• About
  • Editorial
  • Pedoman Media Siber
Saturday, May 30, 2026
No Result
View All Result
Koreksi.org
  • Home
  • Berita
    Sengketa Tanah di Lakkang Caddi, Puluhan Warga Digugat di Pengadilan Negeri Makassar

    Sengketa Tanah di Lakkang Caddi, Puluhan Warga Digugat di Pengadilan Negeri Makassar

    Cerita Foto: Mahasiswa dan Pelajar Soroti Kematian Demokrasi di Aksi Kamisan ke-908

    Cerita Foto: Mahasiswa dan Pelajar Soroti Kematian Demokrasi di Aksi Kamisan ke-908

    Nisan Reformasi di Aksi Kamisan ke-908 di Jakarta.

    Aksi Kamisan ke-908: Mahasiswa dan Pelajar Menyoroti Kematian Demokrasi

    Potensi Dominasi Negara dari BUMN Khusus Ekspor

    Potensi Dominasi Negara dari BUMN Khusus Ekspor

    Abolisi dan Amnesti: Barter Dukungan Politik dan Pelemahan Pemberantasan Korupsi

    Dua Puluh Lima Media di Sumatera Selatan Digugat Perdata

    Warga Lakkang Caddi Bongkar Pagar Sengketa Tanah di Tengah Proses Pengadilan

    Warga Lakkang Caddi Bongkar Pagar Sengketa Tanah di Tengah Proses Pengadilan

    Pemutaran Film “Pesta Babi” Alami 21 Intimidasi di Berbagai Daerah

    Pemutaran Film “Pesta Babi” Alami 21 Intimidasi di Berbagai Daerah

    FSGI Dorong Tata Kelola Puluhan Ribu Guru Honorer yang Belum Masuk Dapodik Supaya Tidak Terancam Pemecatan

    FSGI Dorong Tata Kelola Puluhan Ribu Guru Honorer yang Belum Masuk Dapodik Supaya Tidak Terancam Pemecatan

    AJI Jakarta Gelar Pesta Media Angkat Isu Kebebasan Pers, Lingkungan Hidup, dan Kecerdasan Buatan

    AJI Jakarta Gelar Pesta Media Angkat Isu Kebebasan Pers, Lingkungan Hidup, dan Kecerdasan Buatan

    Mengawal Pencabutan Izin Perusahaan Penyebab Banjir Sumatera

    Mengawal Pencabutan Izin Perusahaan Penyebab Banjir Sumatera

    Trending Tags

  • Liputan Khusus
  • OPINI
    Membaca Senyum Purbaya

    Membaca Senyum Purbaya

    Pesta Babi, Negara, dan Kebebasan Pers

    Pesta Babi, Negara, dan Kebebasan Pers

    Kacau Betul! Komunikasi Pemerintah atau Halusinasi?

    Kacau Betul! Komunikasi Pemerintah atau Halusinasi?

    May Day dan Imajinasi Gerakan Buruh

    May Day dan Imajinasi Gerakan Buruh

    May Day, May Day, May Day ! Horor di Negeri yang Terabaikan. Alerta !

    May Day, May Day, May Day ! Horor di Negeri yang Terabaikan. Alerta !

    Pemindahan Gerbong Perempuan: Proteksi Atau Diskriminasi?

    Pemindahan Gerbong Perempuan: Proteksi Atau Diskriminasi?

    ​Wajah Buram Demokrasi dalam Percikan Air Keras

    ​Wajah Buram Demokrasi dalam Percikan Air Keras

    Amerika dan Mitos Penjaga Perdamaian Dunia

    Amerika dan Mitos Penjaga Perdamaian Dunia

    Kaleidoskop Kebebasan Pers Mahasiswa 2023–2025: Kampus yang Enggan Diawasi

    Kaleidoskop Kebebasan Pers Mahasiswa 2023–2025: Kampus yang Enggan Diawasi

    Akal-akalan Asesmen Narkotika: Antara Pasal Karet dan Pundi-Pundi Kekayaan bagi Aparat

    Perang Argumentasi di Senayan Untuk Kebijakan  Narkotika serta Pertarungan  Komunitas dan Masyarakat  Melawan Kebijakan Turunannya

    Trending Tags

  • RUANG SASTRA
    Selamatkan Hutan Melalui Film “Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua”

    Selamatkan Hutan Melalui Film “Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua”

    Film Pangku: Perjuangan Ibu Tunggal di Jalan Sunyi

    Film Pangku: Perjuangan Ibu Tunggal di Jalan Sunyi

    Film “Wall to Wall”: Potret Nyata Kelas Pekerja di Seoul ’11-12′ dengan Jakarta

    Film “Wall to Wall”: Potret Nyata Kelas Pekerja di Seoul ’11-12′ dengan Jakarta

    TUMPUK: Manifesto Konsumerisme dan Tumpukan Sampah

    TUMPUK: Manifesto Konsumerisme dan Tumpukan Sampah

    Sanggar Lidi Surabaya Gelar Pementasan Teater “Grafito”,  Kisah Cinta Beda Agama di Balai Pemuda Surabaya

    Sanggar Lidi Surabaya Gelar Pementasan Teater “Grafito”,  Kisah Cinta Beda Agama di Balai Pemuda Surabaya

    Cerita pendek: Kemenangan

    Cerita pendek: Kemenangan

    Trending Tags

  • SUARA WARGA
  • Home
  • Berita
    Sengketa Tanah di Lakkang Caddi, Puluhan Warga Digugat di Pengadilan Negeri Makassar

    Sengketa Tanah di Lakkang Caddi, Puluhan Warga Digugat di Pengadilan Negeri Makassar

    Cerita Foto: Mahasiswa dan Pelajar Soroti Kematian Demokrasi di Aksi Kamisan ke-908

    Cerita Foto: Mahasiswa dan Pelajar Soroti Kematian Demokrasi di Aksi Kamisan ke-908

    Nisan Reformasi di Aksi Kamisan ke-908 di Jakarta.

    Aksi Kamisan ke-908: Mahasiswa dan Pelajar Menyoroti Kematian Demokrasi

    Potensi Dominasi Negara dari BUMN Khusus Ekspor

    Potensi Dominasi Negara dari BUMN Khusus Ekspor

    Abolisi dan Amnesti: Barter Dukungan Politik dan Pelemahan Pemberantasan Korupsi

    Dua Puluh Lima Media di Sumatera Selatan Digugat Perdata

    Warga Lakkang Caddi Bongkar Pagar Sengketa Tanah di Tengah Proses Pengadilan

    Warga Lakkang Caddi Bongkar Pagar Sengketa Tanah di Tengah Proses Pengadilan

    Pemutaran Film “Pesta Babi” Alami 21 Intimidasi di Berbagai Daerah

    Pemutaran Film “Pesta Babi” Alami 21 Intimidasi di Berbagai Daerah

    FSGI Dorong Tata Kelola Puluhan Ribu Guru Honorer yang Belum Masuk Dapodik Supaya Tidak Terancam Pemecatan

    FSGI Dorong Tata Kelola Puluhan Ribu Guru Honorer yang Belum Masuk Dapodik Supaya Tidak Terancam Pemecatan

    AJI Jakarta Gelar Pesta Media Angkat Isu Kebebasan Pers, Lingkungan Hidup, dan Kecerdasan Buatan

    AJI Jakarta Gelar Pesta Media Angkat Isu Kebebasan Pers, Lingkungan Hidup, dan Kecerdasan Buatan

    Mengawal Pencabutan Izin Perusahaan Penyebab Banjir Sumatera

    Mengawal Pencabutan Izin Perusahaan Penyebab Banjir Sumatera

    Trending Tags

  • Liputan Khusus
  • OPINI
    Membaca Senyum Purbaya

    Membaca Senyum Purbaya

    Pesta Babi, Negara, dan Kebebasan Pers

    Pesta Babi, Negara, dan Kebebasan Pers

    Kacau Betul! Komunikasi Pemerintah atau Halusinasi?

    Kacau Betul! Komunikasi Pemerintah atau Halusinasi?

    May Day dan Imajinasi Gerakan Buruh

    May Day dan Imajinasi Gerakan Buruh

    May Day, May Day, May Day ! Horor di Negeri yang Terabaikan. Alerta !

    May Day, May Day, May Day ! Horor di Negeri yang Terabaikan. Alerta !

    Pemindahan Gerbong Perempuan: Proteksi Atau Diskriminasi?

    Pemindahan Gerbong Perempuan: Proteksi Atau Diskriminasi?

    ​Wajah Buram Demokrasi dalam Percikan Air Keras

    ​Wajah Buram Demokrasi dalam Percikan Air Keras

    Amerika dan Mitos Penjaga Perdamaian Dunia

    Amerika dan Mitos Penjaga Perdamaian Dunia

    Kaleidoskop Kebebasan Pers Mahasiswa 2023–2025: Kampus yang Enggan Diawasi

    Kaleidoskop Kebebasan Pers Mahasiswa 2023–2025: Kampus yang Enggan Diawasi

    Akal-akalan Asesmen Narkotika: Antara Pasal Karet dan Pundi-Pundi Kekayaan bagi Aparat

    Perang Argumentasi di Senayan Untuk Kebijakan  Narkotika serta Pertarungan  Komunitas dan Masyarakat  Melawan Kebijakan Turunannya

    Trending Tags

  • RUANG SASTRA
    Selamatkan Hutan Melalui Film “Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua”

    Selamatkan Hutan Melalui Film “Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua”

    Film Pangku: Perjuangan Ibu Tunggal di Jalan Sunyi

    Film Pangku: Perjuangan Ibu Tunggal di Jalan Sunyi

    Film “Wall to Wall”: Potret Nyata Kelas Pekerja di Seoul ’11-12′ dengan Jakarta

    Film “Wall to Wall”: Potret Nyata Kelas Pekerja di Seoul ’11-12′ dengan Jakarta

    TUMPUK: Manifesto Konsumerisme dan Tumpukan Sampah

    TUMPUK: Manifesto Konsumerisme dan Tumpukan Sampah

    Sanggar Lidi Surabaya Gelar Pementasan Teater “Grafito”,  Kisah Cinta Beda Agama di Balai Pemuda Surabaya

    Sanggar Lidi Surabaya Gelar Pementasan Teater “Grafito”,  Kisah Cinta Beda Agama di Balai Pemuda Surabaya

    Cerita pendek: Kemenangan

    Cerita pendek: Kemenangan

    Trending Tags

  • SUARA WARGA
No Result
View All Result
Koreksi.org
No Result
View All Result
Home OPINI

Ketika Politik Menggilas Hukum, Koruptor pun Tertawa

by Nanang FS
August 2, 2025
in OPINI
0
Ketika Politik Menggilas Hukum, Koruptor pun Tertawa

Ilustrasi

15
SHARES
42
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Artikel ini sengaja ditulis karena keadilan tidak boleh dikompromikan. Jika kita diam hari ini, besok mungkin giliran kita yang menjadi korban ketidakadilan.

Pasca-bebasnya Thomas (Tom) Lembong dan Hasto Kristiyanto, grup-grup WhatsApp ramai membahasnya, pro dan kontra sudah pasti. Masing-masing berargumen dengan segala macam teori dan kompetensi yang mereka miliki. Pun masyarakat awam tak sedikit yang turut nyinyir di media sosial mereka. Langkah yang diambil Presiden Prabowo Subianto sekali lagi memukul mundur penegakan hukum dengan dalih “stabilitas negara” dan “persatuan”. Keputusan abolisi dan amnesti bagi Tom Lembong dan Hasto Kristiyanto bukan sekadar tamparan bagi KPK, Kejaksaan, dan Pengadilan, melainkan pengkhianatan terhadap prinsip dasar hukum, bahwa keadilan harus ditegakkan tanpa pandang bulu. Di negeri yang konstitusinya menjamin persamaan di depan hukum, mengapa segelintir orang bisa lolos dari jerat hukum hanya karena pertimbangan politik? Mengapa upaya penegakan hukum bertahun-tahun bisa dihancurkan dalam sekejap oleh keputusan sepihak? Politik!

Ini bukan persoalan dua nama besar semata. Ini adalah ujian bagi integritas bangsa. Apakah kita masih percaya pada hukum, atau telah menyerah pada logika kekuasaan? Lihatlah realitas hari ini, proses hukum yang melewati penyidikan, penuntutan, bahkan persidangan, tiba-tiba dibatalkan hanya karena pertimbangan politik. Sejarah Indonesia terlalu sering menyaksikan hukum dikesampingkan demi kekuasaan. Kasus korupsi elite berakhir dengan pengampunan, sementara rakyat kecil yang melakukan pelanggaran kecil dihukum berat.

Pertanyaannya menggelitik, apakah hukum masih berdaulat, atau telah menjadi budak politik? Jika koruptor bisa bebas karena pengaruh atau massa pendukung, lalu apa bedanya kita dengan rezim otoriter yang menjadikan hukum sebagai alat kekuasaan? Hukum seharusnya panglima, bukan pesuruh. Ketika abolisi dan amnesti dikeluarkan tanpa dasar kuat, hanya dengan alasan “kepentingan nasional”, yang terjadi adalah pembunuhan terhadap hukum itu sendiri.

Alasan “stabilitas” dan “persatuan” hanyalah kedok klasik untuk melegitimasi ketidakadilan. Sejarah dunia membuktikan: tidak ada negara stabil jika hukum diperjualbelikan. Judge Bao, hakim legendaris Tiongkok, pernah berkata: “Lebih baik mati daripada membiarkan ketidakadilan merajalela.” Tapi di sini, kita membiarkannya—dengan senyum. Jika mereka memang tak bersalah, mengapa tidak melalui proses pengadilan biasa? Jawabannya telanjang: ini tentang kekuasaan, bukan kebenaran.

Bayangkan frustrasi penyidik, jaksa, dan hakim yang telah bekerja keras. Tiba-tiba, dengan satu cap stempel presiden, jerih payah mereka sia-sia. Apa artinya memberantas korupsi jika ujungnya keputusan ada di tangan politik? Adagium “lebih baik membebaskan seribu penjahat daripada menghukum satu orang tak bersalah” pun disalahartikan. Ini bukan pembebasan orang tak bersalah, melainkan koruptor yang punya koneksi—bukan keadilan, tapi pembodohan publik.

Hukum seharusnya buta—tak memandang siapa pelakunya. Tapi di Indonesia, hukum tunduk pada yang berkuasa. Jika ini terus dibiarkan, korupsi bukan hanya merajalela, tapi dilegalkan. Kita boleh berbeda pendapat tentang mereka, tapi satu hal harus jelas: koruptor tak boleh dibebaskan dengan alasan apa pun.

Sejarah Indonesia penuh dengan contoh kasus serupa. Pada era Orde Baru, banyak koruptor yang dibebaskan dengan alasan “kepentingan nasional”. Pada era reformasi, praktik ini berlanjut dengan berbagai modifikasi. Pola ini menunjukkan bagaimana hukum sering dikalahkan oleh kepentingan politik jangka pendek.

Contoh nyata adalah kasus-kasus besar yang melibatkan elite politik, tersangka akhirnya dibebaskan setelah melalui proses hukum yang panjang. Ironinya, masyarakat biasa yang melakukan pelanggaran kecil justru dihukum berat. Ini membuktikan bahwa hukum di Indonesia masih bersifat diskriminatif.

Perbandingan dengan Negara Lain

Di banyak negara demokratis, amnesti biasanya diberikan untuk kasus-kasus politik tertentu, bukan untuk korupsi. Beberapa negara justru sangat keras terhadap koruptor, dengan hukuman yang berat bagi pelakunya. Lalu, mengapa Indonesia justru melunak? Jawabannya terletak pada budaya impunitas yang telah mengakar. Koruptor tidak lagi takut pada hukum karena mereka yakin bisa “diatur” di tingkat politik.

Bayangkan Anda adalah penyidik yang telah bekerja keras mengumpulkan bukti selama berbulan-bulan, hanya untuk melihat tersangka dibebaskan begitu saja. Apa yang Anda rasakan? Frustasi, marah, atau mungkin putus asa?

Banyak penegak hukum yang akhirnya kehilangan motivasi. Mereka bertanya-tanya, “Untuk apa bekerja keras jika ujung-ujungnya politik yang menang?” Ini adalah tamparan keras bagi semangat pemberantasan korupsi.

Reaksi masyarakat terhadap keputusan ini cukup keras. Banyak yang mengecamnya sebagai bentuk pengkhianatan terhadap prinsip keadilan. Sikap publik ini menunjukkan bahwa masyarakat semakin sadar akan pentingnya penegakan hukum yang adil dan tidak diskriminatif.

Jika ini terus berlanjut, apa yang akan terjadi pada masa depan? Korupsi akan semakin sistemik, penegak hukum semakin tidak dihormati, dan masyarakat semakin tidak percaya pada negara. Pada akhirnya, kita akan menjadi negara yang dikuasai oleh mafia hukum.

Usulan Perbaikan:

  1. Revisi Undang-Undang: Perlu perubahan regulasi yang melarang pemberian abolisi/amnesti untuk kasus korupsi.
  2. Penguatan Lembaga Penegak Hukum: Berikan kewenangan lebih besar dan perlindungan maksimal bagi penyidik.
  3. Edukasi Publik: Tingkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya korupsi.
  4. Transparansi Kebijakan: Setiap keputusan abolisi/amnesti harus melalui proses pengawasan publik yang ketat.

Bersiaplah menyaksikan Indonesia menjadi surga koruptor—hukum hanya berlaku untuk rakyat kecil, sementara pemilik kuasa bebas melenggang. Dan ketika itu terjadi, jangan tanya mengapa korupsi tak kunjung hilang. Jawabannya sederhana: karena kita membiarkannya.

Tags: abolisiamnestidemokrasihasto kristiyantohukumkekuasaanpolitikpresidenrakyattom lembong
Nanang FS

Nanang FS

Related Posts

Membaca Senyum Purbaya

Membaca Senyum Purbaya

by Nanang FS
May 18, 2026
0

Oleh: Dr. Zulfatun Mahmudah, S.Pd, M.I.Kom, CSRS Dalam sebuah pidatonya, Presiden Prabowo mengatakan,  jika Purbaya masih tersenyum, maka kondisi keuangan...

Pesta Babi, Negara, dan Kebebasan Pers

Pesta Babi, Negara, dan Kebebasan Pers

by Sasmito Madrim
May 13, 2026
0

Pemutaran film dokumenter "Pesta Babi" karya jurnalis Dandhy Dwi Laksono mengalami intimidasi hingga pembubaran paksa oleh TNI di sejumlah daerah....

Kacau Betul! Komunikasi Pemerintah atau Halusinasi?

Kacau Betul! Komunikasi Pemerintah atau Halusinasi?

by Nanang FS
May 7, 2026
0

Oleh: Nanang Farid Syam Pada pagi hari, 6 Mei 2026, ruang konferensi pers Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom RI) menjadi saksi...

May Day dan Imajinasi Gerakan Buruh

May Day dan Imajinasi Gerakan Buruh

by admin
May 1, 2026
0

Setiap tanggal 1 Mei, dunia kembali dipenuhi ucapan selamat Hari Buruh Internasional atau May Day. Tidak terkecuali May Day 2026....

May Day, May Day, May Day ! Horor di Negeri yang Terabaikan. Alerta !

May Day, May Day, May Day ! Horor di Negeri yang Terabaikan. Alerta !

by Nanang FS
May 1, 2026
0

Oleh: Nanang Farid Syam* Di ruang gelap bioskop, ratusan penonton tertegun menyaksikan fragmen Ghost in the Cell karya Joko Anwar....

Pemindahan Gerbong Perempuan: Proteksi Atau Diskriminasi?

Pemindahan Gerbong Perempuan: Proteksi Atau Diskriminasi?

by Nanang FS
April 30, 2026
0

Oleh : Zulfatun Mahmudah Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi mengusulkan agar posisi gerbong perempuan pada armada KRL dipindah...

Next Post
Abolisi dan Amnesti: Barter Dukungan Politik dan Pelemahan Pemberantasan Korupsi

Abolisi dan Amnesti: Barter Dukungan Politik dan Pelemahan Pemberantasan Korupsi

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • About
  • Editorial
  • Pedoman Media Siber

© 2025 Koreksi.org

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • OPINI
  • RUANG SASTRA
    • SUARA WARGA

© 2025 Koreksi.org