• About
  • Editorial
  • Pedoman Media Siber
Monday, September 28, 2026
No Result
View All Result
Koreksi.org
  • Home
  • Berita
    Suasana tahanan politik diberi arahan oleh polisi di sebuah ruang unit reserse polda metro jaya pada Rabu, (8/9).

    Serial “Kembali ke Barak”: Pemprov DKI Wajibkan Pelajar Pendemo Ikut Pembekalan Bela Negara

    Kecewa Pemkot Surabaya Abaikan Aspirasi, Petani Tambak Keputih Tutup Akses Jalan

    Kecewa Pemkot Surabaya Abaikan Aspirasi, Petani Tambak Keputih Tutup Akses Jalan

    Serial “Kembali ke Barak”: Tolak Militerisasi Kampus, Mahasiswa Baru UINAM Diancam DO

    Serial “Kembali ke Barak”: Tolak Militerisasi Kampus, Mahasiswa Baru UINAM Diancam DO

    Warga Simogunung Surabaya Desak Penghentian Kriminalisasi Sengketa Tanah Dengan TNI AU

    Warga Simogunung Surabaya Desak Penghentian Kriminalisasi Sengketa Tanah Dengan TNI AU

    Gubernur Papua Barat Daya Blakblakan soal Hutan hingga Tambang di Papua Milik Jenderal

    Gubernur Papua Barat Daya Blakblakan soal Hutan hingga Tambang di Papua Milik Jenderal

    Koalisi Masyarakat Adat Sepakat Tolak PSN hingga Proyek Eksploitatif di Papeda Summit

    Koalisi Masyarakat Adat Sepakat Tolak PSN hingga Proyek Eksploitatif di Papeda Summit

    Menko Zulkifli Hasan Kabur saat Ditanya Papeda Summit dan Janji 1,7 Juta Hutan Adat di Papua

    Menko Zulkifli Hasan Kabur saat Ditanya Papeda Summit dan Janji 1,7 Juta Hutan Adat di Papua

    Aksi Pemuda Adat Papua Tolak Papeda Summit 2026 di Sorong: NGO Fasilitasi Aktor Perusak Hutan

    Aksi Pemuda Adat Papua Tolak Papeda Summit 2026 di Sorong: NGO Fasilitasi Aktor Perusak Hutan

    Serial “Kembali ke Barak”: Warga Kwini 8 Melawan Klaim Sepihak Militer

    Serial “Kembali ke Barak”: Warga Kwini 8 Melawan Klaim Sepihak Militer

    100 Hari Kerja Prabowo-Gibran: Ironi Ekspansi Militer di Tengah Sunat Anggaran Publik

    Serial “Kembali ke Barak”: Bahaya Laten TNI Ambil Alih Tugas Sipil

    Trending Tags

  • Liputan Khusus
  • OPINI
    Menjaga Hak Hidup: Kisah Perempuan ODHIV dalam Pusaran Hukum Narkotika

    Menjaga Hak Hidup: Kisah Perempuan ODHIV dalam Pusaran Hukum Narkotika

    Dari Jakarta ke Phnom Penh: Perang Melawan Scam yang Tak Bisa Ditangani Satu Negara Saja

    Dari Jakarta ke Phnom Penh: Perang Melawan Scam yang Tak Bisa Ditangani Satu Negara Saja

    Apakah Kemerdekaan Seperti Ini yang Engkau Maksud, Datuk?

    Apakah Kemerdekaan Seperti Ini yang Engkau Maksud, Datuk?

    Satu Dekade Arbitrase Laut China Selatan: Refleksi atas Dampaknya terhadap Stabilitas Kawasan

    Belajar dari Sepak Bola Dunia

    Belajar dari Sepak Bola Dunia

    Potensi Dominasi Negara dari BUMN Khusus Ekspor

    Prabowonomics, Model Pembangunan yang Harus Ditinggalkan

    Kepada Said Iqbal: Redistribusi Kekayaan Tidak Cukup dengan “Kau Boleh Kaya Tapi Jangan Miskinkan Kami”

    Kepada Said Iqbal: Redistribusi Kekayaan Tidak Cukup dengan “Kau Boleh Kaya Tapi Jangan Miskinkan Kami”

    Membaca Senyum Purbaya

    Membaca Senyum Purbaya

    Pesta Babi, Negara, dan Kebebasan Pers

    Pesta Babi, Negara, dan Kebebasan Pers

    Kacau Betul! Komunikasi Pemerintah atau Halusinasi?

    Kacau Betul! Komunikasi Pemerintah atau Halusinasi?

    Trending Tags

  • RUANG SASTRA
    Selamatkan Hutan Melalui Film “Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua”

    Selamatkan Hutan Melalui Film “Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua”

    Film Pangku: Perjuangan Ibu Tunggal di Jalan Sunyi

    Film Pangku: Perjuangan Ibu Tunggal di Jalan Sunyi

    Film “Wall to Wall”: Potret Nyata Kelas Pekerja di Seoul ’11-12′ dengan Jakarta

    Film “Wall to Wall”: Potret Nyata Kelas Pekerja di Seoul ’11-12′ dengan Jakarta

    TUMPUK: Manifesto Konsumerisme dan Tumpukan Sampah

    TUMPUK: Manifesto Konsumerisme dan Tumpukan Sampah

    Sanggar Lidi Surabaya Gelar Pementasan Teater “Grafito”,  Kisah Cinta Beda Agama di Balai Pemuda Surabaya

    Sanggar Lidi Surabaya Gelar Pementasan Teater “Grafito”,  Kisah Cinta Beda Agama di Balai Pemuda Surabaya

    Cerita pendek: Kemenangan

    Cerita pendek: Kemenangan

    Trending Tags

  • SUARA WARGA
  • Home
  • Berita
    Suasana tahanan politik diberi arahan oleh polisi di sebuah ruang unit reserse polda metro jaya pada Rabu, (8/9).

    Serial “Kembali ke Barak”: Pemprov DKI Wajibkan Pelajar Pendemo Ikut Pembekalan Bela Negara

    Kecewa Pemkot Surabaya Abaikan Aspirasi, Petani Tambak Keputih Tutup Akses Jalan

    Kecewa Pemkot Surabaya Abaikan Aspirasi, Petani Tambak Keputih Tutup Akses Jalan

    Serial “Kembali ke Barak”: Tolak Militerisasi Kampus, Mahasiswa Baru UINAM Diancam DO

    Serial “Kembali ke Barak”: Tolak Militerisasi Kampus, Mahasiswa Baru UINAM Diancam DO

    Warga Simogunung Surabaya Desak Penghentian Kriminalisasi Sengketa Tanah Dengan TNI AU

    Warga Simogunung Surabaya Desak Penghentian Kriminalisasi Sengketa Tanah Dengan TNI AU

    Gubernur Papua Barat Daya Blakblakan soal Hutan hingga Tambang di Papua Milik Jenderal

    Gubernur Papua Barat Daya Blakblakan soal Hutan hingga Tambang di Papua Milik Jenderal

    Koalisi Masyarakat Adat Sepakat Tolak PSN hingga Proyek Eksploitatif di Papeda Summit

    Koalisi Masyarakat Adat Sepakat Tolak PSN hingga Proyek Eksploitatif di Papeda Summit

    Menko Zulkifli Hasan Kabur saat Ditanya Papeda Summit dan Janji 1,7 Juta Hutan Adat di Papua

    Menko Zulkifli Hasan Kabur saat Ditanya Papeda Summit dan Janji 1,7 Juta Hutan Adat di Papua

    Aksi Pemuda Adat Papua Tolak Papeda Summit 2026 di Sorong: NGO Fasilitasi Aktor Perusak Hutan

    Aksi Pemuda Adat Papua Tolak Papeda Summit 2026 di Sorong: NGO Fasilitasi Aktor Perusak Hutan

    Serial “Kembali ke Barak”: Warga Kwini 8 Melawan Klaim Sepihak Militer

    Serial “Kembali ke Barak”: Warga Kwini 8 Melawan Klaim Sepihak Militer

    100 Hari Kerja Prabowo-Gibran: Ironi Ekspansi Militer di Tengah Sunat Anggaran Publik

    Serial “Kembali ke Barak”: Bahaya Laten TNI Ambil Alih Tugas Sipil

    Trending Tags

  • Liputan Khusus
  • OPINI
    Menjaga Hak Hidup: Kisah Perempuan ODHIV dalam Pusaran Hukum Narkotika

    Menjaga Hak Hidup: Kisah Perempuan ODHIV dalam Pusaran Hukum Narkotika

    Dari Jakarta ke Phnom Penh: Perang Melawan Scam yang Tak Bisa Ditangani Satu Negara Saja

    Dari Jakarta ke Phnom Penh: Perang Melawan Scam yang Tak Bisa Ditangani Satu Negara Saja

    Apakah Kemerdekaan Seperti Ini yang Engkau Maksud, Datuk?

    Apakah Kemerdekaan Seperti Ini yang Engkau Maksud, Datuk?

    Satu Dekade Arbitrase Laut China Selatan: Refleksi atas Dampaknya terhadap Stabilitas Kawasan

    Belajar dari Sepak Bola Dunia

    Belajar dari Sepak Bola Dunia

    Potensi Dominasi Negara dari BUMN Khusus Ekspor

    Prabowonomics, Model Pembangunan yang Harus Ditinggalkan

    Kepada Said Iqbal: Redistribusi Kekayaan Tidak Cukup dengan “Kau Boleh Kaya Tapi Jangan Miskinkan Kami”

    Kepada Said Iqbal: Redistribusi Kekayaan Tidak Cukup dengan “Kau Boleh Kaya Tapi Jangan Miskinkan Kami”

    Membaca Senyum Purbaya

    Membaca Senyum Purbaya

    Pesta Babi, Negara, dan Kebebasan Pers

    Pesta Babi, Negara, dan Kebebasan Pers

    Kacau Betul! Komunikasi Pemerintah atau Halusinasi?

    Kacau Betul! Komunikasi Pemerintah atau Halusinasi?

    Trending Tags

  • RUANG SASTRA
    Selamatkan Hutan Melalui Film “Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua”

    Selamatkan Hutan Melalui Film “Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua”

    Film Pangku: Perjuangan Ibu Tunggal di Jalan Sunyi

    Film Pangku: Perjuangan Ibu Tunggal di Jalan Sunyi

    Film “Wall to Wall”: Potret Nyata Kelas Pekerja di Seoul ’11-12′ dengan Jakarta

    Film “Wall to Wall”: Potret Nyata Kelas Pekerja di Seoul ’11-12′ dengan Jakarta

    TUMPUK: Manifesto Konsumerisme dan Tumpukan Sampah

    TUMPUK: Manifesto Konsumerisme dan Tumpukan Sampah

    Sanggar Lidi Surabaya Gelar Pementasan Teater “Grafito”,  Kisah Cinta Beda Agama di Balai Pemuda Surabaya

    Sanggar Lidi Surabaya Gelar Pementasan Teater “Grafito”,  Kisah Cinta Beda Agama di Balai Pemuda Surabaya

    Cerita pendek: Kemenangan

    Cerita pendek: Kemenangan

    Trending Tags

  • SUARA WARGA
No Result
View All Result
Koreksi.org
No Result
View All Result
Home Berita

Delapan Tahun Menunggu Negara, Kisah Pelayanan Kesehatan yang Terbengkalai di Pulau Masela 

by admin
July 27, 2026
in Berita, Liputan Khusus
0
Delapan Tahun Menunggu Negara, Kisah Pelayanan Kesehatan yang Terbengkalai di Pulau Masela 

Pustu Yang Terbengkalai di Desa Iblatmuntah, diambil pada 12 Desember 2025 (Foto: Adipatra Kenaro)

17
SHARES
49
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Negara belum benar-benar hadir di Pulau Masela. Delapan tahun berlalu, layanan kesehatan masih 

Koreksi, Maluku Barat Daya–Setiap pagi, sebelum matahari sepenuhnya naik di Pulau Masela, Yohanes memulai hari dengan meneguk ramuan daun yang direbus semalaman. Sudah beberapa tahun terakhir beliau mengandalkan racikan itu untuk meredakan keluhan yang kerap membuat tubuhnya lemas. 

Sebenarnya Yohanes tahu bahwa dirinya memiliki kadar gula darah dan kolesterol yang tinggi. Namun, untuk mengakses pengobatan untuk penyakitnya, tempat yang Yohanes tinggali tidak memiliki akses kesehatan yang mumpuni. 

“Bukan karena tidak mau berobat, tapi fasilitas kesehatan jauh dan obat juga tidak selalu ada. Jadi katong lebih sering mengandalkan daun-daun yang ada di sekitar hutan,” tutur Yohanes pada Senin, 8 Desember 2025

Pilihan itu bukan sesuatu yang muncul begitu saja. Bagi banyak masyarakat Pulau Masela, pengetahuan tentang tanaman obat telah diwariskan dari generasi ke generasi dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. 

Alam pun seolah menyediakan “apotek hidup” bagi masyarakat setempat. Masyarakat mengenal tanaman herbal yang dalam bahasa lokal yakni Menpaokya untuk membantu mengobati bisul, daun Ilmyera untuk meredakan nyeri dan gangguan saraf, Apopkea untuk membantu pemulihan patah tulang, Atewkelya dan Loliwewa untuk mengatasi gangguan lambung, serta Apipmena yang digunakan untuk menurunkan panas dan flu.

Apipmena dan Ilmyera diambil pada 13 Desember 2025 (Foto: Adipatra Kenaro)

Pengetahuan tersebut terus diwariskan karena berbagai persoalan kesehatan masih menjadi bagian dari keseharian masyarakat. Sebagian keluhan dapat ditangani dengan ramuan tradisional, tetapi sebagian lainnya membutuhkan pelayanan kesehatan yang lebih memadai. 

Gambaran itu terlihat dalam data Puskesmas Masela. Dalam tiga tahun terakhir, ISPA menjadi keluhan kesehatan yang paling sering muncul di tengah masyarakat. Jumlah kasus yang tercatat mencapai 558 kasus. Angka itu mungkin hanya deretan statistik dalam laporan kesehatan, tetapi jika dibayangkan sebagai kumpulan orang, jumlahnya hampir setara dengan satu kampung kecil yang seluruh warganya mengalami gangguan pernapasan. 

Belum lagi hipertensi, gastritis, diabetes, hingga asam urat yang terus bertahan dalam daftar penyakit terbanyak dari tahun ke tahun tampaknya menjadi penyakit yang paling betah tinggal di pulau ini. Jika penyakit bisa memiliki kartu keluarga, ISPA mungkin sudah layak masuk sebagai warga tetap

Dari parahnya kondisi tersebut, masyarakat Masela ternyata tidak hanya mengenal dokter dan obat-obatan generik. Hampir setiap desa memiliki sedikitnya 2 dukun kesehatan maupun dukun beranak yang masih aktif membantu masyarakat

Salah satunya adalah Yosef, dukun kesehatan di Dusun Lawawang, pulau Masela yang hingga kini masih didatangi untuk menangani berbagai keluhan kesehatan, mulai dari luka ringan hingga patah tulang.

“Beta belajar dari orang tua-tua dulu. Ilmu ini sudah ada sejak lama dan sampai sekarang masih dipakai untuk bantu masyarakat,” ujar Yosef.

Layanan Kesehatan yang Terabaikan

Pulau Masela merupakan salah satu beranda paling selatan Indonesia. Letaknya berada diantara Laut Banda dan Laut Timor. Posisinya lebih dekat dengan Darwin di Australia dan Dili di Timor-Leste dibandingkan dengan Jakarta. 

Dari pulau tersebut, Desa Masela menjadi pusat Kecamatan Masela sekaligus gerbang menuju desa-desa lain di sekitarnya. Salah satunya adalah Desa Iblatmuntah yang berjarak sekitar 6 kilometer dari ibu kota kecamatan .

Kalau di kota-kota besar, 6 kilometer itu bisa ditempuh dalam 15 sampai 30 menit. Berbeda ketika berada di Pulau Masela. Meski jaraknya hanya sekitar 6 kilometer, perjalanan menuju Iblatmuntah dapat memakan waktu hampir 1 jam karena harus melewati jalan tanah dan perbukitan dengan kondisi yang belum sepenuhnya baik 

Selama bertahun-tahun, akses yang terbatas turut memengaruhi cara masyarakat menjangkau berbagai layanan dasar, termasuk layanan kesehatan.

Melkisoa Kelabora, Kepala Desa Iblatmuntah, masih mengingat masa ketika masyarakat desa sangat bergantung pada fasilitas kesehatan yang ada di kampung mereka. Sambil menunjuk sebuah bangunan di ujung jalan, ia berkata, “Itu Pustu. Dulu katong masyarakat datang ke situ kalau mau berobat atau dapat pelayanan kesehatan dasar,” ungkap Melkisoa saat kami berbincang pada Jumat siang, 12 Desember 2025 

Beliau menunjuk ke arah puskesmas pembantu yang menolak roboh. Atapnya telah rusak di beberapa bagian. Dinding yang melingkarinya telah lapuk dimakan waktu. Tidak ada aktivitas pelayanan di dalamnya, hanya tanaman-tanaman yang mulai tumbuh dari sela keramiknya. 

“Tapi su lama seng dipakai lagi, kira-kira dari tahun 2018. Jadi sudah hampir delapan tahun. Kondisi bangunannya rusak, atap banyak yang bocor, beberapa bagian juga mulai lapuk. Kalau dipakai lagi buat pelayanan kesehatan sudah tidak layak. Sejak itu sudah tak ada aktivitas pelayanan di sana lagi,“ kata Melkisoa.

Sayangnya kebutuhan masyarakat untuk berobat disini tentu tidak ikut berhenti. Ketika sakit, memeriksakan kehamilan, atau membutuhkan pelayanan kesehatan lainnya, Masyarakat harus mencari alternatif yang tersedia.

Persoalannya, setelah Pustu Iblatmuntah tidak lagi berfungsi, pilihan pelayanan Kesehatan yang menjadi alternatif justru berada di luar desa, yakni Puskesmas Masela. Perjalanan dari Desa Iblatmuntah menuju sana dimulai melalui jalan tanah merah yang membelah perbukitan Pulau Masela.

Jarak Desa Iblatmuntah ke Puskesmas Masela sebenarnya hanya sekitar 6  kilometer. Angka yang mungkin tak lebih jauh dari rute jogging sebagian orang kota. Namun di Pulau Masela, 6 kilometer itu berarti menyusuri jalan tanah merah yang naik turun mengikuti kontur perbukitan. Saat cuaca buruk dan kondisi tubuh sedang sakit itu bisa terasa seperti menyeberangi setengah pulau 

Fasilitas kesehatan utama yang menjadi rujukan masyarakat itu sejujurnya tidak mudah dijangkau, terutama bagi masyarakat yang sedang sakit, lanjut usia, maupun ibu hamil.

Beberapa titik medan jalannya menanjak cukup terjal. Pada musim kemarau, perjalanan masih dapat dilakukan meski dengan keterbatasan. “Yaa tapi ketika hujan turun, kondisi berubah drastis. Jalanan menjadi licin, berlumpur, dan sulit dilalui kendaraan,” kata Kepala Puskesmas Masela, Toni Walkim saat sore mulai merambat di Pulau Masela pada Jumat, 12 Desember 2025.

Menurutnya, kondisi geografis dan cuaca masih menjadi hambatan utama dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan di wilayah kepulauan seperti Masela. “Kalau musim hujan su datang, akses masyarakat menuju puskesmas memang jadi lebih susah. Selain jalan yang licin, ada juga beberapa titik yang sering tergenang atau banjir sehingga pelayanan kadang ikut terdampak,” tambah Toni.

Menjelang siang setelah melewati perjalanan yang terjal, bangunan Puskesmas Masela akhirnya tampak di kejauhan. Sekilas, bangunan itu terlihat seperti puskesmas pada umumnya. Namun, saat diamati lebih dekat retakan memanjang terlihat di sejumlah bagian dinding bangunan. 

Beberapa titik, batang-batang bambu dipasang sebagai penyangga darurat, menjadi penanda bahwa puskesmas ini masih menyimpan luka dari gempa yang pernah mengguncang Maluku beberapa tahun lalu.

“Kalau sakit sekarang katong langsung arahkan ke Puskesmas Masela saja. Mau bagaimana lagi? Pustu su lama tidak jalan,” ujar Toni sambil menunjuk ke arah bangunan yang berdiri tidak jauh dari permukiman.

Tetapi tidak semua keluhan kesehatan berakhir di Puskesmas Masela. Dalam banyak situasi, terutama ketika penyakit dianggap belum terlalu parah atau perjalanan menuju fasilitas kesehatan sulit dilakukan, masyarakat memiliki cara lain yang sudah mereka kenal sejak lama. Mereka mencari daun-daunan, meracik minyak tradisional, atau meminta bantuan orang-orang yang memahami pengobatan kampung.

Dalam sebuah percakapan bersama Camat Masela, Cosner Aswaly. Beliau menunjukkan berbagai alokasi anggaran untuk program kesehatan yang terus dilaksanakan pemerintah daerah. Pada 2025 saja, Kabupaten Maluku Barat Daya sebenarnya menerima Dana Alokasi Khusus (DAK) kesehatan lebih dari Rp27 miliar.

Anggaran itu mengalir untuk membangun laboratorium kesehatan masyarakat di Tiakur, merehabilitasi sejumlah puskesmas, membangun pustu di Pulau Kei, hingga menyediakan sarana air bersih di berbagai wilayah Pulau Leti. Sayangnya, dari daftar panjang pembangunan itu, nama Pulau Masela tak kunjung muncul. 

“Kami berharap pemerintah bisa melihat kondisi katong di sini. Kalau orang sakit, jangan sampai harus berpikir dulu soal jarak atau transportasi sebelum berpikir soal sembuh,” ujarnya pada 19 Desember 2025, beberapa hari sebelum meninggalkan Pulau Masela. 

Senada, Toni Walkim juga menganggap masyarakat Masela sudah terlalu lama hidup dengan berbagai keterbatasan layanan kesehatan. Baginya, masyarakat Masela hanya membutuhkan pelayanan kesehatan yang layak.

“Katong tidak butuh janji yang terlalu tinggi. Katong cuma mau kalau ada orang sakit, dia bisa dapat pelayanan yang layak di pulau sendiri,” ungkapnya.

Memasuki pertengahan tahun 2026, Pustu Iblatmuntah masih belum kembali beroperasi. Masyarakat masih harus bergantung pada Puskesmas Masela dan obat-obatan tradisional untuk meredakan penyakitnya. 

Reporter: Adipatra Kenaro

*Liputan ini merupakan hasil dari beasiswa liputan Pelatihan Jurnalistik Tingkat Lanjut (PJTL) yang diselenggarakan LPM Didaktika bersama Koreksi pada 26 April 2026.

Tags: kesehatanmaluku barat dayapulau masela
admin

admin

Related Posts

Bara-Baraya Yang Masih Berjuang di Tengah Konflik dan Kekerasan

Bara-Baraya Yang Masih Berjuang di Tengah Konflik dan Kekerasan

by Muhammad Firman
September 23, 2026
0

Koreksi, Makassar- Konflik lahan di Bara-Baraya kembali memuncak pada Selasa, 15 September 2026. Puluhan orang menyerang dengan senjata tajam dan...

Perempuan dan Anak Dalam Pusaran PLTGU Jawa-1 Karawang

Perempuan dan Anak Dalam Pusaran PLTGU Jawa-1 Karawang

by admin
September 14, 2026
0

Perubahan lingkungan akibat PLTGU Jawa-1 Karawang mengurangi pendapatan keluarga nelayan dan petani di sekitarnya. Beban psikologis perempuan dan terganggunya pendidikan...

Suasana tahanan politik diberi arahan oleh polisi di sebuah ruang unit reserse polda metro jaya pada Rabu, (8/9).

Serial “Kembali ke Barak”: Pemprov DKI Wajibkan Pelajar Pendemo Ikut Pembekalan Bela Negara

by admin
September 9, 2026
0

JAKARTA, Koreksi.org — Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta memberlakukan program pembekalan bela negara bagi pelajar tingkat SMA yang ditangkap pada...

Kecewa Pemkot Surabaya Abaikan Aspirasi, Petani Tambak Keputih Tutup Akses Jalan

Kecewa Pemkot Surabaya Abaikan Aspirasi, Petani Tambak Keputih Tutup Akses Jalan

by Petrus Riski
September 7, 2026
0

Penutupan akses jalan ini dilakukan karena warga yang tergabung dalam Pokdakan Cahaya Keputih, kecewa dengan sikap Pemkot Surabaya yang enggan mendengarkan aspirasi warga yang menuntut pembukaan akses jalan menuju tambak, yang dibangun untuk lapangan padel.

Serial “Kembali ke Barak”: Tolak Militerisasi Kampus, Mahasiswa Baru UINAM Diancam DO

Serial “Kembali ke Barak”: Tolak Militerisasi Kampus, Mahasiswa Baru UINAM Diancam DO

by Muhammad Firman
September 9, 2026
0

Koreksi, Makassar–Aksi protes sejumlah mahasiswa baru Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar (UINAM) yang membentangkan poster penolakan militerisme di kampus pada...

Warga Simogunung Surabaya Desak Penghentian Kriminalisasi Sengketa Tanah Dengan TNI AU

Warga Simogunung Surabaya Desak Penghentian Kriminalisasi Sengketa Tanah Dengan TNI AU

by Petrus Riski
September 6, 2026
0

Puluhan warga RW 01 Simogunung, Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan, Surabaya, menggelar aksi unjuk rasa di depan kantor Polrestabes Kota...

Next Post
Masalah Rehabilitasi Narkotika: Diperas, Namun Belum Mendapat Layanan yang Baik

Masalah Rehabilitasi Narkotika: Diperas, Namun Belum Mendapat Layanan yang Baik

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • About
  • Editorial
  • Pedoman Media Siber

© 2025 Koreksi.org

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • OPINI
  • RUANG SASTRA
    • SUARA WARGA

© 2025 Koreksi.org