Tangerang, Koreksi.org – Dalam perjalanan menuju Desa Belimbing, Kabupaten Tangerang, sesekali terlihat perempuan duduk di tangga berundak di pinggir Kanal Belimbing. Tangannya terus bergerak mencuci pakaian dan di bawah kakinya air berwarna kehijauan mengalir.
Musim kemarau membuat sumber air bersih warga menjadi kering. Untuk mandi dan memasak, warga membeli air pikulan dengan harga enam ribu rupiah per pikul. Pengeluaran ekstra untuk air bersih menjadi beban tak kasatmata yang harus ditanggung para ibu rumah tangga.
Beban ekonomi domestik itu hanyalah puncak gunung es. Desa Belimbing menjadi salah satu desa yang di dalamnya terdapat komunitas Cina Benteng. Kemiskinan struktural di desa Belimbing berkelindan dengan cengkeraman budaya patriarki yang mewariskan rendahnya pendidikan perempuan.
Masalah ekonomi dan pendidikan yang rendah menjadikan para perempuan sasaran empuk bagi rentenir keliling (Bank Keliling) dengan bunga mencekik, sebelum akhirnya mereka membangun ekonomi yang adil gender dan inklusif.
Rendahnya Tingkat Pendidikan
Ketua Koperasi Wanita Pengembang Sumberdaya (KWPS) Lampion Merah Abadi (LMA), Chen Fie, mengatakan hampir semua perempuan yang lahir sebelum tahun 2000-an hanya mengenyam pendidikan hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP).
“Saya gak lulus SMP, lulus SD mau lanjutin gak dibolehin sama orang tua. Buat apa sih, nanti juga anak perempuan mah di dapur,” ujar Chen Fie, yang ditemui di rumahnya saat program media visit Kemitraan, pada Rabu, 19 Agustus 2026.
Budaya meminggirkan pendidikan ini diakui oleh Kepala Desa Belimbing, Maskota, yang mengatakan kesulitan untuk mendapatkan sarjana di desanya. Menurutnya, jumlah sarjana di desanya dapat dihitung dengan jari.
Program Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM) untuk paket A, paket B, dan paket C tidak banyak diminati. Hanya bertahan pada minggu-minggu awal, setelahnya hanya tersisa dua atau tiga orang. Padahal menurutnya program itu disediakan gratis oleh Pemerintah Desa.

“Setiap tahun kita ada program Sarjana Desa, tapi tidak ada yang mau daftar. Kita sampai door to door buat nawarin yang masih sekolah, jawabannya lulus nanti mau langsung kerja,” ujar Maskota saat ditemui di kantor desa, pada Rabu 19 Agustus 2026.
Setiap anak di desa itu terobsesi untuk cepat mencari kerja dan memiliki penghasilan. Hal itu membuat persoalan nikah dini terus menerus terjadi di Desa Belimbing. Wakil KWPS LMA, Enggit, yang berusia 61 tahun menyebutkan dirinya yang menikah saat usia 17 tahun dan memiliki anak di usia 18 tahun.
Hal itu sudah mengakar sebagai ingatan kolektif warga, meskipun memasuki era modern praktik pernikahan dini semakin berkurang. Namun, persoalan tingkat pendidikan, pernikahan dini, dan kemiskinan masih dirasakan dampaknya hingga kini.
Rendah pendidikan, budaya patriarki dan sulitnya perekonomian membuat orang tua mencari jalan instan dengan menikah anak perempuannya. Hal ini selaras dengan realitas bahwa anak perempuan yang hanya tamat sekolah dasar menanggung risiko 449 kali lipat lebih rentan mengalami pernikahan dini, merujuk pada riset Maya Fitria (2025) tentang perlindungan anak di perdesaan. Siklus putus sekolah dan pernikahan dini ini secara sistematis melumpuhkan posisi tawar mereka secara ekonomi.
Bujuk Rayu Rentenir
Dalam himpitan ekonomi yang sulit, para perempuan menjadi target empuk dari rentenir yang kerap disebut Bank Keliling (Bangke) ataupun Mekaar yang merupakan pemberi hutang dengan bunga tinggi.
“Mereka tuh datang dari pintu ke pintu buat nawarin pinjaman. Saya aja pernah ditawarin,” ujar Chen Fie, menceritakan bagaimana sales Mekaar datang ke rumahnya dan menawarkan pinjaman.
Masalah pinjaman dengan bunga besar ini menjadi masalah yang tidak pernah selesai. Setiap hari Bank Keliling yang menagih berbeda-beda orangnya. Warga desa bahkan memiliki istilah Senenan, Selasaan, Reboan, Kamisan, dan Jumatan untuk membayar pada Bank Keliling.
“Pernah ada yang datang ke saya minta uang, buat bayar Bangke. Ada lagi yang datang-datang gadai barang-barang. Sampe ada yang jual rumah karena terlilit pinjaman itu dan akhirnya dicerai sama suaminya,” tutur Maskota.
Chen Fie sendiri menjelaskan bunga pinjaman dari Bangke dan Koperasi Mekaar cukup besar. Untuk pinjaman Rp1.000.000 uang yang didapat peminjam adalah Rp920.000. Masa pengembalian beragam dari mulai 10 hingga 15 minggu dengan total pengembalian lebih dari Rp1.000.000.
Perkenalan Chen Fie dengan koperasi kolektif warga dimulai pada tahun 2021. Saat itu tim Pusat Pengembangan Sumberdaya Wanita (PPSW) Jakarta, mendatangi rumah Rukun Warga (RW) yang kebetulan dijabat oleh suami Chen Fie. Kedatangan itu untuk menjelaskan soal inisiatif membuat koperasi.
Koperasi berbasis warga akan dibentuk menjadi pusat perkembangan, pendidikan sumberdaya, dan perekonomian. Bentuk baru yang berbeda dengan koperasi Mekaar dan Bangke yang ada selama ini.
Perbedaannya terletak jelas dari cara menjalankan modal keuangan yang ada. Setiap anggota diwajibkan menabung dan memiliki syarat untuk peminjaman dengan bunga yang tidak besar. Selain itu, penguatan kapasitas sebagai sarana mengembangkan sumberdaya dilakukan sekali atau dua kali dalam sebulan.
Namun, awalnya Chen Fie sempat mengabaikan inisiatif tersebut, karena pesimis dengan keberhasilannya. Pengumpulan perempuan di salah satu rumah RT bernama Lung San justru menjadikan Chen Fie dipilih sebagai ketua koperasi.
“Saya sempat nolak, orang saya gak bisa. Namanya pendidikan saya tuh cuma SD (Sekolah Dasar), jadi bingung, gak ngerti gitu. Tapi orang-orang tetap pilih saya,” ujar Chen Fie.

KWPS LMA terbentuk pada 7 Agustus 2022, dengan sepuluh orang anggota. Awalnya koperasi yang akan dibangun adalah Koperasi Pembangkit Cina Benteng. Namun, Kepala Desa mendukung dan dibuatlah untuk semua warga Desa Belimbing.
Persoalan kepercayaan menjadi hambatan utama yang ditemui oleh koperasi. Banyak warga desa yang belum percaya terhadap pengelolaan yang dipegang para perempuan.
Salah seorang warga yang kini menjadi ketua unit dari KWPS LMA, Atika, awalnya juga sempat ragu dan bertanya pada suaminya perihal keikutsertaannya. Setelah tahu siapa saja orang yang mengelola baru diperbolehkan.
“Suami nanya siapa yang pegang (kelola), saya sebutin aja Pak RT Lung San, sama Istrinya Encek Aoy (Chen Fie), baru deh tuh dibolehin. Karena katanya dia percaya sama orang-orang itu,” jelas Atika, menceritakan awal bergabungnya dirinya saat ditemui dalam forum diskusi KWPS LMA pada Rabu, 19 Agustus 2026.
Unit Melati yang diketuai oleh Atika, memiliki anggota 30 orang. Kebanyakan dari mereka masuk dalam unit Perempuan Usaha Mikro (PUM), termasuk juga Atika.
Persyaratan setiap orang harus menabung dahulu selama tiga bulan dan memiliki tabungan Rp250.000 untuk bisa mengambil pinjaman Rp1.000.000. Berbeda dengan Bangke dan Koperasi Mekaar, bunga dari KWPS LMA lebih kecil bahkan dapat diangsur melalui potongan tabungan.
“Untuk menjadi anggota ada formulirnya, harus bayar uang pokok 60 ribu bisa dicicil enam kali, ada uang wajib 10 ribu setiap nabung, sama uang sukarela terserah berapa,” ujar Chen Fie, saat menjelaskan syarat bergabungnya menjadi anggota koperasi.
Koperasi dan Pemberdayaan Perempuan

Praktik baik KWPS LMA sebagai bentuk perekonomian gotong royong banyak dirasakan oleh perempuan di Desa Belimbing termasuk kelompok perempuan Cina benteng.
Atika berhasil mengembangkan warung jajanannya dan kini bertambah berjualan sembako. Setiap minggunya Atika, membuka pesanan jajanan yang akan dibuatnya dan dipasarkan melalui status WhatsApp. Cara itu sukses membuat dagangannya laku dan tetangga ikut menjual dagangannya ke tempat lain.
Selain Atika, ada juga Anis, penjual cireng isi yang menjadi anggota koperasi. Awalnya, Ia hanya membuka lapak, tetapi kini dirinya sudah membuka tiga cabang. Setiap harinya Anis dibantu dengan tiga orang ibu-ibu membuat hampir 1000 cireng.
“Harga satu cirengnya 3000, paling yang gak habis ada 10 sampai 20 biji,” jelas Anis, sembari tangannya terus membuat risol saat ditemui di rumahnya pada Kamis, 20 Agustus 2026.
Kisah Atika, Anis, dan beberapa perempuan yang menjadi anggota KWPS LMA nyatanya mendapatkan respon dari pihak Bangke dan Koperasi Mekar. Mereka terus gencar untuk menawarkan pinjaman dari rumah ke rumah.
Chen Fie bahkan pernah didatangi oleh Koperasi Mekar dan menawarkan kerja sama. Hal itu langsung ditolak oleh Chen Fie. KWPS LMA secara tegas menginginkan tidak ada lagi pemberi pinjaman dengan bunga besar yang membuat perempuan terjerat hutang berada di lingkungannya.
“Tapi kita gak tahu ya, mungkin di belakang kita, beberapa anggota Lampion Merah Abadi juga masih ada yang ambil (pinjeman),” tutur Chen Fie.
Lampion Merah Abadi terus mengalami transformasi yang signifikan. Memasuki tahun keempat anggota sudah mencapai angka 312 orang dengan aset yang dikelola mencapai 449 juta. Selain itu, koperasi yang digawangi para perempuan itu juga kini mendapat dukungan dari Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang berinvestasi di KWPS LMA.
KWPS LMA kini menjadi penggerak untuk berbagai kegiatan pemberdayaan perempuan di Desa Belimbing. Inisiatif-inisiatif seperti wadah pengurusan administrasi penduduk, ruang edukasi, hingga ruang aman dibentuk oleh mereka.
Chen Fie, Enggit, Atika, dan Anis menjadi bukti kerja kolektif untuk membangun ekonomi yang adil dan inklusif dapat diwujudkan. Selain itu, dominasi rentenir dan budaya patriarki perlahan-lahan pudar. Kini perempuan Cina Benteng dan perempuan Desa Belimbing tidak lagi hanya soal sumur dan dapur, tetapi juga bisa lebih berdaya dan setara.
Harapan para perempuan di Desa Belimbing, khususnya di komunitas Cina Benteng sederhana, yaitu ingin kehidupannya menjadi lebih baik. Pendidikan juga kini tidak lagi dipandang sebelah mata. Anak-anak perempuan di desa itu kini diusahakan untuk mengejar pendidikan setinggi-tingginya.
































