TUMPUK: Manifesto Konsumerisme dan Tumpukan Sampah

    Sanggar Lidi Surabaya Gelar Pementasan Teater “Grafito”,  Kisah Cinta Beda Agama di Balai Pemuda Surabaya

    Sanggar Lidi Surabaya Gelar Pementasan Teater “Grafito”,  Kisah Cinta Beda Agama di Balai Pemuda Surabaya

    Cerita pendek: Kemenangan

    Cerita pendek: Kemenangan

    Trending Tags

  • SUARA WARGA
  • Home
  • Berita
    Guru Korban PHK di Sekolah Islam Tangerang Selatan Temui Penasihat Presiden

    Guru Korban PHK di Sekolah Islam Tangerang Selatan Temui Penasihat Presiden

    Suasana tahanan politik diberi arahan oleh polisi di sebuah ruang unit reserse polda metro jaya pada Rabu, (8/9).

    Serial “Kembali ke Barak”: Pemprov DKI Wajibkan Pelajar Pendemo Ikut Pembekalan Bela Negara

    Kecewa Pemkot Surabaya Abaikan Aspirasi, Petani Tambak Keputih Tutup Akses Jalan

    Kecewa Pemkot Surabaya Abaikan Aspirasi, Petani Tambak Keputih Tutup Akses Jalan

    Serial “Kembali ke Barak”: Tolak Militerisasi Kampus, Mahasiswa Baru UINAM Diancam DO

    Serial “Kembali ke Barak”: Tolak Militerisasi Kampus, Mahasiswa Baru UINAM Diancam DO

    Warga Simogunung Surabaya Desak Penghentian Kriminalisasi Sengketa Tanah Dengan TNI AU

    Warga Simogunung Surabaya Desak Penghentian Kriminalisasi Sengketa Tanah Dengan TNI AU

    Gubernur Papua Barat Daya Blakblakan soal Hutan hingga Tambang di Papua Milik Jenderal

    Gubernur Papua Barat Daya Blakblakan soal Hutan hingga Tambang di Papua Milik Jenderal

    Koalisi Masyarakat Adat Sepakat Tolak PSN hingga Proyek Eksploitatif di Papeda Summit

    Koalisi Masyarakat Adat Sepakat Tolak PSN hingga Proyek Eksploitatif di Papeda Summit

    Menko Zulkifli Hasan Kabur saat Ditanya Papeda Summit dan Janji 1,7 Juta Hutan Adat di Papua

    Menko Zulkifli Hasan Kabur saat Ditanya Papeda Summit dan Janji 1,7 Juta Hutan Adat di Papua

    Aksi Pemuda Adat Papua Tolak Papeda Summit 2026 di Sorong: NGO Fasilitasi Aktor Perusak Hutan

    Aksi Pemuda Adat Papua Tolak Papeda Summit 2026 di Sorong: NGO Fasilitasi Aktor Perusak Hutan

    Serial “Kembali ke Barak”: Warga Kwini 8 Melawan Klaim Sepihak Militer

    Serial “Kembali ke Barak”: Warga Kwini 8 Melawan Klaim Sepihak Militer

    Trending Tags

  • Liputan Khusus
  • OPINI
    Ed Sheeran dan Solidaritas Irlandia-Palestina 

    Ed Sheeran dan Solidaritas Irlandia-Palestina 

    Tidak Percaya Hingga Tuntutan Pembubaran DPR, Lantas Apa?

    Tidak Percaya Hingga Tuntutan Pembubaran DPR, Lantas Apa?

    Menjaga Hak Hidup: Kisah Perempuan ODHIV dalam Pusaran Hukum Narkotika

    Menjaga Hak Hidup: Kisah Perempuan ODHIV dalam Pusaran Hukum Narkotika

    Dari Jakarta ke Phnom Penh: Perang Melawan Scam yang Tak Bisa Ditangani Satu Negara Saja

    Dari Jakarta ke Phnom Penh: Perang Melawan Scam yang Tak Bisa Ditangani Satu Negara Saja

    Apakah Kemerdekaan Seperti Ini yang Engkau Maksud, Datuk?

    Apakah Kemerdekaan Seperti Ini yang Engkau Maksud, Datuk?

    Satu Dekade Arbitrase Laut China Selatan: Refleksi atas Dampaknya terhadap Stabilitas Kawasan

    Belajar dari Sepak Bola Dunia

    Belajar dari Sepak Bola Dunia

    Potensi Dominasi Negara dari BUMN Khusus Ekspor

    Prabowonomics, Model Pembangunan yang Harus Ditinggalkan

    Kepada Said Iqbal: Redistribusi Kekayaan Tidak Cukup dengan “Kau Boleh Kaya Tapi Jangan Miskinkan Kami”

    Kepada Said Iqbal: Redistribusi Kekayaan Tidak Cukup dengan “Kau Boleh Kaya Tapi Jangan Miskinkan Kami”

    Membaca Senyum Purbaya

    Membaca Senyum Purbaya

    Trending Tags

  • RUANG SASTRA
    Selamatkan Hutan Melalui Film “Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua”

    Selamatkan Hutan Melalui Film “Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua”

    Film Pangku: Perjuangan Ibu Tunggal di Jalan Sunyi

    Film Pangku: Perjuangan Ibu Tunggal di Jalan Sunyi

    Film “Wall to Wall”: Potret Nyata Kelas Pekerja di Seoul ’11-12′ dengan Jakarta

    Film “Wall to Wall”: Potret Nyata Kelas Pekerja di Seoul ’11-12′ dengan Jakarta

    TUMPUK: Manifesto Konsumerisme dan Tumpukan Sampah

    TUMPUK: Manifesto Konsumerisme dan Tumpukan Sampah

    Sanggar Lidi Surabaya Gelar Pementasan Teater “Grafito”,  Kisah Cinta Beda Agama di Balai Pemuda Surabaya

    Sanggar Lidi Surabaya Gelar Pementasan Teater “Grafito”,  Kisah Cinta Beda Agama di Balai Pemuda Surabaya

    Cerita pendek: Kemenangan

    Cerita pendek: Kemenangan

    Trending Tags

  • SUARA WARGA
No Result
View All Result
Koreksi.org
No Result
View All Result
Home Berita

Dari Demonstrasi ke Meja Hijau, Botok dan Teguh di Hadapan Legalisme Otokrasi

by Wildan Humaidyi
March 12, 2026
in Berita
0
Dari Demonstrasi ke Meja Hijau, Botok dan Teguh di Hadapan Legalisme Otokrasi

Botok dan Teguh setelah selesai mengikuti sidang pada Rabu, 28 Januari 2026.

32
SHARES
90
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Pasca demonstrasi pengawalan sidang paripurna DPRD Pati yang berakhir di jalan Pantura Pati-Juwana, Botok dan Teguh berakhir menjadi tahanan politik. Keduanya divonis bersalah dan dihukum enam bulan pidana pengawasan.

Kamis (03/05), Botok dan Teguh menghadiri sidang pembacaan vonis. Teguh tampak memakai kemeja putih yang pada bagian punggungnya tertera tulisan “Rawe Rantas Malang Putung Pejabat Menindas Waktunya Digulung”. Di sisi lain, Botok juga mengenakan kemeja serupa dengan pesan menuntut agar “Tangkap Kapolresta Pati Kombes Pol Jaka Wahyudi sebagai dalang utama kriminalisasi.”

Dalam sidang tersebut, Botok dan Teguh divonis bersalah dan dihukum enam bulan pidana pengawasan. Keduanya, telah melalui seluruh proses sidang semenjak 15 Desember 2025 di Pengadilan Negeri Pati dengan nomor perkara 201/Pid.B/2025/PN Pti. 

Jauh sebelumnya, pada Rabu (07/01), Botok dan Teguh mengajukan pledoi atau keberatan atas dakwaan Jaksa setelah didakwa menggunakan 3 delik sekaligus: Pasal 192 ayat (1) KUHP tentang perintangan jalan umum, Pasal 160 KUHP mengenai penghasutan, atau Pasal 169 KUHP jo Pasal 55 KUHP terkait turut serta dalam perkumpulan yang bertujuan melakukan kejahatan.

Namun, sewaktu sidang pembacaan putusan sela yang digelar pada Rabu, (21/01) Majelis Hakim menolak pledoi dan memutuskan bahwa persidangan akan dilanjutkan ke tahap pemeriksaan saksi dan bukti-bukti.

Menanggapi putusan hakim, Penasihat Hukum (PH) Botok dan Teguh, Nimerodin Gulo menyebut bahwa tindakan mereka berdua dilindungi secara konstitusional dan tidak dapat dijerat hukum. Dirinya juga menyoroti pasal dakwaan yang digunakan Jaksa cenderung dipaksakan dan sama sekali tak relevan.

“Tindakan untuk berorasi, demo, menyampaikan pendapat itu dilindungi oleh hukum. Ini (persidangan) adalah kesengajaan yang sangat disengaja oleh pihak kepolisian untuk menghentikan atau membungkam tindakan-tindakan teman-teman untuk berekspresi,” ungkap Gulo pada Rabu (07/01) di halaman PN Pati.

Dalam pembelaannya, Gulo membongkar alasan di balik pemilihan Pasal 192 KUHP oleh penyidik. Menurutnya, penggunaan pasal ini adalah upaya sistematis agar Botok dan Teguh bisa ditahan. Kejanggalan semakin dalam ketika masuk ke wilayah tafsir. Gulo menjelaskan adanya perbedaan mendasar antara terjemahan KUHP yang dipakai jaksa dengan dirinya.

Menurutnya, kasus ini mesti diselesaikan menggunakan prinsip Lex Favor Reo (favor rei)–bila ada perubahan di undang-undang maka harus dipakai yang paling meringankan terdakwa–sebagaimana tercermin pada UU Nomor 1 Tahun 2023. Hal ini dikarenakan dalam KUHP baru tersebut, Pasal 192 lama kini diatur dalam Pasal 321 yang secara eksplisit dirumuskan sebagai delik materiil.

Gulo menilai bahwa pasal yang didakwakan tidak cukup dibaca sebagai delik formil yang berhenti pada terbuktinya perbuatan belaka. Penafsiran yang terlalu mekanis, menurutnya berpotensi mengabaikan tujuan perlindungan hukum yang hendak dijaga oleh norma tersebut. Oleh karena itu, pembuktian seharusnya diarahkan pada ada atau tidaknya akibat nyata atau bahaya konkret yang relevan dengan kepentingan hukum yang dilindungi. 

Argumen Gulo mengenai penerapan delik materiil dalam kasus ini berakar kuat pada pemikiran Prof. Moeljatno, seorang begawan hukum pidana Indonesia. Dalam bukunya yang berjudul “Asas-Asas Hukum Pidana,” ia menekankan bahwa hukum tidak boleh dipandang secara kaku hanya sebagai deretan pasal tertulis melainkan harus menyentuh hakikat keadilan dan tujuan perlindungan kepentingan hukum.

Lebih jauh, Moeljatno menganggap bahwa meskipun suatu perbuatan memenuhi rumusan delik dalam undang-undang, perbuatan tersebut tidak patut dipidana jika tidak merugikan kepentingan umum atau dilakukan demi memperjuangkan hak-hak yang lebih besar.

Dalam konteks ini, jika tindakan yang didakwakan merupakan bagian dari ekspresi konstitusional dan tidak terbukti menimbulkan akibat yang secara nyata membahayakan kepentingan umum, maka penerapan hukum pidana harus dilakukan secara hati-hati dan proporsional.

Prinsip favor rei mengingatkan bahwa dalam situasi demikian, penafsiran yang lebih menguntungkan terdakwa bukanlah bentuk keberpihakan, melainkan konsekuensi dari watak hukum pidana sebagai ultimum remedium dan sebagai instrumen perlindungan keadilan, bukan sekadar alat represif.

Gulo turut mengungkap bahwa selama proses sidang tidak terdapat bukti apapun yang dapat memberatkan Botok dan Teguh. Meski demikian, dirinya sangat menyayangkan pernyataan seragam dan cenderung dibuat-buat oleh para saksi dari pihak Jaksa yang digelar pada Kamis (29/01).

Salinan BAP dari pihak Jaksa yang dibakar setelah diduga penuh rekayasa, Kamis (29/1) (Sumber: dokumentasi Aliansi Masyarakat Pati Bersatu) 

Merespon hal tersebut, Botok dan Teguh didampingi Gule dan tim sempat melakukan aksi simbolik yakni membakar Berita Acara Pemeriksaan (BAP) di halaman PN Pati. 

Kemudian, pada sidang pembacaan tuntutan hari Jumat (20/02), Botok dan Teguh dituntut masing-masing kurungan 10 bulan penjara. Menurut Jaksa, keduanya bertanggung jawab atas blokade singkat di jalan Pantura Pati–Juwana pada Jumat, (31/10) yang dinilai menimbulkan bahaya dan keresahan sosial. 

Menanggapi hasil pembacaan tuntutan oleh Jaksa, Gulo mengaku kecewa. Pasalnya, Jaksa cenderung menjadikan BAP penyidik sebagai dasar tuntutan alih-alih fakta yang terungkap selama proses sidang. 

“Sangat kecewa karena ternyata jaksa penuntut umum dalam mengajukan tuntutannya, dia mendasarkan pada fakta-fakta yang ada dalam BAP penyidik dan tidak memperhatikan sama sekali fakta-fakta persidangan,” ungkapnya kepada media. 

Dirinya mencontohkan mengenai adanya ambulan yang sempat dijadikan bukti oleh sidang, terbukti tidak terintangi atau mengalami gangguan sama sekali oleh adanya aksi demonstrasi.

“Misalnya ambulans itu sama sekali tidak ada macet karena dia sudah lewat, tetapi fakta itu justru ditulis kembali oleh penuntut umum di dalam dakwaannya. Jadi dia sama sekali tidak memperhatikan fakta-fakta persidangan. Ini menunjukkan bahwa teman-teman kejaksaan nggak serius bersidang,” imbuhnya.

Botok sewaktu berada dalam mobil tahanan dihampiri oleh salah satu demonstran saat menghadiri pembacaan vonis di PN Pati pada Kamis, 05 Maret 2026 (Sumber: Rizky Riawan Nursatria/dokumentasi pribadi) 

Kriminalisasi dan Represi Aktivis Kian Gencar

Sepanjang tahun 2025, ruang kebebasan berekspresi di ruang publik kian mengalami penyempitan. Hal tersebut, kerap terjadi akibat respon warga terhadap produk kebijakan yang ditelurkan oleh negara. Dalam rentang tahun tersebut, muncul banyak perlawanan dari gerakan rakyat yang cukup menyeluruh di berbagai daerah diantaranya momentum #IndonesiaGelap, tolak RUU TNI, May Day 2025, dan demonstrasi kenaikan Pajak Bumi Bangunan (PBB). 

Pada demonstrasi 13 Agustus lalu di Pati yang sempat diwarnai dengan aksi lempar-lemparan, terdapat 11 orang yang diamankan oleh pihak kepolisian atas dugaan melakukan provokasi. Aksi tersebut, juga mendapati 34 korban luka-luka. Sedangkan demonstrasi pada 31 Oktober,  polisi berhasil mengamankan dua orang dari massa aksi yakni Botok dan Teguh dan dua orang lainnya.

Pasca demonstrasi 13 Agustus, Munaji, didakwa atas tindakan pembakaran mobil polisi dan divonis bersalah pada dengan masa hukuman 6 bulan pidana pengawasan. Miming Purwanto divonis 1 tahun penjara berdasarkan Pasal 351 ayat (1) jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. Sementara itu, Amsori dan Ahmad Sobirin masing-masing dijatuhi hukuman 1 tahun penjara berdasarkan Pasal 170 ayat (1) KUHP. 

Teguh Istiyanto berorasi di atas mobil komando sewaktu pengawalan sidang paripurna pemakzulan bupati Sudewo pada Jumat 31 Oktober 2026 (Sumber gambar: Rizky Riawan Nursatria/dokumentasi pribadi).

Sulistyowati Irianto, Guru Besar Antropologi Hukum, Fakultas Hukum Universitas Indonesia, menyebut bahwa terdapat kemunduran demokrasi yang cukup sistematis. Ia menekankan bahwa apa yang terjadi di Pati adalah wajah dari legalisme otokratis dimana hukum kerap difungsikan sebagai alat untuk memenuhi kepentingan kekuasaan belaka alih-alih digunakan sebagai alat guna menjamin keadilan bagi masyarakat.

Dirinya juga menyoroti bagaimana rekayasa hukum juga terjadi di berbagai daerah yang memiliki pola yang hampir serupa; gerakan rakyat dipantau, ditangkap, kemudian rekayasa hukum dilakukan sedemikian rupa untuk menjatuhkan sanksi dan menyalahkan figur tertentu. 

“Bagaimana hukum itu direkayasa, dimanipulasi, diberikan penaksiran-penaksiran yang tidak didasarkan pada scientific base knowledge di dalam hukum, tidak didasarkan pada ilmu-ilmu hukum, tapi didasarkan pada kepentingan-kepentingan kekuasaan,” ujarnya melalui percakapan WhatsApp pada Kamis (19/02)

Hal ini selaras dengan laporan yang dirilis pada 7 Februari lalu oleh Gerakan Muda Lawan Kriminalisasi. Data tersebut mengungkap bahwa sepanjang demonstrasi Agustus-September 2025, terdapat setidaknya 689 tahanan politik.

Sementara pasal yang dipakai cukup beragam. Pasal 170 KUHP tentang tindak pidana kekerasan secara bersama-sama (348 kasus) mendapati jumlah kasus terbanyak, disusul Pasal 363 KUHP tentang tindak pidana pencurian dengan pemberatan (166 kasus), dan Pasal 160 KUHP tentang penghasutan (53 kasus). 

Data ini juga mengungkap bahwa terdapat 173 orang yang masih ditahan, 460 diputus bersalah, 25 bebas atau ditangguhkan, dan 1 orang meninggal dunia. Jakarta Utara menjadi kota dengan jumlah persebaran tahanan politik paling besar. Yakni 71 orang. Di bawahnya, terdapat Makassar (52), Jakarta Pusat (48), dan Bandung (46).

Data lain dari Komisi Pencari Fakta (KPF) bikinan KontraS, YLBHI, dan LBH Jakarta turut memperkuat adanya regresi demokrasi. Hingga penghujung Januari 2026, KPF mencatat terdapat 6.719 orang ditangkap dan 13 warga sipil meninggal dunia pasca rentetan demonstrasi bulan Agustus hingga tahun lalu. Angka tersebut adalah jumlah penangkapan terhadap aktivis terbesar semenjak reformasi 1998. 

Laporan ini juga mengungkap adanya pola eskalasi massa yang cukup terarah dan sistematis. Selain itu, kegagalan pencegahan, pengawasan, dan pengamanan oleh kepolisian turut menjadi sorotan. 

Kasus di jalur Pantura Pati-Juwana mungkin akan terkubur oleh debu truk yang melintas, namun ingatan akan upaya kriminalisasi terhadap mereka yang bersuara akan tetap menjadi alarm bagi masa depan demokrasi Indonesia.

Tags: botok dan teguhkriminalisasi aktivispati
Wildan Humaidyi

Wildan Humaidyi

Related Posts

Guru Korban PHK di Sekolah Islam Tangerang Selatan Temui Penasihat Presiden

Guru Korban PHK di Sekolah Islam Tangerang Selatan Temui Penasihat Presiden

by Annisa Salim
October 1, 2026
0

Koreksi, Jakarta- Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pijar Harapan Rakyat mendampingi guru di salah satu sekolah swasta Islam di Kota Tangerang...

Suasana tahanan politik diberi arahan oleh polisi di sebuah ruang unit reserse polda metro jaya pada Rabu, (8/9).

Serial “Kembali ke Barak”: Pemprov DKI Wajibkan Pelajar Pendemo Ikut Pembekalan Bela Negara

by admin
September 9, 2026
0

JAKARTA, Koreksi.org — Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta memberlakukan program pembekalan bela negara bagi pelajar tingkat SMA yang ditangkap pada...

Kecewa Pemkot Surabaya Abaikan Aspirasi, Petani Tambak Keputih Tutup Akses Jalan

Kecewa Pemkot Surabaya Abaikan Aspirasi, Petani Tambak Keputih Tutup Akses Jalan

by Petrus Riski
September 7, 2026
0

Penutupan akses jalan ini dilakukan karena warga yang tergabung dalam Pokdakan Cahaya Keputih, kecewa dengan sikap Pemkot Surabaya yang enggan mendengarkan aspirasi warga yang menuntut pembukaan akses jalan menuju tambak, yang dibangun untuk lapangan padel.

Serial “Kembali ke Barak”: Tolak Militerisasi Kampus, Mahasiswa Baru UINAM Diancam DO

Serial “Kembali ke Barak”: Tolak Militerisasi Kampus, Mahasiswa Baru UINAM Diancam DO

by Muhammad Firman
September 9, 2026
0

Koreksi, Makassar–Aksi protes sejumlah mahasiswa baru Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar (UINAM) yang membentangkan poster penolakan militerisme di kampus pada...

Warga Simogunung Surabaya Desak Penghentian Kriminalisasi Sengketa Tanah Dengan TNI AU

Warga Simogunung Surabaya Desak Penghentian Kriminalisasi Sengketa Tanah Dengan TNI AU

by Petrus Riski
September 6, 2026
0

Puluhan warga RW 01 Simogunung, Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan, Surabaya, menggelar aksi unjuk rasa di depan kantor Polrestabes Kota...

Gubernur Papua Barat Daya Blakblakan soal Hutan hingga Tambang di Papua Milik Jenderal

Gubernur Papua Barat Daya Blakblakan soal Hutan hingga Tambang di Papua Milik Jenderal

by Ari Yani
September 5, 2026
0

Koreksi, Sorong - Gubernur Papua Barat Daya, Elisa Kambu, menyoroti minimnya perhatian pemerintah pusat kepada daerah se-Tanah Papua, termasuk Papua...

Next Post
Salib Merah Simbol Protes Masyarakat Adat di Merauke Dicabut Orang Tak Dikenal

Salib Merah Simbol Protes Masyarakat Adat di Merauke Dicabut Orang Tak Dikenal

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • About
  • Editorial
  • Pedoman Media Siber

© 2025 Koreksi.org

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • OPINI
  • RUANG SASTRA
    • SUARA WARGA

© 2025 Koreksi.org