• About
  • Editorial
  • Pedoman Media Siber
Tuesday, September 15, 2026
No Result
View All Result
Koreksi.org
  • Home
  • Berita
    Suasana tahanan politik diberi arahan oleh polisi di sebuah ruang unit reserse polda metro jaya pada Rabu, (8/9).

    Serial “Kembali ke Barak”: Pemprov DKI Wajibkan Pelajar Pendemo Ikut Pembekalan Bela Negara

    Kecewa Pemkot Surabaya Abaikan Aspirasi, Petani Tambak Keputih Tutup Akses Jalan

    Kecewa Pemkot Surabaya Abaikan Aspirasi, Petani Tambak Keputih Tutup Akses Jalan

    Serial “Kembali ke Barak”: Tolak Militerisasi Kampus, Mahasiswa Baru UINAM Diancam DO

    Serial “Kembali ke Barak”: Tolak Militerisasi Kampus, Mahasiswa Baru UINAM Diancam DO

    Warga Simogunung Surabaya Desak Penghentian Kriminalisasi Sengketa Tanah Dengan TNI AU

    Warga Simogunung Surabaya Desak Penghentian Kriminalisasi Sengketa Tanah Dengan TNI AU

    Gubernur Papua Barat Daya Blakblakan soal Hutan hingga Tambang di Papua Milik Jenderal

    Gubernur Papua Barat Daya Blakblakan soal Hutan hingga Tambang di Papua Milik Jenderal

    Koalisi Masyarakat Adat Sepakat Tolak PSN hingga Proyek Eksploitatif di Papeda Summit

    Koalisi Masyarakat Adat Sepakat Tolak PSN hingga Proyek Eksploitatif di Papeda Summit

    Menko Zulkifli Hasan Kabur saat Ditanya Papeda Summit dan Janji 1,7 Juta Hutan Adat di Papua

    Menko Zulkifli Hasan Kabur saat Ditanya Papeda Summit dan Janji 1,7 Juta Hutan Adat di Papua

    Aksi Pemuda Adat Papua Tolak Papeda Summit 2026 di Sorong: NGO Fasilitasi Aktor Perusak Hutan

    Aksi Pemuda Adat Papua Tolak Papeda Summit 2026 di Sorong: NGO Fasilitasi Aktor Perusak Hutan

    Serial “Kembali ke Barak”: Warga Kwini 8 Melawan Klaim Sepihak Militer

    Serial “Kembali ke Barak”: Warga Kwini 8 Melawan Klaim Sepihak Militer

    100 Hari Kerja Prabowo-Gibran: Ironi Ekspansi Militer di Tengah Sunat Anggaran Publik

    Serial “Kembali ke Barak”: Bahaya Laten TNI Ambil Alih Tugas Sipil

    Trending Tags

  • Liputan Khusus
  • OPINI
    Menjaga Hak Hidup: Kisah Perempuan ODHIV dalam Pusaran Hukum Narkotika

    Menjaga Hak Hidup: Kisah Perempuan ODHIV dalam Pusaran Hukum Narkotika

    Dari Jakarta ke Phnom Penh: Perang Melawan Scam yang Tak Bisa Ditangani Satu Negara Saja

    Dari Jakarta ke Phnom Penh: Perang Melawan Scam yang Tak Bisa Ditangani Satu Negara Saja

    Apakah Kemerdekaan Seperti Ini yang Engkau Maksud, Datuk?

    Apakah Kemerdekaan Seperti Ini yang Engkau Maksud, Datuk?

    Satu Dekade Arbitrase Laut China Selatan: Refleksi atas Dampaknya terhadap Stabilitas Kawasan

    Belajar dari Sepak Bola Dunia

    Belajar dari Sepak Bola Dunia

    Potensi Dominasi Negara dari BUMN Khusus Ekspor

    Prabowonomics, Model Pembangunan yang Harus Ditinggalkan

    Kepada Said Iqbal: Redistribusi Kekayaan Tidak Cukup dengan “Kau Boleh Kaya Tapi Jangan Miskinkan Kami”

    Kepada Said Iqbal: Redistribusi Kekayaan Tidak Cukup dengan “Kau Boleh Kaya Tapi Jangan Miskinkan Kami”

    Membaca Senyum Purbaya

    Membaca Senyum Purbaya

    Pesta Babi, Negara, dan Kebebasan Pers

    Pesta Babi, Negara, dan Kebebasan Pers

    Kacau Betul! Komunikasi Pemerintah atau Halusinasi?

    Kacau Betul! Komunikasi Pemerintah atau Halusinasi?

    Trending Tags

  • RUANG SASTRA
    Selamatkan Hutan Melalui Film “Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua”

    Selamatkan Hutan Melalui Film “Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua”

    Film Pangku: Perjuangan Ibu Tunggal di Jalan Sunyi

    Film Pangku: Perjuangan Ibu Tunggal di Jalan Sunyi

    Film “Wall to Wall”: Potret Nyata Kelas Pekerja di Seoul ’11-12′ dengan Jakarta

    Film “Wall to Wall”: Potret Nyata Kelas Pekerja di Seoul ’11-12′ dengan Jakarta

    TUMPUK: Manifesto Konsumerisme dan Tumpukan Sampah

    TUMPUK: Manifesto Konsumerisme dan Tumpukan Sampah

    Sanggar Lidi Surabaya Gelar Pementasan Teater “Grafito”,  Kisah Cinta Beda Agama di Balai Pemuda Surabaya

    Sanggar Lidi Surabaya Gelar Pementasan Teater “Grafito”,  Kisah Cinta Beda Agama di Balai Pemuda Surabaya

    Cerita pendek: Kemenangan

    Cerita pendek: Kemenangan

    Trending Tags

  • SUARA WARGA
  • Home
  • Berita
    Suasana tahanan politik diberi arahan oleh polisi di sebuah ruang unit reserse polda metro jaya pada Rabu, (8/9).

    Serial “Kembali ke Barak”: Pemprov DKI Wajibkan Pelajar Pendemo Ikut Pembekalan Bela Negara

    Kecewa Pemkot Surabaya Abaikan Aspirasi, Petani Tambak Keputih Tutup Akses Jalan

    Kecewa Pemkot Surabaya Abaikan Aspirasi, Petani Tambak Keputih Tutup Akses Jalan

    Serial “Kembali ke Barak”: Tolak Militerisasi Kampus, Mahasiswa Baru UINAM Diancam DO

    Serial “Kembali ke Barak”: Tolak Militerisasi Kampus, Mahasiswa Baru UINAM Diancam DO

    Warga Simogunung Surabaya Desak Penghentian Kriminalisasi Sengketa Tanah Dengan TNI AU

    Warga Simogunung Surabaya Desak Penghentian Kriminalisasi Sengketa Tanah Dengan TNI AU

    Gubernur Papua Barat Daya Blakblakan soal Hutan hingga Tambang di Papua Milik Jenderal

    Gubernur Papua Barat Daya Blakblakan soal Hutan hingga Tambang di Papua Milik Jenderal

    Koalisi Masyarakat Adat Sepakat Tolak PSN hingga Proyek Eksploitatif di Papeda Summit

    Koalisi Masyarakat Adat Sepakat Tolak PSN hingga Proyek Eksploitatif di Papeda Summit

    Menko Zulkifli Hasan Kabur saat Ditanya Papeda Summit dan Janji 1,7 Juta Hutan Adat di Papua

    Menko Zulkifli Hasan Kabur saat Ditanya Papeda Summit dan Janji 1,7 Juta Hutan Adat di Papua

    Aksi Pemuda Adat Papua Tolak Papeda Summit 2026 di Sorong: NGO Fasilitasi Aktor Perusak Hutan

    Aksi Pemuda Adat Papua Tolak Papeda Summit 2026 di Sorong: NGO Fasilitasi Aktor Perusak Hutan

    Serial “Kembali ke Barak”: Warga Kwini 8 Melawan Klaim Sepihak Militer

    Serial “Kembali ke Barak”: Warga Kwini 8 Melawan Klaim Sepihak Militer

    100 Hari Kerja Prabowo-Gibran: Ironi Ekspansi Militer di Tengah Sunat Anggaran Publik

    Serial “Kembali ke Barak”: Bahaya Laten TNI Ambil Alih Tugas Sipil

    Trending Tags

  • Liputan Khusus
  • OPINI
    Menjaga Hak Hidup: Kisah Perempuan ODHIV dalam Pusaran Hukum Narkotika

    Menjaga Hak Hidup: Kisah Perempuan ODHIV dalam Pusaran Hukum Narkotika

    Dari Jakarta ke Phnom Penh: Perang Melawan Scam yang Tak Bisa Ditangani Satu Negara Saja

    Dari Jakarta ke Phnom Penh: Perang Melawan Scam yang Tak Bisa Ditangani Satu Negara Saja

    Apakah Kemerdekaan Seperti Ini yang Engkau Maksud, Datuk?

    Apakah Kemerdekaan Seperti Ini yang Engkau Maksud, Datuk?

    Satu Dekade Arbitrase Laut China Selatan: Refleksi atas Dampaknya terhadap Stabilitas Kawasan

    Belajar dari Sepak Bola Dunia

    Belajar dari Sepak Bola Dunia

    Potensi Dominasi Negara dari BUMN Khusus Ekspor

    Prabowonomics, Model Pembangunan yang Harus Ditinggalkan

    Kepada Said Iqbal: Redistribusi Kekayaan Tidak Cukup dengan “Kau Boleh Kaya Tapi Jangan Miskinkan Kami”

    Kepada Said Iqbal: Redistribusi Kekayaan Tidak Cukup dengan “Kau Boleh Kaya Tapi Jangan Miskinkan Kami”

    Membaca Senyum Purbaya

    Membaca Senyum Purbaya

    Pesta Babi, Negara, dan Kebebasan Pers

    Pesta Babi, Negara, dan Kebebasan Pers

    Kacau Betul! Komunikasi Pemerintah atau Halusinasi?

    Kacau Betul! Komunikasi Pemerintah atau Halusinasi?

    Trending Tags

  • RUANG SASTRA
    Selamatkan Hutan Melalui Film “Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua”

    Selamatkan Hutan Melalui Film “Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua”

    Film Pangku: Perjuangan Ibu Tunggal di Jalan Sunyi

    Film Pangku: Perjuangan Ibu Tunggal di Jalan Sunyi

    Film “Wall to Wall”: Potret Nyata Kelas Pekerja di Seoul ’11-12′ dengan Jakarta

    Film “Wall to Wall”: Potret Nyata Kelas Pekerja di Seoul ’11-12′ dengan Jakarta

    TUMPUK: Manifesto Konsumerisme dan Tumpukan Sampah

    TUMPUK: Manifesto Konsumerisme dan Tumpukan Sampah

    Sanggar Lidi Surabaya Gelar Pementasan Teater “Grafito”,  Kisah Cinta Beda Agama di Balai Pemuda Surabaya

    Sanggar Lidi Surabaya Gelar Pementasan Teater “Grafito”,  Kisah Cinta Beda Agama di Balai Pemuda Surabaya

    Cerita pendek: Kemenangan

    Cerita pendek: Kemenangan

    Trending Tags

  • SUARA WARGA
No Result
View All Result
Koreksi.org
No Result
View All Result
Home Liputan Khusus

Cerita Di Balik Pendampingan Kasus Kekerasan Seksual

by Abdul Mughis
January 7, 2025
in Liputan Khusus
0
Cerita Di Balik Pendampingan Kasus Kekerasan Seksual
16
SHARES
47
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Koreksi, Yogyakarta– Meila Nurul Fajriah, satu dari ratusan pegiat Hak Asasi Manusia (HAM) di Yogyakarta yang bergerak secara sukarela untuk memperjuangkan keadilan bagi masyarakat tertindas dan kelompok minoritas. Berbagai situasi ancaman kerap dialami. Terakhir, Meila mendampingi 30 penyintas kekerasan seksual di Yogyakarta. Namun niat baik Meila untuk turut memperjuangkan hak penyintas justru berujung ancaman dijebloskan jeruji besi.Ia sempat ditetapkan tersangka atas tudingan pencemaran nama baik setelah sebelumnya dipolisikan oleh pihak terduga pelaku di Polda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Meila sendiri tidak menyangka sebelumnya jika kerja advokasi atau pendampingan terhadap para penyintas kekerasan seksual itu bakal dipidanakan.

“Waktu itu, kami tidak berekspektasi ada serangan balik,” kata Meila saat diwawancarai oleh Koreksi, Kamis (8/8/2024).

Aktivitas Meila dan kawan-kawan berada di bawah naungan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta. Setiap pendampingan permasalahan hukum di masyarakat bersifat pro bono (pelayanan hukum yang dilakukan untuk kepentingan umum atau pihak yang tidak mampu tanpa dipungut biaya).

“Kami bekerja atas dasar kerja-kerja advokat, berlindung di bawah Undang-Undang (UU) Advokat dan bantuan hukum. Apalagi waktu itu belum ada Surat Keputusan Bersama (SKB) Tiga Menteri. Jadi waktu, kami tidak ada bayangan kalau nanti dilaporkan,” kata kata perempuan kelahiran Jambi, lulusan S2 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik jurusan Manajemen dan Kebijakan Publik Universitas Gadjah Mada (UGM) 2019 ini.

Meila bercerita mengenai seluk beluk saat melakukan pendampingan kasus kekerasan seksual mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) ini. Tantangan terberat, kasus kekerasan seksual terjadi saat transisi pandemi Covid-19 pada 2020.

“Saat itu, tidak bisa komunikasi tatap muka. Situasi mengubah segala bentuk komunikasi. Kami berpikir agar bagaimana caranya agar bisa tetap melayani aduan,” kata aktivis pengagum Pramoedya Ananta Toer ini.

Peran Kanal OnlineSemula, LBH Yogyakarta menerima laporan secara langsung di kantor. Namun sejak masa pandemi Covid-19 kemudian berubah menjadi layanan online.

“Baik menggunakan ponsel, email, instagram, dan platform lainnya. Awalnya, hanya satu orang pelapor. Tiba-tiba ada banyak sekali aduan kasus kekerasan seksual melaui kanal layanan aduan tersebut,” katanya.

Dalam layanan kasus ini, LBH Yogyakarta tidak sendiri. Sedikitnya ada tiga kanal aduan online, yakni akun LBH Yogyakarta, akun UII Bergerak (@uiibergerak), akun Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (LKBH FH UII), dan akun instagram personal @fasyateixeira.

“Tapi kemudian kami sepakat semua aduan itu diintegrasikan menjadi satu di LBH Yogyakarta. Tujuannya supaya pendampingan hukumnya terdaftar,” terang pengacara yang juga pernah berkecimpung di Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Keadilan saat menempuh S1 di Fakultas Hukum (FH) Universitas Islam Indonesia (UII) itu.

Dari layanan aduan online ini mencuat hingga 30 lebih korban kekerasan seksual.

“Sebenarnya lebih dari 30 orang. Tetapi yang terdata 30 orang pelapor. Kami sadar, bahwa kerahasiaan para korban ini harus kami jaga sepenuhnya,” katanya.

Melindungi Data KorbanAduan tersebut dilakukan secara formal. Pengadu diminta untuk mengisi formulir pengaduan dan bantuan hukum yang diisi dan ditandatangai oleh semua korban. Untuk menjaga data dengan baik, maka data penanganan kasus hanya diakses tim yang menangani kasus yang berjumlah lima orang dan direktur.

“Bahkan di internal kantor LBH pun tidak ada yang bisa mengakses data tersebut. Kami sangat melindungi data korban,” katanya.

Sesuai kesepakatan, lanjut Meila, ditentukan bahwa yang bisa berkomunikasi dengan para penyintas hanya satu orang. Tujuannya untuk menjaga dan melindungi keamanan, kerahasiaan dan privasi penyintas.”Kebetulan saya sendiri yang mendapat kepercayaan untuk berkomunikasi dengan para penyintas. Memang cukup melelahkan, karena komunikasi satu per satu dengan 30 korban,” katanya.

Dari 30 penyintas itu hanya beberapa orang saja yang bisa dan bersedia bertemu langsung, karena berada di wilayah Yogyakarta. Selebihnya berkomunikasi secara online.

“Yang menyulitkan, rentang waktu kejadian kasus dengan pelaporan cukup lama, yakni kejadiannya sejak 2016, baru dilaporkan 2020. Sehingga orang-orang yang berkaitan ada yang sudah pindah domisili, luar kota hingga luar negeri,” katanya.

Ia menjelaskan tantangan mendampingi kasus yang sudah viral terlebih dahulu yaitu memiliki tekanan publik yang tinggi. Itu terlihat dari orang yang ingin mencari tahu kasus atau perkembangan kasus.

“Atas pertimbangan itulah, kami menggelar siaran pers itu. Karena banyaknya desakan dan pertanyaan dari publik. Tujuannya agar tidak perlu menjawab satu per satu,” ujarnya.

Namun, kegiatan siaran pers itulah yang dijadikan celah pelaporan pencemaran nama baik oleh terduga pelaku. Kegiatan siaran pers tersebut dipublikasikan di akun LBH Yogyakarta. Kapasitas Meila mewakili lembaga.

“Saya hanya membacakan siaran pers. Kami sadar, potensi serangan pasti ada. Tapi konteksnya diserang melalui medsos secara personal. Saya tidak pernah berpikiran akan diserang lewat jalur hukum,” ungkapnya.

Namun proses hukum pencemaran nama baik ini menggantung selama empat tahun. Tim LBH Yogyakarta intens berkomunikasi dengan penyidik Polda Yogyakarta.

“Bahkan penyidik sendiri sempat dilaporkan ke Propam oleh pelapor. Kami membaca ada desakan besar oleh pelapor sehingga empat tahun kemudian ada penetapan tersangka,” kata aktivis HAM yang saat ini mengaku sedang gemar membaca Buku ‘How Democracies Die’ karya dua ilmuwan politik terkemuka, profesor Harvard, Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt ini.

Penegak Hukum Perlu Paham UU TPKSDirektur LBH Yogyakarta, Julian Dwi Prasetya mengakui perjalanan kasus ini cukup panjang, yakni selama empat tahun. Tentu mengalami banyak dinamika dalam perjalanan, baik kasus penanganan kasus kekerasan seksual terhadap 30 korban maupun kasus penetapan tersangka Meila selaku pendamping korban.

“Sebelum hadirnya Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS) atau sebelum 2022, memang penanganan kasus kekerasan seksual banyak sekali tantangannya. Negara belum bisa hadir atau sadar, karena negara belum bisa menghadirkan kebijakan yang responsif dan lebih ramah dalam menjawab tantangan penanganan kasus,” katanya.

Sehingga kasus-kasus kekerasan seksual sebelum 2022 mengalami kekosongan hukum. Kasus-kasus pelecehan seksual masih gamang untuk ditangani dalam konteks penegakan hukum.

“Di tengah kekosongan hukum ini jumlah kasus kekerasan seksual semakin banyak. Sejak 2016 hingga sekarang, kami menangani puluhan kasus. Penanganan kekerasan seksual ini sangat sulit,” katanya.

Selain tu, iamenilai hadirnya UU TPKS pada 2022, bukan berarti permasalahan selesai. Aturan ini dibutuhkan akselerasi agar lebih responsif dan dipahami oleh penegak hukum.

“Sebab, penanganan kasus kekerasan seksual ini sangat berbeda dengan penanganan kasus pidana umum biasa,” katanya.

Terutama, kata dia, dalam proses pembuktian karena kasus kekerasan seksual Sebagian besar terjadi di ruang privat. Misalnya di ruang kos, biasanya korban sangat kecil kemungkinan memiliki bukti dokumentasi.

“Apalagi menyimpan barang bukti, dia mengingat kejadian itu saja sudah trauma,” ujarnya.

Keberanian Penyintas untuk Speak UpJulian juga menilai korban yang berani bersuara (speak up) merupakan keberanian yang luar biasa bagi seorang penyintas.

“Kami sebagai advokat memang dihadapkan dengan tantangan untuk mengumpulkan bukti-bukti yang meyakinkan bahwa telah terjadi kekerasan seksual,” katanya.

Dalam konteks konsultasi, LBH Yogyakarta tidak bisa memaksa seorang penyintas untuk bercerita atau menjawab suatu pertanyaan. Mereka berupaya tidak menanyakan hal-hal yang mungkin bisa membuat trauma psikologis pada penyintas.

“Sehingga saat mereka konsultasi, kami membiarkan mereka bercerita terlebih dahulu.”

Dukungan Publik Julia menilai keberhasilan penanganan kasus kekerasan seksual butuh dukungan publik. Hal ini seperti kasus Meila ini mendapat dukungan publik secara luas.

“Tentu saja ini sangat mempengaruhi dan mendorong pihak penyidik kepolisian untuk kembali meninjau ulang,” katanya.

Akhirnya penyidik menemukan novum atau bukti baru yang kemudian menjadi dasar pertimbangan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) terhadap kasus Meila pada Selasa, 6 Agustus 2024.

“Ini perjalanan awal dan menjadi pengalaman dalam sejarah penanganan kasus kekerasan seksual di Indonesia. Harapannya di kemudian hari tidak terjadi lagi kasus pendamping korban malah dipidanakan,” katanya.

Penulis: Abdul Mughis

Tags: kekerasan seksualmeila nurul fajriahylbhi
Abdul Mughis

Abdul Mughis

Related Posts

Perempuan dan Anak Dalam Pusaran PLTGU Jawa-1 Karawang

Perempuan dan Anak Dalam Pusaran PLTGU Jawa-1 Karawang

by admin
September 14, 2026
0

Perubahan lingkungan akibat PLTGU Jawa-1 Karawang mengurangi pendapatan keluarga nelayan dan petani di sekitarnya. Beban psikologis perempuan dan terganggunya pendidikan...

Sonokeling TTU: Dari Kebun Warga hingga Jejak Balak di Kawasan Hutan

Sonokeling TTU: Dari Kebun Warga hingga Jejak Balak di Kawasan Hutan

by Andre Yuris
September 3, 2026
0

Setelah bertahun-tahun dimoratorium, perdagangan kayu sonokeling di Timor Tengah Utara kembali dibuka dengan kuota resmi. Namun, di balik pembukaan kembali...

Koperasi Wanita Pengembang Sumberdaya (KWPS) Lampion Merah Abadi (LMA)

Lampion Merah Abadi, Kisah Perempuan Cina Benteng Lepas dari Kemiskinan Struktural

by Yazid Fahmi
September 1, 2026
0

Tangerang, Koreksi.org - Dalam perjalanan menuju Desa Belimbing, Kabupaten Tangerang, sesekali terlihat perempuan duduk di tangga berundak di pinggir Kanal...

Serial “Kembali ke Barak”: Warga Kwini 8 Melawan Klaim Sepihak Militer

Serial “Kembali ke Barak”: Warga Kwini 8 Melawan Klaim Sepihak Militer

by Izam Komaruzaman
August 24, 2026
0

Warga Kwini 8, Jakarta Pusat, terancam kehilangan tanah mereka akibat klaim sepihak yang digulirkan oleh Kodam Jaya.  Jakarta, Koreksi–Lebih dari...

Dugaan Keterlibatan Amran Sulaiman dalam Konflik Tanah Lakkang Ca’di

Dugaan Keterlibatan Amran Sulaiman dalam Konflik Tanah Lakkang Ca’di

by admin
September 1, 2026
0

Waktu mereka pasang patok, kami datangi langsung dan tanya kenapa dipasang di sini. Mereka menjawab hanya menjalankan perintah dari AAS...

Banner yang ditancapkan warga Karangsari, Pati di lahan yang diklaim PT Rumpun Sari Antan pada Kamis, (14/5). (Bahtiar Yusuf/Arena)

Serial “Kembali ke Barak”: Perlawanan Warga Karangsari Merebut Kembali Tanah Leluhur Dari Bayang-Bayang Militer

by admin
August 5, 2026
0

Serial “Kembali ke Barak” merupakan kumpulan liputan Koreksi.org yang merekam berbagai upaya warga dalam melawan hingga peniadaan militerisme yang terjadi...

Next Post
Perjuangan Petani Dairi Bebas Dari Ancaman Tambang

Perjuangan Petani Dairi Bebas Dari Ancaman Tambang

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • About
  • Editorial
  • Pedoman Media Siber

© 2025 Koreksi.org

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • OPINI
  • RUANG SASTRA
    • SUARA WARGA

© 2025 Koreksi.org