• About
  • Editorial
  • Pedoman Media Siber
Thursday, October 8, 2026
No Result
View All Result
Koreksi.org
  • Home
  • Berita
    Guru Korban PHK di Sekolah Islam Tangerang Selatan Temui Penasihat Presiden

    Guru Korban PHK di Sekolah Islam Tangerang Selatan Temui Penasihat Presiden

    Suasana tahanan politik diberi arahan oleh polisi di sebuah ruang unit reserse polda metro jaya pada Rabu, (8/9).

    Serial “Kembali ke Barak”: Pemprov DKI Wajibkan Pelajar Pendemo Ikut Pembekalan Bela Negara

    Kecewa Pemkot Surabaya Abaikan Aspirasi, Petani Tambak Keputih Tutup Akses Jalan

    Kecewa Pemkot Surabaya Abaikan Aspirasi, Petani Tambak Keputih Tutup Akses Jalan

    Serial “Kembali ke Barak”: Tolak Militerisasi Kampus, Mahasiswa Baru UINAM Diancam DO

    Serial “Kembali ke Barak”: Tolak Militerisasi Kampus, Mahasiswa Baru UINAM Diancam DO

    Warga Simogunung Surabaya Desak Penghentian Kriminalisasi Sengketa Tanah Dengan TNI AU

    Warga Simogunung Surabaya Desak Penghentian Kriminalisasi Sengketa Tanah Dengan TNI AU

    Gubernur Papua Barat Daya Blakblakan soal Hutan hingga Tambang di Papua Milik Jenderal

    Gubernur Papua Barat Daya Blakblakan soal Hutan hingga Tambang di Papua Milik Jenderal

    Koalisi Masyarakat Adat Sepakat Tolak PSN hingga Proyek Eksploitatif di Papeda Summit

    Koalisi Masyarakat Adat Sepakat Tolak PSN hingga Proyek Eksploitatif di Papeda Summit

    Menko Zulkifli Hasan Kabur saat Ditanya Papeda Summit dan Janji 1,7 Juta Hutan Adat di Papua

    Menko Zulkifli Hasan Kabur saat Ditanya Papeda Summit dan Janji 1,7 Juta Hutan Adat di Papua

    Aksi Pemuda Adat Papua Tolak Papeda Summit 2026 di Sorong: NGO Fasilitasi Aktor Perusak Hutan

    Aksi Pemuda Adat Papua Tolak Papeda Summit 2026 di Sorong: NGO Fasilitasi Aktor Perusak Hutan

    Serial “Kembali ke Barak”: Warga Kwini 8 Melawan Klaim Sepihak Militer

    Serial “Kembali ke Barak”: Warga Kwini 8 Melawan Klaim Sepihak Militer

    Trending Tags

  • Liputan Khusus
  • OPINI
    Tidak Percaya Hingga Tuntutan Pembubaran DPR, Lantas Apa?

    Tidak Percaya Hingga Tuntutan Pembubaran DPR, Lantas Apa?

    Menjaga Hak Hidup: Kisah Perempuan ODHIV dalam Pusaran Hukum Narkotika

    Menjaga Hak Hidup: Kisah Perempuan ODHIV dalam Pusaran Hukum Narkotika

    Dari Jakarta ke Phnom Penh: Perang Melawan Scam yang Tak Bisa Ditangani Satu Negara Saja

    Dari Jakarta ke Phnom Penh: Perang Melawan Scam yang Tak Bisa Ditangani Satu Negara Saja

    Apakah Kemerdekaan Seperti Ini yang Engkau Maksud, Datuk?

    Apakah Kemerdekaan Seperti Ini yang Engkau Maksud, Datuk?

    Satu Dekade Arbitrase Laut China Selatan: Refleksi atas Dampaknya terhadap Stabilitas Kawasan

    Belajar dari Sepak Bola Dunia

    Belajar dari Sepak Bola Dunia

    Potensi Dominasi Negara dari BUMN Khusus Ekspor

    Prabowonomics, Model Pembangunan yang Harus Ditinggalkan

    Kepada Said Iqbal: Redistribusi Kekayaan Tidak Cukup dengan “Kau Boleh Kaya Tapi Jangan Miskinkan Kami”

    Kepada Said Iqbal: Redistribusi Kekayaan Tidak Cukup dengan “Kau Boleh Kaya Tapi Jangan Miskinkan Kami”

    Membaca Senyum Purbaya

    Membaca Senyum Purbaya

    Pesta Babi, Negara, dan Kebebasan Pers

    Pesta Babi, Negara, dan Kebebasan Pers

    Trending Tags

  • RUANG SASTRA
    Selamatkan Hutan Melalui Film “Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua”

    Selamatkan Hutan Melalui Film “Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua”

    Film Pangku: Perjuangan Ibu Tunggal di Jalan Sunyi

    Film Pangku: Perjuangan Ibu Tunggal di Jalan Sunyi

    Film “Wall to Wall”: Potret Nyata Kelas Pekerja di Seoul ’11-12′ dengan Jakarta

    Film “Wall to Wall”: Potret Nyata Kelas Pekerja di Seoul ’11-12′ dengan Jakarta

    TUMPUK: Manifesto Konsumerisme dan Tumpukan Sampah

    TUMPUK: Manifesto Konsumerisme dan Tumpukan Sampah

    Sanggar Lidi Surabaya Gelar Pementasan Teater “Grafito”,  Kisah Cinta Beda Agama di Balai Pemuda Surabaya

    Sanggar Lidi Surabaya Gelar Pementasan Teater “Grafito”,  Kisah Cinta Beda Agama di Balai Pemuda Surabaya

    Cerita pendek: Kemenangan

    Cerita pendek: Kemenangan

    Trending Tags

  • SUARA WARGA
  • Home
  • Berita
    Guru Korban PHK di Sekolah Islam Tangerang Selatan Temui Penasihat Presiden

    Guru Korban PHK di Sekolah Islam Tangerang Selatan Temui Penasihat Presiden

    Suasana tahanan politik diberi arahan oleh polisi di sebuah ruang unit reserse polda metro jaya pada Rabu, (8/9).

    Serial “Kembali ke Barak”: Pemprov DKI Wajibkan Pelajar Pendemo Ikut Pembekalan Bela Negara

    Kecewa Pemkot Surabaya Abaikan Aspirasi, Petani Tambak Keputih Tutup Akses Jalan

    Kecewa Pemkot Surabaya Abaikan Aspirasi, Petani Tambak Keputih Tutup Akses Jalan

    Serial “Kembali ke Barak”: Tolak Militerisasi Kampus, Mahasiswa Baru UINAM Diancam DO

    Serial “Kembali ke Barak”: Tolak Militerisasi Kampus, Mahasiswa Baru UINAM Diancam DO

    Warga Simogunung Surabaya Desak Penghentian Kriminalisasi Sengketa Tanah Dengan TNI AU

    Warga Simogunung Surabaya Desak Penghentian Kriminalisasi Sengketa Tanah Dengan TNI AU

    Gubernur Papua Barat Daya Blakblakan soal Hutan hingga Tambang di Papua Milik Jenderal

    Gubernur Papua Barat Daya Blakblakan soal Hutan hingga Tambang di Papua Milik Jenderal

    Koalisi Masyarakat Adat Sepakat Tolak PSN hingga Proyek Eksploitatif di Papeda Summit

    Koalisi Masyarakat Adat Sepakat Tolak PSN hingga Proyek Eksploitatif di Papeda Summit

    Menko Zulkifli Hasan Kabur saat Ditanya Papeda Summit dan Janji 1,7 Juta Hutan Adat di Papua

    Menko Zulkifli Hasan Kabur saat Ditanya Papeda Summit dan Janji 1,7 Juta Hutan Adat di Papua

    Aksi Pemuda Adat Papua Tolak Papeda Summit 2026 di Sorong: NGO Fasilitasi Aktor Perusak Hutan

    Aksi Pemuda Adat Papua Tolak Papeda Summit 2026 di Sorong: NGO Fasilitasi Aktor Perusak Hutan

    Serial “Kembali ke Barak”: Warga Kwini 8 Melawan Klaim Sepihak Militer

    Serial “Kembali ke Barak”: Warga Kwini 8 Melawan Klaim Sepihak Militer

    Trending Tags

  • Liputan Khusus
  • OPINI
    Tidak Percaya Hingga Tuntutan Pembubaran DPR, Lantas Apa?

    Tidak Percaya Hingga Tuntutan Pembubaran DPR, Lantas Apa?

    Menjaga Hak Hidup: Kisah Perempuan ODHIV dalam Pusaran Hukum Narkotika

    Menjaga Hak Hidup: Kisah Perempuan ODHIV dalam Pusaran Hukum Narkotika

    Dari Jakarta ke Phnom Penh: Perang Melawan Scam yang Tak Bisa Ditangani Satu Negara Saja

    Dari Jakarta ke Phnom Penh: Perang Melawan Scam yang Tak Bisa Ditangani Satu Negara Saja

    Apakah Kemerdekaan Seperti Ini yang Engkau Maksud, Datuk?

    Apakah Kemerdekaan Seperti Ini yang Engkau Maksud, Datuk?

    Satu Dekade Arbitrase Laut China Selatan: Refleksi atas Dampaknya terhadap Stabilitas Kawasan

    Belajar dari Sepak Bola Dunia

    Belajar dari Sepak Bola Dunia

    Potensi Dominasi Negara dari BUMN Khusus Ekspor

    Prabowonomics, Model Pembangunan yang Harus Ditinggalkan

    Kepada Said Iqbal: Redistribusi Kekayaan Tidak Cukup dengan “Kau Boleh Kaya Tapi Jangan Miskinkan Kami”

    Kepada Said Iqbal: Redistribusi Kekayaan Tidak Cukup dengan “Kau Boleh Kaya Tapi Jangan Miskinkan Kami”

    Membaca Senyum Purbaya

    Membaca Senyum Purbaya

    Pesta Babi, Negara, dan Kebebasan Pers

    Pesta Babi, Negara, dan Kebebasan Pers

    Trending Tags

  • RUANG SASTRA
    Selamatkan Hutan Melalui Film “Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua”

    Selamatkan Hutan Melalui Film “Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua”

    Film Pangku: Perjuangan Ibu Tunggal di Jalan Sunyi

    Film Pangku: Perjuangan Ibu Tunggal di Jalan Sunyi

    Film “Wall to Wall”: Potret Nyata Kelas Pekerja di Seoul ’11-12′ dengan Jakarta

    Film “Wall to Wall”: Potret Nyata Kelas Pekerja di Seoul ’11-12′ dengan Jakarta

    TUMPUK: Manifesto Konsumerisme dan Tumpukan Sampah

    TUMPUK: Manifesto Konsumerisme dan Tumpukan Sampah

    Sanggar Lidi Surabaya Gelar Pementasan Teater “Grafito”,  Kisah Cinta Beda Agama di Balai Pemuda Surabaya

    Sanggar Lidi Surabaya Gelar Pementasan Teater “Grafito”,  Kisah Cinta Beda Agama di Balai Pemuda Surabaya

    Cerita pendek: Kemenangan

    Cerita pendek: Kemenangan

    Trending Tags

  • SUARA WARGA
No Result
View All Result
Koreksi.org
No Result
View All Result
Home SUARA WARGA

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025 yang Ditangkap di Malaysia

by admin
October 8, 2026
in SUARA WARGA
0
Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025 yang Ditangkap di Malaysia

Ilustrasi tahanan politik.

2
SHARES
7
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Ditulis oleh Mansurni Abadi, kader dan mantan pengurus riset dan pengembangan keilmuwan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Malaysia (2021-2022) dan mantan tahanan politik pasca-aksi demonstrasi 2025 di Rutan Salemba, Jakarta Pusat.

Tulisan ini awalnya saya buat dari balik tembok penjara Rumah Tahanan (Rutan) Salemba, Jakarta Pusat pada awal September 2026. Kala itu saya menjadi tahanan politik (Tapol) terkait aksi demonstrasi Agustus 2025. Sekarang saya sudah bebas dengan status penangguhan. 

Saya tidak menyangka menjadi bagian dari 3.000 orang muda, menurut Gerakan Masyarakat Lawan Kriminalisasi (GMLK), yang ditangkap pasca-aksi demonstrasi Agustus 2025 dan setelahnya. Saya dijerat dengan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), terkait ajakan aksi pada akhir Agustus 2025 di grup Whatsapp dengan pelapor Baringin Jaya Tobing. Pengacara Posbakum Polda Metro yang juga melaporkan beberapa aktivis pasca-aksi demonstrasi Agustus 2025.

Menurut rilis LBH Pers berdasarkan konferensi pers Tim Advokasi untuk Demokrasi (TAUD), pada 1 September 2025, Baringin Jaya Tobing juga kerap menjadi pelapor dalam perkara hukum yang tidak memiliki kaitan dengannya. 

Yang ironis, saya ditangkap di Kuala Lumpur, Malaysia, oleh Interpol pada 13 November 2025, dengan tuduhan terorisme. Tapi tuduhan itu tidak terbukti setelah melalui proses interogasi dan investigasi.  Meskipun saya terlanjur menjalani penahanan di Bukit Aman, Malaysia, sampai 3 Desember 2025. Pada tanggal itu pula saya dipulangkan ke Jakarta, Indonesia melalui Bandara KLIA 1, Malaysia.

Lalu dari 3 Desember 2025 sampai 3 Maret 2025, saya ditahan di Rutan Kriminal Khusus Polda Metro Jaya Jakarta. Saya kemudian dipindahkan ke Rutan Salemba dari 3 Maret hingga 23 September, lalu dibebaskan dengan status penangguhan.

Maka, masuk ke inti tulisan, menulis memiliki peranan penting bagi semua pihak untuk merekam, merefleksikan, dan merekonstruksi pengalaman hidup sehingga memberi arah, makna, dan kesinambungan pada eksistensi seseorang. Menulis memungkinkan pengalaman yang bersifat sementara itu menjadi jejak yang dapat ditinjau ulang sehingga tidak hilang begitu saja dan dapat dimaknai ulang oleh penulis atau dapat dibagikan kepada orang lain sehingga berguna bagi peradaban jika Tuhan menghendaki.

Maka benarlah prinsip “verba solent, scripta manent” yang berarti “yang terucap bersifat sementara, tapi apa yang tertulis akan tetap ada (abadi)” yang menegaskan bahwa menjadi bukti abadi yang mampu menginspirasi generasi berikutnya, berbeda dengan hanya ucapan.

Apalagi bagi mereka yang terlibat dalam aktivisme yang merupakan tindakan pengorbanan meskipun tidak selalu untuk publik atau berhasil. Tetapi selalu mengarah pada pembebasan dari penindasan yang terstruktur, masif, dan sistematis sehingga membawa mereka ke dalam peran untuk memahami posisi mereka di dalam “lingkaran dampak” penindasan. Serta menggunakan pemahaman tersebut terutama jika mereka berada di lingkaran luar untuk mendidik diri, mendengarkan, dan memperkuat suara mereka yang berada di pusat penindasan dengan beragam cara, salah satunya dengan menulis.

Dengan menulis, aktivis tidak hanya menyuarakan perubahan, tetapi juga menciptakan dokumen sejarah yang dapat dijadikan rujukan dan pengingat akan perjuangan yang telah dilakukan beserta risiko yang pernah mereka alami, termasuk terpenjara.

Kenapa Aktivis Bisa Terpenjara?

Terpenjara yang saya maksudkan di sini terlepas dari kasus-kasus yang bersifat kriminal yang dilakukan aktivis untuk kepentingan dirinya. Tapi terpenjara karena persoalan kriminalisasi yang menjadikan suatu perbuatan yang sebenarnya sah, aspiratif, atau sekadar perbedaan pendapat seolah-olah sebagai tindak pidana, atau menggunakan hukum pidana dan aparat penegak hukum secara sewenang-wenang untuk membungkam, menghukum, dan mendiskreditkan pihak yang berseberangan.

Kriminalisasi berbeda dari penegakan hukum yang sah karena bersandar pada kepentingan politik dan sering mengabaikan prinsip due process atau asas proses hukum yang layak dan adil yang langsung mencabut atau membatasi hak seseorang seperti kebebasan, harta, atau nyawa tanpa mengikuti prosedur hukum yang sah, transparan, dan tidak sewenang-wenang.

Jadi, aktivis kerap menjadi sasaran kriminalisasi karena mereka mengkritik kekuasaan, membongkar KKN (korupsi,kolusi, dan nepotisme), memperjuangkan hak asasi, mengorganisasi massa, atau menantang kebijakan yang merugikan rakyat. Karena itu, penguasa merasa terancam dan memakai pasal-pasal karet seperti ITE, ujaran kebencian, pencemaran nama baik, makar, atau darurat untuk menciptakan efek jera, memecah gerakan, dan melegitimasi represi, dengan tujuan akhir melanggengkan kekuasaan serta menutup ruang partisipasi publik.

Perlu diingat dalam konteks negara yang katanya berdemokrasi, persoalan aktivis yang terpenjara bukan karena demokrasi itu sendiri otomatis menindas, melainkan karena kebebasan selalu dibatasi oleh klaim kepentingan publik dan kekuatan mayoritas dari sisi penguasa yang tiran yang terancam oleh suara kritis dan gerakan yang progresif.

Padahal Menurut John Stuart Mill dalam On Liberty, kebebasan berekspresi dan bertindak hanya boleh dibatasi jika menimbulkan bahaya nyata bagi orang lain. Lalu apa pentingnya menulis bagi para aktivis yang terpenjara?

Pentingnya Menulis Bagi Aktivis yang Terpenjara

Sekali lagi, dalam kajian aktivisme, menulis bukan sekadar keterampilan komunikasi atau kegiatan intelektual. Menulis merupakan praktik gerakan itu sendiri yang menjadi sarana melawan, mengorganisasi, memelihara memori, dan membangun kesadaran kolektif. Bagi aktivis yang terpenjara, menulis menjadi jauh lebih penting karena tubuh mereka dibatasi, tetapi gagasan, kesaksian, dan jaringan politik tidak sepenuhnya bisa dipenjarakan.

Seorang teman dari salah satu gerakan Islam sempat menegaskan perihal ma la yatimmu al-wajib illa bihi fahuwa wajib yang artinya jika menyampaikan gagasan, kesaksian, dan merawat jaringan perjuangan tetap menjadi kewajiban, maka sarana yang memungkinkannya, yakni menulis, menjadi wajib/penting. Setidaknya ada empat manfaat menulis bagi para aktivis yang terpenjara.

Empat Manfaat Menulis Bagi Aktivis yang Terpenjara

Manfaat pertama, menulis untuk melawan narasi. Dalam studi gerakan sosial, ini disebut framing processes—perebutan makna untuk memengaruhi publik. Tulisan dari penjara menjadi counter-narrative yang menantang narasi resmi.

Negara biasanya berusaha membingkai aktivis yang dipenjara sebagai “pelanggar hukum”, “pengacau”, “radikal”, atau “anarko” yang saat ini sedang hits. Jadi, menulis dari penjara memungkinkan aktivis membalik framing itu dari kriminal menjadi tahanan politik, dari pengacau menjadi pejuang hak.

Manfaat kedua: menulis untuk menjaga api perlawanan ketika aksi lain dibatasi. Saya pernah merasakan terpenjara yang mana di penjara, demonstrasi, mobilisasi massa, dan lobi langsung tidak mungkin dilakukan bahkan berkumpul antar Tahanan Politik pun dicurigai. Maka, menulis menjadi alternatif sebagaimana James C. Scott menyebutnya dengan istilah hidden transcript, yaitu teks yang lahir di ruang tertutup dan tertindas, lalu bisa berubah menjadi public transcript ketika diselundupkan dan dipublikasikan sehingga publik dapat tahu dan berpotensi ikut peduli.

Manfaat ketiga, mempertahankan identitas dan semangat aktivisme karena penjara memiliki tujuan laten untuk mendepolitisasi, mengisolasi, dan menghancurkan identitas aktivis sehingga membuat seseorang merasa sendiri dan tak berdaya. Jadi, menulis memungkinkan aktivis merebut kembali subjektivitasnya yang akan menentukan narasi tentang dirinya, bukan negara, sehingga dia tetap sadar menjadi subjek politik, bukan objek kekuasaan.

Manfaat keempat, menulis sebagai terapi jika ditelaah dari teori expressive writing dari Pennebaker, yang melihat bahwa menuangkan pengalaman traumatis dan emosi terpendam ke dalam tulisan membantu memproses luka batin, mengurangi stres, serta memberi jarak reflektif antara diri dan peristiwa; dan teori naratif dalam terapi, yang memandang manusia sebagai makhluk yang membangun identitas lewat cerita, sehingga menulis memungkinkan seseorang menyusun ulang makna hidup, memisahkan masalah dari diri, dan memulihkan rasa agensi.

Demikianlah empat manfaat menulis bagi para aktivis yang terpenjara. Tentunya, terpenjara tidaklah kita harapkan, namun di tengah situasi dan kondisi yang pseudo-demokrasi, maka setiap tindakan dalam perbuatan dan perkataan yang menggugat kekuasaan akan berpotensi untuk dikriminalisasi yang menghantarkan diri pada penjara.

Tags: demo agustus 2025malaysiatahanan politik
admin

admin

Related Posts

Bangunan (Seperti)  Apartemen di Lapas Cibinong

Bangunan (Seperti)  Apartemen di Lapas Cibinong

by admin
September 29, 2026
0

Oleh: Bambang Yulistyo Tedjo (Forum Akar Rumput Indonesia) Kami,  dari Forum Akar Rumput Indonesia (FARI) sudah lama mengenal wajah penjara...

Menjaga Hak Hidup: Kisah Perempuan ODHIV dalam Pusaran Hukum Narkotika

Menjaga Hak Hidup: Kisah Perempuan ODHIV dalam Pusaran Hukum Narkotika

by admin
August 27, 2026
0

“Kalau obatnya putus, kondisinya bisa memburuk.” Kalimat itu tidak diucapkan di ruang sidang, bukan pula dalam rapat sebuah lembaga bantuan...

Ketika Pengalaman Menjadi Sejarah: Membaca Ulang Manusia Lewat Buku “Experience: A History”

Ketika Pengalaman Menjadi Sejarah: Membaca Ulang Manusia Lewat Buku “Experience: A History”

by admin
August 5, 2026
0

Lawrence Kramer. “Experience: A History.” Penerbit: University of California Press, 2026. Ada satu pertanyaan sederhana yang tampaknya mudah dijawab, tetapi...

The Strzr: Merawat Ingatan Kolektif dan Narasi Perlawanan di Padarincang Melalui Musik

The Strzr: Merawat Ingatan Kolektif dan Narasi Perlawanan di Padarincang Melalui Musik

by admin
June 23, 2026
0

“Pukul satu malam mereka datang Mendobrak pintu dan menodong senapan Kami pikir penagih hutang Ternyata polisi suruhan kandang” Potongan lirik...

Cerita Foto: Pelajar dan Pembungkaman Demokrasi

Cerita Foto: Pelajar dan Pembungkaman Demokrasi

by admin
June 15, 2026
0

Pelajar ditempatkan menjadi kelompok rentan yang giat direpresi hari ini. Negara melalui tangan besinya merepresi pelajar dari berbagai sektor: di...

Harga BBM Naik: Alarm yang Sudah Lama Berbunyi, Tapi Siapa yang Mendengar?

Harga BBM Naik: Alarm yang Sudah Lama Berbunyi, Tapi Siapa yang Mendengar?

by admin
June 15, 2026
0

Oleh: Lukman Nurhakim Per 10 Juni 2026, Pertamax naik, senyap, tanpa proklamasi, seolah kenaikan harga adalah urusan administratif yang tak...

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • About
  • Editorial
  • Pedoman Media Siber

© 2025 Koreksi.org

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • OPINI
  • RUANG SASTRA
    • SUARA WARGA

© 2025 Koreksi.org